Pages

Sabtu, 09 April 2005

Konvensi

Cerpen A. Mustofa Bisri

Sungguh aku bersyukur. Sebagai dukun yang semula paling-paling hanya nyapih dan nyuwuk anak kecil monthah, rewel dan nangis terus, atau mengobati orang disengat kalajengking, kini --sejak seorang sahabatku membawa pembesar dari Jakarta ke rumah-- martabatku meningkat. Aku kini dikenal sebagai "orang pintar" dan dipanggil Mbah atau Eyang. Aku tak lagi dukun lokal biasa. Pasienku yang semakin hari semakin banyak sekarang datang dari mana-mana. Bahkan beberapa pejabat tinggi dan artis sudah pernah datang. Tujuan para pasien yang minta tolong juga semakin beragam; mulai dari mencarikan jodoh, "memagari" sawah, mengatasi kerewelan istri, hingga menyelamatkan jabatan. Waktu pemilu kemarin banyak caleg yang datang dengan tujuan agar jadi.

Tuhan kalau mau memberi rezeki hamba-Nya memang banyak jalannya. Syukur kepada Tuhan, kini rumahku pun sudah pantas disebut rumah. Sepeda onthel-ku sudah kuberikan pembantuku, kini ke mana-mana aku naik mobil Kijang. Pergaulanku pun semakin luas.

Nah, di musim pemilihan kepala daerah atau pilkada saat ini, tentu saja aku ikut sibuk. Dari daerahku sendiri tidak kurang dari sepuluh orang calon yang datang ke rumah. Tidak itu saja. Para pendukung atau tim sukses mereka juga datang untuk memperkuat. Mereka umumnya minta restu dan dukungan. Sebetulnya bosan juga mendengarkan bicara mereka yang hampir sama satu dengan yang lain. Semuanya pura-pura prihatin dengan kondisi daerah dan rakyatnya, lalu memuji diri sendiri atau menjelekkan calon-calon lain. Padahal, rata-rata mereka, menurut penglihatanku, hanya bermodal kepingin. Beberapa di antara mereka bahkan bahasa Indonesianya saja masih baikan aku. Tapi ada juga timbal-baliknya. Saat pulang, mereka tidak lupa meninggalkan amplop yang isinya lumayan.
***
Pagi itu dia datang ke rumah sendirian. Tanpa ajudan. Padahal, kata orang-orang, ke mana-mana dia selalu dikawal ajudan atau stafnya. Pakaian safari --kata orang-orang, sejak pensiun dari dinas militer, dia tidak pernah memakai pakaian selain stelan safari-- yang dikenakannya tidak mampu menampil-besarkan tubuhnya yang kecil. Demikian pula kulitnya yang hitam kasar, tak dapat disembunyikan oleh warna bajunya yang cerah lembut. Bersemangat bila berbicara dan kelihatan malas bila mendengarkan orang lain. Mungkin karena aku justru termasuk orang yang agak malas bicara dan suka mendengar, maka dia tampak kerasan sekali duduk lesehan di karpetku yang butut.

Dia cerita bahwa sebentar lagi masa jabatannya sebagai bupati akan habis. Tapi dia didorong-dorong --dia tidak menyebutkan siapa-siapa yang mendorong-dorongnya-- untuk maju mencalonkan lagi dalam pilkada mendatang. Sebetulnya dia merasa berat, tapi dia tidak mau mengecewakan mereka yang mengharapkannya tetap memimpin kabupaten yang terbelakang ini.

"Nawaitu saya cuma ingin melanjutkan pembangunan daerah ini hingga menjadi kabupaten yang makmur dan berwibawa," katanya berapi-api. "Saya sedih melihat kawan-kawan di pedesaan, meski saya sudah berbuat banyak selama ini, masih banyak di antara mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Perjuangan saya demi rakyat daerah ini khususnya, belum selesai."

"Saya sudah menyusun rencana secara bertahap yang saya perkirakan dalam masa lima tahun ke depan, akan paripurna pengentasan kemiskinan di daerah ini. Saya tahu, untuk itu hambatannya tidak sedikit." Dia menyedot Dji Sam Soe-nya dalam-dalam dan melanjutkan dengan suara yang sengaja dilirihkan. "Njenengan tahu, orang-orang yang selama ini ada di sekeliling saya, yang resminya merupakan pembantu-pembantu saya, justru malah hanya mengganggu. Sering menjegal saya. Mereka sering mengambil kebijaksanaan sendiri dengan mengatasnamakan saya. Lha akhirnya saya kan yang ketiban awu anget, terkena akibatnya. Sekarang ini beredar isu katanya bupati menyelewengkan dana ini-itu; bupati menyunati bantuan-bantuan untuk masyarakat; bupati membangun rumah seharga sekian miliar di kampung asalnya; dan isu-isu negatif lain. Ini semua sumbernya ya mereka itu."

"Namun itu semua tidak menyurutkan tekad saya untuk tetap maju demi rakyat daerah ini yang sangat saya cintai. Saya mohon restu dan dukungan Panjenengan. Saya berjanji dalam diri saya, kalau nanti saya terpilih lagi, akan saya sapu bersih sampah-sampah yang tak tahu diri itu dari lingkungan saya."

Dia menyebut beberapa nama yang selama ini memang aku kenal sebagai pembantu-pembantu dekatnya. Aku hanya mengangguk-angguk dan sesekali memperlihatkan ekspresi heran atau kagum. Sikap yang ternyata membuatnya semakin bersemangat.

"Jadi Sampeyan sudah siap betul ya?" tanyaku untuk pantas-pantas saat dia sedang menghirup tehnya.

Buru-buru dia letakkan gelas tehnya dan berkata, "Alhamdulillah, saya sudah melakukan pendekatan kepada Pak Kiai Sahil. Bahkan beliau mengikhlaskan putranya, Gus Maghrur, untuk mendampingi saya sebagai cawabup."

Kiai Sahil adalah seorang tokoh sangat berpengaruh di daerah kami. Partai terbesar di sini tak bakalan mengambil keputusan apa pun tanpa restu dan persetujuan kiai yang satu ini. Sungguh cerdik orang ini, pikirku.

"Kiai Sahil sudah memanggil pimpinan partai Anu dan dipertemukan dengan saya. Dan tanpa banyak perdebatan, disepakati saya sebagai calon tunggal bupati dan Gus Maghrur pendamping saya sebagai cawabup. Mudah-mudahan bermanfaat bagi masyarakat yang sudah lama mendambakan pemimpin yang kuat ini dan mampu mengantarkan mereka kepada kehidupan yang lebih layak."
***
Sesuai pembicaraan di telepon sebelumnya, malam itu sekda datang bersama istrinya. Sementara istrinya ngobrol dengan istriku, dia langsung menyampaikan maksud tujuannya.

"Langsung saja, Mbah; maksud kedatangan kami selain bersilaturahmi dan menengok kesehatan Simbah, kami ingin mohon restu. Terus terang kami kesulitan menolak kawan-kawan yang mendorong kami untuk mencalonkan sebagai bupati. Lagi pula memang selama periode kepemimpinan bupati yang sekarang, Panjenengan tahu sendiri, tak ada kemajuan yang berarti. Saya yang selama ini mendampinginya setiap saat merasa prihatin, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Saya harus tutup mata dan telinga bila melihat dan mendengar tentang penyelewengan atasan saya itu."

"Jadi, selama ini, Sampeyan tidak pernah mengingatkan atau menegurnya bila melihat dia berbuat yang tidak semestinya?" tanyaku.

"Ya tidak sekali dua kali," sahutnya, "tapi tak pernah didengarkan. Mungkin dia pikir saya kan hanya bawahannya. Setiap kali saya ingatkan, dia selalu mengatakan bahwa dialah bupatinya dan saya hanya sekretaris; dia akan mempertanggungjawabkan sendiri semua perbuatannya. Lama-lama saya kan bosan. Ya akhirnya saya diamkan saja. Pikir saya, dosa-dosanya sendiri."

"Tapi akibatnya kan bisa juga mengenai orang banyak?!"
"Lha, itulah, Mbah, yang membuat saya prihatin dan terus mengganggu nurani saya. Tapi ke depan hal ini tidak boleh berulang. Saya dan kawan-kawan sudah bertekad akan menghentikannya. Bila nanti saya terpilih, saya tidak akan biarkan praktek-praktek tidak benar seperti kemarin-kemarin itu terjadi. Saya akan memulai tradisi baru dalam pemerintahan daerah ini. Tradisi yang mengedepankan kejujuran dan tranparansi. Pemerintahan yang bersih. Kasihan rakyat yang sekian lamanya tidak mendapatkan haknya, karena kerakusan pemimpinnya. Saya tahu persis data-data potensi daerah ini yang sebenarnya tidak kalah dari daerah-daerah lain. Seandainya dikelola dengan baik, saya yakin daerah ini akan menjadi maju dan tidak mustahil bahkan paling maju di wilayah propinsi."

"Jadi Sampeyan sudah siap betul ya?" Aku mengulang pertanyaanku kepada bosnya tempo hari.
"Ya, mayoritas pimpinan partai saya, Partai Polan, dan pengurus-pengurus anak cabangnya sudah setuju mencalonkan saya sebagai bupati dan Drs Rozak dari Partai Anu sebagai cawabupnya. Jadi nanti koalisi antara Partai Polan dan Partai Anu. Menurut hitungan di atas kertas suara kedua partai besar ini sudah lebih dari cukup."

"Lho, aku dengar Partai Anu sudah mencalonkan bos Sampeyan berpasangan dengan Gus Maghrur?" selaku.
"Ah, itu belum resmi, Mbah. Beberapa tokoh dari Partai Anu yang ketemu saya, justru menyatakan tidak setuju dengan pasangan itu. Pertama, karena mereka sudah mengenal betul bagaimana pribadi bos saya dan meragukan kemampuan Gus Maghfur. Itu kan akal-akalannya bos saya saja. Gus Maghfur hanya dimanfaatkan untuk meraup suara mereka yang fanatik kepada Kiai Sahil."
***
Konferensi Cabang Partai Anu yang digelar dalam suasana demam pilkada, meski sempat memanas, namun berakhir dengan mulus. Drs Rozak terpilih sebagai ketua baru dengan perolehan suara cukup meyakinkan, mengalahkan saingannya, Gus Maghrur.

Drs Rozak bergerak cepat. Setelah kelengkapan pengurus tersusun, langsung mengundang rapat pengurus lengkap. Di samping acara perkenalan, rapat pertama itu juga memutuskan: DPC akan mengadakan konvensi untuk penjaringan calon-calon bupati dan wakil bupati. Drs Rozak menyatakan dalam konferensi pers bahwa selama ini partainya belum secara resmi menetapkan calon dan inilah saatnya secara resmi partai pemenang pemilu kemarin ini membuka pendaftaran calon dari mana pun. Bisa dari tokoh independen, bisa dari partai lain. Ditambahkan oleh ketua baru ini, bahwa dia sudah berkonsultasi dengan Dewan Pimpinan Pusat Partai dan diizinkan melakukan konvensi tidak dengan sistem paket. Artinya, masing-masing mendaftar sebagai calon bupati atau wakil bupati dan baru nantinya ditetapkan siapa berpasangan dengan siapa.

Tak lama setelah diumumkan, banyak tokoh yang mendaftar, baik sebagai calon bupati maupun calon wakil bupati. Termasuk di antara mereka yang mendaftar sebagai cabup: bupati lama dan sekdanya. Menurut keterangan panitia konvensi, agar sesuai dengan prinsip demokrasi, calon-calon akan digodok, dipilih, dan ditetapkan melalui pertemuan antara pengurus cabang lengkap, pengurus-pengurus anak cabang, dan organisasi-organisasi underbow partai; dengan ketentuan partai hanya akan mencalonkan satu cabup dan satu cawabup.

Semua orang menunggu-nunggu hasil konvensi partai terbesar di kabupaten itu. Maklum Partai Anu merupakan partai yang diyakini menentukan. Apalagi sebelumnya sudah ramai dan simpang siur berita mengenai calon-calon dari partai ini. Orang-orang tak ingin terus menduga-duga apakah benar partai yang katanya menyesal dulu mendukung bupati yang sekarang akan mencalonkannya lagi berpasangan dengan Gus Maghrur, putra Kiai Sahil sesepuh partai. Dan apakah sekda yang konon dicalonkan oleh Partai Polan benar akan berpasangan dengan Drs Rozak yang kini menjadi ketua Partai Anu.

Singkat cerita, konvensi berjalan dengan mulus. Sesuai kesepakatan, calon bupati dipilih sendiri dan calon wakil bupati dipilih sendiri pula. Kemudian yang terpilih sebagai cabup dipasangkan dengan yang terpilih sebagai cawabup. Hasilnya sungguh mengejutkan banyak orang, terutama bupati lama dan sekdanya. Ternyata yang terpilih dan disepakati menjadi calon-calon partai ialah Drs Rozak sebagai cabup dan Ir Sarjono, ketua Partai Polan sebagai cawabupnya.
***
"Itulah politik," kataku kepada istriku yang tampak bingung setelah mendengar ceritaku. "Untung aku tidak tergiur ketika ada yang menawariku --dan kamu ikut mendorong-dorongku-- untuk ikutan maju sebagai cawabup!" ***

Selasa, 05 April 2005

Rimbi

Oleh: Gunawan Maryanto

LANG, PULANG. LENDHUT MATI. DIBAKAR ORANG. (PAPA)
Pesan singkat itu terlambat sampai padaku. Menyelinap di antara setumpuk pesan pekerjaan dan omong kosong. Entah dari mana Papa mendapatkan nomorku. Tak ada waktu untuk mempertanyakannya.

