Pages

Sabtu, 18 September 2004

Wabah

Cerpen A. Mustofa Bisri



Mula-mula tak ada seorang pun di rumah keluarga besar itu yang berterus terang. Masing-masing memendam pengalaman aneh yang dirasakannya dan curiga kepada yang lain. Masing-masing hanya bertanya dalam hati, "Bau apa ini?" Lalu keadaan itu meningkat menjadi bisik-bisik antar "kelompok" dalam keluarga besar itu. Kakek berbisik-bisik dengan nenek. "Kau mencium sesuatu, nek?"



"Ya. Bau aneh yang tak sedap!" jawab nenek.

"Siapa gerangan yang mengeluarkan bau aneh tak sedap ini?"



"Mungkin anakmu."

"Belum tentu; boleh jadi cucumu!"



"Atau salah seorang pembantu kita."

Ayah berbisik-bisik dengan ibu. "Kau mencium sesuatu, Bu?"



"Ya. Bau aneh yang tak sedap!" jawab ibu.

"Siapa gerangan yang mengeluarkan bau aneh tak sedap ini?"



"Mungkin ibumu."

"Belum tentu; boleh jadi menantumu."

"Atau salah seorang pembantu kita."



Demikianlah para menantu pun berbisik-bisik dengan istri atau suami masing-masing. Anak-anak berbisik antarmereka. Para pembantu berbisik-bisik antarmereka. Kemudian keadaan berkembang menjadi bisik-bisik lintas "kelompok". Kakek berbisik-bisik dengan ayah atau menantu laki-laki atau pembantu laki-laki. Nenek berbisik-bisik dengan ibu atau menantu perempuan atau pembantu perempuan. Para menantu berbisik-bisik dengan orang tua masing-masing. Ibu berbisik-bisik dengan anak perempuannya atau menantu perempuannya atau pembantu perempuan. Ayah berbisik-bisik dengan anak laki-lakinya atau menantu laki-lakinya atau pembantu laki-laki. Akhirnya semuanya berbisik-bisik dengan semuanya.



Bau aneh tak sedap yang mula-mula dikira hanya tercium oleh masing-masing itu semakin menjadi masalah, ketika bisik-bisik berkembang menjadi saling curiga antarmereka. Apalagi setiap hari selalu bertambah saja anggota keluarga yang terang-terangan menutup hidungnya apabila sedang berkumpul. Akhirnya setelah semuanya menutup hidung setiap kali berkumpul, mereka pun sadar bahwa ternyata semuanya mencium bau aneh tak sedap itu.



Mereka pun mengadakan pertemuan khusus untuk membicarakan masalah yang mengganggu ketenangan keluarga besar itu. Masing-masing tidak ada yang mau mengakui bahwa dirinya adalah sumber dari bau aneh tak sedap itu. Masing-masing menuduh yang lainlah sumber bau aneh tak sedap itu.



Untuk menghindari pertengkaran dan agar pembicaraan tidak mengalami deadlock, maka untuk sementara fokus pembicaraan dialihkan kepada menganalisa saja mengapa muncul bau aneh tak sedap itu.



Alhasil, didapat kesimpulan yang disepakati bersama bahwa bau itu timbul karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan. Oleh karena itu diputuskan agar semua anggota keluarga meningkatkan penjagaan kebersihan; baik kebersihan diri maupun lingkungan. Selain para pembantu, semua anggota keluarga diwajibkan untuk ikut menjaga kebersihan rumah dan halaman. Setiap hari, masing-masing mempunyai jadwal kerja bakti sendiri. Ada yang bertanggung jawab menjaga kebersihan kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi, dan seterusnya. Sampah tidak boleh dibuang di sembarang tempat. Menumpuk atau merendam pakaian kotor dilarang keras.



Juga disepakati untuk membangun beberapa kamar mandi baru. Tujuannya agar tak ada seorang pun anggota keluarga yang tidak mandi dengan alasan malas. Siapa tahu bau itu muncul justru dari mereka yang malas mandi. Di samping itu, semua anggota keluarga diharuskan memakai parfum dan menyemprot kamar masing-masing dengan penyedap ruangan. Semua benda dan bahan makanan yang menimbulkan bau seperti trasi, ikan asin, jengkol, dan sebagainya dilarang dikonsumsi dan tidak boleh ada dalam rumah. Setiap jengkal tanah yang dapat ditanami, ditanami bunga-bunga yang berbau wangi seperti mawar, melati, kenanga, dan sebagainya.



Ketika kemudian segala upaya itu ternyata tidak membuahkan hasil dan justru bau aneh tak sedap itu semakin menyengat, maka mereka menyepakati untuk beramai-ramai memeriksakan diri. Jangan-jangan ada seseorang atau bahkan beberapa orang di antara mereka yang mengidap sesuatu penyakit. Mereka percaya ada beberapa penyakit yang dapat menimbulkan bau seperti sakit gigi, sakit lambung, paru-paru, dan sebagainya. Pertama-tama mereka datang ke puskesmas dan satu per satu mereka diperiksa. Ternyata semua dokter puskesmas yang memeriksa mereka menyatakan bahwa mereka semua sehat. Tak ada seorang pun yang mengidap sesuatu penyakit. Tak puas dengan pemeriksaan di puskesmas, mereka pun mendatangi dokter-dokter spesialis; mulai dari spesialis THT, dokter gigi, hingga ahli penyakit dalam. Hasilnya sama saja. Semua dokter yang memeriksa tidak menemukan kelainan apa pun pada kesemuanya.



Mereka merasa gembira karena oleh semua dokter --mulai dari dokter puskesmas hingga dokter-dokter spesialis-- di kota, mereka dinyatakan sehat. Setidak-tidaknya bau aneh dan busuk yang meruap di rumah mereka kemungkinan besar tidak berasal dari penyakit yang mereka idap. Namun ini tidak memecahkan masalah. Sebab bau aneh tak sedap itu semakin hari justru semakin menyesakkan dada. Mereka pun berembug kembali.



"Sebaiknya kita cari saja orang pintar;" usul kakek sambil menutup hidung, "siapa tahu bisa memecahkan masalah kita ini."

"Paranormal, maksud kakek?" sahut salah seorang menantu sambil menutup hidung.



"Paranormal, kiai, dukun, atau apa sajalah istilahnya; pokoknya yang bisa melihat hal-hal yang gaib."

"Ya, itu ide bagus," kata ayah sambil menutup hidung mendukung ide kakek, "Jangan-jangan bau aneh tak sedap ini memang bersumber dari makhluk atau benda halus yang tidak kasat mata."



"Memang layak kita coba," timpal ibu sambil menutup hidung, "orang gede dan pejabat tinggi saja datang ke "orang pintar" untuk kepentingan pribadi, apalagi kita yang mempunyai masalah besar seperti ini."



Ringkas kata akhirnya mereka beramai-ramai mendatangi seorang yang terkenal "pintar". "Orang pintar" itu mempunyai banyak panggilan. Ada yang memanggilnya Eyang, Kiai, atau Ki saja. Mereka kira mudah. Ternyata pasien "orang pintar" itu jauh melebihi pasien dokter-dokter spesialis yang sudah mereka kunjungi. Mereka harus antre seminggu lamanya, baru bisa bertemu "orang pintar" itu. Begitu masuk ruang praktik sang Eyang atau sang Kiai atau sang Ki, mereka terkejut setengah mati. Tercium oleh mereka bau yang luar biasa busuk. Semakin dekat mereka dengan si "orang pintar" itu, semakin dahsyat bau busuk menghantam hidung-hidung mereka. Padahal mereka sudah menutupnya dengan semacam masker khusus. Beberapa di antara mereka sudah ada yang benar-benar pingsan. Mereka pun balik kanan. Mengurungkan niat mereka berkonsultasi dengan dukun yang ternyata lebih busuk baunya daripada mereka itu.



Keluar dari ruang praktik, mereka baru menyadari bahwa semua pasien yang menunggu giliran ternyata memakai masker. Juga ketika mereka keluar dari rumah sang dukun mereka baru ngeh bahwa semua orang yang mereka jumpai di jalan, ternyata memakai masker.



Mungkin karena beberapa hari ini seluruh perhatian mereka tersita oleh problem bau di rumah tangga mereka sendiri, mereka tidak sempat memperhatikan dunia di luar mereka. Maka ketika mereka sudah hampir putus asa dalam usaha mencari pemecahan problem tersebut, baru mereka kembali membaca koran, melihat TV, dan mendengarkan radio seperti kebiasaan mereka yang sudah-sudah. Dan mereka pun terguncang. Dari siaran TV yang mereka saksikan, koran-koran yang mereka baca, dan radio yang mereka dengarkan kemudian, mereka menjadi tahu bahwa bau aneh tak sedap yang semakin hari semakin menyengat itu ternyata sudah mewabah di negerinya.



Wabah bau yang tak jelas sumber asalnya itu menjadi pembicaraan nasional. Apalagi setelah korban berjatuhan setiap hari dan jumlahnya terus meningkat. Ulasan-ulasan cerdik pandai dari berbagai kalangan ditayangkan di semua saluran TV, diudarakan melalui radio-radio, dan memenuhi kolom-kolom koran serta majalah. Bau aneh tak sedap itu disoroti dari berbagai sudut oleh berbagai pakar berbagai disiplin. Para ahli kedokteran, ulama, aktivis LSM, pembela HAM, paranormal, budayawan, hingga politisi, menyampaikan pendapatnya dari sudut pandang masing-masing. Mereka semua --seperti halnya keluarga besar kita-- mencurigai banyak pihak sebagai sumber bau aneh tak sedap itu. Tapi --seperti keluarga besar kita--tak ada seorang pun di antara mereka yang mencurigai dirinya sendiri.



