Pages

Tampilkan postingan dengan label Putu Wijaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Putu Wijaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

Naskah Zetan karya Putu Wijaya

Lakon
ZETAN
Karya PUTU WIJAYA




GURU
Aku guru yang hebat. Tanganku luar biasa dingin. Aku bisa mengocok kepala batu dan otak udang menjadi cemerlang. Betul, aku tidak main-main. Aku seperti tukang sulap. Itu semua sudah karunia. Tapi aku terpaksa keluar dan berhenti mengajar. Aku tidak mau lagi jadi guru.

(Guru melempar tasnya. Istri memunggut dengan sabar. Guru membuka bajunya, kemudian hendak membantingnya. Tetapi istrinya menyabarkan dan membujuk agar suaminya duduk sambil kemudian memijit pundaknya. Semabari dipijit guru terus ngomel)

Aku benci kepada birokrasi. Aku lihat sekolah kok tidak lagi memberikan pendidikan kepada calon pengganti generasi, tapi memperjual-belikan pendidikan. Ilmu sudah jadi barang komoditi seperti hasil pabrik. Diicrit-icrit supaya mahal. Publikasi dan fasilitasnya digembar-gemborkan, tapi hasilnya memble. Pendidikan hanya menjual sertifikat dan gelar tidak bikin manusia pinter apalagi siap pakai. Prek!

(Guru bangun dan kemudian kentut)

Alhamdulillah

(Merasa lega. Istrinya berhenti mijit, dengan cekatan mengumpulkan barang-barang suaminya, lalu masuk. Guru tinggal sendiri)


Jadi jangan salahkan kalau aku lantas kabur dan mendirikan Akademi Mandiri. Sekolah mahal yang bergengsi dan bercita-cita mulia. Pendidikan yang bagus memang mahal, tidak mungkin gratis, itu omong kosong. Gaji guru mesti cukup karena mereka profesional, sarana mesti canggih supaya jangan ketinggalan zaman. Tapi yang bayar orang yang berduit. Makin dia kaya, makin tinggi bayarannya, itu sudah adil. Orang kaya dicekek tidak akan mati malah hartanya berlipat ganda. Orang kaya kalau kehilangan seperak akan langsung menggaruk sejuta tak peduli dari mana. Mereka semuanya pemain sulap. Orang kecil lain, belum ditembak sudah pinsan, banyak yang kontan mati. Karena itu orang miskin berhak dapat pendidikan kelas satu sama dengan orang kaya dan gratis.

(Guru ketawa. Istri guru muncul, pakaiannya keren. Ia membawa kemeja panjang, dasi dasi dan jas. Beberapa orang pembantu ikut muncul membawa buku-buku dan map, meletakkannya di meja dan menata ruangan. Istri guru menyerahkn hp dan earphoe pada guru. Guru memasang dan menjawab hp lewat earphoe. Istri guru menolong guru memakai kemeja. Mengganti sepatu sandal dengan sepatu boat pendek yang keren. Guru bicara di hp dengan earphone.)

Betul. Puluhan ribu muridku. Kebanyakan anak-anak orang gedean yang bisa membayar berapa saja, asal anaknya bisa pinter. Dalam tempo singkat Akademi Mandiri menjadi idola. Kalau tidak bawa ijazah Akademi Mandiri orang merasa kurang bergengsi. Habis setiap lowongan kerja mesti syaratnya pertamanya menguasai bahasa Inggris. Tidak tersangkut G.30 S. Tapi kalau bawa ijazah Akademi Mandiri, semua itu tidak berlaku lagi. Langsung diterima dengan gaji pertama yang bikin ngiler. Apa nggak hebat? (KETAWA BANGGA)

(Seorang pembantu datang membawa minuman dan beberapa obat yang harus ditelan. Istri guru mencari saat yang tepat, untuk menyerahkan dan kadangkala membantu memasukkan ke mulut tanpa mengganggu guru karena guru sibuk bicara di earphone.)