Oke. Aku pulang.
Hanya ada dua hal di kepalaku selama perjalanan. Papa dan Lendhut. Tapi dua hal itu sudah terlalu banyak untuk jarak tempuh yang rasanya sangat pendek ini. Mereka datang bergantian dan tak jarang saling tabrak seperti hendak merebutku dari gerbong kereta. Sementara Dixie Chicks di telingaku terus mengulang lagu tentang rumah yang jauh dan padang-padang rumput. Mereka semua pada akhirnya membuatku tak berada di mana-mana.

Aku meninggalkan rumah ketika ia sudah tak mendapat tempat lagi dalam kepalaku, demikian pula sebaliknya. Aku pergi beberapa hari sebelum ujian akhir di SMA-ku berlangsung. Beberapa hari sebelum pernikahan Papa dirayakan. Sepuluh tahun yang lalu.

Malam itu dengan sengaja aku merokok di depannya dengan harapan ia segera menamparku dan aku tak butuh lagi alasan buat pergi. Tapi ia cuma duduk diam di seberang meja. Ia bahkan tak menatapku. Mungkin aku hanya segulung asap tembakau.

Asap itu dengan cepat melesat dibawa angin ke tanah lapang. Mengental dan terpantul-pantul di rumputan yang tak rata dan sepasang kaki cokelat tua tanpa sepatu, entah datang dari mana, segera menyambutnya. Sepasang kaki itu dengan lincah memainkannya. Menggiring dan menjadikannya bola sepenuhnya.

Lendhut! Aku berteriak. Aku seperti mengenalnya. Sepasang kaki itu berhenti sebentar dan kemudian berlari mendekatiku. Hingga sepasang kaki itu berdiri tegak tepat di mukaku. Aku tahu itu Lendhut. Tapi bagaimana aku bisa memastikannya jika hanya sepasang kaki saja yang sanggup kulihat. Aku mendongak. Hanya langit.

Tak ada sms. Aku pesan kopi panas. Cirebon sudah lewat. Aku menggosok-gosok mataku yang pedih. Siapa yang membakarmu, Ndhut? Bagaimana mereka melakukannya? Aku berusaha mengingat seluruh hal tentang dirimu. Tapi hanya sanggup mengingat sepasang kakimu. Yang menggiring bola di tanah lapang. Dan yang mengayuh sepeda memboncengkanku pulang-pergi sekolah. Bagian dirimu yang lain, entah siapa yang telah merebutnya dariku? Atau aku memang telah meninggalkannya malam itu?

Kata Papa, Lendhut masih terhitung saudaraku. Bapak Lendhut adalah anak emas Yang Kung meski ia bukan anak kandungnya. Separuh tanah Yang Kung seluas seperempat kampung diberikan begitu saja pada Pakde Gito. Tapi tiga tahun kemudian tanah itu telah sama sekali bukan milik salah satu dari kami. Digadaikan Pakde di meja judi dan tak pernah tertebus lagi. Lalu mereka sekeluarga pindah sampai beberapa tahun kemudian Lendhut datang dan tidur di kamarku. Aku sudah lima tahun waktu itu. Dan ia tak pernah pergi-pergi lagi sampai aku pergi malam itu.

Jam enam pagi aku sampai di Jogja. Aku buru-buru masuk taksi dan taksi sudah serupa becak di kota ini -tawar-menawar harga, aku tak peduli. Aku pingin segera sampai rumah dan bertemu Lendhut.

Aku hampir-hampir tak mengenali lagi rumahku. Tiga buah tenda dipasang memanjang di jalan depan rumah. Kursi-kursi lipat dan orang-orang yang mesti kukenali lagi meski sebagian dari mereka langsung mengenalku begitu aku mendekat.

"Kapan datang, Lang?"
"Barusan. Mana Lendhut?"
"Masih di rumah sakit. Sebentar lagi paling sudah dibawa kemari. Aku juga belum lihat."

"Remuk, Lang," tambah Parlin. Atau Parmin. Aku tak yakin. "Aku tak bisa percaya bahwa tubuh hangus itu Lendhut."
"Persis lendhut tenan (lumpur beneran)!" celetuk seseorang di pojokan. Semua tertawa.

Jadi aku tak mendapat apa-apa. Selain kelakar dan Lendhut dibakar orang hingga mati di terminal. Sebagian bilang Lendhut maling. Sebagian bilang Lendhut berteman dengan maling. Tak penting. Yang penting Lendhut telah mati dengan cara maling.

Aku masuk ke dalam mencari Papa.
"Papamu ke rumah sakit," kata seseorang tanpa kutanya. Aku menuju bekas kamarku. Tak ada yang berubah. Seolah aku baru saja meninggalkannya tadi malam. Kuletakkan tas dan bergegas ke kamar mandi. Kamar mandi yang mengingatkanku pada kematian yang lain.

Kamar mandi menyembunyikanku dari kabar kematian. Memelukku dengan dingin seperti tengah berkeras menenangkanku. Dan seluruh peristiwa di hari itu, tepat di ulang tahunku yang keduabelas, seperti berlangsung dalam air. Lambat, tenang dan dingin. Aku tak sedikit pun ingin menangis.

Aku bangun kesiangan dan menemukan rumah sudah kosong. Selembar kertas di meja belajar: Papa dan Mama ke rumah sakit. Kalau lapar datang saja ke rumah Yang Ti. Papa.

Aku segera ke rumah Yang Ti, bukan karena lapar, tapi pingin tahu apa yang tengah terjadi sepanjang aku tidur. Tadi malam aku tak sempat ketemu Mama. Ketika Papa menjemputku dari sekolah, setelah seharian aku dan teman-teman sekelasku pergi ke Demak, Kudus dan Jepara, ia sudah tidur dalam kamarnya.

Yang Ti segera menyiapkan sarapan begitu tahu aku datang.
"Bapakmu ngantar Ibumu ke rumah sakit. Kau akan segera punya adik."

Aku jadi lapar dan segera ke meja makan. Brongkos dan telur rebus hangat. Di tengah-tengah aku makan Papa datang membawa tas pakaian Mama. Ia langsung mengajak Yang Ti ke belakang.

"Adik gimana, Pa?"
Papa tersenyum. Sedikit aneh. "Kamu maem yang banyak, ya," katanya. Aku sempat melihat ada bercak darah di tas itu. Aku melanjutkan makan tapi mulutku tak merasakan apa-apa. Aku mengambil nasi lagi.

Selesai aku makan rumah Yang Ti sudah penuh orang. Tetangga-tetanggaku. Aku tak tahu apa yang tengah mereka kerjakan. Tapi menurutku mereka tengah mempersiapkan sebuah perayaan. Papa mengecup keningku dan pergi lagi. Ke rumah sakit njemput Mama dan adik, katanya. Aku sedikit tak percaya.

Untung tak pernah ada yang rahasia bagi para tetangga. Dari mereka aku dengar adikku meninggal begitu dilahirkan. Dan Mama masih dirawat di rumah sakit. Aku pulang ke rumah sendirian. Mengunci diri di kamar mandi.

Sirene ambulan dan suara orang-orang. Suara kursi lipat dilipat dan disingkirkan. Suara orang mengaji. Aku masih bertahan di kamar mandi. Telanjang bulat sambil mengingat-ingat wajah Lendhut. Tapi wajah itu sudah terbakar jauh sebelum orang-orang di terminal itu membakarnya. Sekali lagi hanya sepasang kaki yang datang dan mengajakku berlari di tanah lapang.

"Lang. Lang!" suara Papa terdengar lebih tua dari yang seharusnya. Aku mengambil sebungkus rokok dari saku celana yang tergantung di pintu kamar mandi. Menyalakannya sebatang dan mengembalikan sisanya ke tempat semula.

"Sebentar, Pa. Aku belum bersiap menemui kalian."
Kamar mandi berkabut. Aku seperti berendam di Sipoholon. Sebuah tempat terjauh yang sanggup aku bayangkan sebagai pelarian.

"Lang, ikut sholat jenazah, nggak?" suara Papa memanggilku kembali.
Aku sholat bersama Lendhut. Di depan kami, tubuh Mama terbaring tenang diselimuti rapat-rapat kain batik Yang Ti. Ini adalah sholat jenazahku yang pertama. Tapi apa yang diajarkan Pak Budi, guru agama SD-ku, sama sekali tak berguna. Aku lupa seluruh bacaan dan tata caranya. Jadi aku hanya berdiri diam dan bersedekap sambil terus mengulang Al Fatihah. Kulirik Lendhut. Ia juga tak jauh berbeda.

Kami selesai ketika Papa berbisik di telingaku, "Lang, sholatnya sudah. Mamamu sudah mau berangkat."
"Lang, cepat. Lendhut sebentar lagi diberangkatkan." Aku memaksa diriku keluar. Ruangan tengah masih penuh pelayat. Aku menyelinap mendekati jenazah Lendhut. Papa tak ada di sana.

Lendhut terbujur di keranda, diselimuti kain hijau kusam dan huruf-huruf Arab yang tak terbaca lagi. Aku berdiri tepat di sebelah kepalanya. Berdoa setenang-tenangnya. Aku tak tahu telah berapa lama berdiri seperti ini. Juga berapa lama orang-orang itu telah bersabar menungguku selesai. Aku merasa baru saja selesai bermain bersama Lendhut. Berlarian di kebun belakang sambil memunguti rontokan melinjo di tanah dan membakarnya di tungku Yang Ti.

Seseorang menggamit tanganku dan menarikku ke belakang. Ia terus memegang tanganku. Beberapa lelaki muda segera bersiap di sisi-sisi keranda. Tanpa aba-aba mereka mengusung keranda itu keluar. Seluruhnya berlangsung dalam ketenangan yang luar biasa. Baru ketika keranda itu keluar aku menoleh pada seseorang yang masih memegang erat tanganku. Arimbi. Gusti Allah, kenapa demikian mudah aku melupakannya?

Arimbi adalah seorang raksesi, kata Mamaku. Raksasa putri. Maka ketika ada seorang gadis cilik memperkenalkan dirinya sebagai Arimbi aku langsung merasa diriku adalah Bima yang sedang dikejar-kejarnya. Bima yang seluruh tubuhnya merinding karena jijik dan takut. Tapi Lendhut sangat baik padanya. Mungkin ia adalah Kresna, si hitam, yang menjadi penghubung pertemanan kami.

Ia dan keluarganya tinggal di rumah seberang kebun belakang kami. Belum lama pindah dari kota. Ia tak punya saudara, katanya, tapi aku merasa ia punya banyak saudara. Paling tidak ia punya seorang kakak bernama Arimba. Dan ia menangis ketika pertama kali kubilang raksesi.

Tapi siang berikutnya ia sudah duduk di batu pagar melihat aku dan Lendhut bermain kelereng. Dua siang berikutnya ia sudah ikut bermain bersama kami. Lalu tanpa direncanakan kami menjadi tiga sekawan yang sepertinya tak akan terpisahkan. Bima-Arimbi-Kresna. Kebun belakang menjelma hutan Pringgandani. Semuanya harus tunduk pada perintah kami, kecuali tukang tebas melinjo. Selain membawa pisau, ia juga berani memanjat pohon melinjo. Kata Yang Ti, siapa pun yang jatuh dari pohon melinjo, serendah apa pun, ia tak akan selamat. Jadi mereka, sepasang suami istri yang selalu datang dengan sepeda dan karung plastik, adalah orang sakti, karena tak pernah jatuh dari pohon melinjo. Jadi kami hanya melihatnya dari bawah sambil mengumpulkan melinjo yang jatuh terlalu jauh dari pohonnya. Hanya merekalah, melinjo-melinjo yang kebanyakan masih hijau itu, hak kami selaku penguasa di sini.

"Mbi." Ia tertunduk. Aku hampir-hampir tak mengenalnya. Tangannya gemetar seperti menahan sesuatu. Sesuatu yang terus berjatuhan dari dalam tubuhnya. Sesuatu yang datang dari sebuah tempat bernama Pringgandani.

Kami, aku dan Rimbi pernah menikah suatu kali di kebun belakang. Lendhut merangkai mahkota dari daun nangka pertanda ia merestui pernikahan kami.

"Mbi, kenapa diam? Lendhut sebentar lagi berangkat. Kamu ikut mengantar, kan?"

Sesuatu terus berjatuhan dari dalam perutnya.
"Tidak, Lang. Kami tak akan ke mana-mana."
Jogjakarta, 2002/2004

Catatan:
Versi kedua dari Rimbi: Seperti Bunga Jatuh ke Tanah (Deep Space Blue and Testimony, AKYPress, 2002)

Sabtu, 26 Maret 2005

Lelaki Muda dan Gadis Kecil

Cerpen Susialine Adelia

"Tamu Bu," Bibi membungkuk santun, mengarahkan ibu jarinya ke ruang depan.

"Siapa?" tanyaku sambil melipat koran, melepas kaca mata.

"Tidak tahu Bu, belum pernah ke mari."

Aku mengangguk. Bangkit dengan benak penuh tanya, aku yakin tamu itu bukan teman bisnisku, karena ini hari Minggu. Bukan pula saudara, karena biasanya mereka menelepon lebih dulu memastikan aku ada di rumah. Mungkin saudara jauh atau teman lama yang tidak tahu adat kebiasaanku? Bisa jadi.

