Pages

Sabtu, 20 Agustus 2011

Detik Kewafatan Rasullullah SAW


Detik Detik Kewafatan Rasullullah SAW Detik Detik Kewafatan Rasullullah SAWDari Ibnu Mas'ud ra bahwa ia berkata: Ketika ajal Rasulullah SAW sudah dekat, baginda mengumpul kami di rumah Siti Aisyah ra. Kemudian baginda memandang kami sambil berlinangan air matanya, lalu bersabda:

"Marhaban bikum, semoga Allah memanjangkan umur kamu semua, semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu. Aku berwasiat kepada kamu, agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi peringatan untuk kamu. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah." Allah berfirman: "Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat. Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerosakan di muka bumi. Dan kesudahan syurga itu bagi orang-orang yang bertakwa."


Kemudian kami bertanya: "Bilakah ajal baginda ya Rasulullah? Baginda menjawab: Ajalku telah hampir, dan akan pindah ke hadhrat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyi la' la." Kami bertanya lagi: "Siapakah yang akan memandikan baginda ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Salah seorang ahli bait. Kami bertanya: "Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya Rasulullah?" Baginda menjawab: "Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah." Kami bertanya: "Siapakah yang mensolatkan baginda di antara kami?" Kami menangis dan Rasulullah SAW pun turut menangis.

Kemudian baginda bersabda: "Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku, kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama mensolatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tenteranya. Kemudian masuklah anda dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula solat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu semua."

Semenjak hari itulah Rasulullah SAW bertambah sakitnya, yang ditanggungnya selama 18 hari, setiap hari ramai yang mengunjungi baginda, sampailah datangnya hari Senin, di saat baginda menghembus nafas yang terakhir. Sehari menjelang baginda wafat yaitu pada hari Ahad, penyakit baginda semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah ra. selesai mengumandangkan azannya, ia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW, kemudian memberi salam: "Assalamualaikum ya Rasulullah?" Kemudian ia berkata lagi "Assolah yarhamukallah." Fatimah menjawab: "Rasulullah dalam keadaan sakit?" Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid, ketika bumi terang disinari matahari siang, Bilal datang lagi ke tempat Rasulullah, lalu ia berkata seperti perkataan yang tadi. Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menyuruh ia masuk. Setelah Bilal bin Rabah masuk, Rasulullah SAW bersabda: "Saya sekarang dalam keadaan sakit, Wahai Bilal, kamu perintahkan saja agar Abu Bakar menjadi imam dalam solat." Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata: "Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?" Kemudian ia memasuki masjid dan berkata kepada Abu Bakar ra. agar beliau menjadi imam dalam solat tersebut. Ketika Abu Bakar ra. melihat ke tempat Rasulullah SAW yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, ia tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu ia menjerit dan akhirnya ia pingsan.

Orang-orang yang berada di dalam masjid menjadi ribut sehingga terdengar oleh Rasulullah SAW. Baginda bertanya: "Wahai Fatimah, suara apakah yang ribut itu? Fatimah rha. menjawab: "Orang-orang menjadi ribut dan bingung kerana Rasulullah SAW tidak ada bersama mereka." Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib dan ibnu Abbas ra, sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka baginda berjalan menuju ke masjid. Baginda solat dua rakaat, setelah itu baginda melihat kepada orang ramai dan bersabda:

"Ya ma'aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah, sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT, kerana aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini."

Malaikat Maut Datang Bertamu Pada hari esoknya, yaitu pada hari Senin, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya ia turun menemui Rasulullah SAW dengan berpakaian sebaik-baiknya. Dan Allah menyuruh kepada Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah SAW dengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka ia dibolehkan masuk, namun jika Rasulullah SAW tidak mengizinkannya, ia tidak boleh masuk, dan hendaklah ia kembali saja. Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Ia menyamar sebagai seorang biasa.

Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah SAW, Malaikat Maut itupun berkata: "Assalamualaikum Wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!"

Fatimah rha berkata kepada tamunya itu: "Wahai Abdullah (Hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan sakit." Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi: "Assalamualaikum. Bolehkah saya masuk?" Akhirnya Rasulullah SAW mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda bertanya kepada puterinya Fatimah: "Siapakah yang ada di muka pintu itu? Fatimah menjawab: "Seorang lelaki memanggil ayah, saya katakan kepadanya bahwa ayahanda dalam keadaan sakit. Kemudian ia memanggil sekali lagi dengan suara yang menggetarkan sukma." Rasulullah SAW bersabda: "Tahukah kamu siapakah dia?"Fatimah menjawab: "Tidak wahai baginda." Lalu Rasulullah SAW menjelaskan: "Wahai Fatimah, ia adalah pengusir kelazatan, pemutus keinginan, pemisah jemaah dan yang meramaikan kubur."