Tapi aku masih tetap kecewa. Aku memang selalu berhasil mencetak alumni yang berprestasi, yang cerdas dan kompetetif seperti yang dikehendaki oleh Mentri Pendidikan. Tapi aku tetap gagal mencetak manusia yang berguna. Setelah pintar, semua anak didikku mempergunakan ilmunya untuk kepentingan diri mereka sendiri. Jelas sekali mereka cari ilmu hanya untuk jadi kaya. Ada yang ngebet jadi pemimpin, tapi begitu menduduki kursi, mereka mempergunakan kekuasaannya untuk menginjak rakyat! Aku merasa gagal total! Kalau sekolah hanya mengajarkan orang untuk sukses, cari kedudukan, menumpuk kekuasaan dan kekayaan, akhirnya seperti sekarang korupsi di mana-mana. Mantan anak didikku semua jadi orang. Pemimpin kakap, berpengaruh dan konglomerat. Tapi tidak seorang pun yang berhati mulia. Semuanya berjiwa dengki. Tidak usah 5 trilyun, disogok motor saja tetap mau, padahal di rumahnya berderet Jaguar, Lambordini, Mercy, Audi, bahkan ada becak untuk dipamerkan kepada tamu-tamu asing. Ini kenapa? Pendidikan yang salah? Guru yang keliru? Moral kita bejat? Atau hidup memang sudah berubah buas?

(Semua beres. Pembantu semua keluar. Istri guru juga, duduk menunggu suaminya selesai bicara.)

Begitu frustasi sehingga aku mau gulung tikar menutup akademi. Tentu saja semua orang protes. Bahkan ada yang mengancam kalau kau berani menutup Akademi Mandiri, berarti kamu mau bunuh diri. Tinggal pilih mau mati diracun seperti Munir, kecelakaan menggenaskan, ditembak di pinggir jalan, bom, atau disantet perlahan-lahan. Aku ngeper juga, karena aku bukan manusia pemberani. Sambil tertekan batin aku terus mengajar dengan separuh hati. Tapi bukan menyerah apalagi kalah! Oke aku mau berangkat sekarang. Siap bertempur dengan orang-orang Yayasan itu!

(Mencopot earphone. Istri berdiri membenarkan pasangan dasi. Kemudian membantu guru memakai jas. Istri guru mencium pipi suami, lalu masuk. Guru mengambil tas dan map-map. Tetapi kemudian hpnya berdering. Ia meraih, melihat siapa yang menelpon, kemudian menjawab.)





klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Selasa, 07 Juni 2011

Anu (Putu Wijaya)

Lakon
A N U
Putu Wijaya




AZWAR
Jadi Anu telah anu, anu sudah anu, bahkan anu benar benar anu, tidak bisa anu lagi, di mana mana anu, setiap orang sudah anu, padahal belum lama berselang anu kita masih anu, si Anu, si Anu, belum anu dan anu, anu, anu masih sempat dianukan oleh Anu, tapi sejak anu kita anu dia benar benar sudah anu dan kita pun sudah lebih anu, bagaimana mungkin kita anu atau menganukan anu kita. Karena itulah aku peringatkan berkali kali dan sekarang untuk penghabisan kali jangan anu anu lagi ! Anu sudah terlalu anu, hentikan sekarang ! Kalau tidak kita pasti akan anu ! Akibatnya anu anu anu anu anu dan anu anu anu anu, bahkan mungkin akan anu anu anu anu anuanuanuanuanuanu, akhirnya anu kita benar benar akan anu, berat ! Karena itu jalan satu satunya, semua anu kita harus dianukan, supaya tidak ada lagi anu yang anu ! Jadi anu anu anu anu, anu anu anu anu harus ANU ! dan anu anu anu bahkan anupun harus ANU ! sebab A N U tidak boleh kurang dari anu atau lebih dari anu ! Dia harus A, sekali lagi A ! dan N, sekali lagi N ! dan U, sekali lagi U ! A N U ! Anu kita adalah Anu ! tidak ada anu lain, barang siapa anu pasti tidak boleh tidak otomatis akan anu ! Atau akan dianukan ! Paling banter akn ter anu ! Sebab anu anu anu, anu anu anu akan berakibat ANU tidak lagi ANU tetapi (berbisik) atau (berbisik) atau (berbisik) dan (berbisik) dan (berbisik) jadi (berbisik). Apa boleh buat !



