Pages

Tampilkan postingan dengan label Naskah Teater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah Teater. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2011

DIAMKU ADALAH SEBUAH KERINDUAN

DIAMKU ADALAH SEBUAH KERINDUAN 
Naskah Rudi Remakong 

Berawal dari inisiatif kisah perjalanan hidup seseorang yang merindukan sesuatu keadaan indah, ketika rasa diam kian memuncak, sepi ini berlabuh pada muara syarat canda, saat peristiwa mulai tiba (ilusi), menjadi alur cerita perjalanan seorang perempuan, yang dilukiskan oleh segerombolan orang, hingga ketegangan menguasahi amarah, perempuan itu hanya diam tanpa sepata kata, lalu kemudian kisah ini mengujungkan kenangan, sampai akhirnya sang perempuan berucap menguntaikan sebuah puisi dan berkata “diamku adalah kerinduan” pada seorang lelaki dari segerombolan orang-orang, lalu perempuan berakhir dengan mati.

Adegan.1.



Seorang perempuan telah berada dalam panggung danduduk diatas (trab) dengan posisi diam sambil merenung.

Lampu redup fokus pada perempuan.

Berkisar hitungan 1 menit.



Tiba-tiba seorang laki-laki masuk telah berada jugadiatas trab samping kanan perempuan dalam posisi berdiri tegap, lalu lelaki ituberdialog dan kemudian hilang.



 Diam sejenak dan sambil tersenyum.



Lelaki1           :  diammutak memberi jawaban untuk semua . .

                        maka kutunjukkan engkau pada kerinduan . . .



Lelaki itu mendekati perempuan dengan cepat lalu lampupadam dan kemudian nyala kembali, perempuan merasa tersentak dari kebingungan,lampu redup dan perempuan tetap menjadi focus.



2 orang masuk.



Orang1           : berhenti . . ?

                        jelaskan padaku . . .



Orang2           : apa yang haruskujelaskan . .



Orang1           : jelaskan apayang terjadi . .



Orang2           : memang apa yangtelah terjadi . . .



Orang 1          : jangan berbalik bertanya . .

                       sudahlah, katakan saja padaku . .



Orang2           : apa yang haruskukatakan . .

 jika memang diriku tak tahu tentang semua ini .



Orang1           : usahlahberbohong . . .

                        karna kuyakin kau pasti merahsiakannya.



Orang ke dua berdiam dengan sikap gelisah.



Orang2           : aku takmengerti maksudmu . . ?



Orang1           : katakan . .



Orang2           : sungguh, akutidak tahu . .



Orang1           : bicaralahpadaku . .



Orang2           : sudah kubilang,aku tidak tahu . . .



Orang1           : ucapilah,sebelum ombak menghantammu .



Orang2           : walaupun ombakmenghantam, diriku tetap tak bisa mengatakannya .



Situasi tegang, emosi ke dua orang memancing danmencekam.


klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Selasa, 05 Juli 2011

Di Bawah Bayang-Bayang Bakau

Lakon
DI BAWAH BAYANG-BAYANG POHON BAKAU
Oleh; Wahyudin - sanggar nuun

DRAMATIC PERSONAE
  1. Marji (suami usia 78 tahun)
  2. Samiah (istri usia 63 tahun)
  3. Rahmin (usia 55 tahun)
  4. Samsani (usia 50 tahun)
  5. Warga



PAGI HARI DI TEPI LAUT DI DEPAN RUMAH MARJI TAMPAK MEMBERSIHKAN DIRI SETELAH MENANCAPKAN BEBERAPA BATANG POHON BAKAU. BEBERAPA SAAT SAMIAH KELUAR DARI DALAM RUMAH.

SAMIAH
Sudah pulang rupanya kau Marji?! Berapa banyak batang bakau yang kau tancapkan pagi ini?

MARJI
Ya Lumayan.

SAMIAH
Lumayan, berapa tepatnya?

MARJI
Ya lumayan, cukup! Cukup banyak.

SAMIAH
Yang aku tanyakan jumlahnya, Marji. Tepatnya berapa?

MARJI
Sedikit lebih banyak dari kemarin, istriku.

SAMIAH
Wajahmu tampak senang, sepertinya kau berhasil menanam banyak bakau atau kau memang sedang gembira hari ini.

MARJI
Ya, banyak. Tapi aku tak menghitungnya…tidak ada teh panas untukku istriku?

SAMIAH TERDIAM BEBERAPA SAAT, MARJI MENATAP DALAM WAJAH SAMIAH

MARJI
Kau tidak menyediakannya untukku istriku? Padahal katamu aku sedang gembira pagi ini, tapi rasanya kau malah sebaliknya. Apa kau tidak sedang bahagia hari ini?

SAMIAH
Kau sudah tahu Marji, pagi ini tidak ada teh panas. Tapi bukan berarti aku tidak bahagia.

MARJI
Tapi kenapa tidak menyediakan teh panas, istriku?

MARJI TERDIAM, BEBERAPA SAAT MENATAP SAMIAH YANG JUGA TAMPAK GELISAH

MARJI
Kau tampak berbeda hari ini Samiah, perkataan dan raut mukamu menunjukan itu. Apa kau tidak suka dengan apa yang aku lakukan setiap hari, menanam dan meyiangi bakau?

SAMIAH
Tidak, aku suka! Aku menyukai apa yang kau kerjakan setiap hari suamiku, bahkan aku bangga.

MARJI
Tapi…Kenapa kau tidak menyediakan teh panas seperti biasanya?

SAMIAH
Memang tidak.

MARJI
Apa gula dan tehnya habis? Atau kita tidak mempunyai persediaan air hujan untuk dimasak?

SAMIAH
Mungkin.

MARJI
Mungkin??! Mungkin bagaimana? Kau mulai aneh istriku, beberapa hari ini kau telah berkata dan bersikap aneh denganku dan sejak aku datang aku menemukan sikap itu ada padamu.

SAMIAH
Aneh? Aneh bagaimana?

MARJI
Ya aneh…alasanmu itu yang aneh.

SAMIAH
Hari ini aku tidak melihat isi dapur, aku tidak memasak! Ini sudah jelas kan, tidak aneh lagi!

MARJI
Kau sedang sakit?

SAMIAH
Tidak.

MARJI KEMBALI TERDIAM, MERENUNG, MATANYA BEBERAPA KALI MELIRIK SAMIAH

MARJI
Pohon bakau yang aku tanam sebagian sudah tua dan ada beberapa rantingnya yang sudah kering, besok aku akan mengambil dan mengumpulkannya. Kau bisa menjualnya ke pasar dan kita bisa mendapatkan uang untuk belanja.










klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Rabu, 08 Juni 2011

Naskah Zetan karya Putu Wijaya

Lakon
ZETAN
Karya PUTU WIJAYA




GURU
Aku guru yang hebat. Tanganku luar biasa dingin. Aku bisa mengocok kepala batu dan otak udang menjadi cemerlang. Betul, aku tidak main-main. Aku seperti tukang sulap. Itu semua sudah karunia. Tapi aku terpaksa keluar dan berhenti mengajar. Aku tidak mau lagi jadi guru.

(Guru melempar tasnya. Istri memunggut dengan sabar. Guru membuka bajunya, kemudian hendak membantingnya. Tetapi istrinya menyabarkan dan membujuk agar suaminya duduk sambil kemudian memijit pundaknya. Semabari dipijit guru terus ngomel)

Aku benci kepada birokrasi. Aku lihat sekolah kok tidak lagi memberikan pendidikan kepada calon pengganti generasi, tapi memperjual-belikan pendidikan. Ilmu sudah jadi barang komoditi seperti hasil pabrik. Diicrit-icrit supaya mahal. Publikasi dan fasilitasnya digembar-gemborkan, tapi hasilnya memble. Pendidikan hanya menjual sertifikat dan gelar tidak bikin manusia pinter apalagi siap pakai. Prek!

