Pages

Minggu, 03 Juli 2005

Batu Domino yang Beradu

Cerpen Marhalim Zaini

Lebih baik jadi kuli di negeri sendiri.
Setelah segalanya seperti menyusut ke dalam gelap, dan menghadirkan bintik-bintik cahaya lampu, serupa ratusan bintang yang terapung di sepanjang pelabuhan, di sinilah surga mereka. Di mana lagi, selain kedai kopi tempat mereka kembali, tempat (seolah) mereka menemukan sebuah keluarga. Surga dapat dibangun di mana saja, dan dihuni oleh siapa saja, pikir mereka.

Keluarga adalah surga. Keduanya ada saat kita membuatnya ada. Dan mereka selalu merasa menemukan keduanya. Tak ada yang benar-benar merasa kehilangan, saat batu-batu domino mulai beradu. Kehilangan adalah cerita lain, yang sengaja diasingkan. Ia tak boleh hadir saat kesulitan-kesulitan hidup bagai mendesak dalam setiap detik waktu yang berjalan setiap hari. Mereka kuli. Kesadaran sebagai kuli harus ditanamkan dalam-dalam, supaya tak berkesempatan perasaan-perasaan busuk singgah dan menggoda mereka untuk melakukan hal-hal yang buruk. Seorang kuli bukan seorang pencuri. Ini harus diyakini. Meski terkadang banyak mata yang memosisikannnya tak terlalu jauh berbeda. Tapi mereka tak ingin mengerti. Sebab tak cukup waktu untuk memahami dan mengerti tentang status, tentang kedudukan. Mereka merasa sebutan kuli sudah cukup memberi kepercayaan diri bagi mereka, dan itu lebih baik daripada seorang gelandangan atau pengangguran.

Lalu apa yang membuat status kuli menjadi tidak baik? Tidak ada. Ini negeri kuli. Di setiap sudut kota, di kampung-kampung, di mana pun, kuli jadi penghuni. Tidak percaya? Ribuan kuli di negeri jiran adalah akibat dari kemelimpahan kuli di negeri ini. Dan mereka, yang malam ini duduk membanting batu-batu domino di atas meja kedai kopi, tidak memilih jadi kuli di negeri orang. "Lebih baik jadi kuli di negeri sendiri," umpat mereka, saat seorang kawan membawa oleh-oleh berupa bekas sabetan rotan yang menggaris di punggungnya. Mereka seolah tak hirau pada sejumlah kawan lain yang dengan semangat membara bersusah payah untuk bisa ikut menjadi kuli di negeri orang. Mereka hanya mencibir, "kalian tak malu jadi kuli di negeri orang?" Dan mereka pasti akan menutup telinga saat kawan-kawannya menjawab, "tak ada bedanya jadi kuli di negeri sendiri."

Dan malam, selalu jatuh tepat di pundak sungai ini, seperti seorang tua berjubah hitam, menyungkup kedinginan. Dan mereka, satu-satu datang, seperti bersepakat untuk bertemu, berkumpul di kedai kopi. Inilah saat pesta domino digelar. Membanting angka-angka keberuntungan. Teh telor, kopi ginseng, hemaviton, ekstrajoss, bir bintang, topi miring, ciu, kti, dan segala jenis minuman beralkohol adalah hidangan sebagai taruhan ringan. Dan percakapan adalah lintasan-lintasan pikiran yang tak jernih. Tak ada peristiwa yang selesai diperbincangkan dari mulut yang bau tuak. Mereka mengucapkan pukimak, pantek, tai, asu, dan sejenisnya, sebagai patahan-patahan emosi yang tak serius. Omong kosong, kebuntuan, ledakan, cemeeh, semua tak terencanakan. Yang tak terbiasa, dan datang dengan kejernihan yang normal, hanya akan mengotori telinga dan pulang dengan wajah yang memucat, dan segera menyadari bahwa ia asing dan terlihat aneh di lingkungan mereka. Dan percakapan yang tak selesai, acapkali harus diakhiri dengan perkelahian. Inilah egoisme yang sering muncul dalam kehendak untuk menang yang tak terkontrol. Gigi patah, muka lebam, lengan koyak, kepala bocor, hidung meler, adalah hal yang tak terhindarkan. Polisi ada, tapi menganggapnya biasa. Ia menjadi tradisi. Tidak akan pernah ada yang kalah, sebab setiap mereka merasa telah menang. Dan selesai. Malam berikutnya adalah surga, adalah keluarga. Mereka kembali, seperti batu-batu domino yang tak bosan untuk beradu…

Mungkin hidup yang dulu telah membuang mereka. Kini mereka sedang berada dalam pilihan hidup yang harus terlihat wajar sebagai sebuah keputusan yang tak salah. Mereka sengaja membuang jauh ingatan lampau seperti seseorang yang membuang sauh ke dasar laut. Orang tua, kakak, adik, abang, saudara-mara, adalah wajah-wajah yang tak seharusnya hidup dalam ingatan mereka saat ini. Sebab kehadiran wajah-wajah itu hanya akan membuat kebebasan terkekang, dan hanya kembali menegaskan perasaan akan kehilangan dan kekalahan. Ini memuakkan. Sama memuakkannya dengan wajah kampung-kampung tempat kelahiran mereka. Kampung yang membuat penghuninya merasa terbuang, merasa tak diperhitungkan. Dan anak-anak yang terlahir dari sana adalah anak-anak yang menderita ketakutan akan masa depan. Anak-anak yang setiap subuh bertelanjang dada, bermain congkak di bawah asuhan beruk-beruk di hutan karet. Anak-anak yang gemar memanjat batang kelapa, melebihi tupai. Anak-anak yang tahan berendam dalam lumpur gambut di akar-akar bakau berburu ketam atau siput. Anak-anak yang tiba-tiba telah tumbuh menjadi seseorang yang telah siap dipekerjakan untuk menjadi kuli, menjadi anak buah tongkang berlayar gelap ke negeri orang. Dan yang memuakkan inilah, yang kini harus ditanggungkan. Maka tertawalah. Seperti seseorang yang baru saja menemukan dirinya sedang mencapai puncak kebahagiaan. Dan malam, adalah rumah tempat mereka melepas tawa, sebebas-bebasnya. Sebebas batu-batu domino yang beradu…

Dan tak ada satu malam pun yang luput. Hari-hari kehilangan nama-nama. Di tepian sungai, kedai kopi seperti mereguk malam demi malam, dan membiarkannya berlalu. Dan mereka adalah orang-orang yang juga dengan sengaja membiarkan segalanya berlalu. Hidup seorang kuli adalah hidup yang terbatas. Mereka tak terlalu berkeinginan untuk merespons sesuatu yang sedang bergerak di luar mereka. BBM, korupsi, asap hutan, demonstrasi, amuk massa, tawuran antarsuku, penculikan, pembunuhan, kemiskinan, dan segala macamnya sudah terlampau akrab dalam telinga mereka. Dan kini tak ada urusan, selain menghitung keberuntungan dari angka-angka di batu-batu domino. Urusan di luar diri mereka adalah urusan di dunia lain. Mencampurinya hanya akan membuat mereka tak bisa bebas berpikir tentang bagaimana memenangkan taruhan saat bermain domino. Dan tentu, tak bisa membuat mereka bebas tertawa.

Tapi, apakah segala urusan memang benar-benar berada di luar diri mereka?
Seperti halnya yang terjadi pada malam ini. Seorang perempuan muda dengan perut yang membuncit, tiba-tiba datang tergesa-gesa dan memukulkan botol bir di kepala seorang kuli. Tak ada kalimat yang pantas, selain maki-hamun yang keluar berdenging dari mulut perempuan itu. Semua kuli di kedai kopi, tentu terpaksa berhenti tertawa. Sebuah urusan telah datang, dan masuk ke dunia mereka. Salah seorang kuli kini telah bocor kepalanya. Dan apa yang harus dilakukan oleh yang lain untuk urusan pribadi semacam ini? Sementara perempuan itu terus meracau meminta pertanggungjawaban, sambil entah berapa botol air mata pula yang tumpah berserakan di lantai kedai kopi. Seorang kuli yang bocor kepalanya, tentu timbul rasa malu, rasa kesenangannya terganggu, rasa kelelakiannya, egoismenya, yang bercampur dan beradu. Lelaki itu lalu menghayunkan baku tinjunya yang sebesar balok kayu mahang ke wajah perempuan hamil itu. Dan ia pergi, seperti seorang koboi yang baru saja melepaskan sebutir peluru dari pistolnya. Perempuan itu terkapar. Sebuah urusan telah membuat kedai kopi ini mulai menjadi neraka. Keluarga adalah neraka?

Malam berikutnya, seorang lelaki separuh baya, berbadan besar, tidak berkumis, datang membawa setumpuk kertas bon dan membantingnya di tengah salah satu meja di kedai kopi. Ada apa? Pastilah hutang. Ini urusan yang tak seharusnya datang saat malam belum lengkap memberikan kebebasannya. Seorang kuli yang merasa berhutang, seperti tak mampu menyembunyikan wajahnya dari yang lain. Dan tentu saja ini cukup menegangkan. Sementara di meja yang lain, batu masih terus beradu, tapi tanpa suara lengking tawa. Lelaki berbadan besar itu menghardik, melemparkan telunjuk ratusan kali tepat ke wajah seorang kuli. Lelaki mana yang tak naik darah saat dipojokkan di tengah banyak orang. Tapi ia memang telah berhutang. Dan hutang itu memang telah berkeliling pinggang. Dan rasanya butuh kekurangajaran yang lebih untuk bisa membalas hardikan lelaki berbadan besar ini. Tapi mulutnya kian terkunci. Tak ada kalimat yang mampu membentenginya dari semburan lelaki berbadan besar ini, selain sebuah tusukan pisau kecil di perutnya yang buncit itu. Dan darah kembali tumpah. Kuli berhutang itu bergegas pergi, seperti seseorang yang sedang terlambat untuk sebuah janji. Kedai kopi ini mulai ditumpuki sejumlah urusan.

Siapa yang menyangka jika malam berikutnya, seorang lelaki yang juga berbadan besar dan berambut cepak datang bergegas dengan seorang anak lelaki berumur sepuluh tahun. Malam ini kedai kopi kembali ricuh. Lelaki cepak itu langsung berteriak, "Mana kuli yang telah merampas uangmu, mana dia, mana!" Lelaki kecil berumur sepuluh tahun langsung menunjuk seorang kuli yang duduk merokok di sudut kedai. Tidak ada basa-basi, sebuah tendangan telak mengenai dada lelaki kuli itu. Dan karena melihat lawan sudah tampak terkapar, lelaki cepak pergi dengan menggeret tangan lelaki kecil, pergi seperti seorang pahlawan yang baru saja menunjukkan kehebatannya. Tapi siapa yang menyangka, jika keesokan siangnya, telah ditemukan seorang mayat anak lelaki berumur sepuluh tahun tersangkut di tiang pelabuhan. Dan kematian telah mengakibatkan kedai kopi ini berurusan dengan banyak hal. Para kuli kini harus mulai mengatakan bahwa mereka memang tak bisa terlepas dari segala macam urusan.