MOORTRI (berpikir)
Sebentar !



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Sabtu, 30 April 2011

AUT

Lakon
A U T
Karya Putu Wijaya



SATU

MALAM HARI DI SEBUAH POS KEAMANAN WILAYAH.BANYAK PENGADUAN MASUK.PARA PETUGAS SIBUK SEKALI.DI ANTARA MEREKA ADALAH SEPASANG SUAMI-ISTRI,MENGAKU TELAH KEHILANGAN ANAK.PARA PETUGAS MEMPERSILAKAN DUDUK TAPI TIDAK SEGERA DITANYA.SANG ISTRI MENGUSAP-USAP MATANYA.MEREKA AGAK LAMA MENUNGGU KARENA PARA PETUGAS SEDANG BERTENGKAR TENTANG SESUATU.KEMUDIAN SETELAH KEGAWATAN ITU AGAK REDA SALAH SEORANG MULAI BERTANYA-TANYA,DISUSUL KEMUDIAN OLEH YANG LAIN.

PETUGAS
Apa,yang hilang ?



SUAMI
Anak saya,Pak.

PETUGAS
Anak ?

SUAMI
Ya.

PETUGAS
Sudah besar atau masih kecil ?

ISTRI
Ya kalau anak pasti masih kecil,Pak.Kecil sekali.

PETUGAS
Berapa tahun umurnya ?

ISTRI
Enam bulan,Pak.

PETUGAS
Namanya siapa ?

ISTRI
Belum punya nama.

PETUGAS
Ciri-ciri ?

ISTRI
Bagaimana saya tahu,belum jelas.

PETUGAS ITU BERPIKIR SEBENTAR LALU MENERUSKAN.

PETUGAS
Jadi belum punya nama ? Mengapa ?

SUAMI
Ya,nama itu susah-susah gampang,Pak.Kalau terburu buru,salah nama nanti jadi penyakit.Ya kan Pak ?!

PETUGAS
Nggak tahu,anak situ kan ?!

ISTRI
Biasanya kalau namanya salah,anak jadi sakit-sakitan Pak.Anak tetangga saya sudah dua yang begitu.Bisa sampai mati lho !

SUAMI
Kami tak mau nasibnya seperti itu,jadi namanya belum ada.Tapi sekarang,kalau tahu begini,dulu cepet-cepet tak kasih nama.

PETUGAS
Ya,jadi kalau ada namanya,mudah dicari.Lebih mudah begitu.Sekarang kalau begini susah.Supaya gampang laporannya kasih nama saja sembarang begitu.Siapa ?

ISTRI
Nama bohongan saja,begitu ?

PETUGAS
Ya,syukur kalau bisa dipakai terus nanti.

ISTRI
Orang belum ada namanya kok.

PETUGAS
Ya beri saja nama sembarangan begitu.Ini susah nulisnya kalau tidak ada nama.

PETUGAS
Potretnya ada nggak ?

SUAMI
Orang namanya saja belum ada,bagaimana lagi potretnya,bapak ini ngaco.

PETUGAS
Kali punya.

ISTRI
Potret kakaknya ada. Mau ? ( merogoh dompet )

SUAMI
Tak usah.

ISTRI
Kali bisa.








klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Sabtu, 09 April 2011

BAH (Putu Wijaya)

BAH
Putu Wijaya



SUARA TANGIS BERSAMA YANG ANEH, MERAYAP DALAM TAK HENTI HENTINYA. DUA ORANG HANSIP MUNCUL TERGOPOHGOPOH BONCENGAN SEPEDA.MENU BRUK TEMBOK.KEDUANYA JATUH.BERDIRI LAGI GESIT DI SATU SISI PANG GUNG MEMBIARKAN KENDARAANNYA TERCECER.LALU GANTIAN MEMBERIKAN LAPORAN DENGAN NAFAS TERSENGAL SENGAL APA YANG SUDAH MEREKA ALAMI DI LAPANGAN.LENGKAP,JELAS,SETUNTAS MUNGKIN MENURUT PENGAMATAN MEREKA.