(Guru bangun dan kemudian kentut)

Alhamdulillah

(Merasa lega. Istrinya berhenti mijit, dengan cekatan mengumpulkan barang-barang suaminya, lalu masuk. Guru tinggal sendiri)


Jadi jangan salahkan kalau aku lantas kabur dan mendirikan Akademi Mandiri. Sekolah mahal yang bergengsi dan bercita-cita mulia. Pendidikan yang bagus memang mahal, tidak mungkin gratis, itu omong kosong. Gaji guru mesti cukup karena mereka profesional, sarana mesti canggih supaya jangan ketinggalan zaman. Tapi yang bayar orang yang berduit. Makin dia kaya, makin tinggi bayarannya, itu sudah adil. Orang kaya dicekek tidak akan mati malah hartanya berlipat ganda. Orang kaya kalau kehilangan seperak akan langsung menggaruk sejuta tak peduli dari mana. Mereka semuanya pemain sulap. Orang kecil lain, belum ditembak sudah pinsan, banyak yang kontan mati. Karena itu orang miskin berhak dapat pendidikan kelas satu sama dengan orang kaya dan gratis.

(Guru ketawa. Istri guru muncul, pakaiannya keren. Ia membawa kemeja panjang, dasi dasi dan jas. Beberapa orang pembantu ikut muncul membawa buku-buku dan map, meletakkannya di meja dan menata ruangan. Istri guru menyerahkn hp dan earphoe pada guru. Guru memasang dan menjawab hp lewat earphoe. Istri guru menolong guru memakai kemeja. Mengganti sepatu sandal dengan sepatu boat pendek yang keren. Guru bicara di hp dengan earphone.)

Betul. Puluhan ribu muridku. Kebanyakan anak-anak orang gedean yang bisa membayar berapa saja, asal anaknya bisa pinter. Dalam tempo singkat Akademi Mandiri menjadi idola. Kalau tidak bawa ijazah Akademi Mandiri orang merasa kurang bergengsi. Habis setiap lowongan kerja mesti syaratnya pertamanya menguasai bahasa Inggris. Tidak tersangkut G.30 S. Tapi kalau bawa ijazah Akademi Mandiri, semua itu tidak berlaku lagi. Langsung diterima dengan gaji pertama yang bikin ngiler. Apa nggak hebat? (KETAWA BANGGA)

(Seorang pembantu datang membawa minuman dan beberapa obat yang harus ditelan. Istri guru mencari saat yang tepat, untuk menyerahkan dan kadangkala membantu memasukkan ke mulut tanpa mengganggu guru karena guru sibuk bicara di earphone.)

Tapi aku masih tetap kecewa. Aku memang selalu berhasil mencetak alumni yang berprestasi, yang cerdas dan kompetetif seperti yang dikehendaki oleh Mentri Pendidikan. Tapi aku tetap gagal mencetak manusia yang berguna. Setelah pintar, semua anak didikku mempergunakan ilmunya untuk kepentingan diri mereka sendiri. Jelas sekali mereka cari ilmu hanya untuk jadi kaya. Ada yang ngebet jadi pemimpin, tapi begitu menduduki kursi, mereka mempergunakan kekuasaannya untuk menginjak rakyat! Aku merasa gagal total! Kalau sekolah hanya mengajarkan orang untuk sukses, cari kedudukan, menumpuk kekuasaan dan kekayaan, akhirnya seperti sekarang korupsi di mana-mana. Mantan anak didikku semua jadi orang. Pemimpin kakap, berpengaruh dan konglomerat. Tapi tidak seorang pun yang berhati mulia. Semuanya berjiwa dengki. Tidak usah 5 trilyun, disogok motor saja tetap mau, padahal di rumahnya berderet Jaguar, Lambordini, Mercy, Audi, bahkan ada becak untuk dipamerkan kepada tamu-tamu asing. Ini kenapa? Pendidikan yang salah? Guru yang keliru? Moral kita bejat? Atau hidup memang sudah berubah buas?

(Semua beres. Pembantu semua keluar. Istri guru juga, duduk menunggu suaminya selesai bicara.)

Begitu frustasi sehingga aku mau gulung tikar menutup akademi. Tentu saja semua orang protes. Bahkan ada yang mengancam kalau kau berani menutup Akademi Mandiri, berarti kamu mau bunuh diri. Tinggal pilih mau mati diracun seperti Munir, kecelakaan menggenaskan, ditembak di pinggir jalan, bom, atau disantet perlahan-lahan. Aku ngeper juga, karena aku bukan manusia pemberani. Sambil tertekan batin aku terus mengajar dengan separuh hati. Tapi bukan menyerah apalagi kalah! Oke aku mau berangkat sekarang. Siap bertempur dengan orang-orang Yayasan itu!

(Mencopot earphone. Istri berdiri membenarkan pasangan dasi. Kemudian membantu guru memakai jas. Istri guru mencium pipi suami, lalu masuk. Guru mengambil tas dan map-map. Tetapi kemudian hpnya berdering. Ia meraih, melihat siapa yang menelpon, kemudian menjawab.)





klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Selasa, 07 Juni 2011

Nimok, Aku cinta kamu.

Nimok, Aku cinta kamu.
Karya : I n u l.
( Hardjono Wiryosoetrisno )

Daftar Pemain.

1. Nimok : remaja putri umur 17 tahun,
cerdas, cantik dan lincah.
2. Momon : remaja putra umur sekitar 17 tahun
egois dan manja
3. Anu : suara - suara imaginer kedua tokoh berjumlah bebas.
4. Pasien : tokoh pengguna narkoba putra umur sekitar 17 tahun, kurus ceking dan lelah.

Dibantu pemain musik kalau perlu musik alternatif.




Synopsis :
Awalnya, Nimok menolong Momon yang menjadi korban pengguna narkoba hanya karena keduanya adalah sahabat. Momon berhasil lepas dari persoalan itu tetapi mencintai Nimok dan Nimok menolaknya.
Akibatnya, Momon makin parah terjerumus dalam persoalan itu kembali. Nimok kembali datang, tetapi tetap tidak ingin menerima cinta Momon.
Mengapa Nimok kembali datang ?

= = = = = = = = =










ADEGAN I.

PANGGUNG GELAP. PEMAIN MUSIK TELAH SIAP DITEMPATNYA.
DENGAN IRAMA YANG TETAP MULUTPUN IKUT BERMUSIK.
DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK
DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK…
MAKIN RAMAI. SESEKALI NAIK SESEKALI TURUN, SESEKALI KERAS SESEKALI PELAN.
LAMPU MENYALA, TAMPAK DIPOJOK PANGGUNG SEBUAH KURUNGAN DILILIT KAIN PANJANG DAN DI ATASNYA ADA SEBUAH KEMARON KECIL BERISI BUBUKAN KANJI ( SAGU ) ATAU TEPUNG.
MUSIK BERBUNYI TERUS.
KEMUDIAN MUNCUL NIMOK DAN MOMON SAMBIL MEMBAWA DUA BUAH KURSI SEBAGAI HAND PROPERTY MEREKA DIIRINGI PEMAIN PEMBANTU ATAU SUARA SUARA YANG AKHIRNYA MEMBUAT KOMPOSISI. SUARA SUARA SENDIRI BEGITU JUGA DENGAN NIMOK DAN MOMON. KEDUANYA MEMAINKANNYA DENGAN GERAK GERAK INDAH BUKAN GERAKAN TARI.



