Pages

Kamis, 01 Juli 2010

Detik-detik yang Menentukan ~ BJ Habibie


Jalan Panjang Indonesia menuju Demokrasi

Khazanah sejarah politik kontemporer Indonesia akan makin kaya dengan kehadiran sebuah buku yang merupakan memoir dari Bacharuddin Jusuf Habibie, presiden ke-3 RI. Buku memoir ini ditulis sendiri oleh B.J. Habibie berdasarkan cacatan yang beliau tulis semasa menjabat sebagai Presiden RI.
Buku yang diberi judul " Detik-Detik Yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia menuju Demokrasi" menguak banyak informasi yang selama ini belum diketahui oleh masyarakat dan terkadang menjadi polemik baik di kalangan akademisi, politisi maupun masyarakat awam.
Berbagai peristiwa, fakta-fakta sosial, ekonomi, politik, dan berbagai langkah kebijakan yang diambil B.J. Habibie selama masa pemerintahannya dirangkum dalam empat bab yang disusun sebagaimana adanya.
Buku ini diluncurkan pada tanggal 21 September 2006 di jakarta.
Memoir buku ini diawali dengan prolog yang menggambarkan situasi dan kemelut yang terjadi menjelang pergantian kepemimpinan dari Presiden Soeharto ke B.J. Habibie, kala itu Wakil Presiden RI. Prolog ditulis oleh tim editor yang dipilih oleh B.J. Habibie.
Sementara, bagian pokok buku yakni Bab satu hingga Bab empat ditulis sendiri oleh B.J.Habibie.
Pada Bab 1, B.J.Habibie menguraikan kejadian-kejadian yang menentukan saat menjelang pengunduran diri Presiden Soeharto.
Di Bab 2, B.J.Habibie memaparkan hal-hal penting yang terjadi selama 100 hari pertama pemerintahannya.
Bab 3, menyuguhkan secara tematik hal-hal mendasar yang dilakukan oleh B.J.Habibie pada masa pemerintahannya. Hal-hal penting yang dipaparkan antara lain : (a) masalah pemilu dan sidang istimewa MPR; (b) masalah perbankan dan ekonomi; (c) masalah Timor-Timur; (d) masalah otonomi daerah, dan (e) tentang Pak Harto.
Bab 4, memaparkan hal-hal penting yang terjadi pada 100 hari menjelang terpilihnya Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid.


Detik-detik yang Menentukan ~ Editor By. I-One

Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia ~ Ishak Rafick

Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia Ekonomi, dan Jalan Baru Membangun Indonesia.



Yang akan Anda baca ini memang bukan sesuatu yang manis. Buku ini juga tentu tidak ditujukan untuk menyenangkan setiap orang seperti cerita pengantar tidur. Di dalamnya, memuat rekaman hitam bersejarah yang boleh jadi belum pernah terungkap di media.

Ini adalah hasil penelusuran jurnalistik selama 10 tahun. Catatan yang tajam dan paling komprehensif yang membedah kegagalan demi kegagalan presiden kita dalam membawa Indonesia tinggal landas.

Satu hal yang pasti, ada solusi dan pencerahan yang ditawarkan sang penulis kepada kita dengan cara memberi gambaran apa adanya tentang tanah air tercinta. Setidaknya agar muncul ide-ide kreatif untuk menyelesaikannya.



Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia ~ Editor By. I-One

Jadilah PNS yang Baik ~ Nyong Abdurrahman

Jika Anda terlanjur menjadi PNS Dengan cara menyuap. Jika Anda terlanjur bergelimang dengan harta haram hasil. Korupsi dan kolusi.. Jika Anda terjebak dalam budaya birokrasi yang tidak sehat... Apa yang akan Anda lakukan...?

Buku ini akan memberi Anda wawasan untuk memahami jati diri Anda sebagai seorang PNS, menuntun langkah Anda, membantu Anda dalam mengambil keputusan, dan membuat Anda berani MENJADI DIRI ANDA SENDIRI.

Tidak berlebihan jika buku ini layak untuk direkomendasikan kepada jajaran PNS di seluruh Indonesiam keluarga PNS atau siapa saja yang hendak menjadi PNS.