Sesuatu yang tak terduga pasti terjadi setelahnya. Tengoklah, puluhan orang berbondong-bondong dengan sebilah parang di tangan mereka. Orang-orang ini menjelma sebagai makhluk-makhluk yang beringas, menabuh genderang perang. Dan beruntunglah jika para kuli masih sempat memperpanjang nyawa mereka dengan berlari ke segala arah, melepaskan diri dari serangan segala urusan di luar diri mereka, yang rupanya kini tanpa disadari telah menjarah dan merangsek ke dalam tubuh mereka. Orang-orang merasa tak puas, karena tak seorang kuli pun yang berhasil mereka cincang, dan membawa serpihan dagingnya pada anak-anak mereka di rumah sambil mengatakan, "Ini kan orangnya yang telah mengganggu hidup kalian?" Ketidakpuasan itu harus dituntaskan dengan sesuatu yang lain. "Bakar! Bakar kedai kopi terkutuk ini!"

Siapakah yang paling merasa kehilangan?
Malam di tepian sungai ini, hanya sunyi yang jongkok di atas pepuing kedai kopi. Ia seperti seseorang yang jongkok menekur diri, sambil bergumam, "Tidak lebih baik menjadi kuli di negeri sendiri…"***
Pekanbaru, 2005

Marhalim Zaini, lahir di Teluk Pambang Bengkalis Riau, 15 Januari 1976. Rajin mempublikasikan karya-karyanya ke berbagai media massa, di antaranya Horison, Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Republika, Jurnal Puisi, Jawa Pos, dll. Empat bukunya yang telah terbit, Segantang Bintang Sepasang Bulan (kumpulan sajak, 2003), Di Bawah Payung Tragedi (kumpulan lakon, 2003), Tubuh Teater (kumpulan esai, 2004), dan Langgam Negeri Puisi (kumpulan sajak, 2004).

Sabtu, 25 Juni 2005

Mimpi Terindah Sebelum Mati

Cerpen Maya Wulan

RAMADHANI, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih dulu pergi darimu. "Mati muda," kataku datar. Dan kau selalu saja mengunci mulutku dengan cara mencium bibirku. Memutus kata-kataku yang menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada lagi ciuman seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku, sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.

Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua tertiupkan ke alam ini.

NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring. Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan kini, aku bermimpi.

Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering. Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?

Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. "Ayah harus ke luar negeri," kata ibuku padaku suatu malam.

"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk bekerja," sahut ayahku. "Ayah janji tidak akan pergi lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan kembali di sini."

Aku memasang wajah tak percaya, "Ayah janji?"
Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.

Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayah. Aku mulai menangis dan marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku, Ramadhani. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang lagi. "Ayah sudah terbang ke surga," katanya.

Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.

Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.

Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki di sebelahku, "Apa ayahku ada di sana?"

"Benar," jawabnya.
"Di mana?"
"Di langit ke tujuh."
"Apa kita bisa ke sana?" tanyaku tak sabar.
"Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" sahutku semangat.
"Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak, kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat."

"Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci angka-angka!" aku berteriak.
"Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang."
"Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun."
"Percayalah, kau akan menyukainya."
"Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?"
"Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang."
"Benarkah?"

Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang menjelma nada indah tersendiri bagiku.

"Apa kita bisa menghitung suara ini?" kataku menunjuk bunyi jantungku.
"Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai."
"Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?"
"Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati."
"Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?"
"Ya."
"Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?"
"Tentu saja."
"Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi," kataku pelan.
"Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya," jawab laki-laki itu.

"Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami."
"Bagaimana dengan temanmu, Ramadhani?"

Aku terhenyak. Ramadhani? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Ramadhani akan baik-baik saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Ramadhani, kalau setelah ini aku harus pergi, maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum matiku. Kataku dalam hati.

AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca. Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau takkan percaya, Ramadhani, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.

Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Ramadhani, menciumi bibirku ketika aku bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Ramadhani, lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.

Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, "Hei, itu kau, Ramadhani. Kau juga di sini?" tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku. Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?

Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total terengah-engah. Ini melelahkan, Ramadhani. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih menarik daripada menghitung langit atau bintang.

Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat membuatku tercekat.

Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya. Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, "Aku akan merindukan ciumanmu, Ramadhani." Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan hanya terus menangis. ***

Sidoarjo-Yogyakarta, 2004-2005

Senin, 20 Juni 2005

Ninochka

Cerpen Anton Chekhov

PINTU terbuka perlahan dan Pavel Sergeyevich Vikhlyenev, sahabat lamaku, muncul dari balik pintu. Meski masih muda ia penyakitan, terlihat tua, ditambah perawakannya yang berbahu tegap, kurus kering dengan hidung panjangnya. Benar-benar sosok yang tidak menarik! Namun, di sisi lain ia memiliki wajah yang ramah, lembut, juga tegas. Setiap kau memandang wajahnya kau akan berkeinginan untuk meraba dengan jari-jarimu, merasakan dengan sungguh-sungguh kehangatan yang dimilikinya. Seperti umumnya kutu buku, temanku dikenal sebagai orang yang pendiam, kalem, dan pemalu. Ditambah lagi saat ini wajahnya terlihat agak pucat dan sangat gelisah tak seperti biasanya.

"Ada apa denganmu, teman?" tanyaku sambil melirik wajahnya yang pucat dan bibirnya yang gemetar. "Kau sedang sakit atau ada masalah lagi dengan istrimu? Kau tak terlihat seperti biasanya!"

Dengan sedikit ragu Vikhlyenev mendehem dan dengan sikap putus asa ia mulai bercerita, "Ya, dengan Ninochka lagi. Aku sangat gelisah, tak bisa tidur semalaman, dan seperti yang kau lihat aku bagaikan mayat hidup. Kurang ajar, orang-orang bisa saja tak terganggu dengan masalah ini. Mereka menganggap enteng rasa sakit, kehilangan seseorang, dan terluka. Namun, hal sepele ini bisa membuatku kecewa dan tertekan."

"Tetapi, ada apa?"
"Sebenarnya hal yang sepele. Drama dalam sebuah keluarga. Namun, akan kuceritakan semuanya kalau kau berkenan untuk mendengarkannya. Kemarin Ninochka tak pergi keluar seperti biasanya. Ia merencanakan untuk menghabiskan sore bersamaku dengan tinggal di rumah. Tentu saja aku sangat bahagia. Dia selalu keluar untuk menjumpai seseorang, dan sejak itu aku selalu berada di rumah sendirian setiap malam. Kau bisa bayangkan betapa...yah…gembiranya aku saat itu. Namun, kau belum menikah. Jadi, kau belum bisa merasakan betapa hangat dan menyenangkan ketika kau pulang bekerja dan menemukan…ah istrimu sedang menunggu di rumah!"

Temanku, Vikhlyenev, memaparkan kehidupan pernikahan yang menyenangkan. Lalu ia menyeka keringat di dahinya dan kembali bercerita.

"Ninochka mengira akan menyenangkan menghabiskan malam bersamaku. Ya, kau tahu bukan, bahwa aku adalah orang yang sangat membosankan dan jauh dari cerdas. Takkan menyenangkan untuk jalan bersamaku. Aku selalu bersama dengan kertas-kertas kerja dan asap rokok. Aku bahkan tak pernah bermain keluar, berdansa, atau berkelakar. Dan kau pasti tahu benar bahwa Ninochka adalah orang yang menyenangkan. Juga masih sangat berjiwa muda. Bukankah begitu?

Ya, ah aku mulai menunjukkan hal-hal kecil, foto-foto serta hal lainnya. Aku juga menceritakan beberapa cerita…dan tiba-tiba aku teringat surat-surat yang aku simpan lama di mejaku. Beberapa surat tersebut isinya sangat lucu. Waktu aku masih sekolah aku punya teman yang pandai menulis surat. Jika kau membacanya maka perutmu pasti sakit karena tertawa terbahak-bahak! Kuambil surat itu dari dalam meja dan mulai membaca satu per satu untuk Ninochka. Pertama, kedua, ketiga, dan semuanya berantakan. Hanya karena satu surat di mana ia membaca kalimat "salam manis dari Katya". Istriku yang cemburu itu kalimat-kalimatnya seperti pisau yang tajam dan Ninochka seperti Othello dalam pakaian wanita!

Pertanyaan-pertanyaan yang tak menyenangkan memenuhi kepalaku: siapa Katya, bagaimana dan mengapa, kucoba terangkan pada Ninochka bahwa dia adalah masa laluku, cinta pertama pada masa mudaku, sangat mustahil melekat di ingatanku karena tak ada yang penting untuk diingat. Setiap orang di masa mudanya memiliki seorang "Katya". Itu kataku mencoba menjelaskan pada Ninochka dan sangat mustahil jika seseorang tak memilikinya. Namun, Ninochka sama sekali tak mau mendengarkan. Ia membayangkan yang tidak-tidak! Dan mulai menangis dengan histeris.

’Kau sangat jahat!’ ia menjerit, ’Kau menyembunyikan masa lalumu padaku! Mungkin saja kau juga memiliki seseorang seperti Katya saat ini dan kau menyembunyikannya padaku!’ Aku coba dan terus mencoba meyakinkan padanya, namun ia sama sekali tak mendengar. Logika laki-laki memang tak akan berguna untuk seorang wanita. Akhirnya aku berlutut memohon maaf. Aku membungkuk dan kau tahu yang dia lakukan? Ia pergi ke kamar dan membiarkanku di sofa ruang kerja. Pagi itu ia sinis padaku, tak mau melihatku dan bicara seakan aku ini orang asing. Dia mengancam akan pulang ke rumah ibunya dan aku yakin dia akan melakukannya. Aku tahu dia!"

"Oh, bukan cerita yang menyenangkan."
"Wanita memang tak bisa dimengerti, ya. Ninochka masih muda, masih hijau, dan sensitif. Tak bisa dikejutkan oleh sesuatu yang meskipun sangat sederhana. Begitu sulitkah memaafkan meski aku telah sangat memohon, aku telah berlutut padanya, bahkan aku menangis!"