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Raja Mati

RAJA MATI
(Le Roi Se Meurt)
Eugene Ionesco

Dramatic Personae
  1. RAJA
  2. RATU MAHRIT
  3. RATU MARI
  4. JULIET
  5. TABIB
  6. PENGAWAL





SEBELUM LAYAR DIANGKAT,TERDENGAR SUARA MUSIK YANG DIMAINKAN DENGAN LUCU. TERUS TERDENGAR SELAMA LAYAR DIANGKAT DAN UNTUK SEBENTAR SETELAH LAYAR BERADA DI ATAS.

DI DEKAT PINTU BESAR BERDIRI SEORANG PENGAWAL ISTANA, USIANYA SUDAH TUA. DITANGANNYA TERGENGGAM SEBUAH TOMBAK KHUSUS UNTUK PENGAWAL ISTANA.

PENGAWAL (MENGUMUMKAN)
Yang mulia paduka Raja! Panjang usia!

SANG RAJA MASUK DARI PINTU KECIL DI SEBELAH KANAN, MENGENAKAN JUBAH WARNA LEMBAYUNG, DENGAN MAHKOTA DI KEPALANYA DAN SEBUAH TONGKAT KEBESARAN DI TANGANNYA, DENGAN CEPAT DIA MENYEBRANGI PENTAS KELUAR LEWAT PINTU DI SEBELAH KIRI DI UPSTAGE.

PENGAWAL (MENGUMUMKAN)
Yang mulia ratu Mahrit, istri pertama sang Raja. Diiring oleh Juliet sang pembantu rumah tangga, disertai abdi dalam para ratu. Panjang usia ratu kita!

MAHRIT DIIKUTI OLEH JULIET, MUNCUL LEWAT PINTU DI PANGGUNG KIRI BAWAH DAN AKHIRNYA KELUAR LEWAT PINTU BESAR



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

BARA (Embers)

Lakon pendek Samuel Beckett
BARA (Embers)

Laut hampir tak terdengar. Sepatu boot Henry di atas bebatuan/koral. Ia berhenti. Suara laut sedikit mengeras.
Henry: Terus (Laut. Suara lebih keras) terus! (Ia terus bergerak. Selama ia berjalan, sepatu boot di atas bebatuan) Stop! (Sepatu boot di atas bebatuan koral. Selama ia berjalan, laut lebih keras) Stop! (Ia berhenti, laut sedikit lebih keras) Turun! (Laut. Suara lebih keras) Turun! (Duduk merayap pada bebatuan, laut, meredam hening, terdengar saling menyusul ketika menunjukan tanda-tanda diam) siapa disampingku sekarang? (Diam). Tua, buta dan bodoh. (Diam) Ayahku bangun dari kubur, bersamaku. (Diam) Seperti masih hidup. (Diam) Memang, tidak sulit bangun dari kubur,hanya untuk bersamaku. Di tempat asing ini…. (Diam) bisakah mendengarku? (Diam). Hanya bersamaku. (Diam) Suar
a yang kau dengar itu laut. (Diam. Lebih keras)Kubilang suara yang kamu dengar itu laut, kita sedang duduk di pantai. Aku perlu bilang karena suaranya begitu aneh, tidak seperti suara laut, sehingga kalau kau tidak melihat sendiri, kamu tidak akan tahu apa tadi. (Diam) Kuku-kuku binatang! (Diam, lebih keras) Kuku-kuku binatang! (Suara kuku-kuku binatang berjalan di atas jalanan yang keras. Mereka cepat lenyap dari pendengaran. Diam) Lagi! (Kuku-kuku binatang seperti sebelumnya. Diam, gembira) Latihlah untuk tandai waktu! Ikat di halaman, pasang tapal besi di kaki, biarkan merentak sepanjang hari! Sepuluh ton gajah raksasa bangun dari kubur, pasangkan tapal besi dan biarkan berderap-derap turun ke bumi. (Diam) dengarkan! (Diam). Sekarang dengarkan cahaya, kamu selalu mencintai cahaya, selepas petang hari ketika seluruh pantai dalam bayangan dan laut menjauh dari daratan. (Diam) Kamu tidak akan pernah tinggal di sisi teluk ini, kamu sangat menyukai matahari di atas air untuk berenang malam hari. Bahkan sekali waktu terlalu sering kamu lakukan. (Diam) kamu tahu kami tak pernah menemukan tubuhmu, sehingga tak ada kepastian resmi dapat dipakai sebagai acuan. Mereka bilang tak ada bukti bahwa kamu tidak melarikan diri dari kami, hidup sehat dengan nama palsu di Argentina, misalnya, yang membuat Ibu sangat sedih. (Diam). Aku seperti kamu, tidak bisa jauh dari itu, tapi aku tak pernah nyemplung ke dalam. Tidak, kukira terakhir kali aku denganmu….(Diam) Itu pun hanya mendekat saja. (Diam).
Hari ini tenang, tapi aku sering mendnegar di atas di dalam rumah dan ketika berjalan-jalan di jalanan dan mulai mengoceh, oh cukup keras, tapi tak ada yang memperhatikan. (Diam). Sekarang aku pun ngoceh terus tidak peduli di mana. Sekali waktu aku eprgi ke Swiss, kupikir untuk menjauhkan diri dari setiap kutukan. Tapi selama di sana sepanjang waktu tak pernah berhenti. (Diam) Aku tak perlu orang lain, untuk diriku sendiri, cukup cerita-cerita saja. Ada satu cerita aneh tentang seorang lelaki tua bernama Bolton, tapi aku tak pernah selesai, aku tak pernah menyelesaikan salah satu dari kisahnya, aku tak pernah selesaikan apa pun, setiap hal berlangsung begitu selamanya. (Diam) Bolton. (Diam, lebih keras) Bolton! (Diam) Di sana di depan perapian (Diam) di depan perapian dengan seluruh daun penutup jendela…. Bukan, tirai, tirai, semua tirai tertutup dan cahaya, tak ada cahaya, hanya perapian, duduk di sana dalam…. Tidak, berdiri, berdiri di sana di atas karpet dalam gelap di depan perapian kedua lengan di atas dinding cerobong asap dan kepala di kedua lenganya berdiri di sana menunggu dalam gelap di depan perapian dalam baju kimono usang warna merah dan tak ada suara apapun dalam rumah kecuali suara api. (Diam). Berdiri di sana dalam kimono panjang, bunyi bel di pintu, ia ke jendela dan meilhat ke luar. Diantara tirai, bujang lapuk baik, sangat besar dan kuat, malam terang musim dingin, salju di mana-mana, dingin menggigit, dunia memutih, cabang-cabang pohon cedar sarat beban melengkung-lengkung dan ketika sebuah lengan ke atas, mengebel lagi ia mengenalinya. Holloway. (Lama diam) Ya, Holoway, mengenali Holloway, turun dan


klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

BENCANA

Samuel Beckett
BENCANA

  1. Sutradara (D)
  2. Asisten; perempuan (A)
  3. Protagonis (P)
  4. Luke, petugas lampu, diluar panggung (L)

Latihan. Uji coba akhir untuk adegan terakhir. Panggung kosong. A dan L baru saja selesai mengatur lampu. D baru saja tiba.

D duduk di kursi berlengan di bawah penonton sebelah kiri. Berjas bulu binatang. Bertopi sama untuk padanan. Umur dan fisik tak penting.
A berdiri di sampingnya. Keseluruhan bernuansa putih. Kepada gundul. Pensil di telinga. Umur dan fisik tak penting. P di tengah panggung berdiri di atas sebuah balok kayu hitam tinggi 18 inci. Topi hitam dengan pinggiran lebar. Baju panjang hitam sampai mata kaki. Tak bersepatu. Kepala menunduk. Kedua tangan di saku. Umur dan fisik tak penting.