Begitu membuka pintu kudapati seorang lelaki muda dan gadis kecil yang tengah bercanda di teras. Lelaki itu berkulit coklat terbakar matahari, berpakaian agak lusuh. Si gadis kecil berkulit lebih terang, berbaju baru dengan bahan kualitas rendah. Ketika gadis itu menoleh padaku, segera kutangkap sinar di wajahnya yang membuatku terkesiap beberapa saat. Sinar wajah itu tak asing bagiku. Meski bentuk hidung dan mata kedua tamu itu sama --yang membuatku bisa segera menyimpulkan bahwa mereka adalah bapak dan anak-- namun kutemui sinar lain di wajah anak itu.

Lelaki muda itu menoleh ke pintu, ke arahku. Seketika dia berdiri, mengangguk sedikit dan mengucap selamat siang. Aku menjawab dengan sedikit goyangan kepala. Sedikit saja. Tawa kecil si gadis kecil pun terhenti. Kupersilakan keduanya masuk, masih dengan jantung yang sedikit berdebar. Siapa mereka? Lelaki lusuh dengan sorot mata tajam. Jelas kemari bukan untuk minta sumbangan.

Setelah kami duduk, dia mulai memperkenalkan dirinya.

"Saya Jaya, Tante. Dan ini Neyla," katanya sambil meletakkan tangannya di bahu gadis kecil itu.

Neyla. Nama yang begitu mirip dengan nama anak gadisku dulu, Neyna.

"Maaf, mengganggu hari libur Tante," katanya. Suaranya mantap dengan intonasi jelas dan tatap mata yang begitu percaya dirinya.

Aku yakin dia bukan orang sembarangan. Cara dia berbicara dan tatap mata itu, tidak dimiliki oleh sembarang orang. Untung aku memperlakukannya dengan baik, batinku. Kutatap dia lebih lekat, mencoba menjajaki lebih dalam siapa sebenarnya laki-laki di depanku itu. Dia cukup tampan. Mungkin kemelaratan membuatnya kurang terawat dan tampak lebih tua dari usia sebenarnya.

"Saya ada titipan dari Neyna."

Neyna. Dia menyebut nama itu! Seketika menegang otot-ototku.

"Maaf baru bisa menyampaikan sekarang," lanjutnya. "Sangat terlambat, tetapi memang baru sekarang kami sempat ke kota ini."

Dia keluarkan dari tasnya yang kumal sebuah bungkusan pipih dan diulurkannya padaku. Kuterima bungkusan itu dan kubuka salah satu sisinya. Foto kami. Aku, suamiku, Andreas, dan Neyna. Foto yang dibuat ketika dua anak kami masih kecil. Mungkin Neyna baru seusia gadis di depanku itu. Jadi Neyna yang telah mengambil foto ini dari ruang tengah, batinku.

"Neyna minta maaf tidak minta izin mengambilnya dan minta tolong saya mengembalikannya kemari."

"Kenapa bukan dia sendiri yang mengembalikannya pada kami?" keramahan yang baru mulai muncul seketika sirna. Sikapku berubah dingin dan kaku.

Ingatan pada Neyna, anak perempuanku itu telah membuka kembali luka masa lalu. Masih jelas dalam ingatan betapa anak yang kukandung, kulahirkan dan kubesarkan itu tega menampar-nampar wajahku. Aku tak tahu, apa yang telah merasukinya. Neyna yang begitu manis dan menyegarkan hari-hari kami sekeluarga, sedikit demi sedikit mulai berubah begitu masuk kuliah dulu. Awalnya, hanya ikut kegiatan kemahasiswaan saja. Selanjutnya dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman di organisasi mahasiswa. Waktu itu aku mulai menegurnya. Kami sempat berdebat sebelum akhirnya tercapai kesepakatan bahwa aku tidak akan melarangnya berkegiatan selama dia mampu mempertahankan prestasi akademiknya.

Lama-lama dia mulai malas pulang. Rumah hanya dijadikan tempat singgah, tempat menyimpan barang yang diperlukannya kadang-kadang. Komunikasinya denganku menurun drastis. Aku yang dulu berfungsi sebagai teman ngobrol berubah menjadi kasir yang hanya ditemui pada saat butuh duit. Begitu jarangnya dia pulang hingga kadang aku terkaget-kaget ketika bertemu. Anak gadisku yang cantik, bersih, dan wangi tiba-tiba kutemui telah jadi malas merawat diri. Dia datang menemuiku dengan wajah tirus, mata lelah, dan baju yang apek. Bahkan pertemuan selanjutnya tidak kutemui lagi rambut hitamnya yang dulu lebat dan indah dengan poni yang membuatnya seperti boneka Barbee. Rambut itu telah dipangkas pendek karena dia merasa terlalu ribet mengurusnya.

Aku mulai punya alasan untuk marah dan melarangnya berkegiatan, tetapi dia membantah. Bahkan terang-terangan menyatakan sikapnya terhadapku. Mengkritik aku yang katanya otoriter, menjalankan kepemimpinan rumah tangga dan perusahaan sekehendakku, tanpa mau mendengar usulan dan suara ketertindasan orang lain. Siapa tak akan terbakar? Tahu apa dia tentang kehidupan rumah tangga? Apalagi tentang perusahaan. Tak sadarkah dia bahwa perusahaanlah yang membuatnya bisa hidup seperti sekarang?

"Perusahaan itu tumpuan hidup kita. Kamu tidak perlu mencampuri urusanku di sana karena kehancuran perusahaan berarti kehancuran hidup kita," kataku pelan namun tajam.

"Ya, memang perusahaan itu yang membuat kita jaya dan kaya-raya. Tetapi ingat Ma, itu bukan hasil kerja Mama. Para buruh itulah tulang punggungnya. Dan selama ini Mama dengan atas nama perusahaan telah memeras tenaga mereka tanpa imbalan yang sepadan," teriak Neyna lantang.

Aku meradang. "Kalau tak suka dengan cara kerjaku, jangan makan dari hasil kerjaku. Pergi, carilah makan sendiri atau tetap tinggal di sini dan kunci mulutmu!"

Di luar dugaan, benar-benar di luar dugaan, Neyna menerima tantanganku. Dia memilih keluar dari rumah. Meninggalkan kehidupan yang tak ada kurangnya ini dan menggantinya dengan kehidupan liar. Kehidupan yang serba tak tentu. Tidur di mana pun dan makan dari siapa pun. Entah seperti apa tepatnya, aku tak bisa membayangkan.

Pernah aku berniat menyusulnya karena tak tega, tetapi sebelum niat itu kesampian dia justru memimpin demo karyawan menuntut perbaikan kesejahteraan. Maka tidak sekadar gagal keinginanku menjemputnya, tetapi lebur juga maafku untuknya. Sejak itu aku tak mau berpikir tentang anak itu lagi. Dia kuanggap sudah hilang atau mati. Dia sudah bukan anakku lagi! Rupanya kepergiannya waktu itu sambil membawa foto yang sekarang ada di tanganku ini.

"Kenapa tak dia kembalikan sendiri foto ini?" tanyaku dengan sisa kemarahan masa lalu.

"Dia tak bisa," jawab Jaya.

"Kenapa?" tanyaku. "Takut bertemu denganku?"

"Bukan," Jaya menggeleng lemah. Berkedip-kedip sebentar. "Dia tak bisa menemui siapa pun lagi," lanjutnya pelan sambil menahan napas.

"Sakit?" tanyaku masih dengan keangkuhan.

Jaya menggeleng. Tanpa menatapku dia berkata-kata, "Neyna sudah…. pergi. Setengah tahun lalu." Dan laki-laki di hadapanku itu pun mengusap air matanya yang mengambang.

Aku menghempaskan diri. Tak sengaja. Memang aku begitu terluka oleh ulahnya dan meniatkan tak menganggapnya lagi sebagai putriku, tetapi kabar ini begitu mencabik perasaanku. Neyna, putri cantikku itu telah pergi selamanya…

"Maafkan, saya tak bisa menjaganya," laki-laki itu telah mampu menguasai perasaannya. Sikapnya kembali tenang. "Semuanya berjalan begitu cepat. Suatu hari tiba-tiba saya jumpai Neyna muntah darah. Saat itu juga saya bawa dia ke rumah sakit. Beberapa hari di sana, dokter menganjurkan agar dibawa pulang saja. Kanker ganas di paru-parunya telah menjalar ke organ-organ lain dan tim medis sudah tidak bisa berbuat apa-apa," dia berhenti sebentar, menghela napas. " Salah saya, selama ini tak pernah memperhatikan kesehatannya."

Kami saling diam beberapa saat lamanya. Masing-masing larut dengan kenangan dan penyesalan.

"Kau suaminya?" tanyaku kemudian dengan nada yang lebih lunak.
Dia menatapku sebentar sebelum mengangguk ragu. "Maaf, saya tak minta izin Tante lebih dulu."

"Jadi ini anak Neyna," kataku lirih, hampir pada diri sendiri. "Kalau boleh, biar aku yang mengasuhnya," kataku tiba-tiba.

Jaya tersenyum. "Makasih Tante, dia adalah napas saya. Jadi tak mungkin saya berpisah dengannya. Meskipun saya tak mungkin memberi kemewahan padanya."

Aku cukup tertampar dengan jawabannya. Tapi kutahan tak memberi reaksi apa pun pada jawaban itu.

Tak lama kemudian laki-laki itu minta diri. Kuantar sampai pagar. Sambil kubuka pintu, sempat kutanya, di mana mereka tinggal.

"Kami di lereng Gunung Geni. Saya bekerja bersama penduduk yang terancam kehilangan kehidupan mereka, karena rencana pembangunan taman nasional," jawab Jaya.

Lalu mereka pun berlalu. Sebelum angkot yang mereka tumpangi benar-benar berlalu, masih sempat kulihat lambaian tangan mungil anak Jaya padaku yang kubalas dengan lambaian pula.

Aku masih berdiri di pagar sekalipun kedua tamuku telah lenyap bersama angkot yang membawa mereka. Tiba-tiba aku teringat, sebentar lagi suamiku pulang. Dan dia tak boleh tahu apa yang terjadi. Jadi segera kututup pagar dan melangkah masuk. Membasuh muka lalu kembali duduk di depan tivi, sambil membuka-buka halaman koran Minggu. ***

Sabtu, 19 Maret 2005

Mimpi tentang Rumah

Cerpen Mustafa Ismail

KAMI punya rumah di kampung. Tidak besar, tapi cukup menyenangkan. Rumah itu semi permanen. Ayah membangun rumah itu ketika aku kecil. Ibuku yang menimbun bagian dalam rumah itu, dengan tanah merah, sebelum diberi lantai dari semen campur pasir. Tanah itu diambil dari kebun kosong persis di depan bakal rumah kami, yang juga milik salah seorang famili ibu.

Waktu itu ibu tengah hamil adikku. Tetapi ibu tidak peduli. Ia memaksa diri mengangkut tanah untuk menimbun, karena bersemangat untuk punya rumah. Itu dilakukan ibu setiap pagi sampai matahari berada di atas kepala. Aku, yang waktu itu masih kecil, sepulang sekolah ikut membantu ibu. Biasanya aku mengangkut tanah dengan pengki dan membawa tertatih-tatih. Kalau sudah siang, ibu berhenti dan pulang untuk memasak. Aku juga ikut pulang karena lepas siang aku bersiap- siap untuk mengaji di meunasah.
***

AYAH dan ibu membangun rumah itu boleh dikata dengan semangat. Ayah seorang pegawai kecil di sebuah sekolah dan ibu membantu menambah pendapatan keluarga dengan menanam sayur-sayuran di halaman rumah tempat kami tinggal yang memang cukup luas.

Kalau musim tanam kacang tanah atau semangka, ibu juga ikut serta bertani dengan menyewa sawah orang lain dengan sistem bagi hasil.

Jadi praktis tidak banyak uang yang ditabung ayah dan ibu, kecuali beberapa puluh gram emas yang dikumpulkan bertahun-tahun, ditambah dengan meminjam kiri-kanan, termasuk dari atasan ayah di kantor. Tak ada bantuan dari siapa pun kecuali sebuah dorongan agar kami punya rumah.

Sebelumnya kami memang punya rumah, tapi sebuah gubuk di tanah pemberian orang tua ibuku. Itu sungguh kurang menyenangkan bagi ayah. Sebab tanah itu kerap dipersoalkan oleh saudara ibu yang lain, terutama adiknya, meskipun sebetulnya mereka sudah mendapat bagian masing-masing. Tetapi begitulah orang tak puas: selalu saja lebih indah hal-hal yang belum mereka miliki. Ayah tidak mau repot-repot dengan itu.

Maka ketika ada orang menjual tanah, ayah lalu membeli tanah itu. Ibu pun gembira sekali ketika itu. Apalagi tanah untuk rumah itu letaknya di pinggir jalan kabupaten yang berdebu dan tak beraspal. Jalan selebar tiga meteran itu menghubungkan Kecamatan Trienggadeng dan Meureudu, yang berjarak sekitar tujuh atau delapan kilometer itu. Aku suka menempuhnya dengan bersepeda bersama kawan-kawan sebaya.