"Ya, ya, wanita memang sebuah teka-teki yang sangat sulit!"
"Teman, kau punya pengaruh besar bagi Ninochka. Dia sangat menghormatimu. Dia memandangmu sebagai orang yang berwibawa. Tolong, temuilah dia! Gunakan pengaruhmu untuk mengatakan bahwa apa yang dipikirkannya itu salah. Aku sangat menderita. Jika ini terus saja berlangsung aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Tolonglah!"

"Tapi, apakah ini tepat?"
"Mengapa tidak? Kau dan dia berteman sejak kecil. Dia percaya padamu. Sebagai teman, tolonglah aku!"

Tangisan dan permohonan Vikhlyenev menyentuh hatiku. Dengan segera aku berpakaian dan menemui istrinya. Kutemui Ninochka di tempat favoritnya: duduk di sofa dengan kaki menyilang, mengedipkan matanya yang indah dan sedang tidak melakukan apa-apa. Ketika aku datang ia segera meloncat dan berlari padaku. Memperhatikan sekeliling, menutup pintu, dan dengan gembira memeluk leherku. (Pembaca, tentu saja ini tidak salah ketik. Dalam setahun ini, aku telah berhubungan intim dengan istri Vikhleyenev).

"Pikiran jahat apa yang ada dalam pikiranmu sekarang?" tanyaku sembari mendudukkan Ninochka di dekatku.
"Apa maksudmu?"

"Lagi-lagi kau menyiksa suamimu. Ia datang padaku dan menceritakan semuanya."
"Oh… rupanya dia menemukan orang untuk mengadu!"

"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Ah, tidak begitu penting. Aku sedang bosan semalam dan merasa kesal karena tak tahu harus pergi ke mana. Karena rasa jengkel aku mulai meracau tentang ’Katya’. Aku mulai menangis karena rasa bosan, jadi bagaimana aku bisa menjelaskan kepadanya?"

"Tapi, kau tahu sayang. Itu sangat jahat dan tidak manusiawi. Dia sangat takut dan terganggu dengan ulahmu."
"Ah, itu hal yang sepele. Dia sangat suka ketika aku berpura-pura cemburu, tak ada yang lebih bagus selain berakting cemburu. Tapi, sudahlah! Lupakan saja. Aku tidak suka kita membicarakan hal ini, aku sudah menyerah. Kau mau minum teh?"

"Tapi sayang, berhentilah menyiksa dia. Kau tahu bukankah dia terlihat sangat menyedihkan. Dia menceritakan semuanya padaku, bahwa dia benar-benar jatuh cinta padamu dan itu sangat tidak mengenakkan. Kontrol dirimu! Tunjukkan kasih sayangmu. Satu kalimat omong kosong akan membuatnya sangat bahagia."

Ninochka cemberut dan merengut, namun beberapa saat ketika Vikhleyenev datang dengan keraguan yang tergambar jelas di mukanya, Ninochka tersenyum dan menunjukkan kasih sayang padanya.

"Kau datang di saat yang tepat, waktunya minum teh," ujar Ninochka pada suaminya, "Pintar sekali kamu sayang. Tak pernah datang terlambat. Kau mau dengan jeruk atau susu?"

Vikhleyenev yang tak mengira akan disambut seperti itu, perlahan-lahan mendekati istrinya. Mencium tangan Ninochka dengan hangat serta merangkulku. Pelukan yang aneh dan sangat cepat, membuat aku dan Ninochka menjadi malu.

"Berkatilah sang pencipta kedamaian!" teriak sang suami yang bahagia. "Kau telah membuat ia mau mengerti. Mengapa? Karena kau memang laki-laki sejati. Bisa bergaul dengan banyak orang dan kau tahu titik kelemahan wanita. Hahaha…aku bodoh sekali! Ketika hanya satu kata yang diperlukan, aku menggunakan sepuluh kata. Ketika hanya harus mencium tangan istriku, aku melakukan hal lain. Hahaha…"

Setelah minum teh Vikhlyenev memintaku untuk ke kamar kerjanya. Menahanku berbicara dan dengan suara lirih ia berucap, "Aku tak tahu bagaimana berterima kasih padamu, teman. Aku sangat menderita dan tersiksa. Namun, kini aku luar biasa bahagia, dan ini bukan pertama kalinya kau menolongku dari masalah yang mengerikan. Teman, kumohon jangan menolak jika aku ingin memberimu…ini! Lokomotif mini yang kubuat sendiri, aku mendapatkan penghargaan atas penemuan ini. Ambillah sebagai rasa terima kasihku, juga sebagai tanda pertemanan kita. Terimalah demi aku!"

Dengan berbagai cara aku menolak pemberian tersebut, namun Vikhlyenev terus-menerus memaksaku. Mau tidak mau aku harus menerima hadiah yang sangat berharga itu.

Hari, minggu, bulan pun berlalu. Cepat atau lambat keburukan akan tersingkap dan diketahui olehnya. Ketika tanpa sengaja Vikhlyenev tahu akan semua kebenaran tentang aku dan istrinya ia sangat terkejut, pucat, terduduk di sofa dengan pandangan kosong ke langit-langit tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ekspresi sakit hati diungkapkannya dengan bahasa tubuh. Ia berpindah dari satu sofa ke sofa lain dengan perasaan yang sangat menderita sekali. Gerak-geriknya dipengaruhi oleh kesedihan.

Seminggu kemudian, setelah menenangkan pikiran karena berita yang amat mengejutkan tersebut, Vikhlyenev datang menemuiku. Kami berdua saling menghindar dan jengah. Aku mencoba berceloteh tentang kebebasan cinta, egoisme hubungan perkawinan, dan takdir yang tak bisa dielakkan.

"Bukan itu yang ingin kubicarakan," katanya memotong, "Tentang hal itu aku sangat mengerti. Membicarakan perasaan siapa pun tak bisa disalahkan. Yang aku khawatirkan adalah hal lain. Hal yang sebenarnya tak berarti. Kau tahu sendiri, aku sama sekali tak mengerti tentang hidup, di mana kehidupan yang sebenarnya, dan kebiasaan masyarakat yang harus diperhatikan, misalnya. Aku orang yang benar-benar belum berpengalaman. Jadi, tolonglah teman! Katakan padaku apa yang harus dilakukan Ninochka sekarang? Tinggal bersamaku atau dia harus pindah bersamamu?"

Dengan kepala dingin kami membicarakan hal tersebut dan akhirnya kami menemukan jalan tengah. Ninochka tetap tinggal bersama suaminya, dan aku bisa menemuinya kapan pun. Karenanya, ia memakai kamar yang ada di pojok yang dulunya adalah gudang. Kamar itu agak gelap dan lembab, pintu kamarnya berhubungan langsung dengan dapur. Namun, pada akhirnya Vikhlyenev menembak dirinya sendiri tanpa menyusahkan orang lain. ***
1885
(Diterjemahkan oleh Nunung Deni Puspitasari dari Anton Chekhov Selected Stories, The New American Library of World Literature, Second Printing, August 1963)

Minggu, 12 Juni 2005

Lelaki dengan Bekas Luka di Jidatnya

Cerpen Sunaryono Basuki Ks

Lelaki yang duduk tepekur di atas kursi malas yang diletakkan di kebun bunga dengan halaman tertutup rerumputan hijau lembut itu adalah seorang pemburu yang terkenal mahir menggunakan senapannya. Tak ada suara anak-anak di rumah itu sebab mereka semuanya, kecuali si bungsu, sudah pergi meninggalkannya mencari rezeki di kota-kota yang jauh, bahkan di sebuah pengeboran minyak lepas pantai di wilayah Ceram.

Mereka adalah anak-anak yang dulunya sangat rajin belajar dan berhasil menyelesaikan studi mereka di universitas-universitas terkenal. Putut, yang tertua, yang dulunya bekerja di pengeboran minyak lepas pantai, sekarang bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan asing berukuran raksasa, dan dia tidak pernah tinggal di satu kota besar dalam tempo yang lama. Kegiatannya berterbangan dari satu bandara ke bandara internasional yang lain, memberikan konsultasi yang mahal harganya, beristirahat akhir pekan di pantai negeri jauh, dan hanya sekali-sekali singgah di Jakarta. Tidak ada waktu untuk pulang ke Bali mengikuti berbagai upacara adat yang mengalir tak kering-keringnya dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Anggota keluarganya di desa selalu membicarakannya sebagai seorang sosok yang sangat dibanggakan oleh seluruh keluarga di kampung. Warga desa yang berhasil, seorang local genius yang sudah go international.

Bilamana mereka berkumpul di pura desa untuk sebuah upacara besar, sebuah piodalan , maka ketidakhadirannya dapat dimaafkan, sedangkan warga desa yang sudah merantau ke Denpasar atau bahkan ke Surabaya, bilamana tidak menghadiri upacara itu selalu dibicarakan.

"Berapa jauhkah Surabaya? Banyak bus malam yang melintasi desa kita, tetapi kenapa dia tak datang? Bukankah dia dapat menyisihkan waktu barang dua malam untuk pulang?"

Mungkin yang paling rajin pulang untuk menghadiri piodalan di desa maupun di sanggah keluarga adalah Dek Gung yang bekerja sebagai dosen Universitas Negeri Malang. Ada Bus Simpatik yang melayani penumpang dari Malang ke Singaraja, dan bilamana pulang, Dek Gung selalu menumpang bus itu, atau membawa mobil sendiri, datang dengan istri dan anak-anaknya. Dek Gung-lah yang paling mendapat pujian dari penduduk desa maupun dari keluarga, apalagi lelaki yang semasa mudanya itu aktif dalam kegiatan Teruna-Teruni di Banjar Bali di kota Singaraja sekarang sering memberikan dana punia untuk pembangunan desa maupun pura desa.

Mang Yul adalah anak ketiga, satu-satunya anak yang paling cantik dalam keluarganya sebab dialah anak perempuan satu-satunya. Adatnya santun sebagaimana diteladankan oleh ibunya. Dia sudah hidup bersama suaminya di Jakarta, dengan demikian tak banyak dibicarakan oleh orang sedesa karena dia sudah mengikuti keluarga suaminya yang berasal dari Badung.

Tut Sur adalah si bungsu, dan setelah itu tak ada lagi anak kelima. Bukan sebab lelaki itu mengikuti prinsip KB cara Bali, yakni beranak maksimum empat sebagaimana ditunjukkan oleh sistem penamaan anak-anak, tetapi karena Tut Sur membawa serta berita duka menyertai kelahirannya. Tut Sur-lah yang masih tinggal bersama lelaki tua yang dulu terkenal sebagai seorang pemburu yang mahir menggunakan senapannya itu, tetapi lelaki itu jarang berada di rumah walaupun tinggal bersama ayahnya.