HANSIP
Pagi pagi buta baru saja kami selesai putaran ronda yang terakhir,masuk laporan dari seorang penduduk desa yang terpencil di pinggiran situ.

HANSIP
Kata mereka,ada yang ganjil terjadi di situ.

HANSIP
Sebagai seorang petugas yang baik dan bertanggung jawab atas keselamatan lingkungan,sebagaimana yang diwejangkan oleh Bapak lurah kita,kami cepat cepat beraksi.Tak peduli mengantuk atau capai,karena itu memang sudah menjadi tugas dan kewajiban kami.

HANSIP
Konon penduduk desa yang sedang menggali lubang untuk mengubur warganya yang mati,kaget,karena ada yang aneh dari dalam tanah. Lubang itu ternyata ada apaapanya begitu.Aneh memang. Kami juga geleng geleng kepala.Masak ? Di zaman modern ini begitu?



HANSIP
Otomatis mereka menghentikan penggaliannya dan
sebagai warga yang baik,sesuai dengan wejangan Pak lurah,mereka tidak bertindak sendiri,tapi melapor kan kepada kami.

( tertawa )

Ini bukti bahwa masyarakat sudah mulai bisa menghargai apa yang sepantesnya dihargai.Tidak seperti duludulu waktu kita para petugas malah dikasih pantat.Ya kan ?!

HANSIP
Cepat saja kami terbang ke situ dengan sepeda.Mereka semua sudah berkumpul di dekat lubang
itu dengan seribu satu pertanyaan. Maklum orang desa.Apa apa mesti takut duluan.


HANSIP
Begitu sampai kami langsung saja mengusut.

HANSIP
Cepat nanti terlambat ! Pisau sama pentungnya mana cepat ambil ! Kata saya pada Semprul yang suka malas malasan ini.Cepat !

............................




klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
  Download Naskah Ini

Selasa, 22 Februari 2011

Naskah BOR Putu Wijaya

Lakon
B O R
Karya Putu Wijaya



SEBELUM PERTUNJUKAN DIMULAI, NYAMUK PERS SUDAH BERKELIARAN DI MA
NA MANA. BAGAI PASUKAN KOMANDO YANG TANGGUH, BANDEL AKAN TETA
TAPI SUPEL DAN KALAU PERLU BISA KASAR, MEREKA MENYUSUP DI MANA MA
NA. TAK ADA TEMPAT YANG TAK TERTEMBUS. TAK ADA ORANG YANG CUKUP KE
BAL BISA MENGHINDARI MEREKA.



PARA PEMAIN MEMBALUT TUBUHNYA DENGAN BEKAS BEKAS SPANDUK DI DEPAN PARA PENONTON. MEREKA MERUSAK PROPORSI TUBUHNYA DENGAN MEMASUKKAN BANTAL KARET BUSA DAN SEBAGAINYA KE BAGIAN BAGIAN TUBUH YANG MEREKA PILIH, LALU MEMBUNTALNYA DENGAN RAPIH, SEPERTI HENDAK MENGIRIM TUBUHNYA ITU KE TEMPAT YANG JAUH. MEREKA JUGA MENGGAMBARI MUKANYA DENGAN CAT WARNA WARNI. BEBERAPA ORANG MELAKUKAN ITU SAMBIL BERCAKAP CAKAP DENGAN TEMANNYA ATAU
PARA PENONTON. ADA JUGA YANG MEMINTA PENONTON MEMBANTUNYA MENGIKAT KAKI ATAU TANGANNYA.

SEPERANGKAT GAMELAN DITABUH DAN SEJENIS TEMBANG DIBAWAKAN
MENGIKUTI KESIBUKAN ITU. PENJUAL KACANG DAN MINUMAN MONDAR MANDIR DI ANTARA PENONTON MEMBAWAKAN JUALANNYA.