Jadilah PNS yang Baik ~ Editor By. I-One

Misteri Kain Kafan Jesus ~ Julia Navarro


Sesosok tubuh ‘tanpa lidah’ tergeletak di antara reruntuhan kebakaran yang terjadi di Katedral Turin, tempat kain penguburan Jesus yang otentik disimpan. Kepala Divisi Kejahatan Seni Italia, Marco Valoni, mencurigai seseorang tengah berusaha mencuri kain yang paling terkenal di dunia ini. Temuan mengerikan ini mengingatkan Valoni pada para lelaki ‘tanpa lidah’ dan serangkaian kebakaran misterius yang terjadi di tempat yang sama beberapa abad lampau dan juga terkait dengan kafan suci itu.
Valoni, timnya, dan para peneliti harus mengumpulkan informasi tentang siapa sebenarnya yang menginginkan kain itu dan mengapa mereka menginginkannya. Nyawa mereka menjadi terancam ketika mereka terlalu dekat dengan persaudaraan masa lampau yang bersumpah akan melindungi kafan itu.
Novel ini laku keras di Eropa. Navarro memulai kisah misteri dan intrik ini di Edessa, Timur Tengah kuno, pada tahun 30 masehi, dan mengakhirinya di Turin pada zaman modern. Dengan detail yang kaya, dia melacak perjalanan kafan sejak kafan itu sebagai alat penguburan sederhana sampai menjadi relik suci yang diagung-agungkan kini. Dia bahkan menjawab mengapa pengetesan terhadapnya dilakukan pada Abad Pertengahan………


Misteri Kain Kafan Jesus ~ Editor By. I-One

Menerima Tanda Jasa ~ Sapta Siaga

"Hore! Liburan!" seru Peter dengan gembira. Ia  berlari masuk ke dapur, lewat pintu belakang Tas  sekolahnya dilemparkan begitu saja, mengenai  sebuah kursi. Kebetulan kucing dapur sedang tidur  di situ. Kucing itu mengeong ketakutan, lalu lari  pontang-panting ke luar lewat jendela terbuka.
"Kenapa Pus Kautakut-takuti?" tukas juru masak. Ia sedang sibuk menggiling adonan untuk membikin perkedel. "Kasihan, ia tadi sedang enak-enak tidur. Rupanya capek, karena semalaman rajin menangkap tikus dalam lumbung!"
"Aku tidak tahu ia ada di situ," kata Peter. "Sungguh, aku tidak tahu. Aku boleh minta selai sedikit, Cookie?"
"Tidak boleh," tukas juru masak. Nama panggilannya Cookie. "Mana adikmu? Aduh.. aduh, sudah  liburan lagi sekarang! Kalian berdua pasti akan  tidak berhenti-henti keluar-masuk dapur. Wah,  payah!"
"Jangan begitu dong, Cookie manis. Kan akan  ada dua anak yang bisa disuruh-suruh, yang rajin  membersihkan sisa makanan dalam panci dan  tidak bosan mengatakan kue apel Anda yang  paling enak di dunia,” kata Peter membujuk.  "Belum lagi...."
"Ya- belum lagi yang suka mengambil kue dari  dalam kaleng, terus-menerus minta kismis, minta  limun, minta...."
Saat itu Janet, adik Peter, masuk bergegas-gegas. Ia merangkul Cookie dan mengecupnya.
"Makan apa kita nanti?" tanyanya sekaligus.  "Kalian ini, ingatannya cuma makan terus," kata  Cookie menggerutu, sementara tangannya sibuk mengaduk adonan. "Lebih baik masuk dulu. Ibu ada di kamar duduk, bersama Bibi Lou yang baru saja datang. Aku tahu, bagaimana Bibi - pasti membawa oleh-oleh untuk kalian!"
Peter dan Janet bergegas masuk ke kamar  duduk. Mereka sangat sayang pada Bibi Lou. Peter  dan Janet merangkul dan mengecupnya, lalu bercerita bahwa liburan sekolah sudah dimulai.
"Jadi kapan-kapan kami akan bisa datang ke tempat Bibi," kata Peter.
"Kau ini bagaimana, Peter!" tukas Ibu. "Masa  mengundang diri sendiri? Dan kenapa lututmu itu?  Bukan main kotornya! Orang yang melihat pasti  menyangka dalam perjalanan pulang dari sekolah  tadi kau sengaja merangkak di lumpur."
"Baiklah, akan kucuci dengan segera," kata  Peter. Ia sendiri kaget melihat lututnya begitu  kotor. "Sungguh, Bu - aku juga tidak tahu apa sebabnya ...."
"Sini, sekarang saja kuberikan hadiah liburan untuk kalian," kata Bibi Lou. "Aku tak bisa menunggu sampai lututmu sudah dicuci bersih, karena nanti bis sudah berangkat. Kalian tentunya masih suka coklat, ya?"
Sambil berkata begitu, Bibi Lou menyodorkan sebuah kaleng yang besar sekali. Mata Peter dan Janet sampai terbelalak melihatnya. Bayangkan, coklat  sebanyak itu - untuk mereka sendiri!
"Aku tahu, kalian kan punya perkumpulan," kata Bibi lagi. "Kalau tidak salah, anggotanya tujuh atau delapan anak, kan? Nah, coklat sekaleng ini sumbanganku, untuk dimakan dalam rapat yang berikut."
Peter membuka tutup kaleng. Matanya semakin membesar, keasyikan.
"Lihatlah, Janet - bermacam-macam jenis biskuit coklat ada di sini! Wah, Bi - aku akan segera mengundang teman-teman berapat. Terima kasih, Bi - Anda benar-benar baik hati. Semuanya ini, benar-benar untuk kami?"
“Untuk kalian serta teman-teman kalian," kata Bibi Lou sambil bangkit. "Nah, sekarang aku harus
bergegas - supaya tidak ketinggalan bis. Yuk, antarkan aku ke halte."
Peter dan Janet ikut mengantarkan. sampai Bibi Lou sudah naik ke atas bis. Kemudian keduanya bergegas kembali ke kamar duduk, mendatangi biskuit coklat sekaleng penuh.
"Kita memakannya nanti saja, dalam rapat Sapta Siaga,” kata Peter. "Sekarang kita tawarkan pada Ibu dan Cookie. Tapi kita sendiri jangan mengambil.  Sudah lama sekali kita tidak mengadakan rapat. Dan dengan hidangan biskuit coklat, rapat pasti akan lancar jalannya."
"Besok saja kita mengadakan rapat," kata Janet dengan gembira. "Aduh, senangnya! Sekarang sudah liburan lagi - kita bisa berapat kembali dalam gudang, dengan lencana dan kata semboyan, lalu...." 