Di rumah itu hanya tinggal tiga orang, lelaki itu bersama anaknya, seorang pembantu perempuan yang usianya sudah lebih dari enam puluh tahun, dan seekor anjing yang bertugas menjaga rumah di malam hari.

Ketika istrinya hamil anak keempat itu, permintaan yang mudah dikabulkan adalah seekor babi guling yang lezat, harus dimasak sendiri, dan harus berasal dari seekor babi hutan yang masih muda.
"Kalau itu urusan kecil," kata lelaki itu.

Maka dia pun berangkat sendirian ke arah hutan lindung di Bali Barat, perbatasan antara wilayah Buleleng dan Jembrana, namun dia tidak berburu di sana. Di mulut hutan dia berbelok ke kanan menuju arah pantai. Di situlah tempat sebaik-baiknya berburu babi hutan sebagaimana teman-temannya sesama pemburu pernah katakan. Di sana dia mungkin akan bertemu sesama pemburu dan akan mengadakan perburuan bersama. Di hutan lindung, di wilayah dekat Desa Cekik, menurut teman-temannya tidak aman. Bukan lantaran polisi hutan sering berkeliaran, tetapi lantaran penjaga hutan dari alam gaib tidak selalu ramah pada orang yang datang memasuki wilayah ini. Banyak sekali pantangan yang harus dipatuhi bilamana orang memasuki wilayah ini. Yang pertama, tentu, hati mereka tidak boleh kotor. Lalu, mereka tidak diperkenankan membawa daging sapi. Lalu, tidak boleh mengucapkan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan penjaga hutan di situ.

Pernah terjadi serombongan siswa SMA berkemah di wilayah itu bersama beberapa guru pembimbing. Sebelum berangkat, kepala sekolah sudah memberi pesan agar mereka berhati-hati berada di wilayah itu, tidak berbuat yang tak senonoh, berkata kotor, berpikiran kotor, dan tidak membawa bekal yang berasal dari daging sapi. Tidak boleh ada dendeng sapi, abon daging sapi, atau apa pun.

Salah seorang gurunya berasal dari Jawa dan tidak terlalu percaya pada hal-hal yang dianggapnya tahyul. Celakanya, ketika berada di wilayah itu dia ungkapkan ketidakpercayaan itu dalam kata-kata.

Tidak terjadi apa-apa, dan bapak guru itu semakin berani dengan mengatakan, "Bapak kan boleh makan abon, ya?" Lalu dengan enaknya dia menyantap abon yang dibawanya dari rumah dengan nasi bungkus yang disediakan panitia.

Tidak terjadi apa-apa, dan yakinlah dia bahwa apa yang dikatakan orang tentang semua larangan itu hanyalah tahyul belaka.

Ketika jam tidur datang, anak lelaki berkumpul dengan anak lelaki, dan siswa perempuan berkumpul dengan siswa perempuan dalam kemah mereka sendiri. Mula-mula terdengar teriakan dari kemah siswa perempuan.
"Ada yang bebainan ," teriak seorang siswa.

Ternyata bukan hanya seorang siswi yang bebainan, tetapi dua, tiga, lima. Sejumlah guru perempuan mencoba menolong, lalu guru lelaki ikut datang, lalu datang pula guru yang berbekal abon daging sapi itu, tergopoh hendak memberikan pertolongan.
"Aduh!" teriak lelaki itu, jatuh terkapar ke tanah, badannya kejang-kejang.
"Pak Man bebainan juga!" teriak para siswa panik.

Begitulah kisah teman-teman pemburu tentang Pak Man yang jatuh terkapar, dan ketika dicarikan dukun yang pandai, nyawanya ditebus dengan nasi kuning, bunga-bunga, dan sebaris doa.
"Kalau tidak, dia pasti mati. Nyawanya diminta oleh penjaga hutan."

Itu cuma salah satu kisah yang dapat ditimba dari wilayah itu. Masih banyak kisah lain yang terjadi tetapi tak tercatat. Misalnya tentang berpuluh mahasiswa yang tiba-tiba sakit perut.
"Lebih baik kita berburu di wilayah yang aman," kata pemburu itu.

Di langit tak ada bulan, hanya bintang yang bertebaran sampai memayungi laut. Dia menunggu dengan sabar sementara dari tadi dia tak bertemu seorang pun. Tiba-tiba dia mendengar suara semak-semak yang diterjang gerakan tubuh.
Dia pun bersiap-siap dengan senapannya.
"Ini pasti babi hutan," pikirnya.

Dan ketika suara semak belukar yang bergerak itu makin keras maka meletuslah senapannya dan terdengar tubuh yang rebah ke tanah.

"Ah, babi hutan besar yang terkena tembakanku," keluhnya, sementara istrinya minta seekor babi yang masih muda. Pelahan dia berjalan ke semak-semak itu, dan ketika dia menyorkan senternya ke arah bunyi rebah itu, dia tertegun tak berkata apa, tak bergerak.
"Tidak!!!"
Mematung beberapa saat lamanya, akhirnya dia lari meninggalkan tempat itu.
Kepada istrinya disampaikan warta bahwa semalaman tak dijumpainya babi hutan seekor pun.
"Mungkin mereka berpindah ke arah barat, tapi aku tak berani menginjak wilayah tenget itu," katanya.

Menjelang pagi istrinya mengeluh lantaran kandungannya terasa sakit. Dengan sepeda motor dia melarikan istrinya langsung ke rumah sakit. Ketika fajar tiba istrinya melahirkan anak mereka yang keempat, Tut Sur, Ketut Surya yang lahir ketika surya telah terbit. Ibunya meninggal saat melahirkan bayi yang sehat itu.

Lelaki itu menangis, dan seminggu kemudian dia menyembunyikan tangis yang lain dan menuai was-was yang makin bertunas, ketika dia membaca berita di harian Bali Post tentang mayat seorang lelaki dengan luka tembakan di jidatnya, ditemukan sudah membusuk di tengah hutan di wilayah pantai ujung barat Pulau Bali.

Tut Sur yang jarang tinggal di rumah itu ternyata dari jam ke jam berada di sudut kota, bicara dengan banyak orang yang tak terlalu mempedulikannya. Kadang dia bicara pada rembulan, kadang pada jembatan beton Kampung Tinggi yang kokoh. Pada suatu sore dia kembali ke rumah, bau badannya tak terlukiskan dan pakaiannya kotor. Pemburu itu masih duduk tepekur di kursi malas di tengah kebun bunga halaman rumahnya.

Tut Sur tiba-tiba menubruk lelaki itu, bersimpuh di pangkuannya dengan pertanyaan seorang anak yang haus akan jawaban:
"Ayah, ayah, kenapa ada luka di jidatku ini?"
Luka itu sudah ada sejak dia dilahirkan, tetapi kenapa dia baru bertanya sekarang?

Lelaki pemburu itu memegang kepala anaknya dengan kedua belah tangan dan dikecupnya bekas luka di jidat anak itu seolah dia ingin menghisapnya supaya tertelan ke dalam perutnya.
"Ya, Hyang Widhi. Kenapa tidak kau lubangi saja kepalaku agar anakku ini tidak menjalani siksa seumur hidupnya?"

"Ayah, ayah, kenapa ada bekas luka di jidatku? Apakah aku anak durhaka? Apakah aku Prabu Watugunung yang durhaka? Atau, apakah aku putera Dayang Sumbi?"
"Ah, siapakah yang mendongeng padamu, anakku? Ibumu bukan?" ***

Singaraja, 3 Agustus 2003

Sabtu, 04 Juni 2005

Perampok

Cerpen Teguh Winarsho AS


MENGGIGIL tubuh Rasti, berjalan cepat menerobos udara subuh. Berkali-kali ia mengeratkan jaket, berusaha mengusir dingin. Kabut masih mengeremang di udara, terkadang menghalang pandang mata Rasti yang sembab merah. Semalam Rasti hanya tidur beberapa jam. Beberapa jam yang sangat menggelisahkan. Pandu, anak laki-laki semata wayangnya sudah dua hari demam, tergolek di atas ranjang. Tapi bukan itu yang membuat Rasti gelisah. Bukan. Siang nanti ia bisa membawa Pandu ke dokter dan pasti sembuh. Rasti selalu percaya pada para dokter yang bisa memberi keajaiban, seperti malaikat.

Pandu masih tidur nyenyak sewaktu Rasti keluar rumah. Rasti sebenarnya bisa mengajak Pandu, menggendongnya di belakang dengan kain jarik. Mungkin Pandu akan tetap tidur nyenyak di gendongannya hingga ia kembali ke rumah. Menyiapkan makan pagi dan siang sedikit berangkat ke dokter. Tapi Rasti tak tega melihat dirinya tampak begitu hina, seperti pengemis, di depan Palwito, suaminya. Rasti tak tahu apa yang akan dikatakan Palwito jika pagi-pagi buta ia datang mengetuk pintu sambil menggendong Pandu. Bagaimana tatap mata Palwito. Perasaan Palwito. Ah…

Tapi rumah itu masih gelap. Tubuh Rasti kian menggigil. Kedua lututnya tiba-tiba gemetar. Rasti masih ingat, dulu ia pernah berjanji tak akan sudi menginjakkan kaki di rumah itu. Tapi nyatanya pagi ini ia harus datang. Pagi ini ia harus ketemu Palwito yang sudah enam hari tak pulang. Ya, pagi ini ia harus berjuang mati-matian menjaga perasaannya sendiri. Ah, apa yang sedang dilakukan Palwito di dalam rumah itu? Rasti tiba-tiba merasa batinnya perih. Rumah di depannya jauh lebih bagus dari rumah yang sudah hampir sepuluh tahun ia tempati. Warna catnya masih baru. Juga kursi ukir di teras. Pot-pot bunga. Lampu hias.

Sekali lagi mengeratkan jaket, dengan lutut gemetar Rasti melangkah pelan. Rasti tak ingin membuang waktu sia-sia. Halaman rumah itu kurang begitu nyaman untuk berdiri menegakkan tubuhnya yang menggigil gemetar. Ia harus segera ketemu Palwito. Ya, hanya Palwito. Bukan yang lain. Rasti terus melangkah pelan, hati-hati, takut menginjak ranting kering dan menimbulkan bunyi. Rasti tak ingin membangunkan orang lain di pagi buta kecuali Palwito, suaminya!

