Pages

Selasa, 17 Agustus 2004

Rasanya Baru Kemarin...

Puisi: KH.Mustafa Bisri



Rasanya

Baru kemarin



Bung Karno dan Bung Hatta

Atas nama kita menyiarkan dengan seksama

Kemerdekaan kita di hadapan dunia.



Rasanya

Gaung pekik merdeka kita

Masih memantul-mantul tidak hanya

Dari para jurkam PDIP saja.



Rasanya

Baru kemarin.



Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.

Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia

Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya

Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha

Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa

Sudah banyak yang turun tahta

Taruna-taruna sudah banyak yang jadi

Petinggi negeri

Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi

Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.



Rasanya

Baru kemarin



Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.

Menteri-menteri yang dulu suka korupsi

Sudah banyak yang meneriakkan reformasi



Rasanya baru kemarin



Rakyat yang selama ini terdaulat

sudah semakin pintar mendaulat

Pemerintah yang tak kunjung merakyat

pun terus dihujat



Rasanya baru kemarin



Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.

Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh

Padahal pembangunan badan yang kemarin dibangga-banggakan

sudah mulai runtuh



Kemajuan semu sudah semakin menyeret dan mengurai

pelukan kasih banyak ibu-bapa

dari anak-anak kandung mereka

Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi sudah menutup mata

banyak saudara terhadap saudaranya



Daging yang selama ini terus dimanjakan kini sudah mulai kalap mengerikan

Ruh dan jiwa

sudah semakin tak ada harganya



Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan

para penguasa berlaku sewenang-wenang

kini sudah pandai menirukan



Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya

Semakin bertambah besar pengaruhnya

Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda

Kepentingan sendiri dan golongan

sudah semakin melecehkan kebersamaan



Rasanya

Baru kemarin



Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka

Pahlawan-pahlawan idola bangsa

Seperti Pangeran Diponegoro

Imam Bonjol, dan Sisingamangaraja

Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam,

dan Kura-kura Ninja



Banyak orang pandai sudah semakin linglung

Banyak orang bodoh sudah semakin bingung

Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan

Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan



Rasanya

Baru kemarin



Tokoh-tokoh angkatan empatlima sudah banyak yang koma

Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah banyak yang terbenam

Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya sudah banyak yang tak jelas maunya



Rasanya

Baru kemarin



(Hari ini ingin rasanya

Aku bertanya kepada mereka semua

Sudahkah kalian Benar-benar merdeka?)



Rasanya

Baru kemarin



Negeri zamrud katulistiwaku yang manis

Sudah terbakar nyaris habis

Dilalap krisis dan anarkis

Mereka yang kemarin menikmati pembangunan

Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban

Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri

Sudah meninggalkan utang dan lari mencari selamat sendiri



Mereka yang kemarin sudah terbiasa mendapat kemudahan

Banyak yang tak rela sendiri kesulitan

Mereka yang kemarin mengecam pelecehan hukum

Kini sudah banyak yang pintar melecehkan hukum



Rasanya baru kemarin

Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.



Mahasiswa-mahasiswa pejaga nurani

Sudah dikaburkan oleh massa demo yang tak murni

Para oportunis pun mulai bertampilan

Berebut menjadi pahlawan

Pensiunan-pensiunan politisi

Sudah bangkit kembali

Partai-partai politik sudah bermunculan

Dalam reinkarnasi



Rasanya baru kemarin



Wakil-wakil rakyat yang kemarin hanya tidur

Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur

Insan-insan pers yang kemarin seperti burung onta

Kini sudah pandai menembakkan kata-kata



Rasanya

Baru kemarin

Padahal sudah lima puluh sembilan tahun kita

Merdeka.



Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili

Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali

Mereka yang kemarin dijarah

Sudah mulai pandai meniru menjarah

Mereka yang perlu direformasi

Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi

Mereka yang kemarin dipaksa-paksa

Sudah mulai berani mencoba memaksa



Mereka yang selama ini tiarap ketakutan

Sudah banyak yang muncul ke permukaan

Mereka yang kemarin dipojokkan

Sudah mulai belajar memojokkan

Mereka yang kemarin terbelenggu



Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu

Mereka yang kemarin giat mengingatkan yang lupa

Sudah mulai banyak yang lupa



Rasanya baru kemarin



Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka semua

Tentang makna merdeka



Rasanya baru kemarin



Pakar-pakar dan petualang-petualang negeri

Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib bangsa

Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri

Hanya dengan meludahkan kata-kata



Rasanya baru kemarin



Dakwah mengajak kebaikan

Sudah digantikan jihad menumpas kiri-kanan

Dialog dan diskusi

Sudah digantikan peluru dan amunisi



Rasanya baru kemarin



Masyarakat Indonesia yang berketuhanan

Sudah banyak yang kesetanan

Bendera merahputih yang selama ini dibanggakan

Sudah mulai dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian



Rasanya baru kemarin



Legislatif yang lama sekali non aktif

Dan yudikatif yang pasif

Mulai pandai menyaingi eksekutif

Dalam mencari insentif



Rasanya baru kemarin



Para seniman sudah banyak yang senang berpolitik

Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik

Para wartawan sudah banyak yang pintar bikin trik-trik



Rasanya

Baru kemarin



Tokoh-tokoh orde lama sudah banyak yang mulai menjelma

Tokoh-tokoh orde baru sudah banyak yang mulai menyaru



Rasanya

Baru kemarin



Orang-orang NU yang sekian lama dipinggirkan

Sudah mulai kebingungan menerima orderan

NU dan Muhammadiyah yang selama ini menjauhi politik praktis

Sudah kerepotan mengendalikan warganya yang bersikap pragmatis



Rasanya

Baru kemarin



Pak Harto yang kemarin kita tuhankan

Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan

Bayang-bayangnya sudah berani pergi sendiri

Atau lenyap seperti disembunyikan bumi

Tapi ajaran liciknya sudah mulai dipraktekkan

oleh tokoh-tokoh yang merasa tertekan

Anak dan antek kesayangan Bapak sudah berani tampil lagi

Mendekati rakyat lugu mencoba menarik simpati

Memanfaatkan popularitas dan kesulitan hidup hari ini



Rasanya baru kemarin



Habibie sudah meninggalkan

Negeri menenangkan diri

Gus Dur sudah meninggalkan

Atau ditinggalkan partainya seorang diri



Rasanya baru kemarin

Padahal sudah limapuluh sembilan tahun lamanya

Megawati yang menghabiskan sisa kekuasaan Abdurrahman

Mengajak Hasyim Muzadi merebut lagi kursi kepresidenan

Membangkitkan nafsu banyak warga NU terhadap kedudukan



Apalagi Wiranto yang mengalahkan Akbar

menggandeng Salahuddin keturunan Rais Akbar

Ikut bersaing merebut kekuasaan melalui Golkar

Dan didukung PKB yang dulu ngotot ingin Golkar bubar



SBY yang mundur dari kabinet Mega juga ikut berlaga

Dengan Jusuf Kalla menyaingi mantan bos mereka

Bahkan dalam putaran pertama paling banyak mengumpulkan suara



Amin Rais yang sudah lama memendam keinginan

Memimpin negeri ini mendapatkan Siswono sebagai rekanan

Sayang perolehan suara mereka tak cukup signifikan



Hamzah Haz yang tak dicawapreskan PDI maupun Golkar

Maju sendiri sebagai capres dengan menggandeng Agum Gumelar

Maju mereka berdua pun dianggap PPP dan lainnya sekedar kelakar



Rasanya baru kemarin



Rakyat yang sekian lama selalu hanya dijadikan

Obyek dan dipilihkan

Kini sudah dimerdekakan Tuhan

Dapat sendiri menentukan pilihan

Meski banyak pemimpin bermental penjajah yang keberatan

Dan ingin terus memperbodohnya dengan berbagai alasan

Rakyat yang kebingungan mencari panutan

Malah mendapatkan kedewasaan dan kekuatan

(Hari ini ingin rasanya

Aku bertanya kepada mereka semua

Bagaiman rasanya

Merdeka?)

Rasanya baru kemarin

Orangtuaku sudah lama pergi bertapa

Anak-anakku sudah pergi berkelana

Kakakku dan kawan-kawanku sudah jenuh menjadi politikus

Aku sendiri tetap menjadi tikus



(Hari ini

setelah limapuluh sembilan tahun kita merdeka

ingin rasanya aku mengajak kembali

mereka semua yang kucinta

untuk mensyukuri lebih dalam lagi

rahmat kemerdekaan ini

dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani

diri sendiri

bagi merahmati sesama)

Rasanya baru kemarin

Ternyata sudah limapuluh sembilan tahun kita

Merdeka



(Ingin rasanya

aku sekali lagi menguak angkasa

dengan pekik yang lebih perkasa:

Merdeka!)



Rembang, 17 Agustus 2004

Minggu, 15 Agustus 2004

Sepasang Sepatu di Depan Pintu

Cerpen M. Arman AZ



Jangan anggap aku anak rajin kalau sering berangkat ke sekolah pagi-pagi. Apalagi menganggapku pintar, itu salah besar. Sesungguhnya aku bodoh, berotak bebal. Tiap tahun, lima ranking paling buncit di kelas, salah satunya pasti milikku. Jadi, kalau pun naik kelas, kupikir karena nasib baik saja.



Setelah lancar mengeja, menulis, menjumlah, dan cukup tahu sedikit tentang sejarah, tak ada lagi manfaat yang kupetik dari sekolah. Di mataku, gedung itu malah menyerupai lintah. Makin hari makin bengkak, saking rakusnya menghisap darah. Aku dipaksa membeli buku ini itu atau membayar biaya ini itu. Kalau tak dituruti, siap-siaplah kena marah atau dipersulit di kemudian hari.



Teman-temanku selalu mencemooh jika kuceritakan bahwa di luar sana banyak tempat bagus untuk menambah ilmu dan pengalaman. Mereka malah menganggapku sok pintar. Aku bahkan pernah disindir. Kata mereka, "Hei, Lela, kalo sudah bosen sekolah, kenapa masih datang kemari?" atau "Memangnya mau ngapain kalo nggak sekolah?!"



Aku murid perempuan yang bodoh. Tapi, itu penilaian guru dan teman-temanku. Mereka tak tahu bahwa aku adalah pengamat sepatu yang baik. Bukankah itu satu kelebihan tersendiri?



Entah sejak kapan aku punya kebiasaan aneh itu. Otakku cepat merekam berbagai jenis dan bentuk sepatu yang melintas di dekatku. Kadangkala, sifat seseorang bisa kutebak lewat sepatu yang dikenakannya. Rena, misalnya. Orang tuanya pasti borju. Hampir tiap hari alas kakinya ganti-ganti. Kalau kemarin cokelat, hari ini merah, besok tunggu saja warna apa lagi yang dipakainya. Ditambah lagaknya yang angkuh, tentu tebakanku jitu. Si Bengal Dodi lain lagi. Dia duduk di depanku. Sepatu sebelah kirinya sudah robek. Kaos kakinya coklat kumal. Jika angin berhembus, tercium aroma tengik dari bawah meja. Sementara, aku dan murid lainnya cuma punya sepasang sepatu yang harus kami rawat baik-baik untuk dikenakan setiap hari.