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Masuklah, Wahai Malaikat Maut. Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan `Assalamualaika ya Rasulullah." Rasulullah SAW pun menjawab: Waalaikassalam Ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?" Malaikat Maut menjawab: "Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika tuan izinkan akan saya lakukan, kalau tidak, saya akan pulang. Rasulullah SAW bertanya: "Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril? "Saya tinggal ia di langit dunia?" Jawab Malaikat Maut.

Baru saja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril as datang kemudian duduk di samping Rasulullah SAW.Maka bersabdalah Rasulullah SAW: "Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahwa ajalku telah dekat? Jibril menjawab: Ya, Wahai kekasih Allah." Seterusnya Rasulullah SAW bersabda: "Beritahu kepadaku Wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya? Jibril pun menjawab: "bahwa pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu." Baginda SAW bersabda: "Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku? Jibril menjawab lagi: bahwa pintu-pintu Syurga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu." Baginda SAW bersabda lagi: "Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang di sediakan Allah untukku? Jibril menjawab: Aku memberikan berita gembira untuk tuan. Tuanlah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti." Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Segala puji dan syukur, aku panjatkan untuk Tuhanku.

Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang khabar yang menggembirakan aku?" Jibril as bertanya: "Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan? Rasulullah SAW menjawab: "Tentang kegelisahanku, apakah yang akan diperolehi oleh orang-orang yang membaca Al-Quran sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?" Jibril menjawab: "Saya membawa khabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya Allah telah berfirman: Aku telah mengharamkan Syurga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu." Maka berkatalah Rasulullah SAW: "Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku.

Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku?" Lalu Malaikat Maut pun berada dekat Rasulullah SAW. Ali ra bertanya: "Wahai Rasulullah SAW, siapakah yang akan memandikan baginda dan siapakah yang akan mengafaninya? Rasulullah menjawab: Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Syurga. Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah. Ketika roh baginda sampai di pusat perut, baginda berkata: "Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut." Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril as memalingkan mukanya. Lalu Rasulullah SAW bertanya: "Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku? Jibril menjawab: Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut?" Akhirnya roh yang mulia itupun meninggalkan jasad Rasulullah SAW. Kesedihan Sahabat Berkata Anas ra: "Ketika aku melalui depan pintu rumah Aisyah ra aku dengar ia sedang menangis, sambil mengatakan: Wahai orang-orang yang tidak pernah memakai sutera. Wahai orang-orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum. Wahai orang yang telah memilih tikar dari singgahsana. Wahai orang yang jarang tidur di waktu malam kerana takut Neraka Sa'ir."

Kisah Perang Badar


Perang Badar terjadi pada 7 Ramadhan, dua tahun setelah hijrah. Ini adalah peperangan pertama yang mana kaum Muslim (Muslimin) mendapat kemenangan terhadap kaum Kafir dan merupakan peperangan yang sangat terkenal karena beberapa kejadian yang ajaib terjadi dalam peperangan tersebut. Rasulullah Shallalaahu 'alayhi wa sallam telah memberikan semangat kepada Muslimin untuk menghadang khafilah suku Quraish yang akan kembali ke Mekkah dari Syam. Muslimin keluar dengan 300 lebih tentara tidak ada niat untuk menghadapi khafilah dagang yang hanya terdiri dari 40 lelaki, tidak berniat untuk menyerang tetapi hanya untuk menunjuk kekuatan terhadap mereka. Khafilah dagang itu lolos, tetapi Abu Sufyan telah menghantar pesan kepada kaumnya suku Quraish untuk datang dan menyelamatkannya. Kaum Quraish maju dengan pasukan besar yang terdiri dari 1000 lelaki, 600 pakaian perang, 100 ekor kuda, dan 700 ekor unta, dan persediaan makanan mewah yang cukup untuk beberapa hari.


Kafir Quraish ingin menjadikan peperangan ini sebagai kemenangan bagi mereka yang akan meletakkan rasa takut di dalam hati seluruh kaum bangsa Arab. Mereka hendak menghancurkan Muslimin dan mendapatkan keagungan dan kehebatan. Banyangkan, pasukan Muslimin dengan jumlah tentara yang kecil (termasuk 2 ekor kuda), keluar dengan niat mereka hanya untuk menghadang 40 lelaki yang tidak bersenjata akan tetapi harus menghadapi pasukan yang dipersiapkan dengan baik -3 kali- dari jumlah mereka. Rasulullah SAW dengan mudah meminta mereka Muslimin untuk perang dan mereka tidak akan menolak, akan tetapi, beliau SAW ingin menekankan kepada pengikutnya bahwa mereka harus mempertahankan keyakinan dan keimanan dan untuk menjadi pelajaran bagi kita. Beliau SAW mengumpulkan para sahabatnya untuk mengadakan musyawarah. Banyak di antara sahabat Muhajirin yang memberikan usulan, dengan menggunakan kata-kata yang baik untuk menerangkan dedikasi mereka. Tetapi ada seorang sahabat yaitu Miqdad bin Al-Aswad ra., dia berdiri dihadapan mereka yang masih merasa takut dan berkata kepada Rasulullah SAW,