Hingga cerita ini ditulis, misteri wabah bau aneh tak sedap itu belum terpecahkan. Tapi tampaknya sudah tidak merisaukan warga negeri --termasuk keluarga besar itu-- lagi. Karena mereka semua sudah terbiasa dan menjadi kebal. Bahkan masker penutup hidung pun mereka tak memerlukannya lagi. Kehidupan mereka jalani secara wajar seperti biasa dengan rasa aman tanpa terganggu. ***

Rembang, 6 Juni 2003

Sabtu, 11 September 2004

Hypermarket

Cerpen Wawan Setiawan



Bulan tetap bundar seperti jaman purba. Tapi serigala sudah diganti anjing. Harimau diganti kucing. Keduanya berkejaran di bawah bulan. Cemara-cemara berjajar. Mobil-mobil diparkir di bawahnya. Napas orang mabuk menembus angin.



"Aku sudah meramal bahwa aku kelak sampai di sini. Namun waktu tetap menatapku kelu. Dan lalu waktu bukan giliranku. Demikian penyair Amir Hamzah."



"Kamu bicara seperti orang mau dieksekusi. Rapuh benar jiwamu. Fasilitas yang kuberikan dulu tak kau gunakan?"

"Fasilitasmu sudah berubah menjadi minimarket. Lalu supermarket. Kemudian hypermarket. Jangan pura-pura tidak tahu."



"Tapi justru karena itu kamu kehilangan sejarah. Kronologi hidupmu tak menciptakan sejarah."

"Sejarah? Sejarah untuk siapa?"



"Sejarah tidak untuk siapa-siapa bukan? Itu maksudmu?"

"Sejarah untuk bulan, serigala, dan kucing, ya kan?"



Malam tak dapat mepertahankan diri untuk menjadi siang. Pada waktunya kelak siang akan dirampas malam. "Diriku akan digeser anakku. Anakku akan diganti cucuku. Dan cucuku akan menciptakan dinasti. Dinasti pemberani, serigala pemberani yang tahu dominasi manusia dalam dirinya. Tak ada jalan lain kecuali kompromi."

***

Demikian anganku mengejar bayangannya. Kutarik resliting celana ke atas setelah kunikmati kencing selega udara malam. Kuhirup aroma daun cemara gugur, bau kematian yang indah. Dan mataku ketagihan menyesap bulan.



Bulan sudah lama ditaklukkan, tapi diriku belum. Tak apa, selama serigala masih berkeliaran di tengah kota, penemuan diri tetap tak semudah memanjat wanita.



"Kamu telah mengkhianatiku!"

Aku kaget. Seorang pemabuk begitu saja membentakku dari mobilnya yang pintunya terbuka.



"Bagaimana mungkin itu. Kapan kamu kenal aku?"

"Kamu dibesarkan bahasa. Lihai kata-katamu."



"Kamu dibesarkan minuman. Pedih suaramu."

Pemabuk itu terbahak-bahak. Mulutnya menganga seakan mau menelan semua sejarah bintang ke dalam tenggorokannya.



"Aku tak mabuk. Aku tahu, betul-betul tahu, bahwa kamu pengkhianat, bahwa kamu tak lebih dari sampah. Sumpah!"

"Kamu insomnia. Kamu mencaplok dunia malam semua wanita kota ini. Inkarnasimu sia-sia. Isi perutmu baiknya disedot mesin kuras tinja," ia berkata-kata begitu sambil berteriak-teriak. Kutarik tangan si pemabuk itu, kumasukkan tubuhnya ke dalam mobil. Kugebrak pintu depannya keras-keras. Biar tahu rasa dia. Saat ekonomi sesulit sekarang, pemabuk makin tambah saja.



Kumasuki segera hypermarket itu dengan amarah. Kuturuti semua yang diminta.

"Kuturuti apa yang kamu mau, aku telah menjadi konsumen sejati, biar puas dirimu." Dengan gaya pesta agung kucomoti bermacam botol berbagai merk. Sampai kereta dorongku berjubel. Kulihat setiap botol itu dengan gagah menampilkan satu bayangan sundel, seikat uang, dan setumpuk kehinaan.



"Mas beli sebanyak ini apa ada pesta penting. Pesta ultah ya?"

Kassanya bertanya kalem. Matanya genit, berkedip-kedip, mengundang masuk. Kini hypermarket menyediakan kassawati 24 jam.



"Ya, untuk kecerdasan, untuk kesantaian. Tapi, Mbak Lia," begitu nama yang kulihat di dadanya yang montok, "Mbak harus lapor ke manager bahwa aku konsumen sejati, kalau bisa lapor ke Muri, sebagai konsumen minuman yang memecahkan rekor."



"Muri?" Matanya yang berkedip berubah mendolong.

"Ya, saudaranya burung nuri!" Mbak Lia tanda tanya tapi setelah itu



senyum-senyum penuh harap agar aku datang lagi selarut begini suatu malam kelak. Kudorong kereta keranjang itu. Bertumpuk botol menuju mobil dan akan siap mendongkrak mereka ke dunia entah berantah.



Mataku tergoda cewek berkaos merah bercelana pendek ketat gelap berjalan melenggok menuju sebuah Corona. Sialan, si banci itu begitu berduit.



Pelayan hypermarket tergopoh-gopoh mendorong kereta menuju mobil dan kemudian memasukkan seluruh belanjaannya ke bagasi. Si banci memberi sejumlah tip. Pelayan membungkuk sempurna.



Segera kugelontor botol-botol itu ke sejumlah mobil yang tertidur di bawah cemara. Mereka tertidur karena nikmat. Bau napas mereka menyaingi bau daunan cemara yang berguguran. Kalau nanti mereka bangun, pasti botol-botol itu akan didekapnya begitu saja. Sambil membayangkan keberhasilan para konglomerat, mereka akan terus menenggak botol-botol itu tanpa tanya dari mana.



Setelah menggelontor botol ke para pemabuk buduk, aku kembali ke mobil. Tapi belum sempat masuk ke jok depan, suara pisuhan panjang menggempur kupingku lagi.



"Kamu gadaikan hidupmu demi barang-barang basi!"

Aku segera berlari ke arahnya.



"Apa katamu?" Kebenturkan mataku ke matanya yang merah-kosong.

"Kau gadaikan hidupmu demi barang-barang basi."



"Sok tahu lu. Barang basimu kali."

"Kamu jilati barang-barang basi itu. Takut kehilangan, ya. Kamu gopok."



"Sejak tadi barang basi melulu mulutmu itu."

"Kamu menyembah popularitas."



"Tapi kamu menyembah botol."

"Ya, kamu menyembah teori."



"Tapi, kamu jilati botol sampai kau temu malaikat."

"Kamu jilati teori sampai kau temu juru selamat."



"Sudah, sudah. Minum saja biar pencerahanmu tak terkalahkan. Kamu memang gigolo sejati. Nikmatilah dirimu dengan penuh keriangan."

Kudesak tubuhnya ke dalam mobil. Kugebrak pintunya lebih keras dari yang tadi. Masing-masing lima botol kutaruh ke jok samping. Lima tutupnya kubuang jauh-jauh.

***

Aku terengah-engah. Mengapa aku tadi ikut parkir di bawah cemara. Kupikir aku bisa santai sambil membayangkan peradaban baru yang bakal tiba, suatu peradaban yang tak terkalahkan oleh akal licik manusia. Padahal, sambil berandai-andai demikian aku berharap peroleh terapi setelah jenuhku tak tertolong di tempat kerja. Puluhan tahun dan hampir setiap hari aku harus memandikan mayat di RS Teruna di sebelah timur Rutan Tulangresik.



Banyak orang menjauhi pekerjaan itu. Menurut mereka, pekerjaan ini membuat orang sering menemui banyak peristiwa aneh seperti malam ini. Bayangkan ada lima mobil berderet, semuanya dihuni para pemabuk. Saking kerasnya bau mulut mereka, bau daunan cemara yang berguguran dapat dikalahkan.



Kalau siang, lokasi di bawah cemara ini sering dipakai parkir mobil-mobil anak remaja yang bolos sekolah. Mereka berpacaran sambil menenggak minuman ringan, dan sering menyuntikkan cairan seribudewi ke nadi. Nah, kalau malam para pemabuk yang sudah parah mangkal di sini. Halaman hypermarket memang luas, lima kali luas bangunannya. Padahal bangunan hypermarket itu dua kali luas lapangan bola, dan berlantai tujuh persis tujuh lapis semesta yang ada di sorga.



Lokasi kelompok cemara seribu meter jaraknya ke tepian gedung. Bisa leluasa di sini karena jalan besar juga masih seribu meter ke arah berlawanan, suara deru lalin hanya sayup. Jarak-jarak itu disatukan oleh jalan paving, rumput-rumput halus, dan bunga-bunga kecil. Di jalan besar banyak polisi patroli malam tapi mereka tak akan berani menyentuh wilayah ini. Bukan kaplingannya. Ini adalah wilayah para satpam penembak jitu yang sudah disogok dengan gaji ketiga belas disertai satu truk bingkisan yang isinya pasti perempuan garukan, puluhan kaleng biskuit, baju-baju factory outlet, buah-buah negeri dingin, dan juga minuman keras merk-merk ternama.