***

Kami, aku dan bapak, menghuni bedeng berdinding kayu. Letaknya masuk ke dalam gang dengan liku menyerupai labirin. Berjejalan dengan bedeng-bedeng lainnya. Bau busuk got mampat, aroma ikan asin digoreng, lalat hijau menari di atas gumpalan dahak, musik dangdut, kata-kata kasar, tangis bayi, jalan becek, genteng bocor di musim hujan, perkakas dapur beterbangan, adalah pemandangan biasa bagi kami. Kalau sudah garis tangan untuk melarat sampai berkarat, mau diapakan lagi?



Aku besar di lingkungan yang keras. Kawasan tempat tinggal kami tersohor sebagai kompleks pelacuran di kota ini. Ibarat akar pohon yang menancap kuat dalam tanah, julukan itu tak bisa dirobohkan lagi. Sama seperti rasa benciku pada ibu. Janjinya cuma dua tahun kerja di Malaysia. Begitu kontrak kerja sebagai TKW selesai, dia mau pulang. Membuka usaha kecil-kecilan dengan uang simpanan. Nyatanya ibu berdusta. Sampai sekarang dia tak pernah pulang. Malah dalam surat terakhirnya, ibu mengabarkan bahwa sudah kawin lagi di seberang sana. Kurang ajarnya, dia menyuruh bapak menyusul jejaknya, mencari istri baru demi kebaikanku, anak semata wayangnya. Ah, tahi kucing dengan ibu.



Meski ditinggalkan ibu, bapak tetap setia dengan kios kecilnya. Hasil dagangan dipakai untuk menyumpal perut kami, juga membayar biaya sekolahku. Aku sudah kelas enam SD. Kata tetangga, aku malah kelihatan seperti anak SMP. Penasaran dengan celetukan mereka, sekali waktu aku bercermin. Tubuhku memang bongsor. Sepasang bukit telah muncul di dadaku. Pinggangku juga ramping. Pantas bapak sering menasehati agar hati-hati bergaul di sekitar tempat ini.



Di depan gang, ada seruas jalan yang selalu ramai bila malam membentangkan layar. Di sana hingar-bingar, warna-warni, penuh tawa. Hampir di setiap rumah tergantung plang bertuliskan "Wisma", "Losmen", atau "Karaoke". Banyak wanita-wanita duduk-duduk santai sambil ngobrol. Tua muda. Cantik jelek. Kadang-kadang mereka tertawa ngakak kalau ada yang lucu menurut mereka. Dandanan mereka menor-menor. Aku pernah mencoba berdandan, meniru gaya mereka. Tapi, aku tak berani merokok seperti mereka. Bapak bisa menamparku kalau ketahuan merokok.



Sebelum membawa tamu lelaki masuk ke wisma, losmen, atau karaoke, mbak-mbak itu memesan minuman ringan atau rokok. Bapak tak bisa meninggalkan kios begitu saja. Jadi, tugaskulah untuk mengantar pesanan para tamu.

***

Aku duduk sendirian di pojok kelas. Teman-temanku menganggap siapa yang menghuni bangku belakang, kalau bukan anak badung pasti anak bodoh. Karena itulah, aku nyaris tak punya teman. Mereka kadang menghindar atau menatap curiga kalau aku mendekat.



Di sekolah tak diajarkan bagaimana membaca situasi dan memenangkannya. Teman-temanku tak tahu apa yang kulakukan di pojok kelas. Mereka hanya duduk rapi dan tegang menyimak pelajaran yang diberikan guru. Takut kena marah kalau ketahuan celingak-celinguk. Apalagi kalau tiba-tiba dipanggil ke depan kelas, dan ternyata tak bisa mengerjakan soal-soal di papan tulis. Wajah mereka mirip kerbau dungu saat berdiri dengan sebelah kaki terangkat.



Sepatu guru pun tak luput dari pengamatanku. Biasanya, ketika mereka berkeliling mengawasi ulangan, aku suka mencuri pandang ke arah sepatu mereka. Kuselidiki warna, bentuk, jenis, hingga perangai pemakainya. Nah, inilah yang membuatku heran. Dari dulu sampai sekarang, sepatu guru-guruku tak berubah. Ada yang kulitnya terkelupas. Ada yang dijahit berkali-kali. Bahkan ada yang sepatunya sudah tak muat lagi, tapi tetap saja dikenakan hingga jemari kakinya membayang jelas.



Apakah guru-guruku tak punya sepatu cadangan? Atau gaji mereka tak cukup untuk membeli sepatu baru?

***

Ini malam minggu. Malam yang panjang. Sore tadi, bapak mengingatkan agar lepas magrib aku sudah membantunya di kios. Tempat ini lebih semarak ketimbang hari-hari biasa. Ramai orang berarti ramai pembeli. Rokok, minuman ringan, bir, dan kacang kulit, pasti laku keras. Isi kios berkurang. Isi dompet bapak bertambah. Hidup terasa lebih ringan. Aku dan bapak bisa tersenyum sekejap.



Aku tak pernah mengeluh meski terkadang kerja sampai larut malam. Selain bisa membantu bapak, kadangkala aku juga dapat seseran dari orang-orang baik hati. Tapi mulai sekarang aku harus lebih waspada. Jangan sampai kecolongan seperti malam Minggu kemarin. Ada seorang lelaki mengelus pundak dan meremas bokongku. Dasar bajingan. Dipikirnya aku sama seperti mbak-mbak menor itu.



"Lela, cepat kemari!" Kulihat wajah bapak terang diguyur cahaya petromaks. Tangannya melambai ke arahku. Bergegas kuhampiri bapak. Aku membawa cerita bagus untuknya. Barusan tadi aku mengantar dua botol bir hitam, kacang, dan lima bungkus rokok ke salah satu rumah. Pembelinya orang bule, awak kapal yang siang tadi merapat di pelabuhan. Dia memberiku uang lima puluh ribu rupiah. Mbak Sari yang menggelendot di pinggang bule tinggi besar itu, mengedipkan matanya ke arahku. Dia bilang ambil saja kembaliannya untukku. Tentu saja aku girang. Buru-buru kutinggalkan mereka. Tak kupedulikan wajah si bule yang kebingungan, tak paham obrolan kami.



Bapak tertawa ngakak waktu kuceritakan kejadian barusan. "Hahaha, bagus Lela. Biar tahu rasa dia. Sekali-kali orang macam itu memang harus dikerjain. Masak, dari dulu sampai sekarang, kita dijajah terus-terusan sama mereka. Hahaha "



Bapak menyodorkan plastik hitam padaku. Isinya dua botol air mineral dan sebungkus rokok. Aku harus mengantarnya ke rumah Tante Mila. "Pembelinya sudah mesan dari tadi," kata bapak. Tanpa buang waktu, langsung kukerjakan perintah bapak. Ini sudah keenam kali aku pulang balik mengantar pesanan. Dengan uang di kantong, lelah jadi tak terasa. Rumah yang kutuju seolah bisa dijangkau dengan sekali lompatan.



Aku terkejut melihat sepasang sepatu yang tergeletak serampangan di depan pintu. Sepatu kulit tua model kuno itu mengingatkanku pada sesuatu. Pelajaran matematika yang menjemukan dan gurunya yang menyebalkan. Ya, ya, Pak Songong, dia paling jago membentak dan menghukum murid yang tak bisa mengerjakan soal. Ia juga suka membelai-belai punggung murid wanita, dan mencuri pandang ke arah kancing atas murid wanita yang menunduk ketakutan di sebelahnya.



Aku yakin, sepatu ini milik Pak Songong, guru matematikaku. Aku hafal benar bentuk dan jenisnya. Warnanya cokelat tua, mirip sepatu koboi yang yang kulihat di film-film. Jika sedang menapak lantai, bunyinya klotak-klotak menyeramkan.



Apa yang dilakukan Pak Songong di sini? Bukankah tempat ini tak layak untuk didatangi guru, orang yang katanya harus digugu dan ditiru? Aha, malam ini, di bawah keremangan lampu, aku dapat ilmu tambahan. Moral seseorang tak bisa diukur dari jabatan atau gelar yang disandangnya.



Jika Senin lusa kuceritakan apa yang kulihat malam ini pada seisi kelas, apakah mereka percaya? Atau, lebih baik aku diam saja? Goblok! Buat apa berfikir sejauh itu?! Kalau pintu ini kuketuk, lalu wajah Pak Songong menyembul di muka pintu, dia pasti kaget bukan main, mengetahui pesanannya diantar muridnya. Apa yang akan dikatakannya? Apa yang harus kulakukan? Ah, kami pasti sama-sama malu. ***



Bandar Lampung, Des 03

Minggu, 08 Agustus 2004

Lamaran Dewi Anggraeni

Cerpen Ratna Indrawari Ibrahim



Ande-Ande Lumut

Temuruno ono putri kang unggah-ungahi

Putrine�




Adik raja meletakkan sebilah keris di tempat ini. "Anggraeni, engkau tahu aku diberi tugas untuk membunuhmu agar Jenggala dan Daha bisa bersatu padu. Cinta Nak Mas Panji Semirang terhadapmu membuatnya lalai menikahi Sekartaji. Padahal, itu bukan sekadar pernikahan antara putra raja. Tapi perkawinan itulah yang akan mempersatukan Jenggala dan Daha yang selama ini terpisah, padahal mereka kakak beradik. Sebagai rakyat kau tahu kita harus berbakti dan taat kepada raja dan negeri ini. Kita tidak ingin dianggap penghianat, kan? Apalagi, engkau anak seorang patih."



Untuk sesaat kemarahan menggumpal di seluruh urat nadi saya. Air mata membasahi seluruh wajah saya. Adik raja itu tidak pernah tahu percintaan kami, kala bunga dan burung saling berbisik, saya dan Panji Semirang dengan penuh cinta melewati malam-malam. Lantas, bisa kau bayangkan, kami bukan sekadar keniscayaan! Sukma kamilah yang saling memanggil, saling terkait tak kan lepas apa pun yang terjadi.



Apakah ini sebuah kesalahan? Apakah negara berhak mencampuri dan merumuskan apa yang harus kami lakukan? Kemudian adik raja itu berkata, "Aku tahu kamu hanya perempuan yang sedang jatuh cinta. Aku tidak bisa mengotori tanganku dengan membunuhmu."



Untuk sesaat, saya merasa dikucilkan dan itu hanya karena saya anak patih. Sang putri bukanlah saya, sebab dia tidak boleh memiliki raja. Buat mereka paling-paling saya hanya bisa menjadi selir, tidak akan pernah menjadi permaisuri. Padahal saya tahu benar bahwa dalam kehidupan Kang Mas Panji, saya tidak akan pernah menjadi orang kedua atau selir! Sekalipun lazimnya raja-raja punya istri banyak dan itu adalah hal yang biasa di masyarakat kami. Saya juga tahu Panji Semirang tidak mungkin mendua, tanpa dia harus bilang berulang-ulang: "Saya menyayangi Sekartaji seperti semua orang yang menyayangi adik sepupunya." Buatnya, saya adalah kasih yang terkasih.