"Ya Rasulullah (SAW)!, Kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan oleh bani Israel kepada Musa (AS), 'Pergilah kamu bersama Tuhanmu, kami duduk (menunggu) di sini'( Dalam surah Al-Maidah). Pergilah bersama dengan keberkahan Allah dan kami akan bersama dengan mu !".

Rasulullah SAW merasa sangat suka, akan tetapi Rasulullah hanya diam, beliau menunggu dan beberapa orang dari sahabat dapat mengetahui keinginan Beliau SAW. Sejauh ini hanya sahabat Muhajirin yang telah menyatakan kesungguhan mereka, akan tetapi Beliau menuggu para sahabat Anshor yang sebagian besar tidak hadir dalam baiat 'Aqaabah untuk turut serta dalam berperang melawan kekuatan musuh bersama-sama Rasulullah SAW di luar kawasan mereka. Maka, pemimpin besar sahabat Anshor, Sa'ad bin Muadh angkat bicara, "Ya Rasulullah (SAW) mungkin yang engkau maksudkan adalah kami". Rasulullah SAW menyetujuinya. S'ad kemudian menyampaikan pidatonya yang sangat indah yang mana dia berkata,

"Wahai utusan Allah, kami telah mempercayai bahwa engkau berkata benar, Kami telah memberikan kepadamu kesetiaan kami untuk mendengar dan thaat kepadamu... Demi ALlah, Dia yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau memasuki laut, kami akan ikut memasukinya bersamamu dan tidaka ada seorangpun dari kami yang akan tertinggal di belakang... Mudah-mudahan Allah akan menunjukkan kepadamu yang mana tindakan kami akan menyukakan mu. Maka Majulah bersama-sama kami, letakkan kepercayaan kami di dalam keberkahan Allah".

Rasulullah sangat menyukai apa yang disampaikan dan kemudian beluai bersabda, "Majulah ke depan dan yakinlah yang Allah telah menjajikan kepadaku satu dari keduanya (khafilah dagang atau perang), dan demi Allah, seolah olah aku telah dapat melihat pasukan musuh terbaring kalah". Pasukan Muslimin bergerak maju dan kemudian berhenti sejenak di tempat yang berdekatan dengan Badar (tempat paling dekat ke Madinah yang berada di utara Mekkah). Seorang sahabat bernama, Al-Hubab bin Mundhir ra., bertanya kepada Rasulullah SAW, " Apakah ALlah mewahyukan kepadamu untuk memilih tempat ini atau ianya strategi perang hasil keputusan musyawarah?". Rasulullah SAW bersabda, "Ini adalah hasil strategi perang dan keputusan musyawarah". Maka Al-Hubab telah mengusulkan kembali kepada Rasulullah SAW agar pasukan Muslimin sebaiknya bermarkas lebih ke selatan tempat yang paling dekat dengan sumber air, kemudian membuat kolam persediaan air untuk mereka dan menghancurkan sumber air yang lain sehingga dapat menghalang orang kafir Quraish dari mendapatkan air. Rasulullah SAW menyetujui usulan tersebut dan melaksanakannya [*]. Kemudian Sa'ad bin Muadh mengusulkan untuk membangun benteng untuk Rasulullah SAW untuk melindungi beliau dan sebagai markas bagi pasukan Muslimin. Rasulullah SAW dan Abu Bakar ra. tinggal di dalam benteng sementara Sa'ad bin Muadh dan sekumpulan lelaki menjaganya.

Rasulullah SAW telah menghabiskan sepanjang-panjang malam dengan berdoa dan beribadah walaupun beliau SAWmengetahui bahwa Allah ta'ala telah menjanjikannya kemenangan. Ianya melebihi cintanya dan penghambaannya dan penyerahandiri kepada Allah ta'ala dengan ibadah yang Beliau SAW kerjakan. Dan ianya telah dikatakan sebagai bentuk tertinggi dari ibadah yang dikenal sebagai 'ainul yaqiin.