Di samping jalan itu, membentang rel kereta api, menjulur dari Sigli entah sampai di mana. Mungkin sampai Aceh Utara dan Aceh Timur. Mungkin pula sampai Sumatra Utara. Aku memang tidak terlalu mengusut soal itu. Apalagi aku tidak pernah naik kereta yang melintas di rel itu. Hanya pernah melihatnya ketika aku kecil. Ketika aku mulai sekolah kereta api sudah tak ada. Tidak jalan lagi. Entah mengapa. Padahal, ketika tahu ayah membeli tanah dan akan membikin rumah di Jalan Baroh -orang kampungku menyebut begitu- aku senangnya bukan main. Aku membayangkan sesekali bisa naik kereta api.
***

AKU pernah bertanya: mengapa ibu begitu kuat mengangkat tanah untuk menimbun rumah? Jawaban ibu membikinku haru. "Kita memang harus kuat agar bisa punya rumah. Bagaimanapun kita lebih tenang tinggal di rumah sendiri, rumah yang kita bangun dengan keringat sendiri," kata ibu.

Ibu juga tidak mengajak ayah untuk membantu menimbun bagian dalam rumah. Menurut ibu, ayah juga sama seperti ibu. Hanya beda tempat saja. "Ibu justru membantu ayahmu. Kalau ayah turut mengangkat tanah, kasihan ayahmu terlalu lelah. Ayahmu sudah bekerja pagi sampai lepas siang," ujarnya. "Mengapa tidak diupahin saja sama orang untuk menimbun?"

Pertanyaanku dijawab dengan senyum oleh ibu. "Kalau kita upahin sama orang, kita tidak pernah bisa merasakan bagaimana sulitnya membangun rumah. Padahal itu penting supaya kita tahu benar arti sebuah jerih payah sehingga bisa merawatnya dengan baik. Lagi pula, kita tidak punya uang untuk itu."

Ah ibu, sungguh aku tidak terlalu mengerti kata-kata ibu. Aku pun tidak hendak bertanya lebih lanjut. Aku cuma bisa memahami kata-kata ibu bahwa mereka -ayah dan ibu- bercita-cita punya rumah. Rumah lebih baik. Di tanah sendiri. Lalu aku pun ikut membantu ibu. "Ayo, jangan bicara saja. Bantu ibu," katanya kemudian. Aku mencangkul bongkahan-bongkahan tanah dan memasukkan ke kain tua ibu yang digelar di tanah. Selanjutnya, ibu berjalan tertatih-tatih dengan perutnya makin buncit membawa beban tanah untuk menimbun rumah. Sebetulnya aku ingin libur sekolah beberapa hari agar bisa menemani sekaligus membantu ibu. Tetapi ibu melarangku. Katanya: kamu harus sekolah, biar bisa seperti ayah.
***

Lalu rumah itu berdiri. Setengah permanen. Rumah kami pertama-tama sangat jelek. Serupa onggokan. Memang, sudah beratap, berlantai, berdinding, dan berpintu. Tapi atapnya belum dicat merah saga, sebagaimana rumah-rumah lain yang beratap seng. Lantainya bukan tegel atau keramik, tetapi cuma beton yang dipernis dengan air semen.

Terus dindingnya masih menyembulkan batu-bata merah, belum diplester sama sekali. Loteng alias plafonnya belum ada. Kalau siang, panas matahari langsung menusuk ubun-ubun. Kalau musim hujan, dinginnya tak ketulungan. Hanya pintunya yang bagus. "Mengapa rumah kita tidak sebagus rumah-rumah di dekat pasar?"

"Rumah kita terbuat dari keringat. Tidak sama dengan rumah-rumah dekat pasar, milik toke-toke dan pejabat kecamatan, yang dibuat dengan uang. Sabar saja, kalau waktu milik kita, Insya Allah, rumah kita lama-lama akan menjadi seperti rumah-rumah dekat pasar itu." Ayah benar. Pelan-pelan rumah kami menjadi bagus. Satu per satu didandani. Atapnya dicat merah saga.

Diplester. Mula-mula bagian depan yang diplester, kali lain kamar tamu, terus merembet sampai kamar ayah, ruang makan, dapur, sampai ke kamarku. Itu dilakukan masing-masing dalam interval waktu berbulan-bulan. Setelah itu diberi loteng atau plafon. Mula-mula loteng bagian kamar tamu, lalu kamar makan, terus kamar ayah, terus loteng dapur, terakhir loteng kamarku. Tidurku pun menjadi tidak panas lagi. Lalu dicat. Semua itu dilakukan satu per satu dengan jeda cukup lama, sampai ayah berhasil mengumpulkan butiran-butiran waktu secukupnya.
***

RUMAH kami dekat pantai. Kalau malam aku suka duduk di luar, menikmati suara debur ombak. Kadang- kadang bersama ibu sambil menunggu ayah pulang dari pasar. Kadang bersama kakek, ayah ibu. Kakek suka bercerita tentang dongeng-dongeng. Aku mendengarnya sampai larut malam. Aku memang biasa tidur malam.

Kata kakek, rumah kami dekat Malaysia. Dari pantai di belakang rumahku, ada sebuah jembatan menghubungkan kampung kami dengan Malaysia. Jembatan itu terbuat dari bambu. Karena itu, banyak orang kampung merantau ke Malaysia, tinggal dan beranak-pinak di sana. "Mengapa jembatan itu sudah tidak ada? Aku ingin sekali main sore-sore Malaysia," tanyaku suatu kali. Kakek segera menyela. "Jembatan itu masih ada. Tetapi tidak bisa dilihat oleh anak kecil. Makanya kamu cepat- cepat besar kalau ingin main soresore ke Malaysia. Kamu bisa bersepeda ke sana," ujarnya. "Mengapa jembatan bambu bisa untuk bersepeda?"

"Itulah hebatnya," tanggap kakek. Meski bambu, tetapi kalau kita berjalan di atasnya, serasa berjalan di jalan licin beraspal. Bahkan, ada beberapa mobil yang lewat sana." "Mengapa bisa?" Aku makin tidak mengerti.

Kakek tersenyum sebentar, lalu berujar. "Bisa saja. Sebab, jembatan itu dibuat oleh indatu kita. Orang-orang kita yang hidup beratus-ratus tahun lalu. Mereka membuatnya perlahan-lahan. Dengan semangat berkobar. Mereka menumpahkan seluruh cinta untuknya.

Mereka tidak dibayar. Tetapi mereka senang melakukannya. Mereka makan dari harta Tuhan. Kalau siang, mereka membangun jembatan Kalau malam, mereka memancing atau menjala ikan. Setiap pagi, banyak orang datang ke sana untuk membeli ikan-ikan hasil tangkapan mereka." "Termasuk kakek?" "Ya, termasuk kakek."

Kakek memang seorang pedagang ikan. Kakek bukan cuma menjual ikan di pasar. Juga berjualan sampai ke kecamatan lain dengan mengayuh sepeda kumbang. Sering sekali kakek pulang larut malam. Tertatih-tatih mengayuh sepeda yang tak ada lampunya itu. Kalau bulan tidak terang, kakek memakai lampu senter untuk penerang jalan. Kadang kakek membawa banyak ikan yang tersisa. Lalu misyik -panggilanku untuk nenek- mencuci ikan-ikan itu dan membelahnya, memberi garam dan dijemur untuk dijadikan ikan asin. Itu dilakukan malam itu juga, supaya ikanikan itu tidak keburu busuk. Sering mendapatkan kakek pulang malam, aku kerap bertanya: "Apakah kakek tidak takut hantu? Sebab, kata orang kalau malam banyak hantu."

Kakek tertawa terbahak-bahak mendengar mendengar pertanyaanku. Aku menjadi tak mengerti. Lalu ia menukas: "Hantu itu tak pernah ada. Jalanan aman-aman saja." "Benarkah?" Kakek mengangguk.
***

Sejak situasi di Aceh makin tidak menyenangkan, ayah dan ibu memutuskan tinggal di Jakarta. Kebetulan aku sudah beberapa tahun tinggal dan bekerja di kota ini. Bukan hanya ayah dan ibu, sebagian warga lain, yang punya sanakfamili di luar Aceh, juga ikut mengungsi.

Ingin menentramkan diri, katanya. Pemuda juga begitu, mereka banyak yang pergi merantau. Ada yang ke Medan, Batam, Jakarta, sampai Malaysia. Tetapi, sejak tinggal di kota ini, ayah kerap termenung. Pikirannya selalu tertuju pada rumah. Tak jarang ia marahmarah sendiri dan mengatakan ingin pulang saja ke kampung. Sering pula ayah menyalahkan ibu yang dulu terus mendorong agar mereka segera meninggalkan kampung karena tidak sanggup lagi menghadapi berbagai kejadian yang malang-melintang di depan mata.

Kalau sedang berdebat dengan ibu -sebab ibu lebih berprinsip lebih baik hidup tenang jauh dari kampung daripada hidup was-was dan ketakutan i kampung sendiri- ayah selalu mengatakan: "Kalau Tuhan mau mencabut nyawa kita, di mana saja bisa. Mengapa kita harus takut pada mati." Kalau sudah begitu, ibu tidak akan melayani, dan pergi ke belakang dan menangis, karena merasa terus dipersalahkan oleh ayah. Waktu-waktu yang paling sering terjadi keributan antara ayah dan ibu adalah menjelang habis masa kontrak rumah. Karena pada masa itu ayah harus mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk membayar biaya kontrak selanjutnya. Meski punya uang pensiun -ayah pensiunan pegawai negeri golongan IIID- sekitar Rp 1 juta rupiah sebulan, ayah selalu kepayahan setiap akan membayar biaya kontrakan.

Bisa dipahami memang, agak berat hidup di kota ini dengan gaji satu juta rupiah sebulan. Tetapi kalau dipikirpikir, masih beruntung ayah mempunyai pendapatan. Itu ditambah lagi dengan usaha ibu sehari-hari membuat kue untuk ditaruh di warung dekat tempat tinggal. Tidak banyak pemasukan memang, tetapi untuk belanja ikan dan sayur setiap hari tercukupi. Tetapi bagi ayah, ibu selalu dianggap telah mengambil keputusan yang keliru: hijrah dari kampung. Karena itu, ayah merasa selalu harus mengeluarkan uang banyak untuk tempat tinggal dan biaya hidup. "Rumah orang kita perbaiki, rumah sendiri kita biarkan terlantar," kata ayah selalu. Maksud ayah, membayar sekian juta rupiah untuk biaya kontrakan dianggap memperbaiki rumah orang. Kalau itu digunakan untuk merawat rumah sendiri, betapa sudah bagusnya rumah itu. Bukan hanya ibu, aku sendiri kadang juga kena semprot dari ayah. Aku dianggap yang memprovokasi ibu agar hijrah dari kampung dulu. Aku memang beberapa kali mengirim surat kepada ibu agar mempertimbangkan -aku tidak menyuruh- untuk tinggal di Jakarta saja. Mulanya ibu agak ragu. Tetapi setelah mengetahui sebagian orang Aceh, yang punya sanak-famili di luar daerah, meninggalkan kampung, ibu jadi terpengaruh juga.

Jadilah ibu kemudian mendesak ayah agar segera berkemas. Ayah menjual sepeda motor kesayangannya, menurut ayah, dengan harga murah. Juga menjual televisi, kulkas, dan perangkat elektronik lain. Semua dengan harga "butuh uang". Kecuali rumah, ayah bersikeras tidak mau menjualnya. "Kalau kita jual, nanti saat Aceh aman dan kita pulang kampung, kita akan tinggal di mana?" tanya ayah. Ibu memang tidak menyuruh agar ayah menjual rumah, karena ibu juga berharap suatu saat bisa kembali pulang kampung dan menghabiskan masa tuanya di sana. Akulah yang menyurati agar ayah dan ibu menjual rumah, setelah mengetahui keputusan mereka untuk hijrah. Aku berpikir praktis saja, daripada rusak, mendingan diuangkan saja. Lagi pula, buat apa lagi ayah dan ibu pulang ke kampung, semua anakanaknya -aku dan seorang adikku- sudah tinggal dan bekerja di Jakarta. Mendingan mereka tinggal di Jakarta, bisa dekat dengan kami, juga cucu-cucunya, yakni anak-anakku. Tetapi aku tidak memaksa juga. Biarlah ayah dan ibu mengambil keputusannya sendiri.
***

"Apakah kamu pernah berpikir tentang rumah? Rumah kita di kampung," tanya ayah suatu sore, ketika aku baru saja tiba dari tempat kerja. Aku melihat mata ayah basah dan beberapa tetes air matanya meluncur ke pipinya yang mulai keriput. Baru sekali ini aku melihat ayah menangis. Biasanya kalau teringat rumah, ayah hanya marah-marah dan wajahnya menjadi bersemu merah.

Aku duduk di samping ayah, memandang butiran-butiran hujan yang mulai turun, di tempat tinggal ayah dan ibu, sebuah rumah sederhana yang dikontrak seharga lima juta rupiah setahun itu. Aku betul-betul tersentak dengan cara ayah bertanya, juga suasana hatinya yang terasa begitu galau dan sedih. Ada apa yang terjadi sebenarnya.

Tetapi aku hanya menarik napas dalam- dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan ayah. Aku hanya bisa membayangkan dari jauh: sebuah rumah semi permanen, berkamar dua, dan beratap merah saga. Sepi dan sendiri. "Apakah ada kabar dari kampung?" tanyaku kemudian setelah lama terdiam. "Tidak," katanya sambil terisak, lalu mengusap air mata dengan ujung jarinya.

"Itulah masalahnya. Ayah khawatir terjadi apa-apa dengan rumah kita. Tadi malam ayah bermimpi rumah kita sudah roboh. Dan orang-orang satu per satu datang untuk mengambil papan dan kayu untuk dijadikan kayu bakar," kata ayah sangat pelan dengan isak yang tidak bisa ditahan. "Itu kan mimpi. Pada kenyataannya kan tidak."