Jadi, apakah mungkin saya harus menjadi pertapa seperti Dewi Kili Suci (perempuan pendeta yang tidak ingin menikah) yang harus terus-menerus berkata bijak dan mendahulukan kepentingan negeri daripada dirinya?

Saya ambisius, licik!



Gelombang cinta akan terus-menerus menggerus, mengaliri seluruh urat nadi tubuh saya. Malam-malam sekalipun kami kadang-kadang tidak bertemu secara fisik, tapi jiwa kami saling memanggil. Kami sepertinya menyatu di balik pohon sawo kecik yang ada di dalam kaputren ini dan merasa tidak canggung ketika burung hantu mengedipkan matanya kepada kami.



Jadi, kami tidak mungkin terpisahkan dan saya tidak bisa menjadi Dewi Kili Suci, sang pertapa sepanjang hidupnya itu.

Kemarahan menghantam seluruh urat nadi saya. Raja dan Dewi Kili Suci berperan serta dalam penderitaan ini. Apakah hanya pernikahan saja yang membuat Jenggala dan Daha bisa bersatu? Apakah tidak bisa dibuat perjanjian di mana mereka tidak akan saling menggangu, berdamai satu dengan yang lain? Dan benarkah kalau saya bersikukuh dengan keputusan itu? Adik raja itu berpendapat begini, "Jenggala dan Daha akan selalu berperang, kalau mereka tidak jadi menikah. Akibatnya akan banyak yatim-piatu dan janda di negeri ini. Kalau mereka baku hantam ibu-ibu mereka hanya bisa menyayikan lagu perang dan balas dendam kepada anak-anaknya."



Saya bayangkan hal itu dan saya merasa ngeri sendiri karena negeri ini akan bersimbah darah. Lantas, kalau saya harus melihat masalah ini dengan ruang yang lebih besar, yaitu negeri ini, di manakah saya boleh berpijak? Apakah cinta kami harus dipenggal? Saya menjadi martil? Kalau itu yang terjadi, saya akan matur kepada Romo dan Bunda. Saya tahu Romo akan menyuruh saya untuk berpikir dewasa. Dalam artian, dia memang mengikhlaskan saya bersimbah darah demi negeri ini atau mungkin demi jabatannya. Sedangkan Bunda tidak akan pernah berdaya pada keputusan Romo. Dia bilang, "Larilah ke mana saja dan jadilah kaum perempuan kebanyakan. Rasanya itu lebih baik untuk hati ibu."



Saya tidak bisa membayangkan begitu (saya, bagaimanapun putri seorang patih, tidaklah mudah untuk menjadi orang kebanyakan). Lantas apa yang harus saya lakukan? Besok wakil raja itu akan datang lagi, sampai dia tahu keberanian saya untuk mengakhiri hidup.



Saya tahu, ini juga sangat menyakitkan. Karena saya tidak ingin bunuh diri. Tapi, malam ini, ada suara-suara aneh yang meyuruh saya bunuh diri�

***

Berita tentang kematian saya harus dikoreksi. Karena kemudian cerita yang beredar saya bunuh diri karena tidak dinikahi Panji Semirang. Saya memang mencintainya sekalipun tak banyak orang tahu Panji Semirang yang bertubuh lembut itu sangat sensitif. Saya kadang-kadang merasa harus membimbingnya, karena saya yakin satria itu tidak boleh selembut itu. Dia harus betul-betul seperti kesatria dalam gambaran umum, yaitu lelaki sakti yang jarang sakit. Padahal saya tahu dia itu sangat sensitif dan sering sekali sakit kepalanya. Itulah kekurangan Panji Semirang. Dan saya harus menutupi itu, karena dia seorang kesatria putra seorang raja, di mana mimpi setiap orang ingin diwakilkan kepadanya. Semakin lama semakin tahu wataknya, saya semakin mencintai kekurangannya itu. Karena dia juga memahami saya yang kadang-kadang suka meledak-ledak.



Saya mencoba menenangkan diri. Tapi, tiba-tiba seperti ada suara yang membisiki bahwa sejarah pada saat itu tidak mungkin terjadi pernikahan yang sejajar antara kawula dan gusti-nya. Saya ingin menjerit karena keinginan untuk bunuh diri semakin besar! Berarti Sekartaji akan menjadi pengantin Panji Semirang. Saya merasa tidak ingin hal itu terjadi (maksudku pernikahan antara Sekartaji dan Panji Semirang). Barangkali ini adalah sebuah jawaban yang tepat kalau saya menjadi ruh. Saya akan menyusup ke wadag Sekartaji dan menguasai wadag itu.



Malam itu, dengan letih jiwa saya memanggil-manggil Kang Mas Panji Semirang. Saya katakan rencana saya untuk bunuh diri. Dia kelihatan putus asa dan menangis. Sepertinya dia ikhlas kalau dia tidak menjadi raja. Malam itu dia lebih putus asa daripada diri saya.



Akhirnya kami sama-sama merasa perlu bersemedi dan saya katakan kepadanya barangkali kita harus sama-sama menjadi orang kebanyakan dulu, sebelum terjadi pernikahan itu.



Panji Semirang tidak mempercayai pendapat saya. Dia bilang, "Saya seorang raja dan tidak akan pernah menjadi orang kebanyakan."



Saya mencoba bersabar dan menerangkan hal ini pelan-pelan. "Kita hidup di zaman di mana hidup ini telah dikotak-kotak dalam kelas-kelas sosial dan itu berlaku di masa kita. Barangkali adalah sebuah keberanian saja ketika kau menjadi orang kebanyakan."



Kemarahan membeludak terlihat jelas di mata Kang Mas Panji Semirang. "Aku seorang kesatria yang harus memikul tugas negeri ini, bagaimana bisa aku menjadi orang kebanyakan dan tidak melakukan apa-apa kecuali bercinta denganmu?"



Saya ingin menamparnya. Tapi ketika saya melihat kesedihan di seluruh permukaan wajahnya, saya sedih sekali. Saya memeluknya, menghiburnya, dan hampir mengajaknya untuk tidak peduli dengan Jenggala dan Daha.



Tapi, kemudian yang terlihat adalah janda-janda, anak-anak yatim-piatu yang terabaikan. Kemudain saya katakan, "Kita akan bertemu karena kita saling mencintai..."



"Aku lebih suka wadag-mu yang sekarang."

Tanpa terasa kami menangis bersama. Tiba-tiba matahari sudah mulai bersinar dan pelan-pelan saya mendengar suara Bunda dari balik pintu.



"Saya ingin kamu pergi, dan tidak melakukan bunuh diri."

Bunda memang punya naluri yang tajam. "Saya akan pergi pagi ini juga, Bunda," jawab saya.



Kemudian saya membuka pintu kamar. Bunda memeluk dan berkata sangat tegas, "Nduk, aku sudah menyiapkan orang-orang yang akan menemani kamu selama menjadi orang kebanyakan. Pagi ini adalah penghabisan kita bertemu. Mungkin beberapa tahun lagi kita baru bisa bertemu setelah Nak Mas Panji Semirang menikah dengan Sekartaji dan melupakan cintanya kepadamu. Aku kira itu mudah bagi Nak Mas Panji Semirang karena Sekartaji mencintainya dan mereka sama-sama putra raja."



Kemarahan saya menjalar lagi ke seluruh tubuh. "Bunda, apakah dalam hidup ini kita harus selalu diatur oleh raja, suami, dan kakak laki-laki?! Apakah sebagai perempuan kita tidak punya pilihan hidup di jagat ini? Bunda, saya sudah memilih dan percayalah pilihan saya bukan karena putus asa. Bisakah saya memilih menjadi perempuan yang menentukan apa yang saya mau? Dan apakah Bunda mau merestui?"



Bunda menangis dan saya tidak tahu apakah dia membenarkan ucapan saya atau tidak. Yang pasti, dia memberikan kebebasan itu. Saya terkejut karena merasa baru kali inilah saya melihat Bunda berpendapat bukan atas nama suami, tetapi sebagai perempuan yang bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Saya menangis.

****

Kemudian semua orang tahu saya bunuh diri. Dan itu mempersatukan Daha dan Jenggala. Juga semua orang tahu ketika saya meninggal Panji Semirang begitu sedihnya.



Di malam yang pekat dia mengembara jauh sekali sampai kemudian dia memutuskan untuk menjadi anak angkat orang kebanyakan, yaitu Mbok Rondo Dadapan dan memberinya nama Ande-Ande Lumut.



Baik Ande-Ande Lumut maupun saya sangat tahu bahwa kami adalah pengembara yang akan terus saling jatuh cinta di jagat ini. Karena itu, sekalipun Sekartaji menjadi Kleting yang buruk rupa (saya masuk ke wadag-nya), dari sekian perempuan yang melamarnya Ande-Ande Lumut menerima lamaran saya! ***

Malang, 14 Januari 2003

Catatan:


Cerita ini diadopsi dari cerita Mbah Karimun, tokoh Topeng Malangan. Ceritanya tentang "Panji Semirang" di babak Ande-Ande Lumut.

Sabtu, 31 Juli 2004

Sepasang Sepatu

Cerpen Zoya Herawati



Suatu hari di bulan Agustus, seseorang mengirimi aku sepasang sepatu, tepat ketika aku tengah membutuhkannya. Kukatakan demikian karena sepatu milikku yang beberapa minggu sebelumnya kubeli dari sebuah butik mahal, bagian uppernya sudah mulai retak-retak, mengenaskan.



Kerut-kerut putih yang timbul pada permukaan kulit berwarna hitam pekat, menjadikan kakiku tak nyaman mengenakannya. Semua mata seolah menyipit atau melotot penuh ejekan saat menatap kakiku melangkah ke mana saja, hingga rasanya tubuhku memberat dan ingin sesegera mungkin ambles ke bumi. Pernah aku mengadukan perihal tersebut kepada pelayan butik, tentang betapa jeleknya kualitas sepatu yang harganya hampir setengah juta rupiah itu.



Tetapi aku kembali menelan kekecewaan. Pelayan itu hanya mengangguk-angguk kecil tanpa mengerti harus melakukan apa. "Menyesal kami tidak bisa memuaskan Bapak sebagai pelanggan, tetapi kasus seperti ini memang tidak diatur dalam perjanjian. Kalau Bapak bersedia, bisa membeli lagi sepasang yang baru," katanya.



Kalimat yang disampaikan dengan lemah lembut itu tetap saja serasa menggempur dada. Jika saja ia bukan pelayan dengan wajah manis sekali, ingin aku mengajarnya seketika. Tapi itulah kelemahanku, selalu saja tak berdaya berhadapan dengan wajah manis, inosen, dan sedikit manja. Perempuan berparas ayu selalu saja membuatku bertingkah laku konyol dan sedikit memalukan. Yang bisa kulakukan hanyalah memarahi diri sendiri menyesali kelemahanku itu.