Menerima Tanda Jasa ~ Editor by. I-One

Rahasia Loga Ajaib ~ Enid Blyton

Menurut perasaanku, belum pernah kita mengalami liburan Natal yang begini mengecewakan, kata Dick. kasihan George ! Dia sengaja kemari untuk melewatkan hari - hari Natal bersama kita - eh, tahu - tahu kita semua terserang batuk dan pilek, kata Julian. Ya - tidak enak rasanya meringkuk di tempat tidur pada hari Natal, kata George.

Tapi yang paling menyebalkan, aku juga tidak bernafsu makan sama sekali. Bayangkan, hal begitu terjadi justru pada hari Natal! Tak kusangka nasibku akan sesial itu. Cuma Timmy saja satu - satunyadari kita yang tidak jatuh sakit, kata Anne, sambil menepuk - nepuk anjing itu. kau baik hati Tim, sewaktu kami berempat masih tergeletak semua di tempat tidur, kamu menemani kami. Timmy menggongong dengan lagak serius.

Perayaan Natal sekali itu, sama sekali tidak menggembirakan baginya. Apalah enaknya, kalau keempat kawannya berbaring terus di tempat tidur, batuk - batuk serta bersin terus menerus. Yah - pokoknya sekarang kita sudah sembuh lagi, kata Dick. Cuma kakiku, rasanya masih aneh. Eh, kau juga begitu ya, kata George.

Kusangka aku saja yang berperasaan begitu. kita Semua begitu - tapi sekarang kan sudah mampu bangun lagi, kata Julian, jadi sebentar lagi pasti rasa itu kana hilang juga. Yang jelas minggu depan kita sudah harus sekolah lagi - jadi perlu lekas - lekas merasa sehat kembali.


Rahasia Loga Ajaib ~ Editor By. I-One

Dalam Lorong Pencoleng ~ Enid Blyton


Sial, banku bocor! kata Dick mengumpat. Kenapa justru sekarang, sih! Julian memandang ban belakang sepeda Dick sekilas, lalu melirik arlojinya. Masih ada waktu sedikit untuk memompanya kembali, katanya. Mudah - mudahan saja  tahan sampai ke stasiun. Masih ada waktu tujuh menit sebelum kereta api berangkat.
Dick turun dari sepeda, lalu mengambil pompanya. Saudara - saudaranya mengelilingi anak itu. Mereka ingin melihat, apakah ban yang bocor itu masih bisa dipompa atau tidak. Saat itu mereka sedang berada dalam perjalanan ke stasiun Kirrin.
Mereka akan pergi berlibur naik kereta api. Barang - barang mereka sudah dikirim lebih dulu. Karena itu mereka menyangka cukup banyak waktu untuk bersepeda ke stasiun, menyerahkan sepeda - sepeda ke bagasi, lalu naik kereta api. Mereka menyangka akan bisa tenang - tenang saja. Sama sekali tak ada yang menduga ban sepeda Dick akan bocor di tengah jalan.
Kita tidak boleh terlambat, kata George sambil merengut. Anak itu paling jengkel kalau ada sesuatu yang tidak beres. Ah, boleh saja. Kata Julian. Ia nyengir, geli melihat tampang George yang galak. Bagaimana pendapatmu, Timmy?


Dalam Lorong Pencoleng ~ Editor By. I-One