TERDENGAR SUARA KETUKAN DALANG MEMULAI PERTUNJUKAN. PARA PEMAIN
MENYINGKIRKAN ALAT ALAT, BARANG, KOPOR DAN SEBAGAINYA KE TENGAH, ME NUMPUKNYA DI SITU. KEMUDIAN MEREKA SENDIRI DUDUK MENGELILINGI BARANG BARANG ITU DAN MULAI MENYUARAKAN AAAAAAAAAAAAAAA SAMBUNG MENYAMUNG DENGAN LEMBUT. LAMPU PERLAHAN LAHAN PADAM. DALAM KEGELAPAN SUARA AAAAAAAA BERLANGSUNG BEBERAPA LAMA, SAMPAI DALANG MEMBERI ISYARAT BERHENTI. SUNYI BEBERAPA LAMA. LALU ADA SUARA GEMERINCING LEMBUT GENTA-GENTA KECIL. TERLIHAT NYALA HIU BERGETAR GETAR. SATU, DUA KEMUDIAN BANYAK, MENARI DALAM KEGELAPAN. BERKUMPUL DAN BERSERAK, NAIK TURUN MENGISI RUANG YANG GELAP ITU SEPERTI KUNANG-KUNANG.

KEMUDIAN TERDENGAR SUARA GAMELAN. HIU SATU PER SATU LENYAP. PARA PENARI MEMAKAI PAKAIAN PUTIH PUTIH MUNCUL DARI KIRI DAN KANAN KE ARAH ORANG ORANG ITU. PARA PENABUH MENGIKUTINYA DENGAN SUARA GAMELAN DAN TEMBANG. LAMPU HIDUP PERLAHAN LAHAN. ORANG ORANG YANG BERKUMPUL ITU MENGEMBANGKAN KAIN PUTIH DAN KEMUDIAN BERDIRI. PARA PENARI SEMAKIN DEKAT. MEREKA MENARI MENGELILINGI SAMBIL MENEBARKAN BUNGA. KI DALANG MENGETUKKAN PALUNYA.

KEPALA
Tuhan Seru Sekalian Alam, atas rakhmat dan kehendakMu kami berkumpul lagi hari ini untuk memulyakan namaMu dan melaksanakan tugas-tugas kami yang belum selesai.

KAIN PUTIH DITURUNKAN MENUTUPI BARANG BARANG. KI DALANG MENGETUKKAN PALUNYA. PARA PENARI TERTEGUN. LALU PERLAHAN-LAHAN MENGHINDAR PERGI.

KEPALA
Saudara saudara sekalian, terlebih dulu saya ucapkan maaf yang sebesarnya, atas segala kesalahan yang sudah maupun yang belum saya lakukan. Semua ini saya lakukan bukan karena kehendak pribadi, tetapi tugas. Hari ini rupanya kita terpaksa akan

MELIRIHKAN SUARANYA SEHINGGA TAK KEDENGARAN. DALANG MENGETUKKAN PALUNYA.

DALANG
Yang keras ! Mengapa ?

KEPALA
Menurut komputer, . satu orang sekarang baik.

DALANG
Bunuh satu orang ? Siapa ?

KEPALA
Nanti, harus ditanya dulu, baru ketahuan. Tapi ingat ingat, siapa pun yang akan jadi korban kali ini itu semua adalah bagian dari proses. Bukan orangnya, tetapi perbuatannya. Mana komputernya ?




klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya



Download Naskah Ini

Cipoa (Putu Wijaya)

LAKON
CIPOA
PUTU WIJAYA




BAGIAN PERTAMA

LAYAR BESAR SEPERTI BUKIT BATU. NAMPAK DALAM SILHUET BANYAK ORANG BEKERJA MENGGALI DALAM BERBAGAI UKURAN. DI DEPAN NAMPAK TIVRI SANG PENJAGA TAMBANG MASIH TIDUR. KABUT MULAI TURUN TANDA MALAM AKAN TIBA. JURAGAN MUNCUL DAN MEMPERHATIKAN,

JURAGAN
Ya Tuhan, mereka sudah hampir menemukannya.