Dengan perasaan dongkol kubawa pulang kembali sepatu sialan itu, dan segera kulemparkan ke sembarang pojok kamar tanpa pernah mengusiknya lagi. Jadilah, ke mana pun pergi aku hanya mengenakan sandal kulit yang sudah lama kucampakkan. Sebenarnya bisa saja aku membeli sepatu dengan sembarang merk, tetapi itulah, aku tak ingin musibah itu menimpaku lagi. Sepatu berharga mahal saja bisa membuatku kecewa, apalagi sepatu "ebrekan". Sampai beberapa minggu kemudian, tabunganku masih saja belum cukup untuk membeli sepasang sepatu baru seperti yang kuharapkan. Di sisi lain aku hanya berharap mudah-mudahan sandal usang itu mampu bertahan beberapa waktu lagi, karena seperti kabar burung yang kudengar, semua tukang sol sepatu pada bulan seperti ini pulang kampung untuk panen. Memang tak satu pun tukang sepatu lewat seiring dengan kabar tersebut. Pernah terbesit dalam pikiranku bahwa sebenarnya mereka adalah orang-orang licik yang dengan sengaja menyembunyikan kekayaan yang dimiliki di desa. Tetapi karena hal itu bukan merupakan kesalahan aku pun hanya bisa diam.



Kubaca sekali lagi secarik kertas bertuliskan ucapan selamat ulang tahun yang kuambil dari kardus tempat sepatu. "Mudah-mudahan Agustus tahun ini memberimu kebahagian." Mula-mula aku memang sempat bertanya-tanya kepada diri sendiri, siapa gerangan orang yang sudah berbaik hati mengirimi aku sepasang sepatu dengan kualitas kulit nomor satu?! Apa maksudnya? Apa ia salah seorang yang selama ini memperhatikan ke mana pun aku pergi hanya dengan mengenakan sandal, dan kemudian menjadi iba hati, lalu mengirimkan sepatu ini? Atau ia seorang pemilik pabrik sepatu yang sedang cuci gudang, lalu membagikan sisa barang gudangnya? Tetapi mengapa hanya aku, bukankah di kampung ini banyak juga yang mengenakan sandal, atau bahkan tak bersepatu dan tak beralas kaki sama sekali? Apa pun alasan si pengirim, rasa-rasanya aku patut bersyukur kepadanya karena seperti yang kukatakan, ia mengirimkannya pada saat yang tepat.



Tatkala perasaan di dadaku sudah sampai pada puncak, aku kenakan sepatu itu dan mematut diri di depan kaca, sambil sesekali kuusir debu pada permukaannya agar sepatu itu tetap tampak mengkilap. Setelah kurasa cukup, kumasukkan kembali sepatu itu ke dalam kardus dan kusimpan di tempat yang cukup aman. Artinya terlindung dari pandangan rekan-rekan satu kos. Maklum, jika melihat benda baru, mereka selalu berebut memakainya lebih dulu tanpa mempertimbangkan perasaan sang pemilik.

***

Sementara itu sudah hampir sebulan aku mengenakan sepatu kiriman entah dari siapa sampai saat ini aku tetap tak tahu. Tak satu pun petunjuk mengatakan kepadaku tentang diri si pengirim. Ia berlalu begitu saja, seolah benar-benar ikhlas dengan pemberiannya itu. Tanpa pamrih, begitu orang biasa menyebutnya. Di kantor atau di mana pun aku berada, sepatu itu telah membuatku makin percaya diri. Dengan gesper putih mengkilat dan potongan dinamis, sepatu itu sepertinya cocok dipadukan dengan pantalon warna apa saja. Dengan kata lain sepatu kiriman itu telah menjebatani duniaku dengan dunia di luar diriku, dan ia pun merupakan kata kunci bagiku untuk pintu yang di baliknya tersaji gelanggang yang sarat dengan tipu daya dan kepalsuan.



Pada tahap ini aku seolah sadar telah terseret pada keadaan yang aku sendiri hendak menolaknya seandainya aku mampu. Sayang, aku tak punya kesempatan membangun keberanian pada saat pengirim sepatu itu datang suatu ketika. Kala itu aku tengah menghabiskan waktu setelah seharian penuh bekerja sebagai sub-kontraktor pada perseroan yang bergerak di bidang perkapalan. Perawakannya tidak seberapa besar, dengan kumis lebat melintang ia mirip sebagi anggota TRIAD, seperti dalam film-film laga.



Setelah berbasa-basi sejenak, ia pun menguraikan maksud kedatangannya agar aku bersedia membantunya setelah menerima pemberiannya berupa sepasang sepatu.



"Saya memang berharap banyak dari Anda. Saya harap Anda bersedia menjadi calon kami, karena dengan demikian timbal balik di antara kita sudah sah," katanya seraya menikmati kue brownies yang kuhidangkan.



Seharusnya aku merasa kesal terhadap laki-laki yang mengaku sebagai direktur eksekutif sekaligus sebagai bendahara salah satu kontestan pemilihan umum. Dugaan tanpa pamrih buyar seketika. Melihat kegigihanya mendekatiku, ada rasa iba. Pada saat itu timbul niatku untuk membungkus dan mengembalikan pemberiannya. Tetapi demi mengingat sepatu itu sudah kupakai, aku membatalkan niat itu.



"Baiklah. Meski Bapak menghargai saya hanya dengan sepasang sepatu, saya akan mencoba bersikap profesional. Tawaran itu saya terima meski saya tak ingin tahu apa alasan yang tepat atas pilihan itu," kataku tegas.



Ia pun menepuk pundakku dengan mantap dan berlalu meninggalkan aku yang masih merasa heran dengan keberanianku mengambil keputusan. Kadang memang muncul anggapan aneh tentang diri sendiri, tetapi ketika seseorang memahami jika setiap saat terjadi proses, maka keanehan itu akan hilang dengan sendirinya. Pada akhirnya aku pun bisa menguasai diri, dalam arti harus siap bermain dengan peran apa pun. Inilah yang kukatakan sebagai gelanggang yang sarat dengan tipu daya dan kepalsuan.

***

Perjalanan itu tak terlalu menyenangkan. Bertolak dari markas anak cabang, mobil yang berisi lima orang termasuk aku, berjalan terseok-seok di antara kerumunan massa yang menyemut sejak pagi. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang mereka cari, toh ketika semua usai, yel-yel yang memenuhi udara tak akan ada artinya lagi. Tidaklah berlebihan jika kukatakan bahwa persoalan yang sulit dihadapi adalah ketika menaklukkan mimpi-mimpi.



Kami menuju sebuah hotel berbintang di jantung kota, melewati arak-arakan yang tak ada putusnya, melingkar-lingkar memenuhi badan jalan, sementara yang lain lebih senang mengalah. "Tapi itulah rakyat. Biarkan mereka berpesta," kata Ketua Cabang berapi-api.



Aku mengerutkan dahi. Kata-kata pesta yang baru saja ia ucapkan seakan menyadarkan aku akan keberadaan orang-orang di sebelah real estate tempat aku tinggal selama ini. Pesta bagi mereka merupakan saat-saat menggantungkan mimpi dan harapan entah kepada siapa, karena selama ini para pemimpin hanya pandai beretorika tanpa mau tahu kapan mereka mewujudkan mimpi-mimpi kaum papa.



Ah, sudahlah! Aku terlalu lelah memikirkan persoalan yang bukan persoalanku. Apakah itu sekadar pelarian rasa kesal, aku sendiri tak tahu. Persoalan orang-orang kampung di sebelah real estate adalah persoalan nasib yang tidak dengan serta-merta dapat diubah hanya dengan atribut dan yel-yel murahan. Aku tersenyum sendiri kala ingatanku melompat kepada Wak Jo, penjual air di kampungku. Hampir setiap kali ada kampanye, ia selalu berhasil mengumpulkan berbagai bendera dengan berbagai ukuran di samping setumpuk kaos dengan gambar-gambar berbeda. Ketika dengan iseng aku menanyakan buat apa kaos-kaos dan bendera itu, dengan santai ia menjawab, "Ah, ndak ada maksud lain kok, Nak. Saya hanya ingin menambah kekayaan yang saya dapat setiap lima tahun sekali."



Kala itu aku menatapnya heran, jawabnya yang tanpa nada getir sedikit pun tenyata merupakan ekspresi dari akumulasi kekecewaan dalam diri orang-orang macam Wak Jo. "Itulah yang disebut kebesaran hati wong cilik," kata Bendahara Partai ketika secara bergurau aku menyampaikan hal itu kepadanya. Aku hanya bisa menghela napas, menahan diri terhadap kata-kata politisi kampung tersebut. Mobil terus bergerak menuju lokasi, dan kurang dari setengah jam, sampailah kami.



Panggung itu tidak seberapa lebar, hanya tiga kali tiga meter. Di sebelah kiri dan kanan bagian depan panggung dipasang bendera dalam ukuran besar sehingga terkesan menenggelamkan panggung itu sendiri. Kurang lebih dua meter dari panggung, undangan sudah mengisi kursi-kursi yang disusun berderet-deret. Kebanyakan dari hadirin adalah anak-anak, remaja, serta ibu-ibu yang sebagian besar tampak kerepotan menggendong bayi-bayinya. Sesekali tangis bayi-bayi itu makin membuat bising berbaur dengan hingar-bingarnya musik yang dipasang keras-keras. Kepalaku memberat, sementara mataku berkunang-kunang menyaksikan massa yang makin berjubel di sekitar lokasi.



"Mengapa, kurang sehat? Kuatkan, Anda tampil sebagai pembuka," Bendahara Partai kembali berbisik kepadaku. Aku hanya mengangguk kecil, rasa sakit di kepala makin menjadi-jadi. Dengan berat hati aku pun melangkah ke atas panggung. Merdeka! Merdeka! Merdeka! Pekikku setengah hati. Aku tak peduli bagaimana sambutan massa, yang penting aku hanya ingin membayar hutangku atas sepasang sepatu dengan berorasi di lokasi ini.



"Halo ibu-ibu, Saudara sekalian, di mana para suami? Mengapa mereka tidak ikut hadir bersama kalian di sini?" teriakku lantang meski aku sendiri tak tahu ke mana arah pertanyaan itu. "Mereka kerja di sawah, Pak. Kalau ikut ke sini kami semua tidak makan!"



Jawaban serempak itu membuat kunang-kunang di mataku makin penuh dan kepalaku serasa mau copot. Demi anak istri, para lelaki harus ke sawah untuk sekadar sesuap nasi, sementara demi sepasang sepatu, aku mesti berdiri di sini dengan berkunang-kunang serta kepala yang makin memberat dan terus memberat, menjual omong kosong yang tak karuan ujung pangkalnya. Kupegang kepalaku dengan kedua tangan dengan tidak lagi menghiraukan bendahara partai yang melotot ke arahku. Aku merasa tidak sanggup lagi bicara ngalor-ngidul tanpa tujuan, karena tiba-tiba para lelaki di desa ini telah menyadarkan aku bahwa tempat mereka lebih tinggi dibanding aku. Kutinggalkan tempat itu dengan menyisakan keheranan dalam diri setiap orang, terutama Bendahara Partai.