"Mimpi itu ayah yakin sekali benar. Dan arti mimpi itu bisa banyak. Bisa saja rumah itu digunakan oleh orang lain untuk hal-hal yang tidak kita inginkan. Atau paling tidak rumah itu sudah bocor, kotor, dan mungkin kayu- kayunya mulai lapuk dan catnya sudah terkelupas. Padahal kamu tahu, betapa susahnya kita untuk punya rumah dulu. Kita dulu harus tahan lapar untuk membangunnya."

Sekali lagi aku menarik napas. Betul juga kata ayah. "Bagaimana kalau kita kirim surat kepada paman di kampung menanyakan kondisi rumah?" "Tidak. Ayah terpikir mau pulang sendiri ke Aceh ingin melihat rumah. Kasihan kalau rumah itu jadi rusak," suara ayah.

"Tetapi di kampung belum aman. Kita tunggu saja sampai kondisi benar-benar tenteram," aku memberi pengertian. "Sampai kapan?" Ayah bertanya dengan suara serak. Beberapa tetes air mata kembali meluncur ke pipinya. Aku menggigit bibir, tidak tahu harus berkata apa. "Seharusnya, masa-masa pensiun begini ayah jalani bersama ibumu di kampung sambil merawat rumah," tutur ayah dengan wajah yang makin basah. ***

Pamulang, 27 Mei 2004

Sabtu, 12 Maret 2005

RAH-KANG RI

Cerpen Budi Palopo

SENJA telah jatuh. Warna langit di barat Kampung Negariki telah berubah. Kuning keemasan yang tadinya terlihat cerah, berganti dominasi warna merah. Tapi, sejumlah anak lelaki telanjang dada itu masih juga tampak asyik bermain tembak-tembakan.

"Dor? Dor?Dor?!"
Pelepah daun pisang yang dijadikan senjata api laras panjang dibidikkan berulang-ulang. Yang kena tembak harus mati, kendati tak lama kemudian boleh hidup lagi. Ada yang tiarap. Ada yang bersembunyi. Ada yang berlari-lari.

Saat itu, di pojok luar rumah, Rah pun masih juga tampak asyik mengelus-elus sepatu kumal yang tergeletak di dekat tempat sampah. Entah itu sepatu lars milik siapa. Tak jelas pula siapa yang pertamakali memakainya. Yang pasti, sepatu kotor itu tak bertali. Tanpa pasangan, hanya tinggal yang sebelah kiri.
***
HAMPIR setiap hari Rah berusaha membersihkan kotoran yang melekat pada sepatu kulit itu, dengan cara merendamnya di bak mandi. Tapi, sepatu lars kumal itu tetap saja tak bersih. Baunya tetap saja tak sedap. Sampai-sampai, hanya untuk menghilangkan bau, Ning Tin --ibu Rah-- perlu menjemurnya hingga berhari-hari. Sayangnya, setelah kering, Rah kembali membasahinya. Setiap mandi, Rah pun selalu memandikannya pula. Alasannya, biar bersih. Tapi, sekali lagi, sepatu lars tak berlidah itu tetap saja tak bersih. Bahkan, baunya kian menyengat.

Kalau saja tumbuh sebagai manusia normal, dalam usia yang telah meninggalkan angka belasan tahun, Rah tentunya lebih gandrung bermain cinta daripada berakrab-akrab dengan barang rongsokan yang tak layak pakai itu. Kini, di Kampung Negariki, gadis-gadis seusia Rah toh nyaris semua telah hidup berpasang-pasangan. Bahkan tak sedikit yang telah berstatus janda muda.

Sayangnya, Rah bukanlah gadis normal. Soal wajah, sepintas memang masih menarik, kendati tak bisa dibilang cantik. Terutama kalau gerai rambutnya diatur menutupi bagian telinga. Sebab, selain buah dadanya tak menyembul, Rah ternyata tak memiliki daun telinga

Pendek kata, kondisi fisik maupun mental Rah tergolong cacat berat. Nyaris tak pernah mau bicara. Kalau toh ada suara yang bisa dilontarkannya, itu pun tak lebih dari kata-kata umpatan: "bangsat?!" Tersenyum, kalau ingin menunjukkan suasana hati senang. Tertawa-tawa kalau sekiranya ada hal yang dianggapnya lucu dan patut ditertawakan. Selebihnya, diam.

Rah gadis ideot? Sepertinya memang begitu. Tapi, nanti dulu. Ketika masih diperbolehkan bersekolah dasar, Rah ternyata pernah menunjukkan diri sebagai anak yang normal dan cerdas. Ia selalu jadi bintang saat kelas I dan II. Rah selalu menempati ranking pertama. Sayangnya, ketika ia kelas III, pendidikan formal itu harus berakhir dengan tragis.
***
PAGI itu, langit tak lagi mendung. Dari rumah seorang tetangga yang sedang berhajat mengkhitan anaknya, terdengar lagu berirama langgam yang tersuarakan lewat tape recorder. Lirik lagu berbahasa Jawa itu pun cukup menyentuh: "?golekan, kae golekane sapa. Yen sira tansah dadi golek-golekan, ingsun mengko entek mimis pira?"(1)

Di tempat pejagalan samping rumah, Kang Ri sedang sibuk menguliti seekor sapi yang baru saja disembelihnya. Tampak serius, dan menegangkan. Tanpa nyanyi. Tanpa cengkerama. Saat itulah, di dekat Kang Ri kerja, Rah bermain anak-anakan. Boneka plastik yang dimilikinya, dikudang-kudang, di-emban-ayun-kan, dan diajarinya untuk bisa bicara dengan bahasa manusia.

"Rah? minggir?!" bentak Kang Ri, merasa terganggu.
Entah kenapa, Rah seakan tak mendengar perintah Kang Ri yang dipanggilnya "bapak" itu. Akibatnya, Rah kena marah. Boneka yang tengah dipeluknya mendadak direbut Kang Ri, lalu dibuangnya.

Rah kaget. Dengan tangis tertahan, ia segera memburu boneka kesayangannya. Tapi, bocah tak beralas kaki itu pun mendadak ragu. Kendati air matanya menetes-netes, Rah sepertinya tak berani lagi menyentuh boneka kesayangannya. Ia memilih sikap menggores-gores tanah dengan sebilah tatal kayu, di sekitar tubuh boneka berlumur darah, yang tergeletak di pelataran rumah. Ia seakan membuat tengara kesedihan bergaris-garis tanpa aturan di tanah pijakan, untuk mengenang boneka yang dianggapnya telah mati terbunuh.

Tak lama kemudian, Kang Ri yang jari-jari kedua tangannya masih belepotan warna merah, datang menghardik. Rah diminta untuk segera masuk rumah. Tapi, Rah menanggapinya dengan gelengan kepala. Rah menolak. Rah memilih diam di tempat, untuk terus menggores-gores tanah di sekitar boneka dengan sebilah tatal kayu yang dipegangnya.

Tanpa banyak kata-kata, lelaki bertubuh kekar itu lalu mencengkeram lengan kiri Rah. Dan, tangis bocah perempuan berpita rambut merah itu pun meledak. Menyayat, menjerit-jerit. Kendati demikian, Rah tetap diseret dan terus diseret-seret. Rah dipaksa jauh meninggalkan boneka mainannya. Alasannya sederhana: Rah harus mandi sembari menghapal teks Pancasila, sebelum pamit berangkat sekolah dengan mencium tangan bapaknya.
***
ENTAH sudah berapa kali Rah kena gebuk Kang Ri. Yang jelas, Rah sering menangis. Suatu hari, menjelang bulan Agustus, setelah melihat bendera merah-putih berbagai ukuran diperjualbelikan di pinggir jalan, Rah juga menangis. Rah, ketika itu digebuk Kang Ri lantaran memaksa minta dibelikan bendera baru.

"Rah, memang nakal. Bapaknya sudah punya bendera kok masih saja minta dibelikan bendera lagi. Maunya sih ingin bendera sendiri, yang bisa dibawa untuk karnaval di sekolah. Tapi untuk karnaval itu kan bisa dengan bendera kertas. Bapaknya telah berjanji mau membuatkannya, tapi Rah menolak. Rah minta dibelikan bendera sungguhan. Bendera kain. Lha itu kan, namanya pemborosan," jelas Ning Tin pada seseorang yang berbasa-basi menanyakan soal tangis Rah.

Rah nakal. Vonis itulah yang dijatuhkan ibunya sendiri. Ya, Rah nakal. Tepatnya, dianggap nakal. Karena itulah, ia kena gebuk. Karena itulah, ia sering menangis. Dan, pagi itu, setelah diseret-seret Kang Ri untuk meninggalkan boneka, tangis Rah kembali terdengar menyayat. Di antara jerit tangisnya, dari kamar mandi, terdengar pula suara Rah terbata-bata melafalkan teks Pancasila.

"Kang Ri memang keterlaluan kok," aku Ning Tin pada orang lainnya. "Wataknya kaku. Apa maunya harus dituruti. Kang Ri itu nggak mau dibantah. Sementara Rah sendiri ya ndablek. Seringkali nggak pedulikan omongan bapaknya," jelasnya.

Kang Ri wataknya memang kasar. Juga tergolong pemberang. Tukang jagal sapi satu-satunya yang ada di Kampung Negariki itu sering marah-marah. Dan, kalau sudah marah, orang-orang di dekatnya nyaris tak ada yang berani membuka mulut. Istrinya, kemenakannya, juga semua pembantu kerja penjagalannya, terpaksa diam. Tak ada yang berani memotong kalimat omelannya. Jika ada yang berani menyela kata, bisa dipastikan semua barang di dekatnya hancur berantakan.

Menurut Ning Tin, Kang Ri itu punya penyakit dog-nyeng. Sebentar-sebentar marah, sebentar itu pula ia kegetunen. Jelasnya, marah Kang Ri tak pernah berlarut-larut. Setelah memuntahkan amarahnya, seringkali Kang Ri merasa menyesali diri. Bahkan, seringkali pula, hal-hal yang menyulut kemarahannya justru dijadikan bahan kelakar setelah ia tak marah lagi.

Pernah, dalam sebuah kesempatan ngobrol di pos jaga kampung, Kang Ri bercerita sembari tertawa-tawa. Saat itu menyinggung soal Rah yang menolak diciumnya. Alasan Rah, mulut Kang Ri bau. Dan, karena Rah tidak mau dicium, Kang Ri marah-marah. Rah pun digebukinya. "Setelah saya pikir-pikir, ternyata Rah benar. Mulut saya memang baunya amit-amit. Saya sendiri jijik. Tapi, istri saya kok betah ya?" katanya penuh canda.

Persoalan yang menyulut amarah Kang Ri kadang memang terlalu sepele. Yang terjadi pada pagi itu, misalnya. Hanya karena Rah bermain anak-anakan sembari bernyanyi-nyanyi di dekatnya, Kang Ri marahnya bukan main. Celakanya, peristiwa mengenaskan itu pun masih berlanjut.

Usai mandi, Rah ternyata kembali tertatih ke tengah pelataran. Bocah sekolah dasar itu telah mengenakan rok seragam berwarna merah. Sepatu belum dipakai. Baju putihnya belum juga dikancingkan. Ya, dengan dada sedikit terbuka, Rah melangkah mendekati boneka kesayangannya yang masih tergeletak di pelataran rumah. Sorot matanya memerah saga. Isak tangisnya masih tersisa.

"Rah?!"
Ning Tin memanggil-manggil. Tapi, Rah tak peduli. Ia seolah tak mendengarnya. Rah tetap melangkah. Boneka yang berlumur darah sapi itu pun kembali digendong dan dipeluknya.

"Rah?! Pakai sepatu dulu?!" pinta Ning Tin, setengah memperingatkan.

Dan, suara peringatan Ning Tin ternyata memancing perhatian Kang Ri. Pandangnya seketika mengarah ke bocah yang tak beralas kaki itu. Melihat Rah tak memedulikan suara panggilan ibunya, Kang Ri kembali beraksi. Lelaki pemberang yang tengah sibuk memotong-motong daging sapi di pejagalan samping rumah itu segera mendekati Rah. Tapi, entah kekuatan dendam macam apa yang merasukinya, Rah menantang. Tanpa sepatah kata yang terlontar, Rah cepat-cepat meraup segenggam batu kerikil pelataran untuk dilempar ke wajah bapaknya.

Lalu, tangis Rah pun kembali meledak. Rah kembali digebuk. Rah kembali dihajar. Rah diseret-seret hingga ke pojok rumah, dan kepalanya dibentur-benturkan ke tempat sampah. Bahkan, sepatu lars hilang pasangan yang tergeletak di dekat tempat sampah itu diangkat Kang Ri tinggi-tinggi, lalu dihantamkan ke wajah Rah berkali-kali.

"Bangsat?! Aku ini bapakmu? bangsat! Berani-beraninya kamu melawan? hah! Bangsat?! Bangsat?! Bangsat?!" umpat Kang Ri, sembari menendang-nendang tubuh Rah. Dan, sejak itulah Rah dilarang main boneka. Rah dikurung. Dilarang keluar rumah. Dilarang melanjutkan sekolah.

Bertahun kemudian, tahulah semua orang kampung. Ternyata, Rah tumbuh sebagai gadis yang cacat berat. Tak punya buah dada, dan tanpa daun telinga. Setelah dilarang Kang Ri main anak-anakan, Rah seolah kehilangan rasa cinta. Setiap melihat boneka plastik yang berwajah bayi manusia, Rah segera mengambil pisau dapur lalu berusaha menyembelihnya. Celakanya, sepatu lars hilang pasangan, kumal dan berbau, yang pernah jadi alat penghantam kepalanya itu, justru dianggapnya sebagai teman main yang menyenangkan. Teman main yang patut digendong-gendong dan diemban-ayunkan.