JURAGAN MENGAMBIL LEMPENGAN BESI DAN PEMUKULNYA TANG ADA DI DEKAT TIVRI TIDUR LALU MEMUKULNYA LIMA KALI. TIVRI TERSENTAK BANGUN. LALU CEPAT-CEPAT MENGANCINGKAN BAJU DAN CELANANYA LALU OTOMATIS MENIUP SEMPRITAN SEPERTI MESIN.



TIVRI (Setelah Meniup Sempritan Lalu Bicara Dengan Corong) Lho apa sudah pukuTepat pukul lima!

JURAGAN
Kabut sudah turun. Malam akan tiba. Semua harus berhenti kerja!

TIVRI
Tapi harta karun belum ketemu Juragan!

JURAGAN
Tidak apa, berhenti dulu. Kalau terlambat keluar mereka bisa disekap dalam tambang. Nanti dikawin sama setan. Mau nggak punya keturunan kepalanya monyet?

TIVRI
Nggak!

(Ketawa Lalu Meniup Sempritan)

Oiiii sudah pukul lima, kabut sudah turun. Walaupun harta karun belum ketemu, berhenti semua. Kalau terlambat keluar bisa dikawin sama setan. Mau punya keturunan kepalanya monyet?

SEMUA BERHENTI BEKERJA DAN MEMBAWA PERALATANNYA KELUAR SAMBIL MENYANYI. DENGAN GEMBIRA DAN BERSEMANGAT./

JURAGAN
Bagus!



..............................

klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Selasa, 18 Mei 2010

Aeng

MONOLOG AENG
karya: Putu Wijaya

IA BERBARING DI LANTAI DENGAN KAKI NAIK KE KURSI. DI MEJA KECIL, DEKAT KURSI, ADA BOTOL BIR KOSONG SEDANG DI LANTAI ADA PIRING SENG. MUKANYA DITANGKUP TOPI KAIN. DI KAMAR SEBELAH TERDENGAR SESEORANG MEMUKUL DINDING BERKALI-KALI

Ya, siapa itu. Jangan ganggu, aku sedang tidur

GEDORAN KEMBALI BERTUBI

Yaaaa! Siapaaa? Jangan ganggu aku sedang tidur

GEDORAN BERTAMBAH KERAS. ORANG ITU MENGANGKAT TUBUHNYA



Ya! Diam kamu kerbau! Sudah aku bilang, aku tidur. Masak aku tidak boleh tidur sebentar. Kapan lagi aku bisa tidur kalau tidak sekarang. Nah begitu. Diam-diam sajalah dulu. Tenangkan saja dulu kepalamu yang kacau itu. Hormati sedikit kemauan tetangga kamu ini

(BERBARING LAGI) Ya diam. Tenang seperti ini. Biar aku dengar hari bergeser mendekatiku dengan segala kebuasannya. Tiap detik sekarang kita berhitung. Aku kecap detak-detak waktu kenyang-kenyang, karena siapapun tak ada lagi yang bisa menahannya untukku. Bahkan Tuhan juga sudah menampikku. Sebentar lagi mereka akan datang dan menuntunku ke lapangan tembak. Mataku akan dibalut kain hitam dan sesudah itu seluruh hidupku jadi hitam. Aku akan terkulai di situ berlumuran darah. Jadi onggokan daging bekas. Sementara dunia terus berjalan dan kehidupan melenggang seperti tak kekurangan apa-apa tanpa aku. Sekarang kesempatanku yang terakhir untuk menunjuk arti. Mengisi kembali puluhan tahun di belakang yang sudah aku lompati dengan terlalu cepat. Apa yang bisa dilakukan dalam waktu pendek tetapi dahsyat? (MENGANGKAT TOPI DAN MELEMPARKANNYA KE ATAS) Ketika aku mulai melihat, yang pertama sekali aku lihat adalah kejahatan. Makku dihajar habis oleh suaminya yang kesetanan. Ketika pertama kali mendengar, yang kudengar adalah keserakahan. Para tetangga beramai-ramai memfitnah kami supaya terkubur. Ketika pertama kali berbuat yang aku lakukan adalah dosa. Kudorong anak itu ke tengah jalan dan sepedanya aku larikan. Sejak itu mereka namakan aku bajingan. Mula-mula aku marah, karena nama itu diciptakan untuk membuangku. Tetapi kemudian ketika aku terbiasa memakainya, banyak orang mengaguminya.Mereka datang kepadaku hendak berguru. Aku dinobatkan jadi pahlawan. Sementara aku merasa amat kesepian ditinggal oleh dunia yang tak mau mengakuiku sebagai anaknya.