D dan A merenung menatap P. lama diam.
A: (Akhirnya) Suka tampilannya?
D: Ya begitulah. (Diam). Untuk apa level kayu?
A: Supaya kakinya terlihat
(Diam)
D: Topinya?
A: Membantu menyembunyikan wajah
(Diam)
D: Batu panjangnya?
A: Memberi nuansa hitam pada dirinya.
(Diam)
D: Apa yang dibawahnya lagi? (A bergerak menuju P) Katakan (A berhenti)
A: Pakaian malamnya.
D: Warna?
A: Abu-abu.
(D mengeluarkan cerutu)
D: Korek api. (A kembali, menyalakan cerutu, berdiri diam. S. menghisapnya)



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Come and Go (Datang dan Pergi)

Lakon pendek Samuel Beckett
DATANG DAN PERGI (Come And Go)

Pelaku:
  1. Flo
  2. Vi
  3. Ru
(Umur tak ditentukan)



Duduk berjajar di tengah-tengah panggung, dari kanan ke kiri, Flo, Vi dan Ru. Sangat tegak, menghadap ke depan, tangan-tangan jalin-menjalin di pangkuan. Sunyi.
Vi : Kapan terakhir kali kita bertemu?
RU : kita nggak usah ngomonglah.
(Sunyi. Vi keluar ke kanan. Sunyi)
Flo : Ru
Ru : Ya
Flo : Apa pendapatmu tentang Vi?
Ru : Kulihat sedikit berubah.
(Flo bergeser menuju ke tengah tempat duduk, berbisik di telinga Ru. Terkejut)
Oh!
(Mereka saling pandang, Flo menempelkan jari di bibirnya)
Dia tidak menyadari?.

Flo : Semoga tidak. (Vi masuk Flo dan Ru kembali menghadap depan mulai berlagak. Vi duduk di kanan. Sunyi) hanya duduk-duduk seperti dulu kita lakukan. Di halaman bermain Miss Wade…
RU :… di atas sebatang kayu.
(Sunyi. Flo keluar ke kiri)
Vi…
Vi : Ya.
Ru : Bagaimana pendapatmu tentang Flo?
Vi : Kelihatannya sama saja.
(Ru bergeser ke tengah tempat duduk, berbisik ke telinga Vi, terkejut)
Oh!



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Kursi Goyang

Lakon pendek Samuel Beckett
KURSI GOYANG

Lampu:
Di atas kursi lemah. Sekitar panggung lain gelap. Cahaya lampu spot lemah di atas wajah konstan terus menerus. Tak berpengaruh oleh cahaya memudar berturut-turut. Baik ketika melebar sampai batas-batas pada kursi atau menyempit hanya terfokus pada wajah ketika sedang diam atau tengah bergerak. Lalu sepanjang narasi wajah sedikit bergoyang keluar masuk cahaya.
Diawali cahaya menegas (Fade up): pertama hanya lampu pudar pada wajah, diam lama, lalu cahaya di atas kursi. Diakhiri cahaya memudar (Fade out): pertama kursi, lama diam dengan titik cahaya hanya pada wajah, kepala pelan-pelan terkulai, dalam istirahat, titik cahaya pudar pada wajah menghilang.
W:
Tua sebelum waktu. Rambut abu-abu tidak disisir, mata besar pada wajah putih tanpa ekspresi. Tangan-tangan putih memegang ujung lengan kursi.



Mata:
Sesekali menutup, membuka tanpa berkedip. Pada bagian 1 proporsi dalam keadaan biasa, pada bagian 2 dan tiga sedikit demi sedikit mengatup, setengah jalan menuju bagian 4 mata tertutup terus.

Busana:
Baju tidur warna hitam leher berenda tinggi. Lengan panjang. Sinar perhiasan berkelip ketika bergoyang. Tudung kepala tipis miring tidak biasa dengan hiasan mewah menangkap cahaya ketika bergoyang.

Sikap:
Tetap diam hingga cahaya menghilang dari kursi. Lalu di dalam cahaya lamu spot kepala pelan-pelan condong.

Kursi:
Kayu politer pucat berkilat ketika bergoyang. Penunjang kaki. Belakang vertical. Lengan-lengannya menikung bulat ke dalam, member kesan memeluk.

Goyangan:
Ringan. Pelan. Terkontrol secara mekanis tanpa bantuan dari w.

Suara:
Menjelang akhir bagian 4, katakana saja mulai dari kata-kata “berkata pada diri sendiri” dan seterusnya, berangsur-angsur melembut. Baris-baris dengan huruf miring diucapkan oleh w dan v. lebih melembut setiap waktu. W menyuarakan kata “lagi” sedikit melembut setiap waktu.

W: Perempuan di kursi
V: Suara w yang direkam



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Cabik

LAKON
CABIK
Karya Muh. Ibrahim Ilyas


SEBUAH PANGGUNG DENGAN KELENGKAPAN SEBAGAI BERIKUT: BEBERAPA LEVEL TERSUSUN SEPERTI TAK BERATURAN, TUMPUKAN PLASTIK DI SUDUT KIRI DAN KANAN BELAKANG DAN SEJUMLAH TALI BERWARNA PUTIH BERGELANTUNGAN DARI PLAFON DI BEBERAPA TEMPAT. DI BAGIAN DEPAN, MENGHADAP KE ARAH PENONTON, ADA BINGKAI PINTU DAN JENDELA.YANG PALING MENONJOL DI BAGIAN BELAKANG PANGGUNG, DI DINDING TERGANTUNG SEBUAH JAM YANG CUKUP BESAR. SANGAT MIRIP DENGAN JAM MELELEH SALVADOR DALI. JARUM JAM MENUNJUKKAN PUKUL 00.00 JAM ITU MATI

SATU

SEBERKAS CAHAYA MENYAMBAR PANGGUNG DALAM SUNYI. SINAR ITU JATUH PERSIS MENERANGI WAJAH JAM DI DINDING BELAKANG, YANG MENUNJUKKAN PUKUL 00

SUARA
Ting!

DENTINGAN ITU SEPERTI BUNYI SATU PUKULAN PADA PIPA BESI YANG KOSONG, NADANYA TINGGI. PERLAHAN, TETAP DALAM KESUNYIAN, SEMAKIN BANYAK CAHAYA YANG MENERANGI BAGIAN PANGGUNG YANG LAIN

DUA

DALAM KESAMARAN, DI SEBUAH LEVEL YANG AGAK RENDAH, SEORANG LELAKI DUDUK. DI TANGANNYA ADA SEBTANG ROKOK DAN SEKOTAK KOREK API. AGAK KE KANAN, DI RANGKA JENDELA YANG MENGHADAP PENONTON, SEORANG PEREMPUAN BERDIRI. MATANYA TAAM MENATAP JAUH, MENANGKAP SESUATU PADA KEKELAMAN DI BAGIAN PENONTON

SI LELAKI MEMASANGKAN ROKOK DI BIBIR, MENGELUARKAN SATU BATANG KOREK API DAN MENYALAKANNYA. NYALA API DIDEKATKAN KE MUKANYA, TETAPI TIDAK MENYULUT ROKOKNYA. IA MEMBIARKAN DAN MEMANDANG API MERAMBAT DI BATANGNYA, SAMPAI AKHIRNYA MATI. IA MENGULANG BEBERAPA KALI DAN SI PEREMPUAN MENGHELA NAPAS PANJANG, SESAAT SETELAH SETIAP KALI API ITU MATI. BEBERAPA KALI KOREK API MNEYALA, API MERAMBAT DAN MATI, HELAAN NAPAS SI PEREMPUAN



CAHAYA DI PANGGUNG TERUS BERTAMBAH, MEMPERJELAS SOSOK PANGGUNG; LELAKI DAN PEREMPUAN ITU.