Sifat-Sifat Nabi Muhammad SAW


Fizikal Nabi
Telah dikeluarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan bin Ali ra. katanya: Pernah aku menanyai pamanku (dari sebelah ibu) Hind bin Abu Halah, dan aku tahu baginda memang sangat pandai mensifatkan perilaku Rasulullah SAW, padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya, maka dia berkata: Adalah Rasulullah SAW itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan, wajahnya berseri-seri layak bulan di malam purnamanya, tingginya cukup tidak terialu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila baginda marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya, janggutnya lebat, kedua belah matanya hitam, kedua pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang, berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, luas dadanya, lebar antara kedua bahunya, tulang belakangnya besar, kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus, pada kedua teteknya dan perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula, lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang ujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila baginda berjalan, dan telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar daripadanya, bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri), melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang, bila menoleh dengan semua badannya, pandangannya sering ke bumi, kelihatan baginda lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit, jarang baginda memerhatikan sesuatu dengan terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya, selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya.


Kebiasaan Nabi
Kataku pula: Sifatkanlah kepadaku mengenai kebiasaannya!Jawab pamanku: Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirshat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya.

Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa baginda menjadi marah kerana sesuatu urusan dunia atau apa-apa yang bertalian dengannya, tetapi apabila baginda melihat kebenaran itu dihinakan, tiada seorang yang dapat melebihi marahnya, sehingga baginda dapat membela kerananya. Baginda tidak pernah marah untuk dirinya, atau membela sesuatu untuk kepentingan dirinya, bila mengisyarat diisyaratkan dengan semua telapak tangannya, dan bila baginda merasa takjub dibalikkan telapak tangannya, dan bila berbicara dikumpulkan tangannya dengan menumpukan telapak tangannya yang kanan pada ibu jari tangan kirinya, dan bila baginda marah baginda terus berpaling dari arah yang menyebabkan ia marah, dan bila baginda gembira dipejamkan matanya, kebanyakan ketawanya ialah dengan tersenyum, dan bila baginda ketawa, baginda ketawa seperti embun yang dingin.

Berkata Al-Hasan lagi: Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga. Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan pamanku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar baginda dan masuk baginda, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.

Rumah Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah diizinkan khusus baginya, dan apabila baginda berada di dalam rumahnya dibagikan masanya tiga bagian. Satu bagian khusus untuk Allah ta'ala, satu bagian untuk isteri-isterinya, dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Kemudian dijadikan bagian untuk dirinya itu terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya itu untuk melayani semua orang yang awam maupun yang khusus, tiada seorang pun dibedakan dari yang lain.
Di antara tabiatnya ketika melayani ummat, baginda selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri masing-masing dalam agama. Ada yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka baginda akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum, coba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula: "Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang penguasa, niscaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari kiamat", tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja.
Baginda tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah, namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak faedah, dan mereka keluar dari majelisnya sebagai orang yang ahli dalam hal-ihwal agamanya.

Luaran Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar, dan apa yang dibuatnya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW ketika di luar, senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk ummatnya. Baginda selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam bicaranya. Baginda senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. Kadang-kadang baginda mengingatkan orang ramai, tetapi baginda senantiasa menjaga hati mereka agar tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya yang mulia. Baginda selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan dicegahkan.
Baginda senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara, tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat, yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.

Majlis Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majelis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan baginda berzikir kepada Allah SWT baginda tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila baginda sampai kepada sesuatu tempat, di situlah baginda duduk sehingga selesai majelis itu dan baginda menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu masliahat, baginda terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang itu bangun dan kembali.
Baginda tidak pemah menghampakan orang yang meminta daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budipekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Baginda dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan.

Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya pun lalu menanyakan tentang kelakuan Rasulullah SAW pada orang-orang yang selalu duduk-duduk bersama-sama dengannya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya mudah dilayan, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Sangat jelas dalam perilakunya tiga perkara yang berikut. Baginda tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Baginda tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala.
Apabila baginda berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila baginda berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Baginda tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan baginda merasa takjub bila mereka merasa takjub. Baginda selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi baginda tetap menyabarkan mereka dengan berkata: "Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya!". Baginda juga tidak mengharapkan pujian daripada siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, baginda tidak menggalakkan untuk berbuat begitu. Baginda tidak pernah memotong bicara sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah baginda berbicara, atau baginda menjauh dari tempat itu.

Diamnya Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana pula keadaannya? Jawabnya: Diam Rasulullah SAW bergantung kepada mempertimbangkan empat hal, yaitu: Kerana adab sopan santun, kerana berhati-hati, kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan kerana bertafakkur. Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran. Tidak ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun menjadikannya membenci. Dan terkumpul dalam peribadinya sifat berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: Suka membuat yang baik-baik dan melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang lain. Baginda meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh yang lain. Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat ummatnya, baik buat dunia ataupun buat akhirat.

