Pages

Sabtu, 04 Desember 2010

Kabayan di Negeri Romeo

Drama

Kabayan di Negeri Romeo

Karya
ROSYID E. ABBY


DRAMATIC PERSONAE
  1. SUTRADARA
  2. PROF. KABAYAN
  3. ITEUNG, isteri Kabayan
  4. ROMEO, putera bangsawan keluarga Montague
  5. JULIET, puteri bangsawan keluarga Capulet,kekasih Romeo
  6. PANGERAN PARIS, calon suami Juliet
  7. PANGERAN DENMARK, sahabat Pangeran Paris
  8. PANGERAN ENGLAND, sahabat Pangeran Paris
  9. ROSALINA, cinta pertama Romeo
  10. PAPI CAPULET, ayahanda Juliet
  11. MAMI CAPULET, ibunda Juliet
  12. PAPI MONTAGUE, ayahanda Romeo
  13. MAMI MONTAGUE, ibunda Romeo
  14. INANG PENGASUH, pengasuh Juliet

Ass. Wr. Wb.
Saya kirimkan naskah karya saya yang berjudul "KABAYAN DI NEGERI ROMEO" untuk
diterbitkan dalam Web Bank Naskah.
Demikian.
Terimakasih.

Wass. Wr. Wb.

Rosyid E. Abby




SATU

PENTAS MENGGAMBARKAN SEBUAH RUANGAN LABORATORIUM, ATAU BISA JUGA RUANG BELAKANG SEBUAH RUMAH YANG DIJADIKAN TEMPAT EKSPERIMEN.
TAMPAKLAH KABAYAN (PROF. KABAYAN) SEDANG MENELITI HASIL CIPTAANNYA DENGAN SEKSAMA. HASIL CIPTAANNYA ITU BERUPA… MESIN WAKTU! TAK BERAPA LAMA DIA MANGGUT-MANGGUT, WAJAHNYA MENYIRATKAN RASA BANGGA.

PROF. KABAYAN
(MENGHADAP PENONTON, MENGHELA NAPAS) Hhhh… Akhirnya selesai juga… Tak percuma saya begadang tiap malam, sampai-sampai lupa pada kewajiban suami terhadap istri. Bayangkan, sudah satu tahun lebih saya mengerjakan eksperimen ini. Lupa makan, lupa tidur, lupa segala-galanya. Tapi, coba lihat hasilnya…. (MENUNJUK MESIN WAKTU CIPTAANNYA)… Mesin Waktu ciptaan saya ini sudah terwujud dengan sempurna. Dengan Mesin Waktu ini, saya --Profesor Kabayan--, bakal sohor ka awun-awun, kawentar ka janapria. Di televisi, di majalah, di koran-koran, bahkan di berbagai situs dunia maya sekali pun, nama Profesor Kabayan bakal selalu menghias berbagai pemberitaan. Ya, betapa tidak… dengan Mesin Waktu ciptaanku ini… (BERGAYA SEPERTI ORANG BERDEKLAMASI)… aku melanglang waktu demi waktu, abad demi abad. Aku bisa melanglang ke jaman purba atau bahkan ke jaman avant garde yang belum tentu dialami manusia masa kini. Bihari, kiwari, baringsupagi, bakal aku singgahi.

SUTRADARA
(MASUK PENTAS SAMBIL MARAH-MARAH) Etah, etah, ari maneh, Seblu... ! Disuruh akting eh malah deklamasi! Akting, akting! Prolog-nya juga jangan terlalu panjang, Monoton. Nanti penonton bosan. Kalau penonton sudah merasa bosan, nanti pada bubar. Kalau penonton pada bubar, siapa coba yang akan nonton pertunjukan kita?!

PROF. KABAYAN
Kalau tidak ada penonton mah, Pak Sutradara, sudah saja jangan main.

SUTRADARA
(GERAM) Jangan main bagaimana?! Percuma kita latihan kalau tidak main!

PROF. KABAYAN
Ah, Pak Sutradara ini bagaimana, sih? Ikhlaskan saja kita bermain, Pak, tak usah ada pamrih supaya kita ditonton orang.

SUTRADARA
(AGAK SINIS) Ooo, jadi maunya kamu ditonton binatang, begitu?

PROF. KABAYAN
Bukan begitu, Pak Sutradara. Pak Sutradara kan sering wanti-wanti pada pemain, pada kita, pada aktor-aktornya, bahwa bermain teater itu harus ikhlas, jangan dibebani rasa pamrih. Bukan begitu, Pak Sutradara?

SUTRADARA
(MAKIN GERAM) Bukan! Maksudnya bukan begitu, Seblu! Dengarkan ya baik-baik… Ikhlas dalam bermain teater itu adalah… ikhlaskan hati, lenturkan rasa kita, supaya kita lebur dengan peran yang kita mainkan.

PROF. KABAYAN
Jadi…

SUTRADARA
Sudah! Sekarang sudah bukan waktunya diskusi.

PROF. KABAYAN
Tapi…

SUTRADARA
Tidak ada “tapi”! Cepat, segera mainkan peran kamu!

SUTRADARA BERLALU DARI TEMPAT ITU. KABAYAN MELONGO, SAMBIL GELENG-GELENG KEPALA, KEMUDIAN MENGGARUK-MENGGARUK-GARUK KEPALANYA YANG TAK GATAL.


klik di sini untuk download naskah teater
Download Naskah Ini

0 komentar:

Poskan Komentar