Sampai di rumah, kukeluarkan semua tabunganku, kuhitung apakah cukup untuk sepasang sepatu mahal seperti pemberian yang kuterima kemarin dulu. Kini hampir setiap sore usai melaksanakan tugas di kantor, aku selalu menyempatkan diri pergi ke toko sepatu atau ke mall sekadar mencari sepatu yang persis sama seperti yang pernah dikirim Bendahara Partai. Sayang sampai detik ini belum sekalipun aku menemukan sepatu seperti yang kuharapkan.



"Saya kira itu model special edition, edisi special, Pak," sahut salah seorang pelayan di toko sepatu yang sempat aku kunjungi. Aku benar-benar putus asa.



Aku merasa sepatu itu benar-benar telah mengekangku di suatu tempat tanpa pernah memberiku ruang gerak sedikit pun. Ia telah memenjarakan aku dengan tampilannya yang trendi tanpa pernah menghiraukan perasaan yang tertekan setiap kali manyaksikan ia tergeletak di sembarang tempat.



Kini aku tetap rajin mengunjungi setiap toko sepatu yang ada di kotaku, barangkali bisa menemukan sepasang sepatu yang kuinginkan, demi menebus kebebasanku kembali. ***

Emtebe Maret 2004

Sabtu, 24 Juli 2004

Pohon yang Hilang

Cerpen Rachmat H. Cahyono



Lelaki bertubuh kecil bernama Marzuki itu terkejut melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Ia serasa mengenali garis-garis wajah itu.



"Man, Lukman, masya Allah. Bener ini kamu, Man?"

Lelaki yang disapa Marzuki itu tersenyum. Benar, itu memang Lukman, kawan masa kecilnya.



"Apa kabar, Ki?"

Mereka saling berangkulan. Lebih tepat, Marzuki merangkulnya lebih dulu.



"Nggak saya sangka, Man. Keren banget kamu sekarang. Cakep. Berapa tahun ya kita enggak ketemu?"

Sebaliknya, ia justru melihat kehidupan mandek begitu saja di suatu tempat. Berubah menjadi hantu tumpukan persoalan yang membuat kenalan lamanya itu terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya. Uban di rambut, kantong mata kendor, letih menatap hidup. Tubuh kecil ringkih.



Ia sengaja menyulap dirinya menjadi peziarah yang singgah sebentar ke tempat lama yang dikenalnya. Perkampungan itu. Perkampungan di tengah ibu kota. Hampir 20 tahun berlalu, semenjak keluarganya membawanya merantau ke kota lain. Ke pulau lain. Lalu menghilang dalam kelebat hidup bergegas di negeri empat musim.



Sekolah. Bekerja. Berkeluarga. Perkelaminan. Hidup ternyata cuma deretan angka-angka.

Berapa umurmu? Apakah nilai sekolahmu selalu bagus? Hei, kau sudah bekerja ya, berapa gaji pertamamu? Sudah berapa lama ya kita tidak ketemu? Nomor teleponmu yang sekarang dong? Umur berapa kau menikah? Berapa anakmu sekarang?



Hah. Angka. Angka. Angka.

Sekarang angin membawanya kembali ke sana. Ke tempat ia melewati masa kanak-kanak dan tahun-tahun awal masa remajanya. Dua puluh tahun lalu. Bukan waktu sebentar. Cukup untuk mengaburkan segala kenangan masa silam menjadi serpihan-serpihan samar yang tak lagi jelas warna dan bentuknya. Ah, kenangan. Bisakah manusia hidup dari kenangan?



Betapa pun ia menyukai kunjungan itu. Apa pun alasannya. Apa pun maknanya. Ia bisa kembali menginderai perkampungan yang begitu "kampungan" itu ("kampungan". Ia selalu mengucapkan kata itu dengan nada rindu yang berbekas di ujung lidahnya). Bertemu bau khas memualkan meruap dari selokan mampet berwarna keruh kehitaman. Terkadang ada bangkai tikus bengkak dengan perut membesar keputihan, mengambang di selokan. Orang-orang berlalu dengan sorot mata jijik dan tangan menutup hidung.



Tak ada kata lain yang lebih tepat selain mengakui perkampungan di tengah kota itu memang jorok betul dan kampungan betul. Padahal, letaknya bersisian dengan salah satu jalan penting di pusat Jakarta. Sebuah perkampungan tua. Konon riwayatnya bisa dirunut sejak Sultan Agung dari Mataram memutuskan menyerbu VOC di Batavia. Prajurit Sultan Agung yang tercecer kemudian menetap di perkampungan itu, kawin mawin dengan penduduk asli, beranak pinak. Jangan-jangan mereka desersi karena gagal menaklukkan birahi mereka sendiri.

Bagaimanapun, perkampungan itu pernah ikut mengasuh dan membesarkannya.

***

Marzuki mengajak mampir ke rumahnya. Ia penuhi ajakan itu. Masih rumah lama, rumah warisan orang tua. Letaknya berdekatan dengan lapangan bulu tangkis tempat dia bermain di masa kanak-kanak dulu. Sekarang lapangan itu sudah disemen, rapi, dengan garis-garis permainan dari ubin keramik putih, bukan lagi irisan bambu.



Hanya rumah Marzuki kelihatannya tidak banyak berubah. Letaknya masih lebih rendah daripada selokan di depan rumah. Rumah kecil yang catnya mengelupas dan selalu ramai celoteh kelima anaknya yang masih kecil-kecil. Yang selalu kebanjiran ketika musim hujan tiba. Marzuki memperkenalkannya pada perempuan berpenampilan seadanya. Istrinya.



Ia memaksa diri minum teh manis yang dibuatkan perempuan itu. Terlalu manis. Gelasnya tidak terlalu bersih; masih tersisa aroma sabun. Agaknya dicuci tergesa-gesa. Gelas murahan, dapat gratis jika membeli barang-barang tertentu di pasar.



Ia tak membiarkan Marzuki bertanya lebih jauh perihal kehidupannya sekarang. Buat apa. Ia tahu dunia mereka sudah terlalu jauh berbeda. Justru ia yang sibuk bertanya-tanya pada kawannya itu mengenai kehidupannya sekarang. Kehidupan kawan-kawan lama mereka. Orang-orang yang pernah dikenalnya, yang ikut mewarnai kehidupannya di masa lalu. Begitu banyak perubahan. Bukan untuk mengorek, tapi sekadar memenuhi rasa ingin tahunya saja.



"Si Jimi?"

"Jadi Bandar putaw. Mati. Ditembak polisi."



"Astaga. Kalo Syafri?"

"Di Arab. Jadi TKI."



"Rima?"

"Di Surabaya. Bini kedua. Anaknya udah tiga."



"Syamsul?"

"Alhamdulillah, dia yang paling bener hidupnya. Sekarang punya pesantren kecil. Di Bogor."



"Masduki?"

"Kerja di pabrik gelas di Tangerang."



"Ustad Bibi?"

"Meninggal, Man. Tahun lalu. Darah tinggi."



"Innalillaahi…"

Ah, kenangan manis. Masa kanak-kanak. Percakapan mengalir begitu saja. Wajah-wajah berlintasan. Samar-samar. Sayup-sayup. Ada orang mengaji Quran. Ingatan mengalir kembali. Ustad Bibi, Habibi, dengan rotan yang tidak pernah ketinggalan dihantamkan di rehal. Sakitnya cubitan ustad itu. Ia pandai mencubit seperti perempuan. Kecil, pedih, berbekas di paha.



Terbayang kembali masjid kecil dengan dinding setengah tembok setengah kayu, di tengah perkampungan, tempat dia belajar mengaji. Suara anak-anak membaca juz Amma. Ada suaranya di sana. Kecil. Nyaring. Cerita tentang sorga dan neraka. Nanti di alam kubur akan ditanyai malaikat. Ah, kenangan.



Untuk sesaat, ia juga bisa melihat kemuraman terhapus dari wajah Marzuki. Mereka tertawa, semakin larut dalam kenangan masa kanak-kanak.

"Tapi sekarang perkampungan ini tambah gersang ya, Ki? Pohon gede semakin jarang kelihatan."



Marzuki mengangguk, masih ingat betapa mereka dulu begitu gemar memanjat pohon. Sekarang perkampungan itu semakin kehilangan pohon besar yang bisa dipanjat anak-anak. Mungkin karena rumah-rumah semakin tumbuh merapat. Tak ada lagi lahan tersisa untuk tumbuh sebatang pohon besar yang bisa dipanjat anak-anak.



Padahal, begitu cintanya mereka waktu itu pada pohon tinggi. Pohon apa saja. Makin tinggi makin menantang. Ya, ia tetap mengingatnya dengan baik. Pohon mangga, pohon jambu air, pohon seri, pohon cereme. Bahkan pohon buni di dekat rumah kosong yang angker dan konon ada penghuninya, dengan buah kecil-kecil yang masam dan segar buat kelengkapan rujak tumbuk. Jenis buah yang tak lagi dikenali anaknya yang terbiasa dengan buah-buahan impor yang berderet di super market. Ah, Jakarta, ibu kota ini terlalu pelit dalam memberikan pohon di lingkungan pemukiman. Khususnya di perkampungan macam ini.



Mendadak Marzuki mengajaknya ke luar rumah. Ia mengikuti dengan pandangan bertanya. Masih di dekat lapangan bulu tangkis itu, Marzuki berhenti. Ada sebuah tempat anak-anak muda kampung itu biasa berkumpul.



"Masih ingat tadinya di sini ada apa?"

Ia tersenyum. Mengangguk.



"Pohon jaran. Kak Ila," bisiknya.

"Hehehe… ingetan kamu masih bagus, Man."



Ia tersenyum. Samar. Dulu di tempat itu memang ada sebatang pohon jaran. Entah apa nama latinnya. Pohonnya tinggi, besar, kokoh, sekitar 30 meter menjulang ke langit. Daunnya kecil-kecil, rimbun. Pohon kesayangannya. Hampir setiap ada kesempatan ia selalu menaikinya. Bahkan pernah bersama Marzuki ia membuat rumah-rumahan kecil dari kayu, di pohon itu. Ia senang berada di atas. Seolah tangannya bisa menjangkau langit biru. Gedung tinggi Jakarta terlihat di kejauhan. Mosaik pemukiman sekitarnya. Jika beruntung, pagi-pagi sekali, ia bahkan masih bisa melihat Gunung Salak dan Gunung Gede di kejauhan. Ia bisa menuntaskan khayalannya menjadi petualang perkasa yang menaiki tiang-tiang tinggi kapal layar yang berlayar di tengah samudera. Bahkan ia betah berjam-jam berada di atas pohon itu.



Dan sebuah kamar mandi umum tanpa atap, radius sekitar 30 meter dari pohon itu. Ingatan yang tak pernah lekang dari benaknya. Ketika dari atas pohon itu, tanpa sengaja, ia dan Marzuki memergoki tubuh perempuan dewasa yang sedang mandi. Utuh. Penuh. Sempurna. Dengan paha bak pualam, payudara indah seperti keramik Cina. Tanpa sehelai benang pun. Ia melihat semuanya. Tubuh bugil Kak Ila, istri Mas Agus, tetangganya. Basah berlumur busa sabun.