Senin, 15 Agustus 2011

Muhammad dalam Kitab Suci Dunia - Maulana Abdul Haque Vidyarthi

Sebelum kedatangan Nabi Suci, orang-orang hanya mempercayai kebenaran atas nabinya serta kitab sucinya masing-masing. Bahkan misalnya sampai sekarang seorang Yahudi hanya percaya kepada para nabi Bani Israil, seorang Kristen percaya kepada Yesus dan nabi-nabi Bani Israel lainnya dengan setengah hati, seorang Buddhis kepada Buddha, seorang Majusi kepada Zoroaster dan kepada beberapa nabi di negerinya sendiri, seorang Hindu kepada para Rishi yang muncul di India, tetapi Islam datang dengan suatu konsep baru dari agama. Dia menarik perhatian kita ke seluruh alam semesta dan menemukan benang merah dari semua agama Tuhan. Ketuhanan Allah yang melingkupi segala sesuatu telah dijelaskan dalam kata-kata yang paling awal dari al-Quran:




"Segala puji kepunyaan Allah, Tuhan sarwa sekalian alam"(1:1)
adalah benar-benar seirama dengan sifat agama Islam yang kosmopolitan, yang meminta pengakuan atas kebenaran semua nabi di segala bangsa; karena itu karakteristik yang paling mnonjol ialah bahwa dia meminta para penganutnya agar beriman kepada seluruh agama besar di dunia, yang sebelum Islam telah diwahyukan Tuhan. Ini adalah prinsip dasar dari Islam, bahwa seorang Muslim itu juga harus beriman kepada semua nabi di pelbagai bangsa yang berbeda-beda di dunia. Sebagai permulaan al-Quran dengan jelas menyatakan:

 "Dan yang beriman kepada yang diturunkan kepada engkau dan apa yang diturunkan sebelum engkau" (2:4).
Alasan mengapa para nabi dibangkitkan di segala bangsa di dunia telah dinyatakan sendiri dalam Quran Suci:

"Agar manusia tak mempunyai alasan untuk menentang Allah setelah (datangnya) para Utusan" (4:165);
dan juga ditambahkan,




"Dan Kami tak akan menjatuhkan siksaan sampai Kami bangkitkan seorang Utusan"(17:15). 

Dengan perkataan lain, azab di akhirat itu hanya akan diterapkan setelah manusia diperingatkan melalui utusan Allah,
"Dan bagi tiap-tiap umat ada Utusan. Maka apabila Utusan mereka datang, perkara akan diputuskan dengan adil, dan mereka tak akan dianiaya"(10:47).
Diterangi perintah yang jelas dari Quran Suci ini, jika ada suatu kaum di bumi ini yang tidak melihat nabi di antara mereka, maka Tuhan tidak akan menyiksa dia; mereka akan masuk Surga tanpa ditanya sama sekali, karena kilah mereka di hadapan Allah kiranya adalah yang seperti di bawah ini:
"Tuhan kami, mengapa tak Engkau utus kepada kami seorang Utusan, sehingga kami dapat mengikuti ayat-ayat Engkau, dan kami menjadi golongan orang beriman"(28:47). 

Dan bila kita menemukan dalam kitab wahyu kita nubuatan tentang datangnya "Yang diharapkan oleh segala bangsa" atau "segel dari semua nabi-nabi" sebagaimana yang dicantumkan dalam Kitab-kitab Suci Israel  maka kita harus beriman kepadanya, ketika dia muncul untuk memenuhi nubuatan semacam itu. Adalah suatu ketidak-adilan dari fihak Tuhan segala bangsa bila Dia akan mewahyukan suatu nubuatan tentang datangnya "rahmat untuk segala bangsa" hanya dalam satu buku khusus untuk suatu kaum saja dan pada hari pengadilan Dia lalu mengutuk semua bangsa di dunia sebagai kafir dan mengirimnya ke dasar Neraka. Quran Suci mendeklarasikan bahwa Nabi kita adalah "rahmat untuk segala



"Dan tiada Kami mengutus engkau kecuali sebagai rahmat bagi sekalian bangsa"(21:107).
Beliau tidak saja menjadi rahmat bagi umat Yahudi dan Kristiani saja melainkan juga sebagai pembenar dari semua nabi dan Kitab-kitab Suci di seluruh dunia. Maka seorang Muslim tidak hanya beriman kepada Nabi Muhammad s.a.w. melainkan juga kepada semua nabi lain di dunia, dan hanya inilah yang bisa melicinkan hubungan antara pelbagai bangsa di dunia. 