Hampir setiap hari, Rah menghabiskan waktu di pojok rumah, dekat tempat sampah, hanya untuk berakrab-akrab dengan sepatu lars yang dianggapnya sebagai satu-satunya teman main. Dan, anehnya, jika ada seseorang yang menyapa saat ia bermain, Rah buru-buru masuk rumah. Bersembunyi di balik pintu, sembari mengintip-intip lewat celah dinding bambu. Setelah memastikan si penyapa beranjak pergi, barulah Rah keluar untuk bermain lagi.
***
DAN, senja pun telah benar-benar jatuh. Warna langit di barat Kampung Negariki kian memerah. Dari surau terdengar kumandang adzan. Tapi, anak-anak lelaki yang telanjang dada itu masih saja ribut main tembak-tembakan. Di tengah suasana permainan yang ribut itu, Rah ternyata masih juga tampak asyik mengelus-elus sepatu lars kesayangannya.

"Rah?Rah?!"
Mendengar suara Ning Tin memanggil-manggil, Rah segera beranjak masuk rumah. Namun, sebelum sampai pintu, ia ditabrak seorang anak lelaki yang tengah berlari menghindari bidikan senapan. Rah jatuh, terjengkang di teras rumahnya sendiri.

"Dor? dor? dor!" teriak seorang anak lelaki lainnya, sembari membidik-bidikkan pelepah pisang yang dijadikan senjata.

"Pause?pause. Nggak bisa. Aku lagi tiarap, nggak bisa ditembak!"
"Ya nggak bisa begitu. Kamu kena tembak. Kamu harus mati. Kamu nggak tiarap, tapi terjatuh karena menabrak Rah?.!"

Perang mulut pun terjadi. Dua anak lelaki yang tengah bermain tembak-tembakan itu tak ada yang mau mengalah. Masing-masing punya alasan. Masing-masing merasa benar. Mereka bahkan tak peduli pada Rah yang menjerit-jerit kesakitan.

Sementara, di ruang tengah, Kang Ri berbaring lunglai di atas balai-balai bambu bertikar pandan. Kang Ri jatuh sakit. Lima tahun sudah, tukang jagal sapi itu tak bisa bicara. Kalau minta sesuatu pada Ning Tin ia hanya menuding-nuding sembari mendesis, "oh? oh? oh" yang tak jelas artinya. Anehnya, sorot mata lelaki berbibir sumbing itu masih juga tampak berapi. (*)

Catatan:
(1) Terjemahan bebasnya: ?boneka, boneka siapakah itu? Jika kau terus jadi buronan, berapa butir peluru harus kuhabiskan?

Minggu, 06 Maret 2005

Rajam

Cerpen Muhidin M. Dahlan

DI SIANG garang, di atas paha terbuka istrimu yang membelaimu lembut, kau melihat dari alam jauhmu sebuah kematian yang paling indah dan mencekam. Kematian seorang perempuan jalang.

Ya, seorang perempuan jalang, di lapangan kota, diseret digelandang dalam sebuah iring-iringan riuh. Mirip upacara keagamaan. Beduk-beduk, gending-gending, memekik memekakkan telinga. Ini bukan pasar atau ritual sunatan atau riuh mauludan saban tahun. Tapi riuh gending dan beduk ini adalah tabuh kematian. Sebentar lagi, sejelang lagi, akan tercetus kematian seorang perempuan jalang yang merobek-robek kesadaran beragamamu kelak di kemudian hari.

Di lapangan itu neraka jahanam didandani. Di lapangan itu sebentar lagi ulama-ulama tahkim kota akan menjatuhkan palu takdir kematian yang barangkali paling mengerikan jika dilihat dari sudut pandang perempuan jalang itu. Sudut pandang korban yang teraniaya karena ketakberdayaan membela diri atau berdebat tentang mana yang benar mana yang salah mana yang boleh mana yang tidak. Sebuah upacara kafarat. Semacam denda yang harus dibayar karena melanggar aturan Tuhan. Dan denda itu adalah darah yang berujung pada kematian. Rajam.

Dan perempuan jalang malang itu, terbersitkah dalam alam sadarnya bahwa dalam tabuhan beduk dan gending serta sorak riuh memekak itu bersemayam hantu kekejian dan keberingasan yang berzirah rubah kegelapan. Dan semua zirah itu berebut tempat tersembunyi dan kelam dalam jiwa manusia yang kemudian menyeradak keluar dengan cara yang tak terduga. Dan barangkali dengan cara yang tak masuk akal.

Di tengah lapangan, telah tersedia liang yang digali sepagi tadi. Sepinggulan dalamnya. Dan di sana dipancangkan sebilah bambu setinggi tombak pemburu babi. Bambu-bambu belahan yang dipotong pendek-pendek dan sebentangan tambang memagari lubang itu dalam jarak 10 kaki. Dibuat melingkar. Terukur dengan baik untuk sebuah penyiksaan brutal atas perilaku jalang. Atas nama kafarat. Dan nantinya drama ini bisa menjadi semacam nubuat yang gemuruhnya bisa tersesap dalam pori-pori, dalam alam sadar, bahwa hidup harus baik-baik saja. Kalau tidak, neraka jahanam akan terlalu sering digelar di lapangan kota atau di mana pun. Dan yang kena tak terkecuali. Siapa pun yang berani hidup jalang dan lancung.

Dan kematian itu bukan lagi semacam gertakan bagi perempuan jalang itu. Sebab dalam liang itu separuh tubuhnya ditanam. Sementara tangannya akan diikat melipat ke belakang berdempet dengan sebatang bambu yang berdiri meneguh dengan permukaan yang bersayat tajam. Cukup untuk melukai kalau tangan bergerak atau berusaha meronta. Dan batu-batu akan beringas menghujaninya.

Kau tak tahu, apa persisnya salah perempuan itu hingga beduk hari ini bertalu dan gending dipukul-pukul hingga muntah tak beraturan di cuping-cuping kuping.

Yang kau tahu, ini pun samar-samar dan belum bisa dijadikan pegangan yang pasti dan meyakinkan, perempuan jalang itu datang dari wilayah antah berantah. Dan di sebuah pagi, dia muncul begitu saja. Tapi bukan ini yang menjadi masalah, melainkan ulahnya berkitar-kitar di tengah kota. Dia berjalan seenaknya dengan tak satu pun kain membungkusi tubuhnya. Kotor dan menjinjikkan. Menyebarkan bau amis dan membuat muntah biri-biri yang berpapasan. Serupa sampah yang sudah berbulan-bulan tak pernah dibakar atau ditanam. Pun begitu bagi lelaki dewasa yang melihatnya tentu masih tersisa asyiknya tubuh kotor itu. Bagi anak-anak tentu tubuh lancung itu bisa menjadi semacam hiburan. Dan bagi perempuan-perempuan mulia dan beradab tentu menahan malu yang tak kepalang. Beberapa orang perempuan mulia pernah berpapasan lalu menyiramnya dengan air dari radius beberapa meter. Atau pernah suatu kali langsung menceburkannya ke sungai dan melemparinya kain.

Tapi itu tak bertahan lama. Beberapa hari kemudian dia akan kedapatan di tengah kota berjalan tanpa balutan secarik pun kain. Dan tingkah lakunya makin lama makin tak senonoh. Dia tak segan-segan menari-nari di pasar dan kemaluannya digosok-gosokkan di tiang umbul-umbul. Atau berjingkrak-jingkrak di pintu depan masjid ketika orang-orang hendak mendirikan kewajiban sembahyang.

Dan bahkan pada malam hari beberapa kali menghadang para santri selepas pengajian di surau dan memintanya agar bersedia membuntinginya. Sebab, katanya, dengan punya anak dari cairan pelafaz-pelafaz nama Tuhan, dunianya tak lagi sesunyi seperti dijalaninya hingga hari ini. Perjalanan yang sungguh melelahkan dan tak tertanggungkan. Dia akan senang sekali jika kebuntingan itu datang dan melihat makhluk pembunuh sunyi itu menggelantung selama dua tahun di puting teteknya yang kelak tak segering saat ini.

Bahkan untuk mengejar kehendak itu, beberapa kali dia menggoda para guru ngaji yang barangkali saja mau bersedia bersamanya. Mengajarkannya ngaji dan dia akan membalasnya dengan imbalan menunjukkan bagaimana memijat bagian-bagian tubuh lelanang yang mendatangkan kenikmatan tak terkira.

Karena usahanya yang gigih itu, dia pun beroleh beberapa kali keberuntungan. Beberapa kali dia mampu mencucup cairan santri dan guru ngaji. Dan sejak itu dia menemukan resep bahwa untuk mendapatkan cairan itu, dia tak boleh lagi berjalan telanjang seperti dulu lagi. Tubuh harus bersih dan kalau perlu dibaluri melati pewangi yang bisa dipetiki dari dalam pagar-pagar warga di malam hari. Dan dia tak boleh lagi meminta cairan suci itu di tempat terbuka, tapi harus menghadangnya di tempat yang paling gelap. Di semak-semak yang jarang kena jamah orang banyak. Atau di bawah lincak di pasar yang gelap. Bahkan di belakang jamban yang jauh dari surau. Di situ biasanya dia mengintip lelaki santri atau ustad yang kencing berdiri. Dan bukannya dia tidak memilih. Dia terihik-ihik sendiri bila mendengar suara kencing di antara mereka. Yang suara kencingnya hanya seperti hujan kapas, pertanda zakarnya kecil. Lain jika kencingnya memercik deras dan menggelontor cresssssss. Itu pertanda zakarnya besar. Dan yang kedua ini yang dipastikan akan dimintainya berkuda bersama dalam kegelapan.

Dari satu dua pelafaz yang mencicipinya, dia jadi tahu bahwa mereka itu sesungguhnya mau. Tapi malu yang dalamlah yang membuat mereka memalingkan muka dan pura-pura berwajah pias dan menunjukkan kemuakan yang tiada banding. Sebab tak terbayangkan jika ketahuan secara terbuka sedang bertukar tangkap dengan ganasnya, tak terkiralah bagaimana martabat kesucian yang mereka pelihara sedemikian rupa akan jatuh berantakan.

Betapa tulusnya dia melakukan praktik-praktik sundal itu. Hanya untuk mendapatkan keturunan yang baik-baik dari cairan mereka yang jalan darahnya kerap tercampur dengan ruap nama Tuhan Yang Agung. Tapi ulama dan orang-orang berbudi punya pendapat lain. Senonoh ya senonoh. Sundal ya sundal. Tak peduli apa pun motifnya. Generasi muda, santri-santri yang masih labil, harus diselamatkan dari kebangkrutan moral. Apalagi, istri-istri yang dibakar cemburu karena suaminya ada main dengan perempuan jalang, bersatu padu menghadap ulama-ulama tahkim agar mengambil tindakan keras. Dan para ulama tahkim itu berkesimpulan bahwa perempuan jalang itulah penyebab pertama terjadinya perzinahan besar-besaran yang dilakukan dengan sembunyi di mana pun di tempat paling temaram yang disediakan kota suci ini. Dengan sigap dan antisipasi berkecambahnya kerusakan akhlak penduduk kota yang kian parah, ulama-ulama itu menyerukan penangkapan.

Dan di tepi teritis surau di pinggiran kota yang sepi, kala dia duduk terpekur entah meratapkan apa --mungkin bermunajat-- segerombol kadet kota menangkapnya, menggelandangnya, dan menyeretnya ke neraka bumi.

Dan di siang hari yang ganas, di tengah lapangan, lubang rajam separuh badan itu menunggunya. Lubang yang akan mengakhiri takdir buruk dan kutuk bumi jahanam.

KAU menyeruak di antara orang-orang yang berbaris rapat. Berlapis-lapis. Menyikut kiri kanan hanya untuk melihat wajahnya dengan jelas. Dari jarak pandang yang terdekat. Di pinggir lingkaran bambu.

Dan terang sudah. Kau lihat zirah yang menempel di tubuhnya sudah koyak. Dicabik-cabik para istri yang kalap dan marah karena cemburu di sepanjang jalan menuju tengah kota. Kain itu seperti tersampir begitu saja. Mungkin kain sebelumnya yang dikenakan perempuan ini sudah habis lumat di tengah jalan oleh luapan amarah dan diganti ala kadarnya untuk menutup malu bagi yang melihatnya. Hanya agar alim ulama yang menghadiri upacara kafarat tidak turut memikul dosa karena zina mata.

Kau memperhatikannya dalam-dalam. Dari ujung rambut yang menggerai berantakan hingga ujung kakinya yang terkelupas terpapas tanah batu keras sepanjang jalan penyeretan. Dan matamu berhenti di mulutnya. Kau melihat sesuatu di bibirnya. Seperti sepotong puding di bibir yang memerah darah. Dan di bibir yang mengunyah puding itu kaulihat sebarisan pawai kata-kata pilu dan lelah --juga terluka parah dari peperangan yang sedang dan masih berlangsung. Kaulihat kata-kata itu hendak melompat dari gerbang mulutnya yang luka. Tapi sederet pawai kata yang luka itu tercekat dan tertelan oleh riuh teriakan, sumpah serapah perempuan-perempuan mulia, istri-istri setia, dan gumaman ragu para lelaki pencicip di barisan paling belakang.