Pemandangan itu, meskipun hanya satu kali, begitu mengesankan dan sempat bersemayam lama di hatinya. Membuat dada kanak-kanaknya yang tengah memasuki masa peralihan ke usia remaja, selalu berdesir. Untuk pertama kalinya ia merasakan desakan gairah begitu kuat di sekitar celananya.



"Kamu tahu Man, aku onani pertama kalinya ya setelah ngeliat Kak Ila itu. Malamnya ketakutan setengah mati. Mikir, kemakan omongan orang, kalau onani bisa jadi buta dan gila. Bego ya, dasar anak-anak," bisik Marzuki sambil nyengir dan mengedipkan matanya.



Ia tersenyum simpul. Hal yang sama juga terjadi pada dirinya.

Sekarang pohon itu sudah tidak ada. Ditebang beberapa tahun lalu. Di bawahnya dibangun pos ronda. Namun, ia masih bisa melihat sisa pohon itu. Bonggol akar dan pangkal batangnya dibuat semacam meja oleh anak-anak muda kampung itu. Meja kayu yang tampak tua, hitam mengkilat karena dipernis berulang kali.



Meskipun hanya sebentar, ia tahu perjalanannya ke perkampungan yang pernah ditinggalinya itu memuaskan rasa ingin tahunya. Ada janji lain yang harus dipenuhinya kepada seorang relasi. Waktu untuk berpisah sudah tiba. Ia segera berpamitan pada Marzuki, masih sempat menyumpalkan lembaran uang ke tangan kurus itu



"Apaan nih, Man. Masya Allah, banyak bener. Enggak salah nih. Lima ratus ribu. Makasih ya, Man."

"Kalau ada tawaran harga cukup bagus untuk ngelepas rumah dan tanahmu, terima aja ya, Ki," katanya sambil bergerak menjauh dan melambaikan tangannya.

"Apa, Man?" Marzuki tak begitu mendengar perkataannya, karena masih terperangah pada rezeki nomplok yang hinggap di tangannya.

***

Dalam mobil yang membawanya ke salah satu hotel bintang lima di pusat kota, ia tahu ia tidak terganggu dengan kenangan sesaat dari perkampungan itu. Keputusannya tidak berubah.



Ia menelepon sekretarisnya. "Halo, Katrin, bagaimana dengan persetujuan gubernur? Sudah turun hari ini? Bagus! Saya sudah melihat lokasi itu. Sampaikan pada semua staf, saya minta mulai bergerak hari ini juga," pesannya dengan nada tegas.



Persetujuan dari gubernur sudah turun untuk studi kelayakan yang dibuat timnya terhadap wilayah itu. Cepat atau lambat warga perkampungan yang pernah menjadi tetangganya akan tergusur dari lahan itu. Dengan cara apa pun. Ia mengeraskan hatinya. Wajah-wajah mereka yang pernah dikenalnya di perkampungan itu berlarian di benaknya.



Sekarang ia siap kehilangan tempat itu. Perkampungan yang mandek dan tersesat dalam waktu. Mungkin terasa pahit pada awalnya. Tapi, obat pahit dibutuhkan untuk menyembuhkan sakit dan melanjutkan hidup. Pohon kokoh bisa ditebang jika tak dibutuhkan lagi. Marzuki dan keluarganya? Teman-temannya yang lain? Tetangganya di masa lalu? Terima kasih. Mereka akan selalu menjadi bagian kenangan hidupnya. Namun biarlah sang nasib yang akan mengatur hidup mereka selanjutnya. Ia pun hanya menjalani nasib dan kehidupannya sendiri. Ia tahu itu. Sejak lama.



Ia juga tahu berapa harga pantas untuk sebuah kenangan. Tolol kalau membiarkan perkampungan itu tetap ada dalam peta Jakarta. Lokasinya terlalu strategis untuk diabaikan dari sudut pandang ekonomi. Ia tahu ia bisa menyulapnya.



Ah, pesulap. Tiba-tiba saja ia ingat nama-nama itu.

"Rustam, kamu tahu pesulap yang namanya Houdini atau David Copperfield?" Ia bertanya pada sopirnya.



"Yang David itu pernah dengar, Tuan. Yang satu lagi, belum. Kenapa, Tuan?"

"Tidak apa-apa."



Ia tersenyum. Dengan koneksi, modal, dan kekuasaan yang dimilikinya, ia tahu ia bisa menjadi "pesulap" yang lebih baik daripada Houdini atau David Copperfield! ***

Jakarta, akhir Januari-awal Mei 2004

Untuk Ulfi Faizah di Malang

Sabtu, 17 Juli 2004

Pat Ngiat Pan

Cerpen Sunlie Thomas Alexander



DIAM-diam aku masih sering berharap dapat melihat Song Ngo1. Perempuan cantik di zaman Dinasti Hsia yang terbang ke bulan setelah menelan pil tumbuh-tumbuhan itu. Sering kubayangkan tubuhnya yang berbalut gaun putih panjang berenda-renda tembus pandang, melayang-layang di atas tanah bulan yang berbatu-batu dan penuh lubang dalam sebuah pemandangan yang sempurna.



"Song Ngo akan selalu menaburkan kembang di permukaan bulan ketika purnama penuh setiap tanggal lima belas bersama ibumu." Kuingat ayah, "Terlebih setiap tanggal lima belas bulan kedelapan, ketika orang-orang menggelar meja sembahyang di halaman rumah." Maka aku kecil pun duduk dengan manisnya di teras depan rumah, memandang bulan yang sebesar nampan dengan takjub. Menunggu dengan penuh minat dan harap. Meskipun kemudian sampai jam dua belas malam dan sembahyang harus diakhiri, Song Ngo tak juga kunjung muncul. Apalagi ibu. Aku hanya dapat menelan kekecewaan dan menahan marah. Dan biasanya ayah akan membujukku dengan kue bulan bekas sembahyang: Ngion Kau, Teu Sa Piang, Nyuk Piang, dan lain-lainnya yang begitu manis. Namun mataku sudah sedemikian berat untuk dapat menemaninya minum teh. Hingga tinggallah ia sendirian di teras rumah, memetik gitar tuanya sambil menembangkan pantun-pantun:



Ngiat kong an liong, keu an phoi

Jai jap hoi-hoi, thian fung choi

Jai jap hoi-hoi, thian lu sui

Ako ta pan, thian moi loi�2

* * *

AKU pulang lagi ke Belinyu. Setiap tahun pada bulan kedelapan Imlek, aku selalu menyempatkan diri untuk pulang. Lebih-lebih setelah ayah meninggal. Sepanjang perjalanan di atas KM Bukit Raya milik Pelni yang kutumpangi dari Tanjung Priok, bulan di langit yang nyaris sempurna tampak menyerpuh keperakan dari palka kapal, mengetok-ketok pintu masa silam yang sentimentil. Begitu mempesona. Ai, purnama Pat Ngiat Chun Chiu3 memang selalu akan terlihat lebih indah dari biasanya, demikian selalu dikatakan ayah dulu. Dan di permukaan bulan itu, aku seolah-olah melihatnya sedang memetik gitar tuanya sambil menyenandungkan pantun-pantun berbahasa Hakka. Dia tersenyum kepadaku. Senyum teramat kurindukan yang selalu membuatku tenteram.



Ayah adalah orang yang lembut. Sejak kecil hampir tidak pernah ia memarahiku, apalagi sampai memukul. Manakala aku sudah terlewat nakal misalnya, terutama sewaktu beranjak remaja, cukuplah ia memelototkan mata saja sudah membuat aku tertunduk tidak berani memandangnya. Tapi yang paling kukagumi dari dirinya bukanlah kelembutannya sebagai seorang ayah tersebut, ataupun ketegarannya membesarkanku seorang diri dengan mesin jahit bututnya. Tetapi, kesetiaannya kepada ibu. Ah, ibu yang lebih kukenal dari foto buram terbingkai di kamar ayah dan dari cerita-ceritanya. Hanya samar-samar saja kuingat sosok sebenarnya dari perempuan cantik itu. Aku hanya ingat beliau dulu selalu menggoyangku di ayunan sarung sambil menembangkan pantun-pantun Hakka yang suka dinyanyikan ayah itu, hingga aku terlelap. Pantun-pantun yang percaya atau tidak, selalu meruapkan harum hio setiap kali ditembangkan.



Ibu memang meninggal terlalu muda, ketika aku baru berusia lima tahun. Konon, ayah tidak menangis saat itu. Tetapi beberapa teman dekatnya --hal ini pernah dikatakan Ngian Suk4, seorang teman baik ayah kepadaku-- tahu kalau hatinya remuk redam. Cintanya pada ibu, kata Ngian Suk, tak terbayangkan. Begitu besar. Hingga ia rela mengorbankan segala-galanya demi ibu. Termasuk keluarga dan hak warisnya. Melawan adat dan pantangan turun-temurun leluhur yang sama sekali tabu dilanggar, menurut kakek sama saja dengan menentang Thian5. Ayah diusir dari rumah.



"Aku tak peduli dengan apa pun, selain dapat menikah dengan Ngiat Ngo!" Syahdan ayah berteriak-teriak lantang di depan kakek-nenek dan saudara-saudaranya sebelum pergi.

* * *

NGIAT Ngo! Berarti angsa bulan, betapa nama ibu itu begitu meresap dalam batinku. Namanya sebagai salah seorang anak angkat dewi bulan Song Ngo. Dari ayahlah aku mengetahui semua riwayat mengenai hal itu. Cerita ayah, sewaktu kecil ibu selalu sakit-sakitan. Hingga nenek kemudian membawanya kepada seorang sinsang6. Berdasarkan petunjuk dari kitab sam se su7, sinsang itu kemudian menyimpulkan kalau jiwa ibu tidak selaras dengan nenek sebagai orangtua dan anak, tidak sang sen8 istilahnya. Maka tiada cara lain yang lebih bijak, kata sang sinsang, selain ibu harus diangkat anak oleh dewi bulan dan berganti nama.9 Maka melalui sebuah ritual kecil di kelenteng, digantilah nama ibu dari Kim Ngo yang artinya angsa emas menjadi Ngiat Ngo. Sesudah itu ibu tidak lagi sakit-sakitan. Namun sebagai seorang anak angkat Song Ngo, pada setiap tanggal lima belas bulan ke delapan Imlek, ibu atau keluarganya harus mengadakan sembahyang bulan di halaman rumah sebagai bentuk kebaktian kepada sang dewi.



Dewi yang karena kesucian hatinya telah menyelamatkan bulan dari tangan pemanah sakti, Hou Yi yang tak lain adalah suaminya sendiri. Syahdan cerita, ribuan tahun yang lalu pada tanggal lima belas bulan delapan Imlek, kaisar memerintahkan Hou Yi untuk memanah jatuh rembulan karena cemburu pada permaisurinya yang setiap malam purnama cerah lebih senang duduk memandang bulan daripada melayaninya. Untuk melindungi bulan dari panah sakti suaminya, Song Ngo yang mengetahui perintah rahasia sang kaisar tersebut pun rela menelan sejenis pil dari tumbuh-tumbuhan hingga tubuhnya menjadi seringan kapas dan terbang ke bulan. Karena cintanya yang begitu dalam kepada sang istri, maka Hou Yi dengan terpaksa melawan perintah kaisar. Berulang-ulang ayah senang sekali mengisahkan dongeng itu kepadaku dulu, sambil memandang rembulan yang terang benderang di teras depan rumah.