Minggu, 14 Agustus 2011

PERINTAH (الأمر)

PERINTAH DEFINISINYA :
 
قول يتضمن طلب الفعل على وجه الاستعلاء

Perintah (الأمر) adalah : “Perkataan yang mengandung permintaan untuk dilakukannya suatu perbuatan, dalam bentuk al-isti’la (dari yang lebih tinggi ke yang lebih rendah, seperti Allah memerintahkan hamba-Nya. pent).

Keluar dari perkataan kami : (قول) “perkataan” ; Isyarat, maka isyarat tidak dinamakan perintah, walaupun maknanya memberi faidah perintah.

Keluar dari perkataan kami : (طلب الفعل) ” permintaan untuk dilakukannya suatu perbuatan” ; larangan, karena larangan merupakan permintaan untuk meninggalkan sesuatu, dan yang dimaksud dengan perbuatan adalah mewujudkan sesuatu, maka (perbuatan tersebut, pent) mencakup perkataan/ucapan yang diperintahkan.


Keluar dari perkataan kami : (على وجه الاستعلاء) “dalam bentuk isti’la” ; al-iltimas (setara/sejajar/selevel, pent) dan do’a (dari yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi, pent) dan yang selainnya yang diambil dari bentuk perintah dengan adanya qorinah (yakni konteks kalimatnya bukan sebagai perintah, pent).

BENTUK-BENTUK PERINTAH :
Bentuk-bentuk perintah ada empat :
1. Fi’il amr (فعل الأمر),
Contohnya :

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ

“Bacalah apa-apa yang diwahyukan kepadamu dari Al-Kitab” (Al-Ankabut :45)

2. Isim fi’il amr (اسم فعل الأمر),
Contohnya :

حيّ على الصلاة

 “Marilah kita sholat”

3. Masdar pengganti dari fi’il amr (المصدر النائب عن فعل الأمر),
Contohnya :

فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَاب

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka.” (Muhammad : 4)

4. Fi’il Mudhori’ yang bersambung dengan lam amr (المضارع المقرون بلام الأمر),
Contohnya :

لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya” (Al-Mujadalah:4)
Dan terkadang yang selain bentuk perintah memberi faidah permintaan untuk dilakukannya suatu perbuatan seperti suatu perbuatan yang disifati dengan hukum fardhu atau wajib atau mandub (disukai) atau merupakan ketaatan atau pelakunya dipuji atau yang meninggalkannya dicela atau mengerjakannya mendapat ganjaran atau meninggalkannya mendapat adzab.
Yang ditunjukkan dari bentuk perintah (صيغة الأمر):
Bentuk perintah secara mutlak/ umum memberi konsekuensi: wajibnya sesuatu yang diperintahkan dan bersegera (المبادرة) dalam melakukannya secara langsung.

Diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa bentuk perintah memberi konsekuensi wajib adalah firman Allah ta’ala : 

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih” (an-Nur : 63)

Segi pendalilannya bahwasanya Allah memperingatkan kepada orang-orang yang menyelisihi perintah Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka akan tertimpa fitnah yaitu kesesatan atau mereka akan ditimpa dengan adzab yang pedih, yang demikian itu tidaklah terjadi melainkan dengan meninggalkan kewajiban, maka ini menunjukkan bahwa perintah Rosullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara mutlak/ umum menunjukkan wajibnya perbuatan yang diperintahkan.

Dan diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa bentuk perintah menunjukkan untuk segera dilakukan secara langsung adalah firman Allah ta’ala :

فأستبقوا الخيرات

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan” (Al-Baqoroh : 148)
Dan semua yang diperintahkan secara syar’i merupakan kebaikan, dan perintah untuk berlomba-lomba dalam mengerjakannya merupakan dalil wajibnya bersegera.

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci ketika para sahabat menunda-nunda apa yang diperintahkan kepada mereka dari menyembelih dan mencukur rambut pada hari perjanjian Hudaibiyyah, sampai Rosullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk mendatangi Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha maka beliau menceritakan kepadanya apa yang beliau dapatkan dari sikap para sahabat (yang menunda-nunda perintahnya, pent). [HR. Ahmad dan Al-Bukhori].