SUARA
Ting!

(Si perempuan menghela napas panjang. Si lelaki tersentak, matanya mencari sumber bunyi. Ia mencoba mengikuti ujung bunyi)




klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

1 Hari 11 Mata di Kepala

Lakon
1 Hari 11Mata di Kepala
Karya Radhar Panca Dahana



IA MEMBENAHI PAKAIANNYA. MENCOBA MENGANCINGKANNYA DENGAN BENAR. TAPI TIDAK BERHASIL. PAKAIAN BAGUS ITU JUSTRU KIAN SEMRAWUT DENGAN PENEMPATAN KANCING YANG MAKIN KACAR. IA MERENGGUT SAPUTANGAN, MENGUSAP BIBIR, KEPALA DAN LEHERNYA. KERINGAT BERKETEL, ENTAH DARI MATA AIR MANA ATAU AIR MATA MANA.

SESEORANG :
Mariam...Mariam...seharusnya itu tidak terjadi. Seharusnya itu tidak terjadi. Tidak terjadi! Tidak mungkin terjadi. Tidak, Mariam. Itu tidak mungkin!!

IA LALU TERDUDUK DI TENGAH TEMPAT TIDUR. PUNGGUNG BERSANDAR DI DINDING TEMPAT TIDUR. TATAPAN KOSONG KE TENGAH SEPREI LUSUH. DAN HATI YANG BASAH LULUH.



SESEORANG :
Aku tahu kau tak pernah lupa apa yang kukatakan sebelumnya: hidup dan dunia ini sudah tidak lagi dapat kita hidupi, sudah bukan dunia kita lagi. Mereka sudah milik orang, karena orang lain yang mengaturnya, orang lain yang menentukannya, orang lain yang memproduksinya. Tidak kita. Kita tidak bisa menentukan, atau memproduksi hidup dan kita sendiri. Bukankah begitu, Mariam? Bukankah bukan kita yang menciptakan rumah tangga? Bahkan bukankan bukan kita yang menciptakan sebuah rumah tempat kita tinggal? Lebih bahkan lagi, ketika kita menempatinya, kita tidak pernah bisa menentukan sedikitpun, apa-apa kebutuhan kita. Apa yang harus kita adakan untuk kita memenuhi tugas dan tanggungjawab kita sebagai istri dan suami, sebagai bagian dari sebuah keluarga, bagian dari sebuah kampung, bahkan sebagai seorang manusia. Bukan begitu Maria? Apakah kamu yang menentukan bahwa kita membutuhkan sebuah kursi tamu, bentuknya seperti ini, warnanya itu, harganya sebegitu, dan seterusnya? Apakah kita juga menentukan saat kita memberi microwave, te ve layar datar lengkap dengan home entertainmentnya, sebuah mobil keluaran terbaru, yang sebenarnya terlalu besar untuk kebutuhan kita yang tak beranak? Apakah aku atau kau yang menentukan, kita harus membeli tanah di pinggiran Selatan kota ini, membeli saham pabrik plastik itu di bursa, mengambil lagi kartu anggota golf club dengan tawaran tamasya keluar negeri setahun sekali, sementara sudah 12 kartu semacam kita punya? Adakah kita yang menentukan memberi bea siswa 30 anak di panti asuhan kota kecil di Utara itu? Apakah aku kau persalahkan untuk membayar politisi kampungan itu, agar perusahan kita tidak diganggu sebagai rekanan tetap departemen koperasi? Apakah aku harus menyalahkanmu ketika kamu tukar guling rantai toko onderdil kita dengan sebuah pabrik asembling sepeda motor? Bukan...bukan salah kita, karena bukan kita yang menentukan jika Andy plongo itu kini jadi menteri. Mariam...mariam...dunia sudah berjalan sendiri. Atau mungkin dijalankan oleh siapa. Aku tak tahu...aku tak peduli. Yang kupeduli cuma kenapa kamu masih merasa yakin kita memiliki kebebasan untuk memilih dan menjalankan hidup kita sendiri. Tidakkah kau yakin, tidak mengerti, atau pura-pura dongo, bahwa begitu kita terjun ke dunia ini, bahkan sejak menjadi anak-anak, kita sudah dilucuti seluruh hak kita untuk menjadi apa yang kita inginkan. Menjadi manusia. Ooo....tidak mungkin...tidak


klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

ANTIGONE

Lakon
ANTIGONE
Karya Sophokles



DRAMATIC PERSONAE

  1. ANTIGONE
  2. ISMENE
  3. PADUAN SUARA WAKIL RAKYAT THEBES
  4. CREON; Raja Thebes
  5. KAPITAN; Pengawal
  6. HAEMON; Putra Creon
  7. EURIDICE; Istri Creon
  8. TEIRISIAS
  9. PEMBAWA WARTA I
  10. PEMBAWA WARTA II



PROLOGOS

ANTIGONE
Ismene, saudariku! Beginilah warisan Oidipus kepada kita. Dewa telah melimpahkan unggun penderitaan pada kita. Duka demi duka dan terhina semakin terhina – Dan kita ditambah pula dengan peraturan raja yang….Apakah kamu sudah tahu? Atau barangkali kamu belum sadar bahwa ada musuh menyusun rencana

ISMENE
Tak ada warta buruk atau baik sampai ke telingaku, Antigone. Sejak kedua saudara kita wafat, tak ada kudengar apa-apa. Ah, ya, sejak mundurnya tentara Argos semalam, tak ada berita tentang jenazah kedua saudara kita yang telah gugur bersama

ANTIGONE
Itu sudah kuduga. Itulah sebabnya aku tarik kami kemari. Keluar istana, supaya bisa lebih bebas bicara.

ISMENE
Ada sesuatu dalam pikiranmu. Katakanlah!

ANTIGONE
Creon sang raja memutuskan untuk memperlakukan kedua jenazah saudara kita secara berbeda. Jenazah Eteocles, ia makamkan dengan penghormatan yang lengkap, dengan upacara yang gemilang, ia antarkan sukamnya ke neraka. Tetapi untuk jenazah Polyneicies yang malang, ia kenakan larangan untuk menguburnya. Harus dibiarkan terkapar tanpa diratapi, tanpa pemakaman, menjadi mangsa burung-burung padang belantara. Kamu dan aku tak berdaya apa-apa.
Dan kini Creon sendiri tengah bersia-siap keluar istana untuk memimpin sendiri pelaksanaan pengumumannya. Jangan kamu kira ia Cuma setengah-setengah saja – hukuman untuk pelanggaran sudah tentu hukuman mati – dilempari batu sampai mati. nah, camkanlah, Ismene, saudariku. Kamu berdarah bangsawan! kamu harus membuktikan keaslian bulumu nanti, bila ada harga dirimu.

ISMENE
Oh, saudariku yang bergelora, Antigone. Dalam hal ini apa yang mesti aku lakukan?

ANTIGONE
Sekedar renungkanlah – seandainya kamu mau membantuku

ISMENE
Melakukan apa? Apakah rencanamu?

ANTIGONE
Membantuku mengurus jenazah

ISMENE
Kamu akan mengubur jenazah itu? Itu dilarang!