Padahal aku jenuh di tempat kerjaku. Pikiran, hati, dan tubuhku, sibuk memandikan mayat. Jangan-jangan, aku nanti akan memandikan salah satu dari mereka. Sebab mereka telah memenuhi tahap awal yang sangat memungkinkan: menjadi pemabuk, menyetir mobil sendiri, menabrak mobil sipil atau polisi, tiang listrik, atau kereta api. Masya Allah, secara tak sadar aku telah menggiring kematian mereka.



Selain itu, banyak perempuan kudekati, setelah menikmati madu dan racun, mereka menolak. Alasan mereka sederhana: kerjaku pemandi mayat. Padahal aku butuh mereka seperti halnya mereka butuh aku. Hidupku akhirnya dari short time ke short time. Kadang-kadang cairan seribudewi berpatroli ke urat-urat nadi. Seribudewi ini sarat janji-janji perihal peradaban baru yang tak ada di realita karena hyperrealita.



"Masum," demikian pengakuan seorang perempuan. "Meski kauberi aku seluruh hypermarketmu, takkan kugadaikan hidupku pada hidup seorang pemandi mayat."



Dengan sepatu hak tingginya dan kakinya yang lencir, ia kemudian ngacir meninggalkanku menuju lelaki lain, dunia lain. Aku hanya berdeham-dehem melihat laku lajaknya.



Tapi aku tadi sudah dihantam mulut mereka. Aku katanya takut kehilangan barang-barang basi yang diperjualbelikan hypermarket: negara, agama, wanita, popularitas, dan juga keabadian. Mereka telah menghantamku bergantian dan habis-habisan. Dan aku tak tak tinggal diam. Kugelogok mulut mereka yang terus menganga dengan berbotol-botol minuman berbagai "atas nama". Mereka kemudian berkejat-kejat, berkhayal-khayal, membangun negeri yang tak pernah ada, sampai akhirnya mereka diam dalam gerak yang sempurna. ***

Surabaya, 24 Juni 2004

Minggu, 05 September 2004

Pesta Syukuran

Cerpen Manaf Maulana



PAK Mahdi sudah tampil rapi, berpeci hitam, berbaju koko putih dan bersarung kotak-kotak biru. Ia berdiri di ambang pintu pagar rumahnya, menyambut tamu undangan. Kemarin, surat undangan syukuran sebanyak 200 lembar telah dikirimkan ke rumah-rumah tetangga sekitar dan teman-teman dekat.



Di ruang keluarga yang cukup luas mirip aula itu, Bu Mahdi sibuk mempersiapkan hidangan ala prasmanan dengan menu istimewa. Di atas meja panjang yang terbalut kain hijau, ada gule dan sate kambing, sate ayam, ayam bakar, ayam goreng, opor ayam, bestik daging sapi, sop buntut, acar, sambal hati. Juga ada berbagai macam buah segar: apel merah, anggur hijau, jeruk impor, peer dan pisang mas.



Dengan wajah berseri-seri, Pak Mahdi melirik arlojinya. Sudah jam 19:30. Ia menduga, tamu undangan akan hadir tepat pada jam 20:00, sesuai waktu yang tertulis di dalam surat undangan. Menit-menit berlalu, dan ketika arlojinya sudah menunjukkan jam 19:55, belum ada satu pun tamu yang hadir. Bu Mahdi tergopoh-gopoh keluar dari ruang keluarga, setelah selesai mempersiapkan hidangan istimewa itu.



"Kok belum ada yang datang, Pak?" tanyanya dengan wajah tegang.

"Mungkin orang-orang di lingkungan perumahan ini sangat disiplin, Bu. Mereka mungkin akan datang tepat pukul delapan. Lima menit lagi," jawab Pak Mahdi dengan wajah yang juga tiba-tiba nampak tegang.



Bu Mahdi mencibir. "Uh! Menghadiri undangan pesta kok dipas jamnya. Dasar sok disiplin," gerutunya dengan kesal.

Pak Mahdi juga mulai dilanda kesal, karena belum juga ada seorang pun tamu undangan yang hadir di rumahnya. Ia mulai bertanya-tanya, kenapa tetangga-tetangga dekatnya juga belum hadir? Apakah mereka sedang tidak ada di rumah? Ia memang belum mengenal semua tetangganya, karena baru saja pindahan sepekan lalu. Rumah barunya yang megah berlantai dua itu terletak di tengah-tengah lahan kosong di tengah perumahan itu. Dulu, ia membeli sejumlah kaplingan sekaligus, dan di bagian tengah kaplingan itulah ia mendirikan rumah megahnya itu. Kini, rumahnya itu satu-satunya rumah termegah di kawasan perumahan itu. Rumah-rumah tetangganya hanya bertipe 21 dan 36.



"Mungkinkah semua tetangga dan teman-teman dekatmu tidak ada yang bersedia hadir, Pak?" tanya Bu Mahdi dengan wajah kesal.

"Sabarlah, Bu. Mungkin sudah menjadi kebiasaan di kampung ini, jika menghadiri undangan selalu terlambat." Pak Mahdi mencoba menghibur diri.



"Tapi ini sudah lewat lima belas menit, Pak."

Kembali Pak Mahdi melirik arlojinya. Memang sudah lewat lima belas menit dari jam delapan. Wajah Bu Mahdi dan Pak Mahdi semakin tegang, karena menit-menit terus berlalu, tapi belum juga ada satu pun tamu undangan yang hadir.



Tiga orang pembantu dan dua sopirnya nampak tersenyum-senyum di ambang pintu ruang keluarga. Mereka pasti berharap agar pesta syukuran itu gagal, atau hanya dihadiri sebagian kecil tamu undangan. Sebab, jika pesta syukuran itu gagal atau hanya dihadiri sebagian kecil tamu undangan, maka akan ada banyak sisa hidangan yang bisa dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga di rumah.



Kini sudah jam 21 kurang 10 menit. Dan tetap belum ada seorang pun tamu undangan yang hadir. Dengan kesal, Pak Mahdi kemudian mencoba menelepon teman-teman dekat yang telah diundangnya. Tapi ternyata mereka semua mematikan hp-nya. Sedangkan telepon di rumah mereka juga tidak bisa dihubungi.



"Apa perlu kita menyuruh sopir-sopir itu untuk mengingatkan tetangga-tetangga dekat agar segera hadir, Pak?" Bu Mahdi bingung.

"Ah, tak usah repot-repot, Bu."



"Tapi bagaimana kalau pesta syukuran malam ini gagal, Pak?"

"Kalau tidak ada yang bersedia datang, kita justru tidak repot-repot, Bu."



"Kamu ini bagaimana sih, Pak?"

"Ah, sudahlah, Bu. Yang penting, nadzar kita mengadakan pesta syukuran sudah kita lakukan. Dan kalau ternyata tidak ada yang datang, bukan urusan kita. Hidangan yang sudah kita sajikan, bisa dibawa pulang oleh sopir-sopir itu."



Bu Mahdi kemudian bungkam. Tapi hatinya risau. Ia menduga, semua tetangga dan teman-teman dekat sudah tahu betapa Pak Hasan adalah pejabat yang korup. Rumah megah itu juga hasil dari korupsi.



"Kalau sampai pukul sembilan nanti belum ada tamu yang hadir, kita tutup saja pintu pagar ini, dan semua lampu dipadamkan, Bu. Aku sudah capek, ingin segera tidur. Besok aku punya banyak acara penting. Ada rapat di hotel." Pak Mahdi nampak mulai putus asa.



Bu Mahdi kemudian bergegas masuk ke kamar tidurnya. Rasa kesal bercampur sedih tidak bisa dibendungnya. Ia terpekur sambil bercermin di meja rias. Kini, ia seolah-olah sedang ditelanjangi oleh tetangga dan teman-teman dekat. Mereka tidak bersedia hadir pasti karena tidak sudi menikmati hidangan yang berasal dari uang hasil korupsi.



Kini, di mana-mana memang sedang ada gerakan mengutuk para koruptor. Kini, semua pejabat yang hidup bermewah-mewahan dan punya rumah megah telah menjadi pergunjingan masyarakat di sekitarnya. Dan sejak muncul gerakan mengutuk para koruptor, Pak Mahdi nampak risau. Lalu, Bu Mahdi menyarankan untuk mengadakan acara pesta syukuran dengan mengundang semua tetangga dan teman-teman dekat. Dalam pesta syukuran itu, selain menikmati hidangan istimewa, semua tamu diminta untuk membaca doa bersama yang akan dipimpin oleh seorang ulama.



"Kalau rumah yang kita bangun sudah kita tempati, kita memang harus mengadakan pesta syukuran, Bu," kata Pak Mahdi.

Lalu Bu Mahdi bilang bahwa kata Pak Mahdi itu sebagai sebuah nadzar yang harus dilaksanakan. Dan kini, nadzar itu sudah dilaksanakan, tapi ternyata terancam gagal total.



Pak Mahdi tiba-tiba menyusul Bu Mahdi ke kamar. "Pintu pagar sudah ditutup, Bu. Ayo tidur saja. Biarkan saja sopir-sopir dan pembantu-pembantu itu menikmati hidangan yang ada."



Bu Mahdi menangis. "Rupanya semua orang sudah tahu kalau kamu korupsi, Pak."