Walau batal melompat, kata-kata tak terkata itu bisa kaurasai getarannya dari tempatmu berdiri berdesak-desakan. Kata-kata itu mengembang dalam pori-pori bayangan, menyatu dengan riuh, mengambang bersama udara. Mungkin meledak gemuruh. Menjelma menjadi sebentuk irama-irama yang ganjil. Dan bisa jadi sebentuk derau kemabukan. Gumam aduh yang tercekat terpendam. Atau kesakitan yang genting.

Hingga kaulihat ketika separuh tubuhnya sudah tertanam sempurna, semua orang mengambil posisi melempar. Memungut batu-batu yang sudah disiapkan. Memilih-milih yang kalau bisa seukuran kepal supaya lontarannya tepat sasaran. Ini bukan upacara sunatan. Atau pasar reguler untuk jual beli. Atau pesta mauludan. Atau gerebek syawal. Ini adalah kerumunan perajam.

Tapi kau tak mengambil posisi yang sama. Bersama-sama mengepal batu. Kau takut. Kau merinding. Kau ingin seperti Isa, maju memeluknya yang sedang terpacak kuat di bambu dengan tubuh setengah tertanam. Melindunginya di balik lenganmu. Ingin menjadikan tubuhmu zirah untuknya, sebagaimana perlindungan Isa kepada perempuan pelacur Magdalena. Semacam baju perang Imam Ali di Perang Tabuk.

Tapi segera kausadar bahwa ini bukanlah permainan debus. Tubuhmu tak punya nyali dan kekebalan untuk menghalau derau batu yang datang seperti guyuran bandang.

Dan seonggok tubuh yang terikat dan tertanam separuh itu, seperti tak butuh pertolonganmu. Atau siapa pun yang bermimpi jadi pahlawan di tubir kematian. Sebab dibibirnya, kau lihat teraut seruas senyum. Sangat tipis senyum itu sehingga tak mungkin tertangkap mata siapa pun yang sedang marah. Mungkin itu karena puding yang terkunyah dan belum tertelan habis. Atau bisa jadi ekspresi yang paling genting berduel dengan kematian di hadapan warga dan kadet kota yang kalap. Ataukah puding di mulutnya itu yang membuatnya begitu kuat menghadapi dukacita. Dan dukacita yang paling menyesap di hatinya adalah bahwa hingga kematian menjelang, dia belum juga dikaruniai buah hati dari sumbangan cairan para lelaki pelafaz nama-nama indah Tuhan yang sudah dicucupnya.

Dan tubuh itu pun terkulai setelah dua pertiga jam berada dalam drama pelemparan yang mencekam. Darah berceceran di mana-mana. Di atas tumpukan batu-batu yang tajam mengoyak. Cabik-cabik daging yang meloncat dari raga berburai di atas tanah. Berbaur bersama peluh para perajam yang kelelahan menghujaninya dengan batu.

Dan kau hanya menyaksikan itu semua dengan tangan menutup muka. Seperti mata yang tak rela melihat darah mengucur. Tak lama berselang kau pun berlalu bersama berlalunya yang lain-lain. Tapi tidak kembali ke rumah, tapi menuju kuburan perempuan jalang itu. Ingin melihat apakah puding di mulutnya dibawanya serta.***