Ah, barangkali selama dua atau tiga minggu, aku akan berada lagi di rumah. Rumah tua yang dulu dibeli ayah dengan jerih payahnya selama puluhan tahun sebagai tukang jahit dan kini hanya ditunggui oleh Fuk Suk, bujangan tua kawan karib ayah. Pertama-tama, seperti biasanya yang akan kulakukan sesampai di Belinyu tentu saja berziarah ke makam ayah dan ibu di pemakaman Kung Bu Jan. Sesudah itu barangkali aku akan mengunjungi beberapa teman sekadar berkabar, juga menyaksikan ritual Lok Thung10 di pelataran kelenteng Kuto Panji, kemudian melaksanakan sembahyang bulan.



Tanggal lima belas bulan ke delapan, tinggal empat hari lagi. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk menata kue-kue bulan di atas meja sembahyang, membakar hio, dan duduk di teras rumah dengan secangkir teh pahit sambil menikmati keindahan purnama Pat Ngiat Pan. Siapa tahu Song Ngo muncul bersama ibu, menaburkan kembang setaman�batinku getir.

* * *

AKU kembali memandang asap hio yang meliuk-liuk liar dibawa angin malam seperti seekor naga yang nakal itu. Seolah-olah mengajakku menari seperti waktu kecil, di mana aku selalu berjingkrak-jingkrak setiap kali melihat asap hio yang meliuk-liuk pada saat sembahyang bulan digelar di halaman rumah. Biasanya ayah akan menegurku: "Duduklah yang tenang Jong, kalau ingin melihat Song Ngo dan ibumu!" Maka aku pun terdiam, duduk memeluk lutut di teras sambil memandang bulan, dengan sesekali melirik berbagai jenis kue bulan, buah-buahan segar, batang tebu, kembang tujuh rupa, tiga sloki teh, kelapa muda, bedak, sisir, cermin dan lain-lainnya yang diletakkan sebagai sesajian di atas meja sembahyang. Kemudian perlahan-lahan harum hio akan mulai merasuki pernafasanku, membuatku serasa melayang-layang. Kadang-kadang aku menumpang awan seperti Sun Go Kong, adakalanya pula aku duduk di punggung seekor naga. Hanya ketika itulah aku dapat mendengar lagi suara ibu yang begitu merdu menembangkan pantun-pantun di samping tempat tidurku. Tetapi hal ini tidak pernah berlangsung lama, sesaat kemudian aku sudah menemukan diri kembali di hadapan meja sembahyang. Dengan embun yang turun perlahan mengusap sesajian yang tergelar di atas meja dan batang-batang hio yang semakin pendek dengan abu berjatuhan.



Langit begitu bersih tanpa awan. Sejauh mata memandang, hanya bintang-bintang yang berkerlap-kerlip dan purnama lima belas Imlek yang tergantung di atas langit bagaikan lampion. Bulan yang begitu jernih dan terang. Mungkinkah kali ini aku dapat melihat Song Ngo muncul melayang-layang diiringi ibu dengan keranjang penuh kembang-kembang? Lagi-lagi pikiran liar itu membuatku kecut sendiri. Pikiran kanak-kanak yang membatu abadi. Ai!



"Ibumu menjadi dayang Song Ngo di bulan, Jong," desis ayah sambil menatap purnama. Dimainkannya rokok kretek di tangannya berputar-putar, lalu dihisapnya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya yang pekat ke udara. Asap itu meliuk-liuk naik seperti gumpalan asap hio. Tinggi membubung hingga hilang pandang. Menyampaikan pesan dari alam mayapada.



"Setiap kali kita sembahyang dan mengucapkan doa, asap hio akan mengantarkan doa kita kepada Thian, para dewata, dan orang yang kita tuju," ujar ayah penuh keyakinan. Karena itu aku harus berdoa dengan khusyuk, penuh takzim agar para bidadari dan dewata mau berbalas tabik. Memberikan berkah perlindungan dan rezeki semusim. Tapi sebagai anak nakal, setiap kali berdoa bersama ayah di depan meja sembahyang, diam-diam aku suka mengintipnya. Melihat bagaimana kekhusyukannya mengangkat hio di depan wajah dengan sepasang mata terpejam rapat sementara bibirnya berkomat-kamit mengucap doa untuk ibu.



Begitulah kenangan-kenangan itu selalu mengantarku pulang ke Belinyu pada setiap tanggal lima belas bulan delapan Imlek. Pulang untuk mengadakan ritual sembahyang bulan buat ibu. Agar ibu senantiasa berbahagia di bulan bersama Song Ngo, tukas ayah. Sampai akhir hayatnya, selama berpuluh tahun ayah memang tidak pernah sekali pun lalai mengadakan sembahyang bulan untuk ibu. Betapa kesetiaan dan cintanya itu membuatku terharu.



"Bagi ayahmu, ibumu adalah perempuan yang sempurna. Tidak ada perempuan yang sepadan dengan dia di dunia ini," tukas Fuk Suk yang tahu-tahu sudah berada di sampingku. "Padahal sembahyang bulan sebenarnya tak perlu lagi dilakukan bila orang yang menjadi anak angkat sang dewi sudah meninggal."



Aku hanya tersenyum, lalu menuntun lelaki tua itu ke bangku panjang di teras rumah. Kemudian menuangkan secangkir teh pahit untuknya dan menawarinya rokok. Dia meraih bungkus rokok yang kusodorkan, mengeluarkan isinya sebatang dan menanyakan korek api. Namun baru saja dua hisap, dia sudah terbatuk-batuk.



"Fuk Suk batuk? Ah, saya tidak tahu. Lebih baik jangan merokok kalau batuk, Suk. Sudah berobat?" tanyaku tidak enak. Tetapi dia hanya menyeringai.



"Ai, kau ini Jong, tak usahlah repot mencemaskan orang tua ini. Beginilah kalau sudah tua, badan celaka ini dingin sedikit saja sudah bertingkah macam-macam. Tak perlulah berobat segala!" Dia tertawa, "Hay, padahal dulu A Suk bersama ayahmu keluar masuk kampung berjualan kain. Puluhan kilo kami berjalan kaki, tidak ada sepeda, apalagi motor kayak orang-orang sekarang."



"Padahal ayahmu itu fu lo chai...11 Tetapi demi ibumu, ia rela hidup susah. A Suk sungguh salut padanya!" Fuk Suk terus berkisah. Sepasang matanya yang sudah rabun berbinar-binar, tak berkerdip menatap rembulan. Seakan-akan ingin meneropong semua kenangan.



Aku jadi termangu. Perempuan sehebat apakah ibu sesungguhnya, sehingga ayah yang begitu lembut dapat menjadi demikian keras melawan kakek? Aku memang telah terobsesi untuk mencari sosok seorang perempuan seperti ibu yang selama ini diceritakan ayah. Dan sampai usia yang sudah melewati tiga puluh ini, aku masih tetaplah melajang. Dulu, aku memang pernah dekat dengan seorang perempuan bernama Diana (Ah, nama yang berarti gadis bulan dalam bahasa Inggris). Tetapi alangkah jauhnya perempuan matrealistis itu bila harus aku sandingkan dengan sosok ibu.



Fuk Suk kembali menghirup teh yang kutuangkan. Cerita-cerita terus mengalir deras dari mulutnya. Konon, orang yang bershio ular tidaklah boleh menikah dengan orang bershio ular lainnya, demikianlah sudah kepercayaan yang turun-temurun. Manakala ada yang berani melanggar, alamat bala akan jatuh menimpa. Karena sepasang ular akan saling mematuk. Keluarga yang dibangun tidak pernah akan harmonis dan tenteram, penuh oleh percekcokan. Itulah yang disebut dengan sat sen.12 Dan bila ternyata pernikahan itu berjalan bahagia, itu pertanda kelangsungannya tidak akan lama. Bukan pula ketidakmungkinan, bila bala itu menjalar-jalar hingga kepada keluarga masing pihak. Itulah pokok persoalannya, ketika ayah jatuh cinta kepada ibu. Sama-sama bershio ular!



Ah, dua orang muda yang malang. Tentu bukanlah salah mereka, tetapi takdir langit semata. Tetapi yang membuat kakek lebih terperangah, ayah justru membuat kesalahan semakin besar karena ibu ternyata adalah putri musuh bisnisnya! Bukan sembarang musuh, tetapi Bong Hai Khin adalah musuh besar dengan dendam berkarat. Konon, sebagai sesama pendatang dari Kwan Tung, kedua-duanya sama-sama membuka toko kelontong di pasar. Sama-sama beruntung besar. Namun Bong Hai Khin --yang notabene adalah kakekku juga--tak puas berbagi untung dan bertindak culas. Diam-diam dijalinnya kongsi dengan Belanda, hingga dapat beroleh beras-gula-gabah lebih murah dari syah bandar. Dan dijualnya pula dengan harga di bawah harga resmi pasaran. Kakek kelimpungan. Berbondong langganan berpindah ke toko besar Bong Hai Khin. Dendam pun menetas.



Dan meskipun Bong Hai Khin kemudian jatuh bangkrut oleh entah sebab musabab --barangkali karena soi13, lalu meninggal, dendam itu tak juga terpadamkan. Maka sungguh lancang dan celaka, jika ayah berkehendak meminang putrinya! Perempuan yang sama-sama bershio ular, pantangan temurun yang jangan sesekali coba dilanggar.



Bulan Pat Ngiat Pan semakin terang, berkilau keemasan. Fuk Suk kembali menengadah. Aku mengalihkan pandang kepada batang-batang hio yang semakin pendek terbakar dengan jelaga berjuntaian mengotori meja sembahyang, lalu kembali mengangkat wajah.



"Seperti apakah sebenarnya Song Ngo itu, Ayah?" Aku teringat pada pertanyaan polos yang pernah kulontarkan itu. Ayah hanya mengusap-usap kepalaku. "Dewi amat cantik, Jong. Sehingga setiap orang yang melihatnya pasti akan terpesona seumur hidupnya."



"Cantik mana dengan ibu?"

"Ibumu secantik Song Ngo, Jong�," jawab ayah dengan lemah lalu merangkul bahuku. Aku tidak pernah melupakan wajahnya yang begitu kuyu saat itu di bawah terang cahaya purnama lima belas bulan ke delapan.



Jauh di masa kuliah kemudian aku baru tahu kalau tradisi sembahyang bulan ini berasal dari jzman Dinasti Yuen dan mempunyai makna yang amat dalam bagi bangsa Han sebagai suku mayoritas di Cina daratan. Menurut literature yang pernah kubaca, tradisi ini lahir di tengah kehidupan orang Han yang sangat sengsara di bawah pemerintahan Kerajaan Yuen yang zalim dan sewenang-wenang. Sehingga Jenderal Zhu Yuan Zhang, seorang pejuang bangsa Han, mengajak masyarakat untuk melawan Kerajaan Yuen. Dan pada malam hari perayaan Pat Ngiat Pan yang sengaja diciptakan sebagai kedok, dibagikanlah kue bulan yang bagian dalamnya telah disisipi dengan selebaran yang isinya mengajak masyarakat mengangkat senjata di malam hari untuk menyerang Kerajaan Yuen. Sampai akhirnya Jenderal Zhu Yuan Zhang dan masyarakat Han dapat mendirikan Kerajaan Ming.