"Ah, persetan, Bu. Yang penting, tidak akan ada proses hukum yang bisa mengadili para koruptor seperti aku. Kalau kita dikucilkan di dalam negeri, masih ada tempat untuk hidup nyaman di luar negeri. Aku bisa mengikuti para seniorku yang kini hidup nyaman di negara-negara lain."

***

ESOKNYA, Pak Mahdi dan Bu Mahdi sibuk menerima telepon dari teman-teman dekat yang tidak bisa menghadiri undangan pesta syukuran. Kebanyakan mereka tidak bisa hadir karena ada udzur berupa musibah.



"Maaf ya, Pak Mahdi. Saya dan nyonya tidak bisa hadir, karena mendadak ada kerabat dekat yang meninggal dunia."

"Maaf, ya Bu Mahdi. Saya dan suami tidak bisa hadir, karena anak kami tiba-tiba sakit dan harus dibawa ke rumah sakit."



"Aduh, saya minta maaf karena tidak bisa hadir. Maklumlah, kami sedang berduka atas wafatnya anjing kesayangan kami."

"Sungguh, kami sedianya sudah bersiap-siap untuk hadir. Tapi mendadak ban mobil kami meledak, sedangkan ban serepnya baru saja dipinjam tetangga dekat."



Pak Mahdi dan Bu Mahdi sangat kesal sehabis menerima telepon. Sebab, semua teman dekatnya meminta maaf karena tidak hadir gara-gara mengalami musibah.

Seolah-olah mereka mengatakan bahwa musibah yang dialaminya disebabkan oleh undangan pesta syukuran itu. Mereka seolah-olah ingin mengatakan bahwa jika mereka hadir pasti akan tertimpa musibah yang lebih besar.



Kini, Pak Mahdi dan Bu Mahdi semakin yakin, betapa semua teman dan tetangga sudah memandangnya sebagai manusia yang menjijikkan. Mereka tidak bersedia menghadiri undangan pesta syukuran pasti karena jijik.



"Gagalnya pesta syukuran yang kita laksanakan, justru membuatku semakin bergairah mencari banyak uang untuk bekal hidup di luar negeri, Bu. Rasanya kita tidak akan bisa nyaman lagi tinggal di dalam negeri. Masa tugasku tinggal satu tahun. Waktu satu tahun akan kugunakan untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya," tutur Pak Mahdi dengan menerawang jauh. Terbayang para seniornya yang kini sedang main golf dan main catur di Singapura.

***

GERAKAN mengutuk para koruptor semakin marak di mana-mana. Pak Mahdi dan Bu Mahdi semakin risau. Dan di pagi itu, ketika sedang menikmati kopi dan roti di beranda belakang, tiba-tiba pembantu-pembantu dan sopir-sopirnya mendekat dan berpamitan. Mereka mengaku takut, karena rumah megah berlantai dua itu terasa angker. Mereka juga mengaku sering bermimpi buruk dan mengerikan. Dalam mimpi mereka seolah-olah melihat rumah megah berlantai dua itu sedang terbakar, dan mereka terperangkap di dalam kobaran api.



Dan sejak kehilangan semua pembantu dan sopirnya, Pak Mahdi dan Bu Mahdi merasa sedih, tegang dan takut menghuni rumah barunya yang megah berlantai dua itu. Seolah-olah rumahnya itu bagaikan penjara yang mengurungnya. Kini, semua sanak familinya juga semakin menjauh.



"Sebaiknya kita menyusul anak-anak, Pak." Bu Mahdi tak tahan lagi tinggal di rumah megah itu. Terbayang selalu dua anaknya yang kini sedang kuliah di Singapura.



"Ya, Bu. Kita memang harus segera menyusul mereka, untuk mencari tempat tinggal di sana. Mereka tidak usah pulang setelah selesai kuliah. Biarlah mereka

tetap di sana."



"Rumah ini harus segera dijual, Pak."

Pak Mahdi setuju, tapi menjual rumah megah sekarang tidak mudah. Ia teringat sejumlah seniornya yang kesulitan menjual rumah megah, lalu terpaksa ditinggalkan begitu saja.



"Sebaiknya kita memasang iklan di koran-koran, juga pengumuman di pintu pagar bahwa rumah ini dijual, Pak," usul Bu Mahdi.

Tanpa bicara lagi, Pak Mahdi segera memasang iklan di koran-koran dan papan pengumuman di pintu pagar. Dan hari-hari selanjutnya, Bu Mahdi terpaksa sibuk di dapur, menyapu lantai, mencuci pakaian, belanja ke pasar, karena tidak bisa lagi mencari pembantu. Pak Mahdi juga terpaksa pergi dan pulang kantor dengan menyetir mobilnya sendiri, karena tidak bisa mencari sopir lagi.



"Ada surat undangan pesta syukuran dari Pak Samad," ujar Bu Mahdi sambil menyerahkan surat undangan tanpa amplop selebar kartu pos itu, ketika Pak Mahdi baru pulang kantor, sore itu.



"Pak Samad mengadakan pesta syukuran? Memangnya barusan memperoleh rejeki dari mana tukang becak itu?"

Pak Mahdi nampak heran. Ia tahu, Pak Samad sehari-hari menjadi tukang becak. Rumahnya di seberang lahan kosong, sebelah timur, yang setiap hari dilaluinya ketika ia pergi dan pulang kantor. Rumah Pak Samad hanya tipe 21.



Dengan dorongan rasa ingin beramah tamah dengan para tetangga, Pak Mahdi bersedia menghadiri undangan Pak Samad. Ia tiba di rumah Pak Samad tepat waktu. Dan ia heran, karena halaman rumah Pak Samad sudah dipenuhi oleh tamu undangan.



Wajah Pak Samad berseri-seri ketika menjabat tangan Pak Mahdi. "Maaf, Pak. Silahkan duduk. Tempatnya kotor," ujarnya sambil menunjuk selembar tikar yang terpaksa digelar di tepi jalan, karena semua kursi sudah diduduki oleh tamu.



Dengan berat hati, Pak Mahdi duduk lesehan di atas tikar, sehingga perutnya yang gendut terasa pegal. Pantatnya juga terasa nyeri, karena hamparan aspal di bawah tikar kurang rata.



Sebentar kemudian, Pak Samad duduk di samping Pak Modin yang ditunjuk untuk menjadi pemimpin doa bersama. Dan sebelum berdoa, Pak Modin menjelaskan bahwa tuan rumah mengadakan pesta syukuran sederhana itu karena telah mampu membeli becak baru.



Dan setelah berdoa bersama, hidangan yang disajikan ternyata cuma sepiring nasi goreng dan segelas teh manis. Semua hadirin menikmati hidangan pesta syukuran yang sangat sederhana itu.



Pak Mahdi nampak muak dan ingin muntah, ketika baru saja menelan sesendok nasi goreng yang terasa sangat hambar itu. Tapi, anehnya, wajah semua hadirin nampak berseri-seri menikmati nasi goreng itu.***

Pondok Kreatif, 2004

Sabtu, 28 Agustus 2004

Kiai Yazid dan Si Anjing Hitam

Cerpen Wawan Susetya



Syahdan, pada zaman dahulu, ada seorang kiai besar yang sangat dihormati. Orang-orang di sekitarnya memanggi Kiai Yazid --lengkapnya Kiai Abu Yazid al-Bustami. Santrinya banyak. Mereka belajar di bawah bimbingan Sang Guru. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia; ada yang dari Irak, Iran, Arab, Tanah Gujarat, Negeri Pasai dan sebagainya. Mereka setia dan tunduk patuh atas semua naSihat dan bimbingan Sang Mursyid.



Selain Kiai Yazid punya santri di pesantrennya, banyak pula masyarakat yang menginginkan nasihat dari beliau. Mereka pun datang dari berbagai penjuru dunia. Ada yang menanyakan tentang perjalanan spiritual yang sedang dihayatinya, ada pula yang bertanya cara menghilangkan penyakit-penyakit hati, bahkan tak jarang yang menginginkan usaha mereka lancar serta keperluan-keperluan yang Sifatnya pragmatis dan teknis lainnya. Semuanya dilayani dan diterima dengan baik oleh Sang Kiai.



Meski demikian, kadang-kadang terjadi pula tamu yang datang dengan maksud menguji dan mencobai Sang Kiai: apakah Kiai Yazid itu memang benar-benar waskita (tajam penglihatan mata batinnya)?



Para tamu yang datang, bukan hanya didominasi kalangan lelaki saja, tetapi juga ada perempuan sufi yang belajar kepadanya. Mereka ingin ber-taqarrub kepada Allah sebagaimana yang dilalui Sang Kiai. Di antara mereka ada yang berhasil, ada pula yang gagal di tengah jalan. Semua itu, kata Kiai Yazid, memang bergantung pada ketekunannya masing-masing. Beliau hanya mengarahkan dan membimbing; semuanya bergantung dari keputusan-Nya jua.



Karena ke-’alim-annya itu, akhirnya masyarakat memang benar-benar menganggap bahwa Kiai Yazid adalah sosok yang patut dijadikan tauladan atau panutan. Bukan hanya itu. Para kalangan sufi pun menghormati kedalaman rasa Sang Kiai. Para sufi pun banyak yang mengajak diskusi, konsultasi, musyawarah dan membahas soal-soal spiritual yang pelik-pelik. Nglangut. Hadir dan menghadirkan. Berpisah dan bersatu.