Rasti kini telah berdiri di depan pintu. Sebentar lagi ia akan mengetuk pintu. Sebentar lagi ia akan ketemu Palwito yang muncul dari balik pintu. Sebentar lagi ia akan bertatap muka dan bicara dengan Palwito. Rasti sudah menyiapkan kata-kata yang akan ia muntahkan dari mulutnya. Tentu Palwito hanya mengenakan sarung dan kaus oblong kusam, lubang-lubang. Atau celana pendek butut dan telanjang dada. Rambutnya kusut acak-acakan. Rasti tahu kebiasaan Palwito yang tak pernah berubah dari dulu.

Tapi, ah, benarkah kebiasaan buruk itu masih berlangsung di sini? Masih adakah kaus kusam dan celana pendek butut? Bagaimana jika tiba-tiba Palwito muncul dengan piyama halus dan wangi? Rambutnya disisir rapi? Bukankah….

Rasti tersentak. Pikiran semacam itu tak pernah muncul dalam otaknya. Tak juga semalam ketika gelisah tak bisa tidur. Sesaat Rasti memperhatikan tubuhnya dari atas hingga bawah. Ia hanya mengenakan daster dirangkap jaket kulit dan sandal jepit usang melekat di kedua kakinya yang kotor lumpur lantaran jalan becek sisa hujan kemarin siang. Rasti kemudian meraba-raba rambutnya. Ah, ia terburu-buru hingga lupa tak sempat sisiran. Rambutnya hanya ia ikat dengan tali karet yang tanpa sengaja ia temukan di dapur. Sedang wajahnya? Lagi-lagi Rasti lupa sekadar cuci muka. Rasti mencoba melihat wajahnya di kaca depannya lewat bayangan lampu hias di teras. Tapi kaca itu terlalu gelap.

Mendadak Rasti gamang. Ragu. Bayangan Palwito mengenakan piyama halus, wangi, rambutnya disisir rapi, tiba-tiba terus berkelebat-kelebat dalam benaknya. Rasti memang belum pernah melihat Palwito mengenakan piyama, tapi bayangan itu tampak begitu nyata. Rasti memukul-mukul kepalanya mencoba mengusir bayangan itu, tapi ia justru mendapati kaca di depannya tiba-tiba berubah seperti layar televisi menampilkan gambar Palwito mengenakan piyama halus, wajahnya bersih, turun dari ranjang empuk menghampiri pintu. Langkah Palwito tegas di atas lantai marmer mengkilat. Tubuhnya menebarkan wangi.

Masih berdiri di depan pintu, Rasti urung mengetuk pintu. Bayangan itu begitu menganggu. Rasti tak mau ketemu Palwito mengenakan piyama, rambutnya disisir rapi. Tak mau ketemu Palwito tubuhnya menebar wangi. Ia hanya mau ketemu Palwito dengan sarung dan kaus oblong butut, lubang-lubang. Palwito dengan celana pendek kusam dan telanjang dada. Palwito dengan rambut acak-acakan. Palwito dengan wajah kusut. Palwito dengan keringat bau jengkol…

***

RASTI melangkah cepat. Ia harus segera sampai rumah sebelum Pandu bangun. Sebelum bocah laki-laki itu menangis keras. Sepanjang jalan pulang Rasti geram, terus merutuki kebodohannya tak berani mengetuk pintu rumah Palwito. Seandainya ia berani mengetuk pintu dan ketemu Palwito, tentu kini ia pulang dengan tenang. Tapi Rasti sadar, ia sendiri yang membuat kesalahan. Ia terlalu buru-buru hingga lupa berdandan. Diam-diam ia takut terlihat buruk di depan Palwito. Ah…

Rasti mendapati Pandu sudah bangun, tapi tak menangis. Mata bocah laki-laki itu sayu menatap ibunya yang baru datang. Rasti tersenyum sebelum beringsut ke dapur menyiapkan sarapan pagi. Siang sedikit ia mesti membawa Pandu ke dokter. Rasti selalu percaya pada dokter yang bisa memberi keajaiban, seperti malaikat. Tapi, ah, tiba-tiba Rasti merasa enggan membawa Pandu ke dokter sebelum ketemu Palwito. Ya, ya, ia mesti ketemu Palwito terlebih dulu untuk minta uang. Tapi benarkah? Rasti tiba-tiba termangu. Beku.

Rasti ingat, uang yang ia simpan di bawah tumpukan pakaian di lemari lebih dari cukup untuk membawa Pandu ke dokter. Tapi, entahlah, Rasti merasa perlu minta uang lagi pada Palwito. Merasa perlu memberi tahu Palwito bahwa Pandu sakit. Merasa perlu mengingatkan Palwito bahwa sudah enam hari tak pulang!

Sementara Rasti sibuk di dapur, di kamarnya Pandu terus merintih. Wajahnya pucat, matanya berkedip-kedip kian sayu…

***

UDARA subuh selalu dingin. Membuat Rasti menggigil. Apalagi kali ini Rasti tak pakai jaket. Rasti telah mengganti daster dan jaketnya dengan celana jeans dan kaos ketat, membuatnya tampak lebih seksi. Baru tadi siang ia membeli celana jeans dan kaos ketat itu. Ia tak ingin terlihat jelek di depan Palwito. Sudah tujuh hari Palwito tak pulang. Ah…

Pandu masih tidur ketika Rasti keluar. Bocah laki-laki itu belum menunjukkan gejala sembuh. Bahkan demamnya semakin tinggi, suka mengigau tengah malam. Rasti belum sempat membawa ke dokter. Mungkin nanti siang setelah ketemu Palwito. Setelah Palwito tahu Pandu sakit. Setelah Palwito merasa bersalah tak pulang selama tujuh hari. Setelah Palwito merasa berdosa membiarkan Pandu sakit. Setelah, ya, ya, setelah Palwito terkagum-kagum melihat penampilannya!

Tapi rumah itu gelap. Lutut Rasti tiba-tiba kembali gemetar. Matanya nanar. Ada beberapa pot bunga baru di teras rumah. Dua cangkir di atas meja. Asbak. Putung rokok. Dan…. Rasti melangkah pelan menghampiri teras. Rasti tak sabar ingin segera mengetuk pintu. Tak sabar ingin cepat-cepat menyampaikan kabar Pandu pada Palwito. Rasti ingin melihat wajah Palwito pucat mendengar Pandu sakit.

Rasti mengangkat tangannya siap mengetuk pintu. Tapi tiba-tiba urung. Samar, kaca di depannya memantulkan wajahnya yang berkeringat. Cepat-cepat Rasti menyeka keringat di wajahnya dengan kedua telapak tangan. Memperhatikan lebih seksama lagi dandanannya. Merapikan kaus dan ikatan rambut. Mematut. Tersenyum. Rasti menarik napas dalam-dalam, kembali siap mengetuk pintu. Sebentar lagi ia akan ketemu Palwito. Sebentar lagi ia akan melihat wajah Palwito pucat mendengar kabar Pandu sakit.

Tapi, ah, lagi-lagi Rasti urung mengetuk pintu. Ia ingat, pagi-pagi seperti ini tidur Palwito justru semakin nyenyak, mendengkur. Gedoran pintu pun belum tentu bisa membangunkannya. Bagaimana jika yang membuka pintu bukan Palwito, tapi Arum? Ya, ya, Rasti ingat, perempuan itu bernama Arum. Istri muda Palwito! Arum telah merampok Palwito dari sisinya. Ingat nama perempuan itu, Rasti merasa tubuhnya goyah seperti ada gempa. Ia pernah berjanji tak sudi ketemu dengan perempuan itu. Ah…

Masih berdiri di depan pintu, Rasti kembali berkeringat. Wajahnya pucat. Sesaat lamanya Rasti mematung, bingung tak tahu harus berbuat apa. Tapi sejurus kemudian ia segera memutuskan pergi meninggalkan rumah itu sebelum seseorang di dalam rumah bangun keluar membuka pintu. Jelas orang itu bukan Palwito karena pagi-pagi seperti ini tidur Palwito justru semakin nyenyak, mendengkur. Bukan Palwito karena pintu digedor pun belum tentu membuat dia bangun.

***

CAHAYA matahari pagi menerpa wajah Rasti membuat matanya berkedip-kedip, silau. Tapi Rasti terus melangkah cepat bersaing dengan anak-anak berangkat sekolah. Ia harus segera sampai rumah sebelum Pandu bangun. Sebelum bocah laki-laki itu menangis keras karena ditinggal sendirian. Mungkin siang nanti ia akan membawa Pandu ke dokter. Rasti percaya pada dokter yang selalu bisa memberi keajaiban, seperti malaikat. Pandu pasti sembuh.

Sepanjang jalan pulang Rasti terus merutuki nasibnya yang sial tak bisa ketemu Palwito. Sudah tujuh hari Palwito tak pulang. Ia merasa sia-sia telah membeli celana jeans dan kaos baru. Sia-sia semalaman tak bisa tidur. Sia-sia berdandan rapi. Sia-sia berjalan dua kilometer lebih pulang pergi. Sia-sia…

Tiba-tiba Rasti menghentikan langkahnya. Berdiri tegak menggosok-gosok mata memastikan penglihatannya tak terganggu. Tampak di rumahnya tetangga kanan kiri sibuk, hilir mudik. Rasti kaget merasa tak pernah mengundang orang-orang itu datang ke rumahnya. Ada apa? Apakah ada perampok masuk? Rasti kembali melanjutkan langkahnya. Kali ini pelan dan gemetar. Jantungnya sedikit berdebar.

Tapi, ah, Rasti segera ingat, ia merasa tak punya barang berharga di rumahnya yang bisa mengundang kawanan perampok. Rumah-rumah lain jauh lebih pantas. Rasti kembali melangkah cepat. Sesekali kakinya terantuk batu. Rasti yakin tak ada perampok yang masuk rumahnya. Ia tak punya barang berharga di rumah. Ya, ia hanya punya Pandu. Hanya Pandu…

Depok, 2005

Teguh Winarsho AS, lahir di Kulonprogo, Jogjakarta, 27 Desember 1973. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit, Bidadari Bersayap Belati (2002), Perempuan Semua Orang (2004), Kabar dari Langit (2004), Tato Naga (2005) dan novel Tunggu Aku di Ulegle, roman dan tragedi di bumi serambi Mekah (2005).

Minggu, 29 Mei 2005

Ahmed

Cerpen Zoya Herawati

Bocah sebelas tahun itu megap-megap. Dialihkan pandangannya dari semangkuk air yang kubawakan untuk membasuh mukanya. "Jauhkan!! Ah...jauhkan! Aku tak mau..."

Aku memandangnya iba. Kasihan, bocah sekecil ini telah menerima vonis terpisah dari ayah-bundanya akibat bencana. Ia belum tahu bahwa pada hari ditemukan di atas sebuah dahan pohon setelah air mengering, ia harus membuang seluruh kerinduannya kepada kampung halaman dan semua yang dicintainya.

Membawanya keluar dari daerah bencana bukan perkara mudah. Tiga hari tiga malam aku harus bersitegang dengan Komite Penyelamat Anak-Anak Korban Bencana.

"Tidak ada yang boleh dibawa dari daerah ini, apa pun alasannya!" ketua komite berkata meledak-ledak. Di sampingnya sang sekretaris mengangguk-angguk lemah.
"Ini bukan persoalan politik! Kemanusiaan! Cuma kemanusiaan!" aku membalas tak kalah kerasnya.
Ketua komite, laki-laki tambun dengan kumis lebat itu makin memelototkan mata ke arahku. Sesekali dialihkannya pandangannya kepada sang sekretaris, laki-laki kerempeng dengan air muka yang nyaris naif, dua bola mata yang ketakutan dan yang selalu berdiri dengan kepala menunduk.
"Sebenarnya apa kemauan Anda?" Ia mulai melunak.
"Aku ingin memberinya kehidupan yang lebih baik, setelah tahu ia papa, sebatang kara. Itu saja!" aku menjawab datar, mencoba menahan emosi.
"Anda tak memperlakukannya sebagai aset bukan?!" aku menambahkan.
"Maksudnya, Anda mencurigai saya menyelewengkan bantuan untuk anak-anak malang itu?! Jaga kata-katamu, Bung!" Suaranya kembali meninggi.
"Aku tidak mengatakan demikian, Anda sendiri yang memaknai maksudku!"
"Aku peringatkan Anda. Jangan mentang-mentang reporter bisa seenaknya menuduh, mengancam, atau yang lainnya!"

Dalam transaksi kali ini, aku memilih untuk mengalah. Dengan beberapa lembar ratusan ribu akhirnya ia mengizinkan aku membawa bocah lelaki itu pergi dari kamp pengungsian. Pada mulanya, bocah itu merasa senang ikut denganku. Sepanjang perjalanan ia menghabiskan beberapa batang coklat, sebungkus biskuit, dan beberapa kaleng soft drink, yang memang kubawa khusus untuk bekal selama beberapa hari di daerah bencana. Masalah baru timbul setelah tiba di Polonia dan pesawat delay selama lebih dari tiga jam. Ia mulai rewel dan merengek minta pulang. "Pulang... Pulang... Ayah... Bunda... Pulang...."

"Baik, kita pulang. Tapi tidak sekarang. Kita tunggu pesawat, ok?!"
Setengah mati aku membujuknya. Sempat pula menyelinap sebersit keraguan, dapatkah aku mengasuh seorang anak dengan jadwal kerja yang amat padat? Tetapi niatku mengalahkan segalanya. Aku ingin mengatakan pada bocah itu bahwa dunia tidak ikut berhenti berputar ketika semua yang ada di sekitarnya porak poranda. Baginya hidup harus terus berjalan.

Aku sendiri tak begitu jelas mengapa aku memilihnya untuk tinggal bersamaku, membawanya pergi ke tempat yang jauhnya ratusan kilometer dari daerah asalnya, dan mengajarinya tentang harapan-harapan masa depan. Ia menarik perhatianku karena kekuatannya menghadapi murka alam dan itu sudah cukup bagiku untuk mengajaknya tinggal bersama. Sebaliknya, di sisi lain, ia mengajariku satu hal bahwa orang tak harus menyerah apa pun yang dihadapinya. Di sepanjang perjalanan bocah itu sedikit pun tak bercerita tentang pengalamannya tersangkut berhari-hari di atas pohon. Sesekali, ia hanya mengangguk atau menggeleng bila kutanya sesuatu.

"Ahmed, selama di pohon bisa tidur enggak?" Ia memandangku dan menggeleng, matanya bekerjap-kerjap seolah menahan perih dan mungkin saja ia merasa aneh dengan pertanyaan tolol macam itu. Sesudahnya aku merasa gagal untuk menyingkap pengalaman-pengalamannya, mengetahui seluk-beluk saat ia mengalami mimpi buruk mungkin sepanjang hidupnya.

Aku singkirkan baskom berisi air, dan menggantinya dengan waslap sekadar menyeka mukanya dari debu dan keringat biar ia merasa lebih nyaman. Ketika tanganku mulai mengelap, ia memejamkan mata rapat-rapat dan meringis kesakitan. "Ahmed, kamu baik-baik kan?" Tanpa membuka mata ia menggeleng keras-keras hingga waslap di tanganku hampir jatuh dan dengan susah payah aku berhasil menangkapnya. Aku mendekat dan memeriksa wajahnya barangkali ada luka atau pasir masuk pada pori-pori kulitnya. Beberapa goresan kecil menghiasi pipi dan dahinya, barangkali terkena benda-benda tajam saat ia terombang-ambing air tak tentu arah. Ah, betapa berharganya waktu bagi bocah ini dan tentu saja bagiku yang kadang tak sempat menangkapnya dengan baik. Sering aku mengabaikannya untuk hal-hal yang sia-sia tanpa menyadarinya.

Beberapa hari berlalu tanpa perubahan apa-apa dari Ahmed. Ia masih sering berteriak-teriak, memukul-mukul wajahnya dengan tangannya, dan menyembunyikan pandangannya dari air. Kulihat tubuhnya lusuh akibat berhari-hari tak tersentuh air kecuali hanya dengan waslap. Sementara Bibi yang kugaji untuk merawatnya sudah mulai merasa bosan. "Saya mundur saja Mas, ndak sanggup. Bocah itu selalu rewel dan ulahnya bikin kesal," katanya suatu kali. "Bayangkan, ia berteriak kuat-kuat ketika saya berniat memandikannya dengan membawanya ke kamar mandi...."

"Biarkan dia nggak mandi Bi. Saya nanti yang akan menyekanya. Tugas Bibi hanya masak dan mencuci pakaian kami saja," kataku mencoba menahannya supaya tetap tinggal di rumah kami.

Di suatu kesempatan, ketika sedang off, aku menemani Ahmed. Kami duduk berdampingan di kursi rotan di ruang tengah, menghadapi sebuah buku dongeng. Sejak kedatangannya di rumah ini, tak sekali pun aku menyalakan televisi. Ahmed akan berlari menjauh dan berteriak keras-keras ketika tahu aku hendak menyalakan televisi. Mungkin ia kesal, takut, gelisah, atau entah apa namanya, menyaksikan hampir semua stasiun televisi menayangkan bencana maha dahsyat tersebut saat ia pertama kali hadir di rumahku.

"Ahmed," aku berputar-putar agak lama sebelum memulai percakapan di antara kami, karena sebenarnyalah aku benar-benar tak paham latar belakang bocah itu. Mengungkap keluarganya dengan mungkin bertanya apa profesi ayah-bundanya, tampaknya masih riskan.

Sekarang, beberapa menit kemudian, aku mulai mendapat titik terang ketika ia mulai mendekatiku, membolak-balik buku dongeng di tanganku. "Mana gambar surau?" celetuknya tiba-tiba. Suaranya mengandung kepedihan, aku merasa kerinduannya pada kampung halaman sudah tidak bisa dibendung.
"Kau bisa menggambar? Kita cari kertas dan bersama-sama kita gambar surau yang paling bagus, bagaimana?"
"Tidak mau. Aku mau surau yang ada dekat rumahku, yang ada dua pohon besar di halamannya, yang di depannya ada warung Mamak Ipah dan aku suka membeli gula-gula." Kepala bocah itu menggeleng keras-keras seraya dicampakannya kertas dan pensil dari tanganku. Aku mahfum, kualihkan perhatiannya dengan menghidangkan sekantung permen dan sekotak coklat. Aku ingin menghidupkan angan-angannya tentang gula-gula di warung depan surau. Ia memandangku sejenak, tangannya kikuk mengaduk-aduk kantung permen. Aku pura-pura tak melihatnya. Kualihkan pandanganku ke luar jendela. Jika hidup adalah rangkaian lakon, maka boleh jadi bocah ini telah kehilangan sebagian besar dari skenario dan setting yang pernah ditemuinya. Mudah-mudahan ia cukup tangguh menghadapi peradaban baru yang benar-benar berbeda dengan kampung halamannya.

Kukatakan demikian karena di sekitar perumahan tempat tinggalku tak ada surau, tak ada warung gula-gula, tak ada anak-anak mengaji seperti di kampungnya. Jika ini yang dikatakan kesulitan, maka aku setuju dengan ketua Komite Penyelamat Korban Bencana, meski mungkin masih bisa diatasi.

Kubiarkan ia menghabiskan hampir separuh dari coklat dan permen dalam kantung. Aku tidak tahu apakah saat itu hidupku bermakna atau tidak ketika memutuskan mengabdikan diri pada kemanusiaan dengan mengasuh Ahmed.
Senja merambat menuju malam, Ahmed mengucak-ucak mata sepertinya kantuk telah menguasainya. Kali ini aku tidak membimbingnya ke kamar tidur seperti biasanya. Aku ingin ia tahu bahwa tanpa aku, tanpa siapa pun, segala sesuatu akan berlanjut apa pun keadaannya. Ada kemajuan luar biasa dalam diri Ahmed. Ia tidak lagi takut tidur dalam gelap meski tak ada teman di sampingnya. Aku lega.
***

Ahmed berdiri di pintu kamar dengan celana dan kemeja agak kebesaran, aku tidak tahu pasti berapa ukuran bajunya ketika membelinya. Aku menunggunya di meja makan. Ada dua porsi salad instan, dua potong ayam goreng, berpotong-potong bawal goreng, dengan sambal kecap. Aku tidak tahu apa kesukaannya, tetapi dengan memberinya menu pagi itu aku berharap ia dapat sedikit melupakan hari-hari kemarin yang dimilikinya.
"Aku suka bawal goreng dan kecap. Bunda sering memasaknya untuk sarapan kami." Di luar dugaan ia berkata enteng tentang kenangannya bersama sang bunda. Giliran aku yang terkejut dengan apa yang kuhadapi. Apakah ini salah satu dari sekian cara anak-anak mengatasi masalah, berkelit dari kenyataan dengan tetap membangun masa lalu? Mungkin aku terlalu berlebihan.

Lahap sekali Ahmed menandaskan piringnya, seolah ia ingin merebut kenangannya kembali. Aku tersenyum mengangguk-angguk ke arahnya. Kami menghabiskan pagi dengan riang. Ia membantuku memasukkan peralatan kerja, tape kecil, kamera digital, pulpen, notes kecil, dan yang lain. Sigap aku menyalaminya. "Terima kasih kawan kecilku. Seminggu lagi libur semester selesai, dan kau boleh sekolah lagi di sekolah baru, ok!"

Kembali di luar dugaan ia menggeleng keras-keras. "Aku tidak mau! Aku mau sekolah dekat surau!" Aku mengangkat bahu, tetap tersenyum kepadanya. Ok! Aku berlalu sekadar memberinya kesempatan untuk "kembali" ke surau, tempat yang rupanya paling berkesan baginya.

Tetapi di sisi lain aku harus berbuat sesuatu baginya dan bagi surau dalam pikirannya. Padahal aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya, bahwa obat mujarab kemiskinan adalah sekolah, meskipun aku sendiri belakangan ini tidak yakin dengan kesimpulanku sendiri. Banyak orang pintar bertoga yang tak berdaya dicengkeram mesin kekuasaan dan membiarkan kemiskinan di sekitarnya tinggal abadi. Memberinya surau, tentu saja aku tak mampu, sebab aku sendiri baru belajar tentang bagaimana mencari surau, mengenali, sekaligus memahaminya. Harus kuputuskan sesuatu!

Seminggu selepas perbincangan kami tentang sekolah dan surau, aku memutuskan untuk mengantarnya kembali ke tanah kelahirannya. Ketua Komite Penyelamat Anak Korban Bencana menyambutku dengan senyum sinis. Aku menahan diri tak bereaksi. Tanpa banyak kata, ia menerima kembali Ahmed yang segera membaur dengan teman-temannya di kamp pengungsian.
Seminggu kemudian, di layar televisi, aku melihat Ahmed berdiri di antara ratusan pengungsi. Ia tampak makin kecil di antara orang-orang asing dan para elit berdasi. ***

Surabaya, Februari 2005

Minggu, 22 Mei 2005

Terbakar

Cerpen Korrie Layun Rampan

Apakah yang unik dikisahkan tentang Bentas Babay? Arus sungai yang berubah dari sebuah dataran tanjung yang berlekuk ke selatan, dan tanjung yang memanjang itu digali oleh Babay --seorang pedagang yang selalu memintas di tempat itu dengan perahu berdayung dua. Karena ingin memperpendek jarak, Babay menggali tanjung curam itu. Oleh aliran air sungai yang deras selama musim banjir, lama-kelamaan tanjung itu putus dan membentuk sungai baru. Bagian ke hilir sungai itu membentuk sebuah teluk, yang pada arus air dalam, teluk itu memusar dengan ulak yang masuk ke dalam lingkaran arus yang deras. Ngeri sekali tampaknya.

Karena terusan yang berubah jadi sungai itu digali Babay, hingga kini orang menyebutnya Bentas Babay, yang maknanya bertemunya sungai baru akibat putusnya sebuah dataran tanjung.

Tapi penting apakah hingga ia perlu diceritakan? Adakah di tempat itu pernah terjadi sesuatu yang istimewa seperti pertempuran sengit saat pendaratan tentara Sekutu di Normandia? Atau ada pohon berhantu seperti beringin tua dan meninggalkan kematian dari zaman ke zaman seperti kelaparan dan pembantaian yang mengerikan? Atau ada hal-hal lainnya yang mengandung kisah seperti perselingkuhan dan marabencana?

Kukatakan dengan cepat bahwa kisah itu adalah bencana!

Tapi bukankah marabencana selalu ada di setiap waktu di setiap daerah?

Perlu apakah dikisahkan agar diketahui orang lain?

Kukatakan dengan segera bahwa kisah marabencana itu dimulai dari rasa suka yang berlimpah! Seperti Jayakatwang yang berpesta pora setelah mengalahkan Kertanegara, lalu tumpas karena diserang tentara Tartar yang diarahkan oleh Raden Wijaya?

Tapi cerita yang akan kukisahkan ini bukan sebuah peperangan. Tidak juga tentang hantu atau demit, tapi sebuah kejadian yang menimpa empat pemuda yang baru mengenal jatuh cinta!

Buru-buru kukatakan bahwa bentuk sungai yang akhirnya menjadi Bentas Babay merupakan sebuah tanjung yang kemudian membentuk rantau yang panjang dan di bagian hilir tanah genting membentuk teluk luas yang airnya selalu menggenang hampir seperti danau. Hutan di bagian daratan teluk yang dinamai Dataran Ruratn dibuka oleh Mongkur menjadi ladang yang luas. Namun musim yang kadang tak menentu karena pengaruh El-Nino dan penebangan hutan oleh pengusaha HPH membuat banjir sering datang tidak tepat waktu dan menghancurkan padi yang baru mulai berbulir. Ikan-ikan berpesta-pora di ladang yang luas itu, dan setelah habis banjir yang tertinggal hanya dataran huma yang dipenuhi lumpur, karena padi dan palawija binasa dihanyutkan arus air yang deras. Karena sering terlanda paceklik, untuk menyambung hidup, Mongkur kadang kala bekerja membantu Babay menggali terusan di tanjung itu.

Babay selalu istirahat dan menambatkan perahunya di jamban Mongkur jika telah tiba di kawasan itu. Entah beberapa kali pedagang itu sudah ikut menumpang tidur di rakit jamban itu. Namun di suatu ketika terjadi kehebohan karena Mongkur menemukan pembantu pendayung perahu Babay meniduri istrinya dan lelaki peladang itu tak beri ampun, ia menetak lelaher lelaki muda itu. Akibatnya, Mongkur sendiri digiring ke dalam tahanan, sementara Babay harus menghentikan pekerjaannya menggali terusan untuk memotong genting tanah tanjung di situ karena harus menjadi saksi perbuatan asusila yang berujung pada tragedi pembunuhan itu.

Beberapa tahun kemudian alur terusan yang dibuat Babay telah berubah menjadi sungai, namun rumah Mongkur ditemukan sudah runtuh karena tak ada yang memelihara, dan di tempat itu menjadi tempat yang mengerikan karena tak ada orang yang berani berdiam di situ, karena tanahnya pernah dialiri darah seorang peselingkuh. Kata orang, kadang di suatu malam, jika sedang terjadi bulan mati, terdengar suara teriakan dan lolongan minta ampun, seperti suara seorang lelaki. Kadang ada tawa dan tangis saling berbarengan. Orang-orang yang memintas di tempat itu di malam hari selalu merasa ngeri, dan mereka cepat-cepat mendayung sampan agar segera lewat ke hulu atau ke hilir. Ketakutan itu berakhir, setelah orang tak lagi menggunakan pengayuh, tapi menggunakan ketinting, sehingga teriakan atau suara tangis roh kematian tak terdengar, karena gemuruh kerasnya suara mesin!

Entah cerita itu benar atau hanya dikarang oleh ahli pengisah lisan, tak ada yang tahu. Tak ada juga yang tahu apakah memang ada orang bernama Babay atau orang bernama Mongkur. Semua mulut menutur ulang cerita itu seakan-akan mereka sendiri yang mengalaminya. Dengan begitu, hingga kini cerita itu masih dikisahkan oleh generasi yang berada di kampung-kampung di sekitar situ. Apalagi setelah pohon puti yang tinggi roboh ke air di teluk itu, karena tebing sungai yang curam longsor, orang-orang merasa lebih ngeri lagi, terutama karena salah seorang warga menemukan ular raksasa sebesar pohon kelapa yang pernah memangsa manusia di teluk itu --dan saat itu sedang kekenyangan menelan seekor rusa-- mati terimpit pohon puti yang roboh. Puncak dari segala kejadian itu adalah jatuhnya Jalikng dari dahan beringin yang melayah ke arah teluk. Lelaki itu memerangkap burung punai yang memakan buah beringin yang sudah matang dengan getah pulut di subuh hari.
Entah angin kencang atau kakinya tergelincir, Jalikng tercebur ke tengah teluk, dan di bawahnya ternyata telah menanti nganga mulut buaya yang lapar.

Hanya pawang Molur yang dapat menyeret buaya nahas yang memangsa Jalikng. Beberapa bagian tubuh lelaki beristri tiga itu ditemukan di dalam perut buaya.

Sejak itu, warga terus-menerus menganggap kawasan itu angker. Namun ada juga orang yang memanfaatkan keangkeran itu, karena pada waktu-waktu tertentu ada buaya yang bertelur di banir-banir pohon dahuq. Secara diam-diam orang itu mengambil telur-telur buaya itu, dan bahkan ada orang yang memasang jerat buaya, dan secara diam-diam menjual kulit buaya yang mahal harganya itu ke Babah Lie Auw Chu di Muara Pahu.

Bagi yang mujur, di musim kemarau di pasir pantai di utara teluk itu kadang bersarang puluhan penyu dengan ratusan telur di setiap lubangnya. Tapi menurut cerita, puluhan tahun lalu orang berhenti membantai penyu dan buaya karena salah seorang yang suka diam-diam mengambil telur-telur dan menjerat buaya itu dimangsa buaya badas yang ganas.

Entah mengapa, lingkungan teluk itu selalu disertai cerita yang menyeramkan. Kalau bukan cerita tentang kematian atau duka cita, kisahnya selalu berujung pada tragedi kesedihan.

Lalu tentang empat pemuda yang mulai jatuh cinta? Kisahnya sederhana, bermula dari waktu vakansi. Empat pemuda yang menghabiskan waktu seselesai ujian akhir SMA, pergi berdagang ke kampung-kampung di udik Sungai Berasan. Entah memang sudah sampai waktunya untuk bertemu dengan kekasih masing-masing, entah memang hanya suatu kebetulan, saat keempat pemuda itu menghilir dengan berkayuh cepat di gelap bulan mati, tepat saat memintas di Bentas Babay itu, haluan perahu membentur tunggul yang mencuat di tengah sungai. Perahu yang sarat muatan hasil dagangan seperti padi, beras, ayam, dan lima ekor kambing segera oleng oleh kejutan arus dan ulak. Dengan tak terduga dari arah hulu meluncur sebuah ketinting dan segera menggepak perahu yang sudah oleng ke arah kiri. Baik perahu maupun ketinting sama-sama tenggelam bersama muatannya.

Tiga pemuda yang berdagang dalam masa vakansi tenggelam karena terbentur haluan ketinting. Tiga pemudi bersama motoris ketinting juga tenggelam di dalam ulak air yang deras di tengah teluk yang dalam. Hanya satu pemuda dan satu pemudi yang selamat, dan dari mereka itulah cerita ini ditulis kembali.

Tabrakan itu sebenarnya terjadi karena masing-masing mereka telah berjanji bertemu hari itu di Kampung Rinding, sehingga empat gadis harus kembali dari Kampung Sembuan di udik Sungai Nyuatan dan empat pemuda harus menghilir dengan cepat dari pehuluan Sungai Berasan.