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Anu (Putu Wijaya)

Lakon
A N U
Putu Wijaya




AZWAR
Jadi Anu telah anu, anu sudah anu, bahkan anu benar benar anu, tidak bisa anu lagi, di mana mana anu, setiap orang sudah anu, padahal belum lama berselang anu kita masih anu, si Anu, si Anu, belum anu dan anu, anu, anu masih sempat dianukan oleh Anu, tapi sejak anu kita anu dia benar benar sudah anu dan kita pun sudah lebih anu, bagaimana mungkin kita anu atau menganukan anu kita. Karena itulah aku peringatkan berkali kali dan sekarang untuk penghabisan kali jangan anu anu lagi ! Anu sudah terlalu anu, hentikan sekarang ! Kalau tidak kita pasti akan anu ! Akibatnya anu anu anu anu anu dan anu anu anu anu, bahkan mungkin akan anu anu anu anu anuanuanuanuanuanu, akhirnya anu kita benar benar akan anu, berat ! Karena itu jalan satu satunya, semua anu kita harus dianukan, supaya tidak ada lagi anu yang anu ! Jadi anu anu anu anu, anu anu anu anu harus ANU ! dan anu anu anu bahkan anupun harus ANU ! sebab A N U tidak boleh kurang dari anu atau lebih dari anu ! Dia harus A, sekali lagi A ! dan N, sekali lagi N ! dan U, sekali lagi U ! A N U ! Anu kita adalah Anu ! tidak ada anu lain, barang siapa anu pasti tidak boleh tidak otomatis akan anu ! Atau akan dianukan ! Paling banter akn ter anu ! Sebab anu anu anu, anu anu anu akan berakibat ANU tidak lagi ANU tetapi (berbisik) atau (berbisik) atau (berbisik) dan (berbisik) dan (berbisik) jadi (berbisik). Apa boleh buat !



MOORTRI (berpikir)
Sebentar !



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Selasa, 31 Mei 2011

NASTITI

 Naskah ini adalah kiriman dari Faisal Muhammad Nur Salim


NASTITI
Karya : Faisal Muhammad Nur Salim


Para Pemain:
1. Nastiti (21 tahun)
2. Ibu (48 tahun)
3. Herman (26 tahun)


Panggung adalah bagian dalam rumah yang sederhana. Di ruang itu hanya terdapat beberapa barang. Sebuah meja dan kursi untuk tamu, kursi goyang yang terletak disudut ruangan, sebuah foto lelaki setengah baya yang terpajang di dinding, dan dua kursi kayu yang berhadap-hadapan dengan meja tua terletak di tengahnya. Di atas meja tua itu terdapat papan catur yang telah tertata. Sandiwara ini dibuka dengan adanya Nastiti dan Ibunya. Nastiti duduk di salah satu kursi kayu,mengamati papan catur, sementara ibunya duduk di kursi goyang sambil nembang. Tembang yang dinyanyikan kali ini sama dengan tembang yang dinyanyikan kemarin, yang berarti tembang yang sama juga dengan tembang yang dinyanyikannya kemarinnya lagi,begitu seterusnya.

Ibu : (tak lela-lela ledhung, anakku sing ayu rupane..
Tak gendhong ngangg)
Nastiti : Ibu, apa tidak ada tembang yang lain? setiap hari tembang itu saja yang dinyanyikan.
Ibu : kau sendiri, apa tidak ada pekerjaan lain selain mengamati kayu-kayu itu? kepalaku pusing melihatmu menatapnya seharian.
Nastiti : iya bu sebentar, aku masih ingin berlatih sebentar lagi, agar aku dapat mengalahkan ayah kalau nanti dia pulang.
Ibu : kalau begitu makanlah dulu.
Nastiti : aku baru saja makan bu, Ibu baru saja melihatnya.
Ibu : tidak, kau belum makan sejak tadi siang.
Nastiti : Ibu, baru saja aku ke belakang meletakkan piring. (menatap Ibunya curiga) Ibu, hari ini hari apa?
Ibu : (menjawab malas) Sabtu, 22 April.
Nastiti : tidak bu, hari ini hari Senin, tanggal 14 Juni, apakah Ibu sudah minum obat?
Ibu : setiap hari juga kau bilang seperti itu, dan seharusnya kau yang minum obat. Aku tidak sakit.



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Rabu, 25 Mei 2011

Syair Kamelia

Syair Kamelia
Tri Aamalia Lestari



Kamelia : “ Abang ade apeni bang… ? Uww… pastilah abang betengka lagi, iye kan ? Sudah berape kali abang mace mini,tak jera ke ? ” ( sambil mengobati luka-luka Samsul ).
Samsul : “ Bukannye abang yang nak betengka, merekelah yang berani-berani nak tantang abang jadi ye abang terime aje. Tapi asal kau tau Kamelia, abang babak belo macam ni bukannye kalah, abang dihantam oleh tujuh orang Jawe tu, soal kecillah tu, satu due kali pukul tunggang langgang lah mereke lari.
Ha….ha…. ”

Kamelia : “ Abang-abang, jadi betul abang betengka lagi dengan orang-orang Jawe tu. Alamakjang……hari ini tujuh orang besuk sepuluh orang besok lagi satu kampunglah nak pukul abang, teruklah badan ! Kenapelah abang ni, suke sangatlah abang betengka, Kamelia yakin pasti abang yang belagak, itulah yang buat mereke meradang. ”
Samsul : “ Eh Kamelia sini abang nak cakap, kite ni orang Melayu yang terkenal jago dan terhormat jadi pantanglah bagi abang dikalahkan same orang-orang Jawe yang ilmunya tak cukup ( sambil menunjukkan kelingking ) pantang dek abang cume nak tunjuk meski kite ni tinggal di negeri orang tapi kite ni tetap orang Melayu yang hebat dan pantang menyerah.”






klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Selasa, 24 Mei 2011

Ketika Cinta Lintas Agama

ketika cinta lintas agama
karya: wahyu setiadi

Sinopis : Sebuah Naskah yang mecritakan tentang sebuah perbedaan, dimana cintalah penyebabnya. Sebuah gambaran tentang benang merah antara Alim seorang muslim yang mencintai CHristy yang seorang Kristiani, terjalin indah dibalik bayang-bayang kemungkaran sebuah perbedaan, dimana cinta itu harus tunduk pada aturan hidup, Pertemuan kedua sejoli ini mengatur kita bagaimana memandang sebuah perasaan yang dibatasi oleh hukum Tuhan, lingkungan pun menentang jalinan benang merah tersebut. Kedua orang tua mereka pun tak setuju atas perasaan yang menembus batas toleransi, Tapi kedua sejoli tetap kukuh pada keyakinan mereka: bahwa Cinta tidak salah, jadi jangan salahkan mereka untuk mencinta, apakah kekuatan cinta mereka dapat menembus segala penghalangnya, sebuah aturan Tuhan dan lingkungan,???? Selamat menyaksikan





Setting:Sebuah gambaran tentang perasaan antara dua sejoli ini


Alim:
Dimana cinta datang dalam pandangan yang turun ke hati, meluapkan rasa sucinya yang tak pernah melihat siapa dan apa sebenarnya kamu

Christy:
Dan aku yang selalu menunggu, dimana cinta itu meluruhkan setiap tebing-tebing tinggi perbedaan

Alim & Christi:
sudah ketentuan bahwa Tuhan mengkonsep perbedaan sebelum semua tercipta. aku kamu, langit bumi, hitam putih dan agamamu agamaku