Kedalaman rasa Sang Kiai, misalnya, ia bisa saja merasa kesepian atau "menyendiri" ketika berkumpul dengan orang banyak. Di tempat lain, Sang Kiai sangat merasakan ramai, padahal ia sendirian. Begitulah, semua rasa itu tertutup oleh penampilan beliau yang memikat, mengayomi, melindungi, mengajar, dan gaul dengan banyak orang.

***

Pada suatu hari, Kiai Yazid sedang menyusuri sebuah jalan. Ia sendirian. Tak seorang santri pun diajaknya. Ia memang sedang menuruti kemauan langkah kakinya berpijak; tak tahu ke mana arah tujuan dengan pasti. Ia mengalir begitu saja. Maka dengan enjoy-nya ia berjalan di jalan yang lengang nan sepi.



Tiba-tiba dari arah depan ada seekor anjing hitam berlari-lari. Kiai Yazid merasa tenang-tenang saja, tak terpikirkan bahwa anjing itu akan mendekatnya. E?.ternyata tahu-tahu sudah dekat; di sampingnya. Melihat Kiai Yazid --secara reflek dan spontan-- segera mengangkat jubah kebesarannya. Tindakan tadi begitu cepatnya dan tidak jelas apakah karena -barangkali-- merasa khawatir: jangan-jangan nanti bersentuhan dengan anjing yang liurnya najis itu!



Tapi, betapa kagetnya Sang Kiai begitu ia mendengar Si Anjing Hitam yang di dekatnya tadi memprotes: "Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa!"



Mendengar suara Si Anjing Hitam seperti itu, Kiai Yazid masih terbengong: benarkah ia bicara padanya?! Ataukah itu hanya perasaan dan ilusinya semata? Sang Kiai masih terdiam dengan renungan-renungannya.



Belum sempat bicara, Si Anjing Hitam meneruskan celotehnya: "Seandainya tubuhku basah, engkau cukup menyucinya dengan air yang bercampur tanah tujuh kali, maka selesailah persoalan di antara kita. Tetapi apabila engkau menyingsingkan jubah sebagai seorang Parsi (kesombonganmu), dirimu tidak akan menjadi bersih walau engkau membasuhnya dengan tujuh samudera sekalipun!"



Setelah yakin bahwa suara tadi benar-benar suara Si Anjing Hitam di dekatnya, Kiai Yazid baru menyadari kekhilafannya. Secara spontan pula, ia bisa merasakan kekecewaan dan keluh kesah Si Anjing Hitam yang merasa terhina. Ia juga menyadari bahwa telah melakukan kesalahan besar; ia telah menghina sesama makhluk Tuhan tanpa alasan yang jelas.



"Ya, engkau benar Anjing Hitam," kata Kiai Yazid, "Engkau memang kotor secara lahiriah, tetapi aku kotor secara batiniah. Karena itu, marilah kita berteman dan bersama-sama berusaha agar kita berdua menjadi bersih!"



Ungkapan Kiai Yazid tadi, tentu saja, merupakan ungkapan rayuan agar Si Anjing Hitam mau memaafkan kesalahannya. Jikalau binatang tadi mau berteman dengannya, tentu dengan suka rela ia mau memaafkan kesalahannya itu.



"Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama-sama denganku dan menjadi sahabatku! Sebab, semua orang menolak kehadiranku dan menyambut kehadiranmu. Siapa pun yang bertemu denganku akan melempariku dengan batu, tetapi Siapa pun yang bertemu denganmu akan menyambutmu sebagai raja di antara para mistik. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun, tetapi engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari!" kata Si Anjing Hitam dengan tenang.



Kiai Yazid masih termenung dengan kesalahannya pada Si Anjing Hitam. Setelah dilihatnya, ternyata Si Anjing Hitam telah meninggalkannya sendirian di jalanan yang sepi itu. Si Anjing Hitam telah pergi dengan bekas ucapannya yang menyayat hati Sang Kiai.



"Ya Allah, aku tidak pantas bersahabat dan berjalan bersama seekor anjing milik-Mu! Lantas, bagaimana aku dapat berjalan bersama-Mu Yang Abadi dan Kekal? Maha Besar Allah yang telah memberi pengajaran kepada yang termulia di antara makhluk-Mu yang terhina di antara semuanya!" seru Kiai Yazid kepada Tuhannya di tempat yang sepi itu.



Kemudian, Kiai Yazid dengan langkah yang sempoyongan meneruskan perjalanannya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke pesantrennya. Ia sudah rindu kepada para santri yang menunggu pengajarannya.

***

Keunikan dan ke-nyleneh-an Kiai Yazid memang sudah terlihat sejak dulu. Kepada para santrinya, beliau tidak selalu mengajarkan di pesantrennya saja, tetapi juga diajak merespon secara langsung untuk membaca ayat-ayat alam yang tergelar di alam semesta ini. Banyak pelajaran yang didapat para santri dari Sang Kiai; baik pembelajaran secara teoritis maupun praktis dalam hubungannya dengan ketuhanan.



Suatu hari, Kiai Yazid sedang mengajak berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. Jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Setelah diamati secara seksama, ternyata ia bukanlah Si Anjing Hitam yang dulu pernah memprotesnya. Ia Si Anjing Kuning yang lebih jelek dari Si Anjing Hitam. Begitu melihat Si Anjing Kuning tadi terlihat tergesa-gesa --barangkali karena ada urusan penting-- maka Kiai Yazid segera saja mengomando kepada para muridnya agar memberi jalan kepada Si Anjing Kuning itu.



"Hai murid-muridku, semuanya minggirlah, jangan ada yang mengganggu Si Anjing Kuning yang mau lewat itu! Berilah dia jalan, karena sesungguhnya ia ada suatu keperluan yang penting hingga ia berlari dengan tergesa-gesa," k ata Kiai Yazid kepada para muridnya.



Para muridnya pun tunduk-patuh kepada perintah Sang Kiai. Setelah itu, Si Anjing Kuning melewati di depan Kiai Yazid dan para santrinya dengan tenang, tidak merasa terganggu. Secara sepintas, Si Anjing Kuning memberikan hormatnya kepada Kiai Yazid dengan menganggukkan kepalanya sebagai ungkapan rasa terima kasih. Maklum, jalanan yang sedang dilewati itu memang sangat sempit, sehingga harus ada yang mengalah salah satu; rombongan Kiai Yazid ataukah Si Anjing Kuning.



Si Anjing Kuning telah berlalu. Tetapi rupanya ada salah seorang murid Kiai Yazid yang memprotes tindakan gurunya dan berkata: "Allah Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas segala makhluk-makhluk-Nya. Sementara, kiai adalah raja di antara kaum sufi, tetapi dengan ketinggian martabatnya itu beserta murid-muridnya yang taat masih memberi jalan kepada seekor anjing jelek tadi. Apakah pantas perbuatan seperti itu?!"



Kiai Yazid menjawab: "Anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku: "Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian dulu sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja di antara para mistik (kaum sufi)?" Begitulah yang sampai ke dalam pikiranku dan karena itulah aku memberikan jalan kepadanya."



Mendengar penjelasan Kiai Yazid seperti itu, murid-muridnya manggut-manggut. Itu merupakan pertanda bahwa mereka paham mengapa guru mereka berlaku demikian. Semuanya diam membisu. Mereka tidak ada yang membantah lagi. Mereka pun terus meneruskan perjalanannya. ***

(Inspirasi cerita: Kisah Abu Yazid al-Busthomi, tokoh besar dari kalangan kaum sufi)

Tulungagung, 9 Oktober 2003

Sabtu, 21 Agustus 2004

Kakek Marijan

Cerpen: Aris Kurniawan



Got meluap. Bangkai tikus sebesar kucing digiring air busuk kehitaman. Tersumbat kental. Maghrib. Deretan gubuk mirip kandang babi. Senyap. Sesekali terdengar kecipak langkah di atas air. Suara tawa sayup orang-orang merubung siaran acara lawak di televisi. Gubuk di ujung gang, dengan remang cahaya listrik 5 watt, Kakek Marijan terengah. Matanya nanar menatap Narto, cucunya, membeku dengan muka membiru tengkurap di sisi bak.



Kakek Marijan mengelap keringat yang membanjir. Pelahan diseretnya mayat cucunya itu. Dimasukkan ke dalam karung yang telah disiapkan dengan rapi. Gerimis turun lagi dan langit makin pekat ketika Kakek Marijan menaikkan karung ke dalam gerobak, dan perlahan menariknya menyusuri gang demi gang becek berlumpur. Roda gerobak seperti menggelinding di atas sungai. Entah ke mana. Narto, cucu yang sebetulnya sangat disayanginya, terguncang-guncang. Namun tentu saja bocah itu tidak merasakan dingin ataupun sakit karena nyawanya telah melayang.



"Maafkan Kakekmu," begitulah kalimat yang keluar dari mulut Kakek Marijan ketika hendak membekap mulut Narto, bocah umur tujuh tahun, dengan bantal. Narto meronta dan cuma meronta ketika Kakek Marijan membopong tubuhnya dan membenamkannya ke dalam bak penuh air. Narto mengerjat beberapa saat sebelum lunglai, dan akhirnya mengeras. Tidak ada jalan lain, pikir Kakek Marijan, untuk membalas sakit hatiku pada ayahmu. Aku sudah terlanjur tersinggung dan tidak bisa memaafkan menantuku sendiri.