Cinta memang mengatasi segala-galanya. Tapi merabencana kemudian mengambil seluruh rencana mereka yang telah tiada.

Peristiwa selalu tak terduga!

***

Empat puluh tahun lalu peristiwa tabrakan Bentas Babay itu terjadi. Kawasan di Dataran Ruratn yang berada di bagian atas teluk Bentas Babay itu telah berubah seperti disulap oleh teknologi ekologi. Hutannya bukan hutan terlantar karena ditinggalkan Mongkur setelah membunuh pembantu Babay, tapi telah berubah menjadi hutan tanaman industri pohon ulin alias kayu besi. Di arah bagian bantaran sungai berdiri mess para pekerja dan rumah mewah pemilik HTI di dalam kompleks yang elite.

"Kasihan tiga pasang kawan kita tak sempat mengecap cita-cita membangun kongsian HTI," si wanita berkata kepada lelaki yang ada di depannya. "Kalau tak ada nahas tunggul Bentas Babay ini mereka masih ada bersama kita."

"Tapi kita telah tebus cita-cita itu, Ningsih. Bukankah nama mereka juga diabadikan di dalam bagian-bagian hutan kayu besi ini?"

"Hanya nama, Syar. Mereka tidak menikmati langsung. Bukankah sejak kecil kita telah bersepakat akan maju secara bersama-sama?"

"Tapi peristiwa mengambil segala yang baik dari kita. Syukur masih ada pasangan kita yang hidup dari peristiwa teluk tunggul kayu Bentas Babay itu? Sehingga kita dapat melaksanakan amanat bersama?"

Lebih 20.000 hektare HTI kayu besi yang berusia lebih dari dua puluh lima tahun. Ribuan pohonnya ada yang sudah lebih besar dari badan orang dewasa. Pohon-pohon langka itu membuat pemiliknya sampai mendapat anugerah dari sejumlah institusi di luar negeri sebagai penyelamat lingkungan dengan menanam pohon langka. Kalau bukan HTI, mungkin pemiliknya mendapat anugerah Kalpataru.

Lelaki dan wanita yang berbicara itu merupakan pemilik HTI kayu besi. Mata mereka tiba-tiba dikejutkan oleh permainan akrobatik pesawat tempur di udara.

"Apakah ada perang di kawasan kita? Apa yang diperangi di sini?" si lelaki terus menatap televisi. "Bukankah hanya pemulihan keamanan dari GAM di Aceh. Adakah yang direbut lainnya dari kita?"

"Itukah Sukhoi yang diributkan?"

"Bukan. Bukan Sukhoi. Bukankah Sukhoi sudah diterima beberapa waktu lalu?"

"Apa pesawat yang akan membomi Irak lagi?"

"Tak mungkin membom Irak. Bukankah perang frontal sudah usai. Lagi, tak mungkin persiapan pesawat tempurnya hanya empat?"

Mata mereka melihat ada pesawat lainnya yang seperti menguntit formasi empat pesawat udara yang mengadakan akrobatik udara. Lama kemudian baru mereka mendengar penjelasan bahwa ada pesawat tempur Amerika melakukan aksi selama dua jam di udara di atas Pulau Bawean. Pesawat F18 milik Amerika yang mengawal kapal-kapal negeri adidaya itu melewati perairan Indonesia. Pihak Angkatan Udara Indonesia menangkap manuver terlalu lama dari izin perlintasan dan kemudian mengirim F16. Hampir saja terjadi sesuatu yang tak diingini, karena pesawat yang mengintai hampir ditembak oleh mereka yang memintas.

"Terlalu banyak peristiwa akhir-akhir ini," si lelaki menatap istrinya yang duduk tenang menatap televisi. "Bahkan perusahaan HTI kita ini juga diungkit-ungkit para provokator."

"Katamu ada yang malah mengancam," istrinya menimpali. "Ingin membakar dan memusnahkan kalau tuntutan ganti rugi lahan tak dilakukan."

"Reformasi memang maksudnya keterbukaan. Lebih dua puluh lima tahun semuanya sudah dibereskan," sang suami menatap istrinya. "Tapi kebablasan, sekarang sering membuat kesusahan dan kerugian!"

"Katamu anak cucu pemilik tanah yang menuntut. Terutama mereka yang sudah kematian ayah atau kakek moyang. Mereka katakan belum menerima penggantian."

"Buktinya ada," sang suami masih menatap televisi. "Mungkin mereka yang menuntut itu belum lahir saat dilakukan pembayaran. Tak mungkin kita membayar berkali-kali."

"Kadang kertas dan kata-kata di atasnya tak mempan dalam era orang berebut kekuasaan seperti sekarang ini," sang istri yang berkata. "Hukum sudah begitu rendahnya terinjak-injak!"

"Karena orang maling ayam lebih dihargai hukum dibandingkan koruptor triliunan."

"Karena pemaling ayam orang miskin, koruptor menggunakan kekuatan uang."

"Itu masalah moral," sang suami menatap awan. "Rendahnya derajat kemanusiaan membawa dampak buruk di seluruh sendi kehidupan!"

"Seharusnya uang dicari tapi tak menguasai tubuh dan jiwa. Uang dikuasai!"

"Seharusnya begitu."

Serentak suami istri itu memandang ke arah langit. Ada titik dan deruan menandakan bunyi di bentangan cakrawala.

"Adakah itu pesawat pemerintah kabupaten pemekaran yang baru dibeli dibawa ke Lapangan Terbang Melalan?" sang suami menunjuk ke arah noktah. "Masyarakat mulai akan menikmati kemudahan."

"Paling-paling yang menggunakan para pejabat, pimpinan partai politik, dan kaum berada. Siapa rakyat jelata mampu membeli tiket sejuta pergi pulang ke Balikpapan?"

"Tapi sudah bagus ada ide dan realisasi pesawat pemutus isolasi," sang sumi menimpali. "Daripada selama ini naik kapal air dan memintas jalan berlumpur sedalam pinggang!"

"Nenek-moyang dulu-dulunya bisa hidup layak. Mengapa harus dipersoalkan?"

"Lain zamannya, Bu."

"Tapi lihat di berbagai kampung. Rumah kumuh beratap daun masih merajalela. Di pehuluan beras seharga lima ribu. Puluhan tahun merdeka tapi mengapa belum juga merdeka?"

"Pesawat itu tanda merdeka."

"Pesawat barang mewah. Lalu mengapa kebutuhan sehari-hari harganya seperti barang mewah?"

"Kalau penghasilan tinggi, tak ada harga barang yang tinggi."

"Nyatanya penghasilan masyarakat sangat rendah. Bukankah kau sendiri ikuti upah minimum daerah Rp 572.562,00 per bulan? Cukupkah untuk membiayai keluarga beranak tiga?"

"Perusahaan kita bukan lembaga sosial."

Tiba-tiba telinga suami istri itu dikejutkan oleh suara gelegar dan ledakan yang hebat ke arah tengah onderneming kayu besi. Tak lama kemudian mata mereka menangkap asap yang tebal naik ke atas.

Beberapa orang yang ada di base camp itu terdengar berteriak. "Pesawat pemda yang baru dibeli jatuh di hutan kayu besi. Pesawat yang baru dibeli jatuh terbakar di hutan ulin HTI kita."

Lelaki dan wanita itu berdiri terperanjat. Mata mereka nyalang memandang asap api dari hutan kekayaan. Tak lama kemudian terdengar deru motor dan mobil dan gegas penjaga hutan di bagian utara. Mereka segera melapor bahwa ada pesawat jatuh dan hutan HTI terbakar.

Lidah api disertai asap tebal makin meluas karena angin makin santer. Lelaki pemilik onderneming itu merasa kepalanya berdenyut hebat. Bukankah para operator alat-alat berat dan regu pemadam kebakaran sedang cuti? Sejumlah mereka pulang ke Jawa dan Sumatera!

Masih dalam terpana, lelaki pemilik HTI, api terus menyebar dengan cepat karena tiga bulan terakhir tak setetes pun hujan turun dari langit. Ke mana menyewa pesawat untuk memadamkan api? Siapa bisa mengoperasikan alat-alat berat guna melokalisasi api? Sementara api terus mengojah langit!

"Enam teman kita mati. Usaha kita gagal, Pa," si wanita terdengar bersuara memelas. "Mengapa pemda harus beli pesawat rongsokan sehingga jatuh dan mencelakakan usaha HTI kita. Ke mana Papa mencari dana menutup kerugian dari kebangkrutan? Bibit kayu gaharu yang disemai di utara juga dilalap api?"

Di base camp orang ribut berlarian berusaha menyelamatkan diri karena lidah api dari hutan kayu besi makin mendekat menjadi-jadi.

"Lari! Kalau tak mau mati, lari cepat ke sungai. Lari ke kampung selamatkan diri! Ayo! Lari cepat!"

Api makin mendekat ke arah base camp dan hampir menjilat rumah mewah milik pengusaha HTI di lingkungan base camp.

Suara itu seperti litani bersahut-sahutan makin keras. "Cepat kita ngungsi! Tinggalkan kawasan Bentas Babay. Cepat kita selamatkan diri! Ayo! Lekas kalau tak mau mati dilalap api!"

Lelaki pemilik HTI tampak bengong menatap asap hitam dan lidah api yang menjolok langit. Dari mulutnya terdengar suara seperti geraman. "Kejayaan dan kemaslahatan tiba-tiba mengubah nasib menjadi kere gombal. Mengapa pemkab harus membeli pesawat bekas yang mencelakakan?"

Sebagian besar lahan HTI telah dilalap api. Cahaya merah menyebar ke segala arah! "Masyarakat dan provokator dapat diredam dari kebablasan reformasi. Tapi mengapa justru pesawat yang membakar HTI?!" suara lelaki itu terdengar lemah sambil matanya terus menatap hutan yang musnah! "Mengapa harus membeli pesawat yang tak diproduksi lagi. Dari Kanada pula, bukannya membeli milik sendiri dari PT Dirgantara Indonesia?" suaranya bagaikan menolog yang sumbang.

Deru api makin menjadi-jadi! ***

Catatan:
Bentas = tanjung terpotong menjadi sungai
puti = kempas, ohon tempat madu bersarang
dahuq = dracontomelon spp; fam. Anacardiaceae
badas = salah satu jenis buaya air tawar
kayu ulin = Eusideroxylon zwageri
kayu gaharu = Aquilaria malaccensis

---
Korrie Layun Rampan, sastrawan, telah menulis seratusan judul buku sastra. Lama tinggal di Yogyakarta, Jakarta, dan kini menjabat ketua Komisi I DPRD Kutai Barat.