BLACK OUT

Alim:
Dingin, hujan lagi hujan lagi, surabaya mirip bogor dikit-dikit hujan dikit-dikit hujan, hujan kok sedikit-sedikit, terang mendung lagi, ah, langit kadang tak bersahabat terlalu seenaknya sendiri, kemarin lagi asyiknya pulang dari masjid eh langsung bress hujan turun tanpa tanda koma, hadeehh mana nggak pake daleman

tiba tiba seorang gadis datang dengan tergesa-gesa langsung duduk di sebelah pemuda itu

Alim:
ya Tuhan, kadang langit bersahabat juga hehehe mantap nih dingin-dingin empuk, dari rambutnya ini pasti ciri khas anak yang lemah lembut. Assalamualaikum (si gadis tidak menjawab dan mengacuhkan matanya ke sudut lain)Assalamualikuuum, assallamualikuuumm warokhmatullohi wabarokhatuuuuh, jangan jangan tuli nih cewek, ehm, bukankah menjawab sebuah salam itu wajib hukumnya untuk sesama muslim sebab terdapat doa keselamatan di dalamnya, dan hanya orang-orang sombong yang mengacuhkan salam itu.

christy:
(hanya melihat lalu pergi dari sisi pemuda tersebut)

Alim:
wuu.. budeg chasing boleh anggun, kelakuan kayak jelangkung datang gag ditunggu pulang gag disuruh, wah cantiknya anak tadi, siapa ya gerangan... jika beruntung pasti ketemu lagi.

Black out


tempat sama seperti malam kemarin dalam sebuah taman yang berpayung menghalangi setiap titik hujan yang mengusik tapi asyik, terlihat sosok gadis cantik duduk sambil memandangi langit

Christy:
hemm langit selalu menyaksikan segala tingkah makhluk di bawahnya, selalu menyimpan rahasianya dibalik luasnya cakrawala, apakah mereka tahu aku sedang pilu, apakah mereka tahu aku sedang rindu pada setiap ketenangan dihidup ini

Alim:
Astaghfirullah apa itu putih-putih (memekik melihat dengan seksama) ah tapi kakinya menapak, Subhanalloh ternyata gadis kemarin, ini pertanda bahwa dia disiapkan untukku terima kasih ya Allah, Assalamualaikun (gadis itu menoleh tetap tanpa ekspresi) cih tetap saja angkuh, boleh aku duduk disitu, bolehhlaaahh emang tempat duduk nenek moyangmu (langsung duduk disamping gadis itu) nganggur ya, ia sih keliatannya nganggur, emm dingin yah, ia dingin banget bisa mati beku nih, apalagi kalau ngomong sendiri sudah beku dianggap gila..






klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Selasa, 10 Mei 2011

RAHWANA

RAHWANA
Karya: Abdul Mukhid

BABAK SATU
ADEGAN 1
(Kerajaan Alengka waktu senja. Di bagian taman sari. Taman Asyoka yang sudah masyhur namanya. Terlihat para dayang melayani Shinta. Rahwana sedang bercengkerama dengan Sinta. Rahwana tidak digambarkan sebagai tokoh raksasa yang jelek, tapi sebagai seorang yang gagah dan wajah lumayan tampan. Taman sari itu adalah sebuah taman sari yang sangat indah. Tokoh dayang-dayang boleh ada boleh tidak)
RAHWANA: (Kepada dayang-dayang) Kalian boleh pergi.
(Para dayang memberi hormat, lalu pergi. Tinggal Rahwana dan Shinta berdua)
RAHWANA: Kau tahu kenapa aku membawamu kemari?
SHINTA: (Pura-pura tidak tahu) Tidak.

RAHWANA: Bahkan aku bisa melihat kepura-puraan di matamu. (Shinta diam saja. Sedikit salah tingkah) Apakah kau sudah melupakan gemuruh perasaan yang ada di dada kita?
SHINTA: Tentu saja tidak, Kanda Rahwana. Tapi, saling mencintai bukan harus memiliki, kan? Aku kira itu adalah hukum alam yang tidak terbantahkan lagi. Bukankah kau sendiri pernah berkata begitu?
RAHWANA: Lantas kenapa aku tidak boleh memilikimu?
SHINTA: Ini sudah takdir Sang Mahatunggal, Kakang.
RAHWANA: (Dengan agak kesal) Oh ya? Apakah juga takdirNya bahwa engkau harus menikah dengan Rama?
SHINTA: (Terdiam sejenak. Mencoba mengatasi perasaannya sendiri. Lalu dengan berat berkata) Tampaknya memang begitu, Kakang.
Hening sesaat
SHINTA: Dengarlah, Kakang. Aku yakin, Kakang sudah tahu perasaanku tanpa harus aku katakan. Tapi sekali lagi Kakang, ini memang sudah takdir. Ini perintah dari guru sejatiku. Bukankah Kakang juga punya cita-cita untuk bertemu dengan Sang Sejati? Inilah jalannya, Kakang. Kita harus menyingkirkan segala perasaan cinta duniawi yang berlebihan. Aku adalah bagian dari dunia ini, dan Kakang diberi ujian untuk tidak mengikatkan diri padaku. Begitu pula dengan aku.
RAHWANA: Tapi aku ingin memandang wajahNya lewat wajahmu. Aku ingin mencintai diriNya yang ada dalam dirimu sekaligus yang meliputimu.(Gusar) Tidak. Tidak. Pasti ini semua karena Rama. Kenapa? Apa kau terpikat dengan ketampanannya? Rayuannya? Kekayaannya? Dengar Sinta, aku memang tak punya apa-apa. Tapi lihat betapa makmur negeri ini. Memang istana ini bukan punyaku. Rumahku hanyalah sekedar untuk tempat berbakti pada kepada Sang Mahasuci. Baik. Apa kau menginginkan kekayaan dan kemewahan? Ketampanan dan kata-kata manis? Kau bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan, Adinda. (Pause) Asal bukan Rama.




klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Senin, 09 Mei 2011

MEREKA TELAH MEMBAKAR MEUNASAH KITA

MEREKA TELAH MEMBAKAR MEUNASAH KITA

karya:  Zakh Syairum Majid

( Seorang perempuan remaja memakai kruk berjalan tertatih-tatih ke tengah panggung. Berhenti Diam. Matanya menerawang jauh ke depan. Kemudian dia duduk di tengah panggung. Menangis terisak )

Aisyah
Emak akan pulang, kan ? Lihat, lihat aku telah menemukan beberapa butir peluru yang membuat Bang Yunus terkapar dan mati ? Peluru yang manghadiahkan kematian bagi Bang Yunus saat ulang tahunnya yang ke-25. Sebelum dia berangkat di pagi itu menuju Jawa, tempat dia menuntut ilmu.
Tapi mereka siapa, Mak ? Meraka siapa, Yah ? Orang –orang yang berbaju doreng itu ? Katanya, mereka datang hendak membebaskan kita dari penderitaan yang berkepanjangan ini ? Orang-orang itu menuduh Bang Yunus sebagai mata-mata, entah mata-mata siapa. Mereka hanya bisa menuduh tanpa alasan yang jelas, atau memang itu sudah tabiat mereka ?
Mengapa kita tak pernah merdeka, Mak ? Tapi, merdeka itu sebenarnya artinya apa, Mak ? Dan peluru tak mungkin bisa diajak bicara. Dan di Meunasah juga tak pernah diajari apa itu peluru, untuk apa peluru dan bagaimana cara membunuh dengan peluru.

( Dari dalam ada suara memanggil-manggil )



Noora :
Aisyah, Aisyah, dimana kau ? Hari sudah menjelang maghrib.