Dan karena bersegera dalam melakukan suatu perbuatan (yang diperintahkan, pent) adalah lebih hati-hati dan lebih membebaskan dari tanggungan, dan menunda-nunda melakukan perbuatan yang diperintahkan merupakan cacat, dan memberi konsekuensi bertumpuknya kewajiban-kewajiban sehingga seseorang menjadi tidak sanggup mengerjakannya.
Dan terkadang perintah keluar dari hukum wajib dan bersegera dengan adanya dalil yang menunjukkan demikian maka perintah keluar dari hukum wajib kepada beberapa makna (hukum), diantaranya :

1. Mandub (disukai), seperti firman Allah ta’ala :
وأشهدوا اذا تبايعتم

“Dan datangkanlah saksi jika kalian berjual beli” (Al-Baqoroh : 282)
Perintah untuk mendatangkan saksi atas jual beli hukumnya adalah mandub dengan dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli kuda dari seorang A’robi (Arab Badui) dan beliau tidak mendatangkan saksi. [HR. Ahmad, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan pada hadits tersebut terdapat suatu cerita].

2. Mubah (Boleh), dan kebanyakan yang terjadi adalah jika perintah tersebut datang setelah adanya larangan atau sebagai jawaban terhadap sesuatu yang disangka terlarang.
Contoh setelah adanya larangan : firman Allah ta’ala :
واذا حللتم فاصطادوا

“Jika engkau telah bertahallul maka berburulah” (Al-Maidah : 2)
Perintah untuk berburu tersebut hukumnya mubah karena ia muncul setelah adanya larangan yang ditunjukkan dari firman Allah :
غير محلى الصيد وأنتم حرم

“(Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang dalam keadaan ber-ihrom.” (Al-Maidah : 1)
Dan contoh sebagai jawaban terhadap sesuatu yang disangka terlarang adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
افعل ولا حرج

“Lakukanlah, tidak mengapa!” [Muttafaqun alaih], sebagai jawaban atas orang yang bertanya kepada beliau pada haji wada’ tentang mendahulukan amalan-amalan haji yang satu terhadap yang lainnya yang dikerjakan pada hari Ied.

3. Ancaman seperti pada firman Allah ta’ala :
اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Berbuatlah semau kalian, sesungguhnya Allah Maha Melihat terhadap apa-apa yang kalian kerjakan.” (Fushshilat : 40)
فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا

“maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka” (Al-Kahfi: 29)

Penyebutan ancaman setelah adanya perintah yang disebutkan tadi merupakan dalil bahwa perintah tersebut adalah sebagai ancaman.

Dan terkadang perintah keluar dari hukum bersegera kepada hukum boleh ditunda (التراخي).
Contohnya : Qodho’ puasa romadhon, maka seseorang diperintahkan untuk menunaikannya, akan tetapi ada dalil yang menunjukkan bahwa qodho’ tersebut boleh ditunda. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata :

كان يكون عليّ الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضيه إلا في شعبان، وذلك لمكان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم

“Aku pernah mempunyai hutang puasa romadhon, aku tidak mampu untuk mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban, yang demikian adalah karena kedudukan Rosullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [HR. Al-Jama’ah].

Dan seandainya mengakhirkannya adalah haram maka Aisyah tidak akan diizinkan untuk mengakhirkan qodho’ tersebut.

APA YANG TIDAK SEMPURNA SESUATU YANG DIPERINTAHKAN KECUALI DENGANNYA (ما لا يتم المأمور إلا به):
Jika suatu perbuatan yang diperintahkan tidak bisa dikerjakan kecuali dengan sesuatu maka sesuatu tersebut adalah diperintahkan, jika yang diperintahkan adalah wajib maka sesuatu itu hukumnya juga wajib, dan jika yang diperintahkan adalah mandub maka sesuatu itu hukumnya mandub.

Contoh yang wajib : menutup aurat, jika tidak bisa dikerjakan kecuali dengan membeli pakaian, maka membeli pakaian tersebut hukumnya menjadi wajib.
Contoh yang mandub : memakai wewangian untuk sholat jum’at, jika tidak bisa dikerjakan kecuali dengan membeli wewangian, maka membeli wewangian tersebut hukumnya menjadi mandub.

Dan kaidah ini terkandung pada kaidah yang lebih umum darinya yaitu “hukum wasilah adalah sebagaimana hukum yang dituju”, Maka wasilah-wasilah untuk suatu yang diperintahkan hukumnya adalah diperintahkan juga, dan wasilah-wasilah yang suatu yang dilarang hukumnya adalah dilarang.

Selasa, 09 Agustus 2011

Ketegaran Wanita-Wanita Muslimah - DR. Muhammad bin Abdurrahman Al-Arify

Sesungguhnya segala puji hanya untuk Allah subhanahu wata’ala, kita memuji-Nya, memohon pertolongan, ampunan dan perlindungan kepada-Nya dari kejahatan diri dan kejelekan amal-amal kita. Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorangpun yang dapat menunjukinya.

لا لوسر ادمحم نأ دهشأ و لا لإ هلإ ل نأ دهشأ

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah”.