Kakek Marijan teringat lagi ucapan menantunya yang menyebabkan ia tersinggung dan sakit hati. "Tua bangka tak berguna, selalu saja menyusahkan orang." Kakek Marijan memang cuma bisa memendam kalimat itu dalam benaknya. Rupanya bukan sekali itu si menantu melontarkan kalimat dan perilaku yang menyakitkan, melainkan berulangkali kata-kata kotor menyembur dari mulut menantunya, baik bentakan maupun halus namun penuh nada ejekan. "Seharian nongkrong. Bikin kandang merpati saja nggak becus. Huh! Cuma menunggu nasi mateng saja kerjamu." Demikian si menantu berujar seraya membanting pintu dan sengaja menyenggol teh tubruk kesukaan Kakek Marijan. Teh tumpah dan gelasnya pecah. Kakek Marijan tersuruk-suruk memunguti serpihan beling. Si menantu masih berujar, "Pecahkan saja semua biar habis!" Kakek Marijan masih melihat menantunya membuang dahak kental persis di depan mukanya. Narto yang tiba-tiba muncul dan memeluknya dari belakang, dengan cepat direnggut ayahnya, "Jangan dekat-dekat si pemalas, ayo masuk."



Kakek Marijan ingat tatapan jijik menantunya yang seakan menghunjam ke dasar tulang. Dari kamarnya yang disekat kardus lapuk Kakek Marijan mendengar menantunya menghardik, "Tidak tahu bagaimana susahnya cari makan. Kalau tidak ada polisi sudah kuracuni." Lalu terdengar tape disetel keras-keras.



"Iblis! Manusia tak tahu adat, tak tahu balas budi. Dasar komunis," kata-kata itu cuma digumamkan Kakek Marijan dalam kamarnya. Memang si menantu kadang bisa juga bersikap santun dan manis. Tapi hati Kakek Marijan telanjur cedera dan menyimpan dendam. Meski anaknya selalu bilang. "Jangan dimasukkan ke hati. Memang sifatnya sudah begitu dari dulu. Anggap saja angin lalu." Kakek Marijan mau mengatakan, perbuatannya sudah keterlaluan, tapi selalu urung. Ia paham, anaknya tentu lebih membela suaminya. Makanya ia lebih senang memupuk dendam di hatinya. Kakek Marijan tahu dirinya tidak berdaya dan mustahil dapat melampiaskan dendamnya pada sang menantu secara fisik. Waktu jadi terasa panjang dan sangat menyiksa setiap ia harus bertemu menantunya dalam rumah yang sempit, di mana nafas para penghuninya terdengar satu sama lain. Makanya Kakek Marijan lebih sering keluar dari kamarnya, berjalan-jalan dari gang ke gang, menyusuri kali yang arusnya lambat dan airnya pekat membawa segala macam limbah sambil mengajak Narto setiap menantunya berada di rumah setelah seharian pergi entah ke mana mengais rejeki.



Sering memang, Kakek Marijan punya kesempatan bagus melampiaskan dendam dengan menghantamkan linggis di kepala menantunya ketika sedang mendengkur. Tapi ia tak juga kuasa melakukanya. Selalu dihalangi rasa cemas cucunya jadi yatim dan anaknya jadi janda. Padahal ia tahu persis anaknya seringkali mendapat perlakuan kasar suaminya. Tapi Kakek Marijan maklum, mereka tetap saling mencinta. Ditambah lagi keadaan dirinya yang cacat. Ia tak mau terlunta-lunta dan mati di pinggir rel kereta.



"Hhh, apa maksudnya Tuhan menciptakan makhluk sepecundang diriku." Demikian Kakek Marijan sering menggugat nasib buruk yang melilit dirinya. Dia cuma sanggup menggugat dengan keluhan-keluhan cengeng yang membuat dia kadang malu sendiri. "Kenapa aku tidak bunuh diri saja." Nah niat ini pun cuma sekadar niat yang tidak kunjung dilakukan. Tentu takut akan rasa sakit yang pasti dihadapi orang yang meregang nyawa secara paksa. Dia heran sendiri kenapa mesti takut menghadapi rasa sakit yang tentu tak terlalu lama menyengat. Padahal hidup yang dihadapi pun sudah begitu menyakitkan, dan terlalu cukup untuk jadi alasan buat diakhiri.



Dendam di hati Kakek Marijan kian menggunung. Selalu ia tahan-tahan untuk diletuskan. Rencana membunuh sang menantu jelas sulit dilakukan. Dia mulai berpikir, menghitung-hitung apa yang harus dilakukan supaya sang menantu laknat merasakan sakit hati seperti yang dialaminya. Ya, Kakek Marijan hanya ingin menantunya merasa sakit hati. Tak harus menyakiti fisik, apalagi membunuhnya.



Cara yang pernah ia rencanakan namun urung dilakukan adalah menyuruh anaknya menyeleweng. Ini tak dilakukan jelas karena ia tak mungkin bekerja sama dengan anaknya yang tentu saja lebih membela suaminya.



Kakek Marijan terus berjalan terseok-seok menarik gerobak. Hari makin gelap, sedang gerimis tetap setia mengguyur tubuh rentanya yang mulai menggigil. Berkelebat terus-menerus di kepalanya wajah sang menantu yang bermata merah, menghardik, "Matikan tapenya, tua bangka! Maghrib. Tidak juga sadar mau masuk kubur. Bukannya ibadah." Mengiang terus sepanjang waktu kata-kata itu. "Aku memang komunis, tapi tahu menghargai orang ibadah."



Kakek Marijan pantas heran dengan ucapan terakhir yang terlontar dari mulut menantunya itu. Yang ia tahu, komunis ya komunis. Anti agama. Meski ia juga tak peduli apa itu komunis, apa itu agama. Apa itu ber-Tuhan, apa itu anti Tuhan. Yang jelas menantunya telah menyebabkan hatinya remuk parah. Dan ia tak menemukan cara membalaskan sakit hatinya. Sampai kemudian muncul gagasan gila; membunuh cucunya sendiri. Ia tahu Narto begitu berharga bagi ayahnya yang tak lain menantunya sendiri. Narto satu-satunya harapan bagi ayahnya yang sangat dibanggakannya. Anak itu tidak boleh disakiti. Bila sampai terjadi ayahnya mati-matian membela. Kakek Marijan pernah melihat bagaimana sang menantu nyaris menggolok orang yang berani-berani menyebabkan Narto menangis. Satu hal yang memang seharusnya membuat ia besar hati.



Namun pada saat-saat begini ia bertekad membunuh cucunya sendiri supaya ia bisa puas melihat menantunya remuk redam. Maka, begitulah, saat yang ditunggu-tunggu tiba. Malam itu sang menantu bersama istrinya berpesan supaya menjaga Narto baik-baik. Mereka tidak menjelaskan hendak ke mana dan berapa lama. Kakek Marijan cuma diberi uang untuk makan mereka berdua selama beberapa hari. Sempat ragu juga sebetulnya ketika malam itu ia hendak membunuh cucunya sendiri. Ditatapnya wajah Narto yang persis wajah sang menantu. Dihidup-hidupkan dendam di hatinya. Nyala merah mata si menantu yang menatapnya dengan jijik. Hardikan-hardikannya diputar lagi di telinganya seperti memutar rekaman kaset. Dan memang tumbuh juga. Kakek Marijan bagai tidak melihat wajah Narto yang tengah terlelap dalam dekapannya, melainkan wajah bengis sang menantu. Ia terlonjak, bangkit meraih bantal?

***

Kakek Marijan berhenti di tepi kali yang permukaan airnya memantulkan lampu-lampu gemerlapan dari kendaran yang berseliweran. Di kali ini sering dilihatnya mayat mengambang kembung entah siapa. Orang mati dibunuh atau bunuh diri. Ah, sama saja: mayat. Dan kini cucunya bakal jadi salah satu dari mereka. Ya, semuanya sudah terjadi seperti takdir. Pada saat demikian muncul lagi keberaniannya yang lain; Kakek Marijan berniat untuk turut mecemplungkan diri. Mati. Ini jalan yang paling aman barangkali, begitu ia berpikir. Sebab ia tak mungkin lagi pulang dan menghadapi kemarahan sang menantu yang cepat atau lambat tentu akan tahu ia yang telah membunuh cucunya sendiri.



Lebih aman aku mati bunuh diri ketimbang digebuki sang menantu. Ya kalau langsung mati. Tidak begitu berat menanggung risiko. Kalau diseret ke kantor polisi, diadili, lantas masuk bui?***



Cirebon, 12 Maret 2004

Selasa, 17 Agustus 2004

Rasanya Baru Kemarin...

Puisi: KH.Mustafa Bisri



Rasanya

Baru kemarin



Bung Karno dan Bung Hatta

Atas nama kita menyiarkan dengan seksama

Kemerdekaan kita di hadapan dunia.



Rasanya

Gaung pekik merdeka kita

Masih memantul-mantul tidak hanya

Dari para jurkam PDIP saja.



Rasanya

Baru kemarin.



Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.

Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia

Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya

Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha

Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa

Sudah banyak yang turun tahta

Taruna-taruna sudah banyak yang jadi

Petinggi negeri

Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi

Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.



Rasanya

Baru kemarin



Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.

Menteri-menteri yang dulu suka korupsi

Sudah banyak yang meneriakkan reformasi



Rasanya baru kemarin



Rakyat yang selama ini terdaulat

sudah semakin pintar mendaulat

Pemerintah yang tak kunjung merakyat

pun terus dihujat



Rasanya baru kemarin



Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.

Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh

Padahal pembangunan badan yang kemarin dibangga-banggakan

sudah mulai runtuh



Kemajuan semu sudah semakin menyeret dan mengurai

pelukan kasih banyak ibu-bapa

dari anak-anak kandung mereka

Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi sudah menutup mata

banyak saudara terhadap saudaranya



Daging yang selama ini terus dimanjakan kini sudah mulai kalap mengerikan

Ruh dan jiwa

sudah semakin tak ada harganya



Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan

para penguasa berlaku sewenang-wenang

kini sudah pandai menirukan



Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya

Semakin bertambah besar pengaruhnya

Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda

Kepentingan sendiri dan golongan

sudah semakin melecehkan kebersamaan



Rasanya

Baru kemarin



Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka

Pahlawan-pahlawan idola bangsa

Seperti Pangeran Diponegoro

Imam Bonjol, dan Sisingamangaraja

Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam,

dan Kura-kura Ninja



Banyak orang pandai sudah semakin linglung

Banyak orang bodoh sudah semakin bingung

Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan

Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan



Rasanya

Baru kemarin



Tokoh-tokoh angkatan empatlima sudah banyak yang koma

Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah banyak yang terbenam

Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya sudah banyak yang tak jelas maunya



Rasanya

Baru kemarin



(Hari ini ingin rasanya

Aku bertanya kepada mereka semua

Sudahkah kalian Benar-benar merdeka?)



Rasanya

Baru kemarin



Negeri zamrud katulistiwaku yang manis

Sudah terbakar nyaris habis

Dilalap krisis dan anarkis

Mereka yang kemarin menikmati pembangunan

Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban

Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri

Sudah meninggalkan utang dan lari mencari selamat sendiri



Mereka yang kemarin sudah terbiasa mendapat kemudahan

Banyak yang tak rela sendiri kesulitan

Mereka yang kemarin mengecam pelecehan hukum

Kini sudah banyak yang pintar melecehkan hukum



Rasanya baru kemarin

Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.



Mahasiswa-mahasiswa pejaga nurani

Sudah dikaburkan oleh massa demo yang tak murni

Para oportunis pun mulai bertampilan

Berebut menjadi pahlawan

Pensiunan-pensiunan politisi

Sudah bangkit kembali

Partai-partai politik sudah bermunculan

Dalam reinkarnasi



Rasanya baru kemarin



Wakil-wakil rakyat yang kemarin hanya tidur

Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur

Insan-insan pers yang kemarin seperti burung onta

Kini sudah pandai menembakkan kata-kata



Rasanya

Baru kemarin

Padahal sudah lima puluh sembilan tahun kita

Merdeka.



Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili

Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali

Mereka yang kemarin dijarah

Sudah mulai pandai meniru menjarah

Mereka yang perlu direformasi

Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi

Mereka yang kemarin dipaksa-paksa

Sudah mulai berani mencoba memaksa



Mereka yang selama ini tiarap ketakutan

Sudah banyak yang muncul ke permukaan

Mereka yang kemarin dipojokkan

Sudah mulai belajar memojokkan

Mereka yang kemarin terbelenggu



Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu

Mereka yang kemarin giat mengingatkan yang lupa

Sudah mulai banyak yang lupa



Rasanya baru kemarin



Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka semua

Tentang makna merdeka



Rasanya baru kemarin



Pakar-pakar dan petualang-petualang negeri

Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib bangsa

Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri

Hanya dengan meludahkan kata-kata



Rasanya baru kemarin



Dakwah mengajak kebaikan

Sudah digantikan jihad menumpas kiri-kanan

Dialog dan diskusi

Sudah digantikan peluru dan amunisi



Rasanya baru kemarin



Masyarakat Indonesia yang berketuhanan

Sudah banyak yang kesetanan

Bendera merahputih yang selama ini dibanggakan

Sudah mulai dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian



Rasanya baru kemarin



Legislatif yang lama sekali non aktif

Dan yudikatif yang pasif

Mulai pandai menyaingi eksekutif

Dalam mencari insentif



Rasanya baru kemarin



Para seniman sudah banyak yang senang berpolitik

Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik

Para wartawan sudah banyak yang pintar bikin trik-trik



Rasanya

Baru kemarin



Tokoh-tokoh orde lama sudah banyak yang mulai menjelma

Tokoh-tokoh orde baru sudah banyak yang mulai menyaru



Rasanya

Baru kemarin



Orang-orang NU yang sekian lama dipinggirkan

Sudah mulai kebingungan menerima orderan

NU dan Muhammadiyah yang selama ini menjauhi politik praktis

Sudah kerepotan mengendalikan warganya yang bersikap pragmatis



Rasanya

Baru kemarin



Pak Harto yang kemarin kita tuhankan

Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan

Bayang-bayangnya sudah berani pergi sendiri

Atau lenyap seperti disembunyikan bumi

Tapi ajaran liciknya sudah mulai dipraktekkan

oleh tokoh-tokoh yang merasa tertekan

Anak dan antek kesayangan Bapak sudah berani tampil lagi

Mendekati rakyat lugu mencoba menarik simpati

Memanfaatkan popularitas dan kesulitan hidup hari ini



Rasanya baru kemarin



Habibie sudah meninggalkan

Negeri menenangkan diri

Gus Dur sudah meninggalkan

Atau ditinggalkan partainya seorang diri



Rasanya baru kemarin

Padahal sudah limapuluh sembilan tahun lamanya

Megawati yang menghabiskan sisa kekuasaan Abdurrahman

Mengajak Hasyim Muzadi merebut lagi kursi kepresidenan

Membangkitkan nafsu banyak warga NU terhadap kedudukan



Apalagi Wiranto yang mengalahkan Akbar

menggandeng Salahuddin keturunan Rais Akbar

Ikut bersaing merebut kekuasaan melalui Golkar

Dan didukung PKB yang dulu ngotot ingin Golkar bubar



SBY yang mundur dari kabinet Mega juga ikut berlaga

Dengan Jusuf Kalla menyaingi mantan bos mereka

Bahkan dalam putaran pertama paling banyak mengumpulkan suara



Amin Rais yang sudah lama memendam keinginan

Memimpin negeri ini mendapatkan Siswono sebagai rekanan

Sayang perolehan suara mereka tak cukup signifikan



Hamzah Haz yang tak dicawapreskan PDI maupun Golkar

Maju sendiri sebagai capres dengan menggandeng Agum Gumelar

Maju mereka berdua pun dianggap PPP dan lainnya sekedar kelakar



Rasanya baru kemarin



Rakyat yang sekian lama selalu hanya dijadikan

Obyek dan dipilihkan

Kini sudah dimerdekakan Tuhan

Dapat sendiri menentukan pilihan

Meski banyak pemimpin bermental penjajah yang keberatan

Dan ingin terus memperbodohnya dengan berbagai alasan

Rakyat yang kebingungan mencari panutan

Malah mendapatkan kedewasaan dan kekuatan

(Hari ini ingin rasanya

Aku bertanya kepada mereka semua

Bagaiman rasanya

Merdeka?)

Rasanya baru kemarin

Orangtuaku sudah lama pergi bertapa

Anak-anakku sudah pergi berkelana

Kakakku dan kawan-kawanku sudah jenuh menjadi politikus

Aku sendiri tetap menjadi tikus



(Hari ini

setelah limapuluh sembilan tahun kita merdeka

ingin rasanya aku mengajak kembali

mereka semua yang kucinta

untuk mensyukuri lebih dalam lagi

rahmat kemerdekaan ini

dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani

diri sendiri

bagi merahmati sesama)

Rasanya baru kemarin

Ternyata sudah limapuluh sembilan tahun kita

Merdeka



(Ingin rasanya

aku sekali lagi menguak angkasa

dengan pekik yang lebih perkasa:

Merdeka!)



Rembang, 17 Agustus 2004

Minggu, 15 Agustus 2004

Sepasang Sepatu di Depan Pintu

Cerpen M. Arman AZ



Jangan anggap aku anak rajin kalau sering berangkat ke sekolah pagi-pagi. Apalagi menganggapku pintar, itu salah besar. Sesungguhnya aku bodoh, berotak bebal. Tiap tahun, lima ranking paling buncit di kelas, salah satunya pasti milikku. Jadi, kalau pun naik kelas, kupikir karena nasib baik saja.



Setelah lancar mengeja, menulis, menjumlah, dan cukup tahu sedikit tentang sejarah, tak ada lagi manfaat yang kupetik dari sekolah. Di mataku, gedung itu malah menyerupai lintah. Makin hari makin bengkak, saking rakusnya menghisap darah. Aku dipaksa membeli buku ini itu atau membayar biaya ini itu. Kalau tak dituruti, siap-siaplah kena marah atau dipersulit di kemudian hari.



Teman-temanku selalu mencemooh jika kuceritakan bahwa di luar sana banyak tempat bagus untuk menambah ilmu dan pengalaman. Mereka malah menganggapku sok pintar. Aku bahkan pernah disindir. Kata mereka, "Hei, Lela, kalo sudah bosen sekolah, kenapa masih datang kemari?" atau "Memangnya mau ngapain kalo nggak sekolah?!"



Aku murid perempuan yang bodoh. Tapi, itu penilaian guru dan teman-temanku. Mereka tak tahu bahwa aku adalah pengamat sepatu yang baik. Bukankah itu satu kelebihan tersendiri?