Aisyah :
Hari sudah menjelang maghrib ? Bagiku hari sama saja. Bagiku waktu sama saja. Penindasan dan kekejaman.




klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Minggu, 08 Mei 2011

Bunga di Atas Awan-Awan

Bunga di Atas Awan-Awan
Atawa Cinta Dibalut Hitam
Karya Taufan S. Chandranegara

Dramawan : Aktor (Lelaki/Perempuan)



SEBUAH RUANG, JENDELA-JENDELA, SEBUAH MEJA, SEBUAH KURSI, SEBUAH JAMBANGAN BERHIAS BUNGA-BUNGA, HANYA ADA SEKUNTUM BUNGA PLASTIC DI DALAMNYA, SEORANG TOKOH SENDIRI DISITU ENTAH SEJAK KAPAN.

Cinta. Cinta. Cinta. Subjektif. Irasional. Objektif. Rasional. Cinta. Cinta.cinta. kuasa. Naïf. Egomania. Cinta. Cinta. Cinta. Oral. Sacral. Mesum. Pornoaksi. Pornografi. Cinta. Cinta. Cinta. Sepotong zaman yang dipotong seperti roti dibagi-bagi lewat sentra media-multi-promo-aksi. Globalisme. Isu. Cinta. Cinta. Cinta. Naziisme. Fasisme. Feodalisme. Kapitalisme. Anarkisme. Chaos. Cinta. Cinta. Cinta.



Ruang. Waktu. Niscaya. Kosong. Isi. Gundah. Cinta. Cinta. Cinta. Serikat. Partai. Komunitas. Persatuan. Koloni. Cinta. Cinta. Cinta. Cinta surga. Neraka. Mati. Hidup. Cinta. Cinta. Cinta….

Slogan. Yel-yel. Fanatisme. Fundamentalisme. Cinta. Cinta. Cinta. Cinta semua. Semua cinta. Dijual murah di swalayan dengan slogan besar pasar modal. Cinta. Cinta. Cinta. Menjadi paradoksal. Mencintai. Dicintai. Dalam format moralis segemntasi kulturasi, menjadi takdir, hak dan kewajiban. Cinta. Cinta. Cinta….

“ Bunga. Hehehe…. Ada keklisean dalam kalimat katakan cinta dengan bunga. Kenapa tak diganti dengan; katakan cinta dengan tai dalam huruf kapital! Untuk apa aku mencintai? Dengan huruf kecil saja; kamu tak mau memahami. Tak mau mendengar suara nuranimu, itu pun kalau masih ada. Apa sih nurani, cinta? Apa sih cinta? Hidup yang bernurani. Yang aku tahu, cinta adalah tai alias tai dalam huruf kapital adalah cinta. Atau perlu aku membuat semacam federasi atawa serikat cinta. Apa mungkin cinta dilembagakan macam itu? Dibuatkan semacam grup seperti kelompok musik rock atau dangdut. Apa iya cinta kemudian menjadi esensial meng-instal isme dalam kurun waktu kemudian menjadi eksistensialis? Akh? Apa iya!?.”

Bener neh ente jatuh cinta dengan pacar ente. Bener neh ente semua bercinta karena cinta. Bohong! Pasti dengan nafsu kuda pacuan menuju maksimalisasi kemenangan, meski sebetulnya ente memacunya dengan steroid yang diminum sehari tiga kali karena mengandung vitamin B1 atawa B2 dan seterusnya plus plus diramu ginseng dari sebuah negeri. Lalu Jas jis Jos! Iya, kan? Malu? Rahasia? Jas Jis Jos kok rahasia.

Cinta. Cinta. Cinta. Penuh rahasia. Misteri. Klasik. Fenomenal. Birahi tanpa cinta adalah hal biasa. Tapi cinta tanpa birahi adalah omong kosong. Kenapa? Tanyalah pada kata hati. Kalau masih ada kata hati. Kalau masih punya kata hati.

“Sulit ya, Bunga. Mau punya cinta kok sembelit hehehe…. Apa? Maksudmu? Ya. Ya. Aku tak paham. Ya, o ya! Yang itu maksudmu. O… aku tahu sekali, meski agak kurang kenal. Kenapa? Suaramu keras sedikit. O…. ya, ya. Maksudmu seperti lagu-lagu protes yang pernah ada, kemudian mati setelah mengenal sistem, gincu! Kalau yang itu aku tak kenal. Karena yang ditulis belum tentu sesuai dengan perasaan cintanya pada….

“Bunga, jangan potong kalimatku. Aku feodal. Aku gampang tersinggung. Aku sedang berpura-pura jadi proletar supaya agak manusiawi sedikit. Piye? Lho! O, iya…. Hahaha Hm…hm… tidak. Baik. Baik sekali…. Tergantung bagaimana kita mencintainya, kan?”

“Bukan!?. O, bukan itu. Jadi darimana aku emmulai yang disebut cinta tadi, my dear Flower Generation? Dari awal sampai akhir atau dari akhir menuju awal!? Salah? Piye toh. Lho…toh? Tadi anda bilang saya harus merasakan cinta sebelum layu berkembang. Sekarang Anda


klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

ELEGI MUSIM PANAS

ELEGI MUSIM PANAS
Karya : Chandra Kudapawana


DI SEBUAH RUANG TAMU RUMAH MEWAH. FURNITURE SERBA MENGKILAP MENGHIASI SETIAP SUDUT RUANG ITU. MEJA, LEMARI, KURSI, SEMUANYA TAMPAK MAHAL DAN BERKELAS. TAK KECUALI LEMARI KECIL TEMPAT BERDERETNYA MINUMAN-MINUMAN BERALKOHOL KELAS ATAS. SIANG HARI MUSIM KEMARAU. NIKOLAS TENGAH MENUANGKAN ANGGUR KE DALAM SLOKI. SEMENTARA TAK JAUH DARI SANA, NITA DUDUK TERMENUNG. TAK BERGAIRAH.

NIKOLAS (MENEGUK ANGGUR DARI SLOKI)
Mantap! Ini baru namanya anggur. Beda sekali dengan produk-produk local. Buatan luar negeri memang lebih bagus. (MENUANGKAN LAGI ANGGUR DALAM BOTOL).

NITA (MELIRIK. MENARIK NAPAS)



NIKOLAS
Dari mana kau dapatkan anggur sebagus ini?

NITA
Sudahlah, Nikolas. Jangan terlalu banyak minum tidak baik untuk kesehatanmu.

NIKOLAS(SEMPOYONGAN MENGHAMPIRI NITA)
Alah! Kau ini macam orang tua saja. Lalu buat apa kau bawa anggur-anggur itu kalau
bukan untuk dinikmati. Sekedar pajangan saja, begitu?

NITA
kalau iya, mau apa?

NIKOLAS (TERTAWA NGAKAK)
Nita, Nita. Kau ini ada-ada saja, anggur selezat itu hanya sekedar pajangan? Menurutku, anggur itu ibarat seorang wanita cantik. Tidak akan puas kalau hanya dilihat saja, ada trik-trik tertentu untuk menikmatinya. Pertama buka dulu seluruh pakaiannya agar kita bisa melihat halus kulitnya, kedua biarkan menari-nari erotis, ketiga sentuh dia dengan lembut dan yang keempat kau juga sering merasakannya, bukan? (BERGERAK SEPERTI MAU MEMELUK TUBUH NITA)

NITA
Nikolas! (MENGHINDAR) harus berapa kali aku katakan jangan terlalu banyak minum. Kau selalu saja ngomong ngawur kalau sudah mabuk.

NIKOLAS
Lho! Aku tidak mabuk, sayang. Kalau kau tidak percaya bisa tanyakan pada kyai atau ulama tentang apa yang aku katakan tadi.

NITA




klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini