Pages

Senin, 31 Mei 2010

Monolog Peperangan

Naskah Monolog

MONOLOG PEPERANGAN
Oleh : R Giryadi

SEBELUM DRAMA DIMULAI TERDENGAR DENTANG JAM BERKALI-KALI. PERLAHAN-LAHAN SUARA PEPERANGAN MENDERU-DERU. DUA SOSOK –HATAM DAN PUTIH- DENGAN LANGKAH LAMBAN PENUH KETAKUTAN SEDANG MENGATUR KAMAR YANG TELIHAT TIDAK TERAWAT.
DI LUAR, SUARA SIRINE MERAUNG-RAUNG, PESAWAT TEMPUR MENGHUJANI BOM. RENTETAN TEMBAKAN BERDESINGAN. SUARA JERIT TANGIS MENGGOROK TELINGA. DARAH MENDERAS DI MANA-MANA. SUARA KEMATIAN SEPERTI BADAI. PUSARA TUMBUH SEPERTI JAMUR MUSIM HUJAN. PENYESALAN TIADA ARTI.
SOSOK HITAM DAN PUTIH MENGAKHIRI SUASANA MENAKUTKAN ITU DENGAN MENYALAKAN LAMU. CAHAYA ITU TELAH PURBA. TETAPI TIBA-TIBA SUASANA BERUBAH MENJADI CERIA.
SEORANG LELAKI TUA BERMAIN PERANG-PERANGAN SEPERTI ANAK KECIL. IA MENEMBAKI KE SEGALA ARAH. IA MENEMBAKI MASA LALU DAN MASA DEPANNYA YANG HAMPA. IA MENGUSIR SOSOK HITAM DAN PUTIH.
SEBELUM SEMUANYA HANCUR IA MENYAPA PENONTON.

1.LELAKI TUA
Selamat pagi, siang, dan malam penonton sekalian. Selamat apa saja. Selamat bertemu dalam sebuah ruang dan waktu yang berbeda. Sebuah pertemuan yang tidak kita sangka-sangka. Sebuah ketidak mengertian tiba-tiba kita berada di sini tanpa satu kesepakatan dan tujuan. Tetapi jangan bimbang penonton sekalian, karena hakekat pertemuan adalah salaing tegur sapa, kangen-kangenan, bercanda, bercerita apa saja, dan sebagainya dan sebagainya, maka kita harus menghidupkan pertemuan kita pada pagi, siang, dan malam hari ini, agar tidak sia-sia.

Ya, paling tidak setelah pertemuan ini, hati dan pikiran kita menjadi plong dari segala kotoran yang mampet, sehingga pertemuan kita ada tujuannya. Okey!
Sekarang kita harus mengambil kesepakatan, siapa yang terlebih dahulu ingin bercerita, mengungkapkan pikiran, perasaan dan lain-lainya, silahkan. Mungkin Anda sekalian yangh lebih dahulu, atau saya. Oh ya. Anda yang di pojok sana mungkin? Silahkan saudara. Apa? Oh tidak-tidak. Di sini forum bebas berbicara, bebas, sebebas-bebasnya. Tidak ada yang menekan, mengintimidasi, meneror, atau menculiknya. Tidak saudara. Jangan takut saudara. (Pause)
(Kecewa) Ya, hendaknya kita tidak membuat sekat di antara kita walaupun saya tahu bahwa pengalaman hidup manusia itu berbeda-beda. Tetapi saya yakin bahwa pengalaman hidup manusia baik manis maupun pahit itu pasti membekas dalam diri kita sendiri-sendiri. Dan itu tidak boleh kita simpan lama-lama. Entar jadi udun. Lo lak tambah sakit to? Ayo, bagaimana saudara? Apa? Kagak berani. Ha..ha..ha ya, ya saya maklum. Mungkin saudara yang dipojok sana itu masih trauma dengan masa lalunya.
Baiklah, baiklah. Mungkin ada yang berani menerima tantangan (Pause). Kosong, kosong, kosong? Wah, ya sudah kalau tidak ada yang berani, ya silahkan saja duduk manis seperti anggota Kelompencapir, mendengarkan Eyang Kakung ngoceh. (Duduk)

2.LELAKI TUA
Ya, begitulah manusia. Kita tidak pernah bisa menghindar dari kenyataan sejarah masa lalu kita yang telah lewat. Kita terlalu kerdil untuk memnghindari kenyataan itu. Kita terus menerus



Download Naskah Ini

0 komentar:

Poskan Komentar