Download Naskah Ini

Rabu, 07 April 2010

Bila Malam Bertambah Malam (Putu Wijaya)

naskah teater
Bila Malam Bertambah Malam
Karya Putu Wijaya


BABAK I

MALAM DI TEMPAT KEDIAMAN GUSTI BIANG. SEBUAH BALE YANG DISEMPURNAKAN UNTUK TEMPAT TINGGAL.

GUSTI BIANG MEMANGGIL-MANGGIL WAYAN.


Adegan I

KELIHATAN NYOMAN SEDANG MENYIAPKAN MAKAN MALAM UNTUK GUSTI BIANG. SEMENTARA WAYAN MENGAMPELAS PATUNG. ORIGINAL SOUNTRACK: WAYAN .. Wayaaaaaan ....
NYOMAN MEMBERI ISYARAT KEPADA WAYAN.

NYOMAN
Benar Ida akan pulang hari ini?

WAYAN
Ya ....



Adegan II

DI RUANG DEPAN ADA KURSI GOYANG DAN KURSI TAMU. GUSTI BIANG NGOMEL TERUS.

GUSTI BIANG
Si tua itu tak pernah kelihatan kalau sedang dibutuhkan. Pasti ia sudah berbaring di kandangnya menembang seperti orang kasmaran pura-pura tidak mendengar, padahal aku sudah berteriak, sampai leherku patah. Wayaaaaan ..... Wayaaaaan tuaaaa.....

WAYAN
Nuna sugere GUSTI BIANG, kedengarannya seperti ada yang berteriak ................

GUSTI BIANG
Leherku sampai putus memanggilmu, telingamu masih kamu pakai tidak?

WAYAN
Tentu saja Gusti Biang, itu sebabnya tiyang datang .........

GUSTI BIANG
Jangan berbantah denganku. Kau sudah tua dan rabun, lubang telingamu sudah ditempati kutu busuk. Kau sudah tuli, malas dan suka berbantah, cuma bisa bergaul dengan si belang. Kau dengar itu kuping tuli?

WAYAN
Betul Gusti Biang.


naskah teater
Bila Malam bertambah Malam
Karya Putu Wijaya
Download Naskah Ini

Jumat, 05 Maret 2010

DEMOKRASI (Monolog Putu Wijaya)

(DAPAT DIMAINKAN OLEH LELAKI MAUPUN PEREMPUAN)

SEORANG WARGA DESA TANG TANAHNYA KENA GUSUR MEMBAWA PELAKAT BERISI TULISAN DEMOKRASI.SETELAH MEMANDANG DAN PENONTON SIAP MENDENGAR ,IA BERBICARA LANGSUNG
Saya mencintai demokrasi. Tapi karena saya rakyat kecil, saya tidak kelihatan sebagai pejuang, apalagi pahlawan. Nama saya tak pernah masuk Koran. Potret saya tak jadi tontonan orang. Saya hanya berjuang dilingkungan RT gang Gugus Depan.


Di RT yang saya pimpin itu, seluruh warga pra demokrasi. Dengan beringas mereka akan berkoar kalau ada yang anti pada demokrasi. Dengan gampang saya bisa mengarahkan mereka untuk maju demi mempertahankan demokrasi. Semua kompak kalau sudah membela demokrasi.
MENGACUNGKAN PLAKATNYA.
Demokrasi!
................

DEMOKRASI
Monolog Putu Wijaya

Download Naskah Ini