Aah� Harum hio meruapkan aroma yang gaib, semakin santer menusuk pernafasan. Membubungkan keliaran alam pikiran. Pikiran kanak-kanak yang naif menisik malam, yang diam-diam masih menjadi sebuah harapan. Harapan dapat melihat Song Ngo dan ibu melayang-layang di atas permukaan bulan dengan sekeranjang kembang�tak mampu kusingkirkan! ***

Prancak Dukuh-Yogyakarta , Juni 2004





Catatan Kaki



* Pat Ngiat Pan: Perayaan Pertengahan Bulan Delapan, atau dikenal juga dengan Chung Ciu Ciat (Perayaan Pertengahan Musim Gugur) dirayakan pada setiap tanggal 15 bulan 8 Imlek. Disebut pula sebagai Ngiat Sin Ciat (Pesta Dewi Bulan).



1. Song Ngo (dialek Hakka) atau Chang ’ge (dialek Mandarin) adalah dewi bulan dalam mitologi China.

2. Bulan begitu terang, anjing begitu riuh menggonggong

Daun nyiur melambai-lambai, langit memerah rejeki

Daun nyiur melambai-lambai, embun turun dari langit

Kakak berdandan, bidadari pun datang.

3. Bulan delapan Imlek, yang dirayakan sebagai bulan dewa-dewi.

4. Paman (adik ayah), atau dapat digunakan juga untuk menyapa orang yang lebih muda dari ayah.

5. Langit, kata pengganti Tuhan bagi orang Cina.

6. Dukun Cina.

7. Kitab Tiga kehidupan, semacam buku primbon.

8. Keselarasan Jiwa.

9. Bila seorang anak diberikan kepada seorang dewa sebagai anak angkat, maka ia harus menggantikan namanya dengan nama yang mengandung unsur dewa tersebut. Misalnya dalam kasus cerita ini, tokoh Ngiat Ngo yang dipersembahkan kepada dewi bulan, nama depannya memakai kata Ngiat (bulan).

10. Ritual kerasukan dewa.

11. Anak orang kaya.

12. Orang Cina mempercayai setiap jiwa manusia memiliki naluri bawah sadar untuk saling menyakiti bila unsur (entah itu shio atau hongsui) yang menaungi mereka tidak cocok.

13. Sial.

Minggu, 11 Juli 2004

Burung Terbang dari Kuburmu

Cerpen Hamdy Salad



BURUNG-BURUNG terbang meninggalkan musim dingin menuju tempat yang lain. Melintasi laut dan hutan. Menggaris cakrawala di langit keabadian. Sebagian pergi menaikkan derajatnya menuju tingkat yang lebih tinggi. Sebagian dilepas dan diberi angka pada sayapnya, agar mudah dikenali kemana pun mereka pergi. Sebagian lagi hanya bisa menghabiskan waktu untuk bernyanyi dalam sangkar tirani.



Seperti juga tetangganya, orang itu tak pernah bosan untuk bersiul. Mengajari burung bernyanyi dengan irama yang tidak pasti. Setiap sore dan pagi hari, ia berdiri di depan rumah. Memberi makan dan minum melebihi anaknya sendiri. Ketan hitam, buah pisang dan gabah, juga air yang telah direbus dengan daun jambu, selalu ada di kepalanya. Tapi burung tak juga pandai bernyanyi, kecuali beriak dengan suara serak. Memaki-maki pita suara dalam tenggorokan lalu amarah merasuk di dada pemiliknya. Mengajak anggota badan untuk bertindak. Menggerakkan kedua lengannya yang kokoh untuk membanting sangkar sampai roboh ke tanah. Dan burung pun terbang, tergopoh-gopoh, mencari kebebasan yang telah lama dirindukan.



Pada saat yang kurang tepat, tetangga itu datang ke rumahnya. Mengumbar basa-basi dalam dunia burung. Di dekat mereka mengobrol, seekor beo masih bertengger dengan rantai di kaki kanan. Matanya melotot, menatap tetangganya tanpa ragu. Sepertinya beo itu hendak bicara, mengabarkan luka yang diderita oleh majikannya.



"Aku tetanggamu. Tak mungkin bisa menutup telinga."

"Ya. Pada minggu terakhir sebelum kepergiannya, burung itu telah membuat sarang dalam sangkar. Dan ketika sangkar telah rusak, sarang itu berpindah tempat ke dalam tubuh majikannya. Hingga tubuh sang majikan terasa sesak. Penuh jerami yang berserak."



"Lalu, pergi ke mana?"

"Mencari musim di tempat yang lain. Sebab burung yang tinggal dalam sarang tertentu, dengan mudah akan ditangkap orang, setiap musim setiap waktu."



Tetangga itu bangkit. Lalu pamit dan kembali ke dalam rumah sendiri. Sunyi tanpa kata-kata. Memahami bahasa burung dengan lidah manusia. Menerbangkan khayalan menuju kenyataan. Membawa mimpi ke dalam kehidupan. Burung pelatuk mencari makanan; mematuki pohon yang keras sebanyak 20 kali dalam 2 detik tanpa cedera; pendarahan otak atau sakit kepala. Burung ababil membawa kerikil dan batu api tanpa terbakar tubuhnya; juga sayap dan bulu-bulunya.



Burung-burung selalu dipuja karena suara indah yang keluar dari tenggorokannya. Perkutut jantan yang terkenal itu, mendapat sertifikat yang lebih mahal dari kemerdekaan. Kutilang berjengger biru ditukar orang dengan mobil terbaru. Cucakrawa berbulu putih dikeramatkan sebagai bangsa burung yang terpilih. Sementara elang, makhluk pemakan daging itu, tetap setia menggaris laut. Menunggu mangsa yang luput.



Elang bermata merah mengepakkan sayapnya menuju tempat fajar merekah. Kemudaian berdandan, menjelma makhluk paling serakah; meminum nanah; memakan daging-daging busuk sampai muntah. Sedang elang bermata hitam, terbang ke arah matahari tenggelam. Lalu bernyanyi, mabuk dan gila sampai mati. Sayap-sayapnya yang patah jatuh ke bumi. Menjadi pena. Menuliskan sejarah sendiri tanpa tinta.



"Bukankah bumi juga memiliki mata pena?"

"Ya. Tapi langit yang menyimpan tintanya."



"Jadi?"

"Jadi bumi tak bisa menulis sejarah sendiri. Kecuali langit mengirimkan tinta yang lebih murni."



"Ah!!"

"Lelaki juga punya burung. Tapi perempuan yang menyimpan sayapnya. Jadi lelaki tak bisa terbang sendirian, kecuali perempuan mengepakkan sayapnya."



Dan ini juga burung. Walau hari sudah sore dan petang, walau angin ribut selalu datang, sekelompok merpati itu tak mau pergi dari tempat kebebasannya. Mereka habiskan waktu untuk bersendau-gurau sembari mengais sisa-sisa makanan orang. Hingga sayap-sayapnya menjadi malas terbang dan kembali ke dalam sarang. Makhluk-makhluk bertelinga kecil itu lebih suka tertidur dan menunggu pagi di taman-taman kota. Para pemburu yang kebetulan lewat dan melihatnya, tanpa perintah atau komando, langsung menembaki mereka tanpa aturan. Merpati-merpati kelimpungan. Lalu roboh ke tanah. Tak bisa lagi terbang, berkicau atau berdendang, kecuali menangis dan merintih dalam perut si-gendut. Perut pemakan daging yang sedang ribut di balik dinding.



Kalau saja Daud dan Sulaiman masih hidup, tangisan itu dapat digubah sebagai nyanyian dalam telingamu. Dan engkau pun menjadi bebas merdeka untuk terbang menemui diri di atas langit yang tinggi. Sebab burung telah menjadi amsal ruhani untuk membawa pesan-pesan rahasia ke dalam bahasa manusia.



"Maka, pujilah nama Tuhanmu yang telah menerbangkan burung-burung semesta dari sangkar derita. Dan burung-burung pun menjadi bahagia dalam istana yang sesungguhnya."



Seperti juga tetangganya, orang itu tak pernah peduli pada kenyataan di luar angkasa. Pada burung-burung cahaya yang menerbangkan manusia sempurna menuju surga. Serupa sayap-sayap jibril, mereka berkepak membawa bahtera, mengangkat ruh para nabi menuju singgasana yang abadi. Sementara wali dan orang-orang terpilih yang teraniaya atau disiksa para penguasa, memperoleh sayap dua-dua, tiga-tiga atau empat-empat dari burung-burung putih untuk terbang dan kembali ke dalam istana sejati.



Simurgh, burung merak dengan sayap-sayapnya yang indah, telah dinobatkan sebagai mahkota yang mesti dicinta. Sedang bul-bul menggantikan sayap-sayap manusia sebagai anugerah para pecinta. Lalu hud-hud, burung yang paling beruntung di dunia, menurunkan rahasia Tuhan kepada Sulaiman. Hingga Balqis, perempuan ratu yang terkenal itu, menjadi tunduk dan berserah diri di hadapan raja Yang Maha Suci. Lalu duduk dan berdiri; membaca syahadat sampai kembali ke dasar bumi.



"Telah kuingat semua nama yang indah. Dan kulepaskan semua burung yang mati dari sangkar resah." Seekor gagak menggali tanah; mengajarkan cara pada anak adam dan hawa untuk mengubur dan menutup aib saudara.



"Oh. Celakalah aku. Mengapa aku tidak bisa berpikir seperti burung gagak itu, sehingga saudaraku Habil dapat dikubur di bumi ini." Qabil menyesal. Lalu bergerak dan mengantar kepergian saudaranya dengan cara burung gagak. Menutup jasadnya dengan tanah, melepaskan jiwanya dengan penuh rahmah.



Tangan doa menengadah ke angkasa. Mendedah sebutir pasir di tengah mutiara. Seperti juga tetangganya, orang itu bersusah-payah untuk menjadi diri sendiri. Setiap hari, dari pagi sampai petang, dari petang sampai pagi lagi, tak pernah lupa untuk mengaji. Memahami bahasa burung dengan kalimat-kalimat suci yang lebih abadi. Kecuali tertidur dan mati.



Tapi hidup telah membawa jiwanya untuk menolak rasa kantuk, tertidur atau mati dengan sia-sia. Selain rindu yang luar biasa untuk bertemu dan terbang bersama burung-burung bersayap sutra. Burung-burung kesaksian yang mengangkat ruh alam menuju langit keabadian. Sampai selaput yang tipis di cekung matanya menjadi terkikis. Dan cahaya berkilau, memancarkan sinar dunia ke wajah bumi yang hijau. ***