َلَو ِهِتاَقُت ّقَح ّلا ْاوُقّتا ْاوُنَمآ َنيِذّلا اَهّيَأ اَي َنوُمِلْسّم مُتنَأَو ّلِإ ّنُتوُمَت. ( : نارمع لآ102)

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah sebenar-benar taqwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam”. (Surat. Ali Imran-102)

ٍسْفّن نّم مُكَقَلَخ يِذّلا ُمُكّبَر ْاوُقّتا ُساّنلا اَهّيَأ اَي ًاريِثَك ًلاَجِر اَمُهْنِم ّثَبَو اَهَجْوَز اَهْنِم َقَلَخَو ٍةَدِحاَو ّلا ْاوُقّتاَو ءاَسِنَو ّلا ّنِإ َماَحْرَلاَو ِهِب َنوُلءاَسَت يِذّلا ًابيِقَر ْمُكْيَلَع َناَك .( : ءاسنلا1)

Wahai manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu yang telah menjadikan kamu dari  satu jiwa dan menciptakan darinya pasangannya dan berkembang dari keduanya laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah yang kamu saling meminta dengan-Nya dan belas kasih. Sesungguhnya Allah adalah pengawas bagimu”. (Surat. An-Nisaa’:1)

( ًاديِدَس ًلْوَق اوُلوُقَو َّلا اوُقّتا اوُنَمآ َنيِذّلا اَهّيَأ اَي70 ) ْعِطُي نَمَو ْمُكَبوُنُذ ْمُكَل ْرِفْغَيَو ْمُكَلاَمْعَأ ْمُكَل ْحِلْصُي ْدَقَف ُهَلوُسَرَو َّلا ( ًاميِظَع ًازْوَف َزاَف71 .) : بازحلا(70-71)

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah olehmu perkataan yang benar. Niscaya diperbaiki amal-amal kamu dan diampuni dosa-dosamu dan siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia menang kemenangan yang besar. (Surat. Al-Ahzab: 70-71).

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad ShollAllahu ‘Alaihi Wassallam. Seburuk-buruk urusan adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah Bid’ah,  setiapBid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Pembaca yang mulia, Penulis buku ini memaparkan beberapa nasehat kepada para remaja putri dan wanita pada umumnya agar istiqomah dan tegar dalam memegang Islam, disaat zaman sekarang ini yang penuh dengan fitnah dan keterasingan. Dengan tidak mengikuti seruan para musuh-musuh Islam yang seolah-olah ingin mengangkat derjat kaum wanita namun pada akhir dan kenyataannya malah menghinakan mereka dengan semboyan dan dengungan yang menipu seperti pembebasan wanita, persamaan, gender dan lain-lain.

Penulis juga menceritakan beberapa kisah nyata tentang para wanita muslimah yang mencoba untuk bertahan demi mencari keridhoan Allah subhanahu wata’ala sekalipun nyawa taruhannya. Kisah istri Rasul Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dan wanita Sahabat Rasul Shollallahu ‘Alaihi Wasallam. Kisah tentang masuk Islamnya seorang gadis Rusia, setelah ia menikah dengan seorang laki-laki yang menyelamatkannya dari pedagang yang menipunya dengan tawaran kerja keluar negri, tentunya ini merupakan pelajaran yang sangat berharga yang dapat diambil oleh para wanita yang akan kerja keluar negri atau calon TKW. Berapa banyak diantara mereka yang dijerumuskan dan menjerumuskan diri menjual kehormatan dengan secuil kesenangan yang hanya sesaat namun penderitaan setelah itu sangat pedih dan lama.




Download Ebook ==>> Ketegaran Wanita-Wanita Muslimah

Senin, 08 Agustus 2011

Aku Ingin Bertaubat, Tetapi… - Syaikh Muhammad Saleh Al-Munajjid

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, kami memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Kami  berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang patut diibadahi dengan benar kecuali Allah, Maha Esa Dia, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.  

Allah telah memerintahkan semua kaum Mu’minin untuk bertaubat, Dia berfirman: 


“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An-Nur [24] : 31) 

Manusia terbagi ke dalam dua jenis, orang-orang yang bertaubat dan kembali kepada Allah, dan orang-orang yang berbuat kesalahan, tidak ada jenis ketiga. Allah berfirman: 

“…dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang  yang zalim.” (QS Al-Hujarat [49] : 11) 

Kita hidup di zaman dimana banyak orang telah menyimpang jauh dari agama Allah, dan dosa dan pelanggaran sangat menyebar sehingga tidak ada satu orang pun yang tetap terbebas dari noda keburukan kecuali bagi orang yang dilindungi oleh Allah.   



Download Ebook ==>> Aku Ingin Bertaubat, Tetapi…