Minggu, 27 Februari 2005

MOKSA

Cerpen Putu Wijaya

Telepon berdering di kamar praktik dokter Subianto. Dokter yang sedang menyanyi-nyanyi sambil memeriksa pasiennya itu, mengangkat telepon.
"Hallo, ini pasti kamu Moksa!"
"Bener, Pak."
"Kamu kan janji mau pulang. Jam begini kamu kok belum datang?"
"Moksa tidak jadi pulang."
"Lho, kenapa? Kamu bilang kamu butuh duit untuk beli kado buat teman baik kamu itu."
"Pokoknya tidak jadi. Dan Moksa tidak jadi pulang. Mau langsung ke pesta ulang tahun kawan itu."
"Lho, katanya kamu tidak punya uang untuk beli kado!"
"Udah beres!"
"Beres gimana! He Moksa, Ibu kamu minta diantarkan makan di Planet Hollywood."
"Tidak bisa Pak. Besok aja. Moksa pulang besok, Minggu."
"Tapi kamu kan butuh duit..."
"Udah ya Pak. Selamat malam Minggu sama Ibu. Besok Moksa pulang!"
"Tunggu!"
"Tidak bisa, ini coinnya sudah habis."
Telepon putus.
Dokter Subianto tertegun. Kelihatannya kesal. Dia menghampiri pasiennya dan tanpa ditanya lantas ngomong.
"Anak-anak sekarang memang lain dengan kita dulu," katanya sambil meneruskan menelusuri tubuh pasiennya dengan stetoskop.
"Kenapa, Dok?"
"Itu anak saya yang indekos di Depok supaya dekat sekolahnya, pulangnya hanya sebulan sekali. Ini ibunya sudah rindu setengah mati, tapi dia nggak jadi pulang. Padahal kemaren merengek-rengek minta uang bulanannya ditambahin 100 ribu, sebab ada kawannya yang ulang tahun. Saya bilang boleh saja, asal jelas untuk apa, tetapi harus pulang dulu! Sekarang dia tidak mau pulang. Dia cuma mau uangnya. Akibat iklan-iklan tv, anak-anak sekarang memang jadi mata duitan semuanya. Oke. Sudah. Anda sudah tokcer. Anda sudah boleh melakukan apa saja dan makan apa saja sekarang, asal jangan berlebihan seperti pejabat-pejabat yang KKN itu!"
Pasien mengucapkan terima kasih, lalu pergi keluar. Dokter Subianto kembali menggumankan lagu kegemarannya. Langgam Melayu Seroja ciptaan almarhum S. Effendie.
"Mari menyusun, bunga Seroja......"
Pintu belakang terbuka. Kepala istrinya nongol.
"Moksa nelpon ya?"
Dokter menarik napas panjang.
"Ya. Tapi dia tidak bisa pulang. Tetap saja urusannya sendiri yang lebih penting. Kita memang sudah dia tinggalkan. Ini memang nasib semua orang tua. Uang sakunya harus dikurangi lagi, supaya dia terpaksa pulang."
Istri dokter masuk. Dia tampak sangat gembira. Dokter Subianto jadi heran.
"Kenapa kamu gembira sekali, padahal kamu harusnya marah besar sebab tidak jadi ke Planet Hollywood, sebab tidak ada yang mengantar, karena aku juga tidak bisa membatalkan pertemuanku dengan dokter Faizal malam ini di rumahnya!"
Istri dokter Subianto duduk di kursi.
"Aku bisa ke Planet Hollywood kapan saja. Tidak pergi juga tidak apa. Aku sudah cukup senang dengar apa yang diceritakan Moksa di telepon tadi."
"O jadi dia sudah menelpon kamu sebelum menelpon aku? Anak-anak memang semuanya lebih cinta kepada ibunya daripada papanya."
"Bukan begitu. Dia tahu kamu lagi praktek, jadi dia ceritakan saja kepadaku. Nah sekarang aku menceritakan kepada kamu."
"Apa lagi apologinya kali ini?"
"Bukan apologi."
"Apa lagi rayuannya kali ini supaya kamu tidak marah dan menyediakan duit 100 ribu besok, karena dia sudah pinjam dari temannya, sebab itu memang lebih praktis daripada pulang naik bus yang kumuh, sesak dan panas. Ah anak-anak sekarang memang sulit dilatih prihatin. Maunya enak. Ini gara-gara gaya hidup wah yang sudah dipompakan oleh televisi dan majalah-majalah wanita!"
Istri dokter Subianto tersenyum saja. Sekali ini ia tidak mencoba mendebat suaminya. Ia menunggu sampai lelaki itu tenang. Lalu sambil tersenyum bangga ia bercerita.
"Anakmu Moksa sudah melakukan sesuatu yang amat mengharukan hari ini," kata wanita itu dengan mata berkaca-kaca. "Dia sama sekali tidak meminjam uang temannya untuk beli kado. Tapi dia berusaha dengan cucur-keringatnya sendiri. Dan kamu pasti akan terkejut kalau mendengar apa yang sudah dikerjakannya untuk mendapatkan uang."
Tiba-tiba wanita itu tidak dapat menahan emosinya. Ia menangis, tetapi bukan sedih. Tangis haru karena gembira. Dokter Sugianto jadi berdebar-debar.
"Apa lagi yang dilakukan oleh Moksa? Dia mencuri?"
Nyonya dokter berhenti menangis.
"Masak mencuri!"
"Habis apa? Kamu kok menangis?"
"Aku menangis karena terharu."
"Kenapa terharu?"
"Sebab anakmu ngamen di dalam bus!"
"Apa?"
"Ngamen!"
Dokter Subianto tertegun. Tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Dan tambah tak percaya lagi ketika istrinya menambahkan.
"Dan dia menyanyikan lagu Seroja kegemaranmu itu di dalam bus dengan gitarnya. Banyak orang terharu. Suaranya kan memang bagus dan main gitarnya pinter. Tak tersangka-sangka ia bisa mengumpulkan banyak, karena orang-orang itu memberinya dengan senang hati."
Dokter Subianto tak mampu bicara apa-apa. Ia ikut terharu. Anak yang selalu dikhawatirkannya sudah hampir sesat karena pergaulan metropolitan, ternyata masih lempeng. Bahkan mampu berdikari mencari duit dengan ngamen. Itu memerlukan keberanian dan ketekunan. Tidak sembarang orang akan mampu berbuat seperti itu. Itu harus dibanggakan.
Pintu kamar praktek terbuka. Zuster yang membantu mengatakan di depan masih ada satu pasien lagi hendak masuk. Istri dokter menghapus air matanya lalu diam-diam masuk ke dalam. Waktu itu dokter Subianto tak mampu menahan kucuran air matanya. Ia cepat berpaling ke sudut dan menghapus rasa haru itu.
Ketika Subianto berbalik dan berhasil menenangkan perasaannya, di depan mejanya sudah duduk pasien. Orangnya hitam kurus, pakai rompi hitam dan nampak amat kesakitan. Setelah diperiksa ternyata ia memiliki benjolan merah di dada kanannya. Dokter Subianto memperkirakan itu semacam tumor lemak. Ia cepat menulis resep.
"Dalam tiga hari, kalau tidak ada perbaikan, cepat datang lagi kemari. Mungkin memerlukan perawatan lain. Tapi kalau sudah mendingan, teruskan minum obatnya sampai habis. Ini ada 4 macam."
Subianto menyerahkan resep itu. Pasien melihat ke atas resep lalu memandang ke dokter seperti bimbang.
"Kok banyak sekali Dokter?"
"Bisa diambil separuhnya saja dulu."
"Ini kira-kira berapa Dokter?"
"Ya mungkin sekitar seratus ribu. Sekarang obat-obatan memang mahal sekali."
Lelaki itu tertegun. Dokter Subianto heran.
"Kenapa?"
"Saya tidak punya uang Dokter. Bahkan saya juga tidak punya uang lagi untuk bayar Dokter. Tadi di dalam bus waktu kemari, saya ketemu dengan seorang anak muda. Kelihatannya lagi susah. Karena ia duduk di samping saya, saya tanyakan apa sebabnya. Ia mengatakan bahwa ia tidak punya uang untuk beli kado, buat teman baiknya. Saya katakan kepada dia, bahwa kado itu bukan tujuan dari ulang tahun. Kita datang dengan tangan kosong dengan hati bersih saja sudah cukup. Dia termenung mendengar apa yang saya katakan. Lalu saya menceritakan banyak hal, panjang lebar, karena saya lihat dia begitu sungguh-sungguh mendengarkan. Waktu turun, dia mencium tangan saya dan mengucapkan terima kasih. Saya tanyakan siapa namanya dan siapa orang tuanya. Tapi dia tidak mau menjawab. Namun saya yakin karena suaranya, tubuhnya, dan gerak-geriknya juga hidungnya anak itu....... anak Dokter. Maaf, Dokter punya anak yang tinggal di daerah Depok, bukan?"
Dokter Subianto terkejut.
"Ya, anak saya Moksa, indekos di situ."
"Dia memiliki tahi lalat di mata kanannya?"
"Ya betul."
"Maaf, kalau tidak salah, kidal?"
"Betul."
Pasien itu termenung. Ia kelihatan susah ngomong.
"Kenapa? Bapak kesakitan?"
Pasien itu seperti tak mendengarkan kata dokter, dia terus bercerita.
"Waktu saya mau bayar bus, saya baru sadar, dompet saya sudah hilang. Semua uang saya untuk berobat ada di dalamnya. Saya bingung. Tapi karena sakitnya bukan main, saya teruskan saja kemari. Jadi begitu Dokter. Maaf, apa saya bisa membayar Dokter lain kali saja?"
Dokter Subianto tercengang.
"Jadi, anak saya itu sudah mencopet Bapak?"
"Anak Bapak? Benar dia anak Dokter?"
"Maksud saya, anak itu. Anak itu sudah mencopet Bapak?"
"Saya tidak tahu. Mungkin tidak."
"Berapa isi dompet Bapak?"
"Seratus ribu."
Dokter Subianto termenung beberapa lama. Kemudian dia bergegas membuka laci mejanya. Mengeluarkan 100 ribu dan memberikan kepada orang itu.
"Ini. Tebuslah resep itu."
Orang itu tercengang. Nampak agak malu.
"Pak Dokter meminjami saya uang?" tanyanya seperti tidak percaya.
Dokter Subianto menggeleng. Ia mengajak orang itu ke pintu.
"Tidak. Bapak tidak perlu mengembalikan, pakai saja uang itu untuk menebus resep. Saya justru minta maaf atas kelakuan anak saya. Moksa memang nakal. Saya akan memberi dia peringatan keras. Sekali lagi minta maaf. Kalau ada yang perlu saya bantu, datang saja jangan ragu-ragu."
Dokter Subianto membuka pintu dan mempersilakan.
"Selamat malam."
Orang itu nampak seperti merasa bersalah. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi Subianto cepat menutup pintu. Lalu menjatuhkan badannya di kursi sambil memukul meja.
"Bangsat!"
Untung tidak ada pasien lagi. Konsentrasi Subianto sudah buyar. Begitu selesai praktek, ia menceritakan secara sekilas apa yang sudah terjadi pada istrinya. Tanpa mendengarkan komentar istrinya, ia langsung masuk ke mobil, menuju ke rumah pondokan Moksa di Depok.
Subianto terpaksa menunggu di ruang tamu, karena Moksa baru saja berangkat ke pesta. Ia menghabiskan 5 gelas teh, karena perasaannya tak menentu. Tengah malam Moksa baru muncul. Anak itu juga nampak heran melihat papanya sudah menunggu.
"Kan saya bilang besok pulangnya, Pak?"
Subianto menyembunyikan kemarahannya dengan senyuman.
"Ibumu tidak bisa menunggu sampai besok. Kamu harus pulang sekarang."
Moksa terpaksa ikut. Dengan muka agak mengantuk, ia duduk di mobil di samping bapaknya. Ketika ia hampir saja tertidur, bapaknya mulai bicara.
"Bapak dengar kamu sudah ngamen tadi untuk dapat beli kado."
"O Ibu udah cerita?"
"Ya. Dapat berapa?"
"Lumayan. Yang penting kan bukan kadonya tetapi kehadirannya."
"Jadi kamu menyanyikan lagu Seroja di dalam bus?"
Moksa tersenyum.
"Bener kamu menyanyikan lagu Seroja?"
"Ya bener dong, masak tidak."
Subianto mengangguk.
"Di antara yang memberi kamu uang, ada lelaki pendek hitam dan memakai rompi hitam?"
Moksa mengerling.
"Kok Bapak tahu?"
"Ibu kamu menceritakan semuanya."
"Tapi Moksa tak menceritakan tentang orang itu."
"O ya?"
"Moksa hanya bilang, orang-orang di dalam bus itu heran sebab Moksa ngamennya lain. Kok pakai lagu Seroja. Mereka tertarik dan menanyakan apa Moksa pengamen betulan? Moksa jawab tidak. Cuma iseng. Kebetulan kurang duit buat beli kado untuk temen. Ee tahunya semua pada bersimpati, lalu ngasih. Kecuali Bapak itu."
"Bapak yang mana? Yang pakai rompi hitam?"
"Bapak kok seperti paranormal, tahu aja. Ya, dia pakai rompi hitam. Dia paling menikmati lagu Moksa tapi nggak mau ngasih duit."
"O ya? Dia tidak ngasih apa-apa?"
"Nggak. Nggak ngasih apa-apa. Tapi untuk menghargai perhatiannya pada lagu Moksa, Moksa menyanyikan lagu itu sekali lagi khusus untuk dia. Lalu dia memanggil Moksa. Katanya, itu lagu nostalgianya. Moksa juga bilang itu lagu nostalgia Bapak. Lantas dia nanya siapa sebenarnya Moksa. Ya Moksa terus terang saja, Moksa ini anak dokter Subianto. Dia manggut-manggut. Dia terus mendesak supaya Moksa mnceritakan tentang Bapak. Ya Moksa cerita seadanya saja, semuanya. Lama juga kami ngobrol. Kami salam-salaman sebelum pisah. Moksa terus ngamen sampai capek, karena rasanya enak dapat uang karena cucur keringat sendiri, makanya kagak jadi pulang."
Dokter Subianto tertegun. Ia menghentikan mobil.
"Kenapa Pak? Ngantuk?"
Subianto menggeleng.
"Nggak. Aku hanya terkejut."
"Kenapa?"
"Karena Bapak kira Bapak ini cerdik, ternyata dengan gampang ditipu orang."
"Ditipu bagaimana?"
"Dikerjain. Melayang seratus ribu rupiah dalam sekejap!"
"O ya? Kok bisa?"
Dokter Subianto menarik napas panjang, lalu menceritakan apa yang sudah terjadi di kamar praktek sore itu. Moksa mendengar dengan penuh perhatian.
"Jadi orang itu datang ke ruang praktek Bapak?"
"Ya. Karena dia tahu data-data kamu, dia datang dengan begitu meyakinkan. Dia menjual cerita bohong dengan begitu lihai, sehingga Bapak kehilangan 100 ribu. Habis dia bilang, dia tergugah mendengar cerita kamu. Masak anak dokter kok ngamen. Lalu dia mengeluarkan uang dari koceknya dan memberi kamu 100 ribu. Padahal uang itu mestinya untuk beli obat. Bapak jadi merasa tak enak. Akhirnya Bapak terpaksa mengganti 100 ribunya. Dia berhasil menipu Bapak dengan mempergunakan data dari kamu. Itu pasti penjahat profesional. Sebelum melakukan kejahatannya, dia pasti sudah menyelidiki kita. Dia tahu siapa kamu dan siapa Bapak. Kalau tidak, dia tidak akan berhasil menipu dengan selicin itu. Dunia ini sudah penuh dengan kejahatan sekarang. Bapak harus lebih waspada sekarang. Kamu juga harus hati-hati."
Moksa terdiam. Ia nampak memikirkam dalam-dalam. Lalu Subianto menghidupkan mesin kembali. Mobilnya meluncur seperti kesetanan. Di rumah ia hampir saja menubruk pagar.
Istri dokter Subianto memeluk Moksa begitu mereka sampai.
"Kamu anak hebat. Ternyata kamu bisa mandiri, kalau kamu mau. Ibu bangga sekali pada kamu!"
Subianto cepat-cepat pergi ke kamar studinya. Kalau sedang senewen, ia suka tidur di situ menyepi. Tanpa salin pakaian, ia berbaring. Kecewa karena merasa sudah gagal mendidik anak. Ia menyesali dirinya karena terlalu sibuk. Kenapa ia dulu memilih jadi dokter, padahal ia tahu dokter sepanjang hari sibuk, tak akan sempat memperhatikan anak. Mestinya dia jadi seniman saja, supaya bisa menemani anak 24 jam. Mestinya ia tidak membiarkan Moksa indekos di Depok, supaya bisa diawasi terus. Sekarang sudah terlambat.
"Kini sudah waktunya. Aku harus, harus, harus, harus bicara pada Moksa secara blak-blakan, serius, dan keras. Kalau tidak, akan terlalu terlambat!" bisiknya dengan geram.
Sampai subuh, Subianto tak bisa memincingkan matanya. Tapi baru saja lelap sebentar, istrinya muncul membangunkam. Ternyata hari sudah pukul sebelas siang.
"Moksa sudah menunggu kamu sejak tadi. Dia ingin bicara. Kelihatannya serius sekali," kata istrinya.
Subianto duduk lalu memberi isyarat supaya Moksa disuruh masuk. Perempuan itu berbalik lalu memberi isyarat pada anaknya yang sudah sejak tadi menunggu di pintu. Dengan anggukan rahasia Subianto minta supaya istrinya pergi.
"Selamat siang, Pak. Bapak nggak ke kantor?"
"Selamat pagi Moksa. Bapak kurang enak badan. Kamu mau bicara dengan Bapak?"
"Ya."
Subianto memandangi Moksa tajam.
"Apa lagi? Mau menuntut kenaikan uang saku?"
"Tidak."
"Tidak? Lalu apa?"
Moksa terdiam.
"Ada apa Moksa?"
Moksa menunduk. Setelah diam beberapa lama, ia berbisik. Suaranya hampir tidak kedengaran.
"Pak, kenapa Bapak percaya pada Moksa?"
Giliran Subianto yang terkejut.
"Maksudmu apa?"
"Kata Bapak, Bapak sudah ditipu oleh pasien yang mengaku memberi Moksa uang seratus ribu itu!?"
"Betul."
"Berarti, Bapak percaya pada Moksa, dong!"
Subianto terdiam. Dadanya berdetak keras.
"Kenapa Bapak tidak percaya kepada orang itu?"
Subianto mengalihkan pandangan. Itu pertanyaan yang sulit.
"Kenapa Pak?"
Subianto menghela napas.
"Karena kasihan?"
"Tidak. Kenapa kasihan?"
"Kalau begitu kenapa?"
"Karena aku percaya kepada kamu, Moksa."
Moksa termenung beberapa lama.
"Jadi Bapak lebih percaya kepada Moksa?"
"Ya dong!"
"Jadi masih percaya?"
Subianto menarik napas.
"Ya dong! Kenapa tidak?"
Moksa menunduk. Tiba-tiba ia menangis. Subianto sangat terkejut. Tapi ia berusaha menahan perasaannya.
"Kamu menangis Moksa?"
Moksa mengangguk. Ia berusaha menahan isakannya.
"Kenapa kamu menangis?"
"Moksa malu, Pak."
"Malu? Kenapa?"
"Malu, karena Bapak masih percaya kepadaku."
Subianto terdiam. Moksa memaksa dirinya berhenti menangis. Lalu ia memandangi bapaknya.
"Moksa jadi malu sekali, sebab Bapak masih percaya pada Moksa. Beri Moksa kesempatan satu kali lagi Pak. Moksa akan mengubah semuanya ini. Bapak mau memberi Moksa kesempatan?"
Subianto bingung. Ia tidak tahu apa yang lebih baik. Menjawab ya atau tidak. Akhirnya ia menjawab, seperti orang yang bingung.
"Tak ada yang harus dimaafkan. Kalau kamu nanti besar dan sudah punya anak, kamu akan tahu sendiri, di dalam keluarga tidak ada maaf, semuanya sudah diselesaikan dengan sendirinya. Karena kepada siapa lagi kita bisa berbuat kesalahan kecuali kepada orang tuamu yang menyayangimu?!"
Moksa nampak semakin tertikam. Tapi kemudian ia berdiri dan menghampiri bapaknya. Memegang tangan orang tua itu, lalu menciumnya.
"Maap Pak."
Subianto tambah bingung. Ia mengangkat tangan dan mengusap kepala Moksa. Anak itu menangis kembali.
"Terima kasih, Bapak masih percaya kepada Moksa. Tidak ada yang lebih berharga dari kepercayaan Bapak buat Moksa. Moksa akan berusaha baik lagi, Pak. Moksa pergi sekarang, Pak, ada banyak PR. Moksa tidak mau ketinggalan lagi. Jangan katakan sama Ibu, ya Pak!"
Subianto mengangguk, lalu membarut kepala Moksa. Kemudian mencium kening anak yang cakep tapi badung itu. Moksa menangis lagi. Ia memeluk bapaknya erat-erat, kemudian cepat-cepat hendak pergi ketika terdengar suara pintu terbuka. Tapi ibunya keburu masuk.
Istri Subianto yang masuk karena mendengar suara tangis, terkejut karena tiba-tiba anak itu memeluk.
"Ibu, Ibu punya seorang suami yang hebat. Moksa ternyata punya Bapak yang hebat. Moksa balik dulu sebab banyak urusan. Nanti Moksa nelpon lagi. Kapan-kapan Moksa anterin Ibu ke Planet Hollywood. Moksa yang akan traktir dengan hasil ngamen."
Tak menunggu jawaban, Moksa mencium pipi ibunya, lalu bergegas keluar. Wanita itu hendak memburu keluar, tetapi Subianto memberi isyarat.
"Jangan, biar saja dia pergi."
Perempuan itu bingung.
"Tapi, kamu kemaren bilang, ini sudah terlalu berbahaya."
Subianto menggeleng.
"Kita harus memberi dia kepercayaan."
"Tapi...mungkin dia perlu uang!"
Subianto menggeleng.
"Kepercayaan adalah segala-galanya. Itu lebih penting dari uang!"
Wajah perempuan itu nampak semakin bingung. Ia mendekati suaminya, lalu mengembangkan tangannya. Di atas tangan itu Subianto melihat bungkusan plastik dengan bubuk jahanam.
"Aku temukan ini di kamar mandi. Moksa pasti kelupaan."
Dokter Subianto bergetar melihat barang-barang jahanam itu. Tetapi ia mencoba tenang. Hanya saja matanya tidak kuat. Nampak tetes air mata dari kedua mata yang sudah banyak diterpa kesedihan itu.
"Kita harus percaya dan menyerahkan dirinya kepada dirinya. Dialah yang paling bisa menjaga dirinya sendiri. Kita harus berhenti jadi polisi dengan memberinya kepercayaan. Inilah harapan kita sekarang, setelah semuanya gagal!" bisiknya sambil mencampakkan benda laknat yang sudah menghancurkan Moksa itu.
"Kita lawan semua ini dengan kepercayaan."
"Tapi apa bisa hanya dengan kepercayaan, Pa? Moksa sudah parah!"
"Kamu kira aku percaya pada semua ini? Tidak, Bu. Aku juga tidak percaya. Tapi kita harus percaya. Kita harus percaya Moksa akan bisa melawan itu semua. Dengan memberinya kepercayaan kita akan membantu ia keluar dari persoalannya. Harus, betapa pun kita tidak percayanya. Harus Bu!"
Istri Subianto terdiam, sementara Subianto sendiri berusaha melawan dirinya sendiri. Ia tahu kepercayaan itu baru bisa bekerja, kalau dia sendiri juga terlebih dahulu percaya. ***