Entah sejak kapan aku punya kebiasaan aneh itu. Otakku cepat merekam berbagai jenis dan bentuk sepatu yang melintas di dekatku. Kadangkala, sifat seseorang bisa kutebak lewat sepatu yang dikenakannya. Rena, misalnya. Orang tuanya pasti borju. Hampir tiap hari alas kakinya ganti-ganti. Kalau kemarin cokelat, hari ini merah, besok tunggu saja warna apa lagi yang dipakainya. Ditambah lagaknya yang angkuh, tentu tebakanku jitu. Si Bengal Dodi lain lagi. Dia duduk di depanku. Sepatu sebelah kirinya sudah robek. Kaos kakinya coklat kumal. Jika angin berhembus, tercium aroma tengik dari bawah meja. Sementara, aku dan murid lainnya cuma punya sepasang sepatu yang harus kami rawat baik-baik untuk dikenakan setiap hari.

***

Kami, aku dan bapak, menghuni bedeng berdinding kayu. Letaknya masuk ke dalam gang dengan liku menyerupai labirin. Berjejalan dengan bedeng-bedeng lainnya. Bau busuk got mampat, aroma ikan asin digoreng, lalat hijau menari di atas gumpalan dahak, musik dangdut, kata-kata kasar, tangis bayi, jalan becek, genteng bocor di musim hujan, perkakas dapur beterbangan, adalah pemandangan biasa bagi kami. Kalau sudah garis tangan untuk melarat sampai berkarat, mau diapakan lagi?



Aku besar di lingkungan yang keras. Kawasan tempat tinggal kami tersohor sebagai kompleks pelacuran di kota ini. Ibarat akar pohon yang menancap kuat dalam tanah, julukan itu tak bisa dirobohkan lagi. Sama seperti rasa benciku pada ibu. Janjinya cuma dua tahun kerja di Malaysia. Begitu kontrak kerja sebagai TKW selesai, dia mau pulang. Membuka usaha kecil-kecilan dengan uang simpanan. Nyatanya ibu berdusta. Sampai sekarang dia tak pernah pulang. Malah dalam surat terakhirnya, ibu mengabarkan bahwa sudah kawin lagi di seberang sana. Kurang ajarnya, dia menyuruh bapak menyusul jejaknya, mencari istri baru demi kebaikanku, anak semata wayangnya. Ah, tahi kucing dengan ibu.



Meski ditinggalkan ibu, bapak tetap setia dengan kios kecilnya. Hasil dagangan dipakai untuk menyumpal perut kami, juga membayar biaya sekolahku. Aku sudah kelas enam SD. Kata tetangga, aku malah kelihatan seperti anak SMP. Penasaran dengan celetukan mereka, sekali waktu aku bercermin. Tubuhku memang bongsor. Sepasang bukit telah muncul di dadaku. Pinggangku juga ramping. Pantas bapak sering menasehati agar hati-hati bergaul di sekitar tempat ini.



Di depan gang, ada seruas jalan yang selalu ramai bila malam membentangkan layar. Di sana hingar-bingar, warna-warni, penuh tawa. Hampir di setiap rumah tergantung plang bertuliskan "Wisma", "Losmen", atau "Karaoke". Banyak wanita-wanita duduk-duduk santai sambil ngobrol. Tua muda. Cantik jelek. Kadang-kadang mereka tertawa ngakak kalau ada yang lucu menurut mereka. Dandanan mereka menor-menor. Aku pernah mencoba berdandan, meniru gaya mereka. Tapi, aku tak berani merokok seperti mereka. Bapak bisa menamparku kalau ketahuan merokok.



Sebelum membawa tamu lelaki masuk ke wisma, losmen, atau karaoke, mbak-mbak itu memesan minuman ringan atau rokok. Bapak tak bisa meninggalkan kios begitu saja. Jadi, tugaskulah untuk mengantar pesanan para tamu.

***

Aku duduk sendirian di pojok kelas. Teman-temanku menganggap siapa yang menghuni bangku belakang, kalau bukan anak badung pasti anak bodoh. Karena itulah, aku nyaris tak punya teman. Mereka kadang menghindar atau menatap curiga kalau aku mendekat.



Di sekolah tak diajarkan bagaimana membaca situasi dan memenangkannya. Teman-temanku tak tahu apa yang kulakukan di pojok kelas. Mereka hanya duduk rapi dan tegang menyimak pelajaran yang diberikan guru. Takut kena marah kalau ketahuan celingak-celinguk. Apalagi kalau tiba-tiba dipanggil ke depan kelas, dan ternyata tak bisa mengerjakan soal-soal di papan tulis. Wajah mereka mirip kerbau dungu saat berdiri dengan sebelah kaki terangkat.



Sepatu guru pun tak luput dari pengamatanku. Biasanya, ketika mereka berkeliling mengawasi ulangan, aku suka mencuri pandang ke arah sepatu mereka. Kuselidiki warna, bentuk, jenis, hingga perangai pemakainya. Nah, inilah yang membuatku heran. Dari dulu sampai sekarang, sepatu guru-guruku tak berubah. Ada yang kulitnya terkelupas. Ada yang dijahit berkali-kali. Bahkan ada yang sepatunya sudah tak muat lagi, tapi tetap saja dikenakan hingga jemari kakinya membayang jelas.



Apakah guru-guruku tak punya sepatu cadangan? Atau gaji mereka tak cukup untuk membeli sepatu baru?

***

Ini malam minggu. Malam yang panjang. Sore tadi, bapak mengingatkan agar lepas magrib aku sudah membantunya di kios. Tempat ini lebih semarak ketimbang hari-hari biasa. Ramai orang berarti ramai pembeli. Rokok, minuman ringan, bir, dan kacang kulit, pasti laku keras. Isi kios berkurang. Isi dompet bapak bertambah. Hidup terasa lebih ringan. Aku dan bapak bisa tersenyum sekejap.



Aku tak pernah mengeluh meski terkadang kerja sampai larut malam. Selain bisa membantu bapak, kadangkala aku juga dapat seseran dari orang-orang baik hati. Tapi mulai sekarang aku harus lebih waspada. Jangan sampai kecolongan seperti malam Minggu kemarin. Ada seorang lelaki mengelus pundak dan meremas bokongku. Dasar bajingan. Dipikirnya aku sama seperti mbak-mbak menor itu.



"Lela, cepat kemari!" Kulihat wajah bapak terang diguyur cahaya petromaks. Tangannya melambai ke arahku. Bergegas kuhampiri bapak. Aku membawa cerita bagus untuknya. Barusan tadi aku mengantar dua botol bir hitam, kacang, dan lima bungkus rokok ke salah satu rumah. Pembelinya orang bule, awak kapal yang siang tadi merapat di pelabuhan. Dia memberiku uang lima puluh ribu rupiah. Mbak Sari yang menggelendot di pinggang bule tinggi besar itu, mengedipkan matanya ke arahku. Dia bilang ambil saja kembaliannya untukku. Tentu saja aku girang. Buru-buru kutinggalkan mereka. Tak kupedulikan wajah si bule yang kebingungan, tak paham obrolan kami.



Bapak tertawa ngakak waktu kuceritakan kejadian barusan. "Hahaha, bagus Lela. Biar tahu rasa dia. Sekali-kali orang macam itu memang harus dikerjain. Masak, dari dulu sampai sekarang, kita dijajah terus-terusan sama mereka. Hahaha "



Bapak menyodorkan plastik hitam padaku. Isinya dua botol air mineral dan sebungkus rokok. Aku harus mengantarnya ke rumah Tante Mila. "Pembelinya sudah mesan dari tadi," kata bapak. Tanpa buang waktu, langsung kukerjakan perintah bapak. Ini sudah keenam kali aku pulang balik mengantar pesanan. Dengan uang di kantong, lelah jadi tak terasa. Rumah yang kutuju seolah bisa dijangkau dengan sekali lompatan.



Aku terkejut melihat sepasang sepatu yang tergeletak serampangan di depan pintu. Sepatu kulit tua model kuno itu mengingatkanku pada sesuatu. Pelajaran matematika yang menjemukan dan gurunya yang menyebalkan. Ya, ya, Pak Songong, dia paling jago membentak dan menghukum murid yang tak bisa mengerjakan soal. Ia juga suka membelai-belai punggung murid wanita, dan mencuri pandang ke arah kancing atas murid wanita yang menunduk ketakutan di sebelahnya.



Aku yakin, sepatu ini milik Pak Songong, guru matematikaku. Aku hafal benar bentuk dan jenisnya. Warnanya cokelat tua, mirip sepatu koboi yang yang kulihat di film-film. Jika sedang menapak lantai, bunyinya klotak-klotak menyeramkan.



Apa yang dilakukan Pak Songong di sini? Bukankah tempat ini tak layak untuk didatangi guru, orang yang katanya harus digugu dan ditiru? Aha, malam ini, di bawah keremangan lampu, aku dapat ilmu tambahan. Moral seseorang tak bisa diukur dari jabatan atau gelar yang disandangnya.



Jika Senin lusa kuceritakan apa yang kulihat malam ini pada seisi kelas, apakah mereka percaya? Atau, lebih baik aku diam saja? Goblok! Buat apa berfikir sejauh itu?! Kalau pintu ini kuketuk, lalu wajah Pak Songong menyembul di muka pintu, dia pasti kaget bukan main, mengetahui pesanannya diantar muridnya. Apa yang akan dikatakannya? Apa yang harus kulakukan? Ah, kami pasti sama-sama malu. ***



Bandar Lampung, Des 03