Pages

Tampilkan postingan dengan label Novel Silat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Silat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 November 2011

Kisah Klan Otori - Lian Hearn

Novel ini berkisah tentang seorang anak muda yang bernama Tomasu(yang kemudian berganti nama menjadi Takeo,sebuah nama yang diberikan oleh penolongnya) Tomasu lahir di sebuah komunitas yang sangat menjunjung tinggi rasa kasih sayang, saling maaf memaafkan,saling tolong menolong, dan cinta perdamaian. Tetapi, sebuah peristiwa telah merubah seluruh jalan hidupnya dan menguak semua jati diri dan rahasia hidupnya.

dia mulai mengetahui siapakah dirinya yang sebenarnya dan baru Menyadari bahwa dirinya mempunyai kemampuan yang luar biasa, yaitu pendengaran yang sangat tajam, mampu berada di dua tempat sekaligus, dan bisa menghilang, hal ini menempatkan dirinya pada situasi yang membingungkan. Antara memilih takdirnya sebagai seorang Kikuta dari golongan tribe atau memenuhi sumpah setianya kepada Lord Otori Shigeru dari Klan Otori.

LIAN HEARN Pernah belajar bahasa di Universitas Oxford dan bekerja sebagai kritikus film serta editor seni di London sebelum Ia menetap di Australia. Rasa tertariknya pada Jepang membuat ia mempelajari Tentang Jepang dan melakukan perjalanan ke Jepang, dan mencapai puncaknya dengan menulis Buku Kisah Klan Otori.
 
 
 
Download Novel Kisah Klan Otori

 
 
 
 

Selasa, 18 Oktober 2011

Pedang Keramat Thian Hong Kiam

 

Pada tahun 870 sampai 873 rakyat Tiongkok menderita hebat sekali karena buruknya pemerintah yang dipegang oleh Dinasti Tang. Pembesar-pembesar dari yang terkecil sampai yang terbesar, dari yang terendah sampai yang tertinggi, semua melakukan korupsi besarbesaran, hingga tenaga dan harta benda rakyat diperas habis-habisan.




Di antara sekalian pembesar-pembesar koruptor tinggi, kaum Thaikam (orang kebiri) yang paling hebat menjalankan peranan. Mereka ini tidak saja berpengaruh di dalam istana kaisar, tapi meluas sampai keluar hingga boleh dibilang, semua pembesar militer dan sipil berada dalam genggaman tangan mereka. Lebih dari setengah bagian dari pada seluruh tanah di ibukota dikuasai oleh para Thaikam ini.

Para petani, atau lebih tepat disebut buruh tani, bekerja di atas tanah tuan-tuan besar ini melebihi kerja seekor kerbau. Sedangkan para petani yang memiliki sedikit tanah, dikenakan pajak yang sangat tinggi. Untuk tiap mou sawah, seorang petani harus membayar pajak dari 50 sampai 100 kati gandum.

Tentu saja ini merupakan delapan bagian dari pada hasil tanah mereka. Apalagi ketika dalam tahun 873 di daerah Shantung dan Honan terserang musim kering yang hebat, sedangkan pajak yang telah ditetapkan itu sama sekali tidak berubah atau dikurangi.

Celakalah nasib kaum tani. Siapa yang tidak kuat membayar pajak sebagaimana yang telah ditetapkan, dihukum berat.

Hukuman yang paling ringan adalah hukum cambuk lima puluh kali. Tapi hukuman yang disebut paling ringan inipun sering mengantar nyawa seseorang ke alam baka, karena siapakah yang kuat menahan pukulan cambuk besar sampai lima puluh kali, sedangkan tubuh yang dicambuk itu telah begitu kurus kering karena kurang makan?

Ada nasehat-nasehat kuno yang menyatakan bahwa rakyat jelata akan tunduk dan menurut apabila perut mereka kenyang, maka kenyangkanlah dulu rakyat jelata jika menghendaki Negara tenteram dan aman. Pada tahun 874, terbuktilah betapa tepatnya kata-kata itu.

Para petani yang terjepit dan menderita dengan perut kosong, tak dapat bertahan lagi dan menjadi nekad. Maka pecahlah pemberontakan pertama di Cang-yuang (Shantung) yang dipimpin oleh Ong Sien Ci, dan pemberontakan ini didukung oleh hampir seluruh rakyat kecil. Pada tahun berikutnya, rakyat di Coa-chau memberontak pula, dipimpin oleh seorang patriot bernama Oey Couw.

Empat tahun kemudian, Ong Sien Ci tewas dalam sebuah pertempuran melawan tentara kerajaan Tang di Hupeh. Akan tetapi dalam sesuatu revolusi suci, tewasnya seorang dua orang, bahkan ratusan atau ribuan orang, tak menjadi soal dan sama sekali takkan memadamkan api revolusi yang menggelora. Mati satu maju dua, gugur seratus maju seribu.

Demikianlah, setelah Ong Sien Ci tewas, Oey Couw segera menggantikan dan memegang pimpinan atas barisan pemberontak yang berjumlah tidak kurang dari enam puluh laksa orang. Oey Couw yang gagah perkasa menjalankan taktik gerilya di sepanjang propinsi Hupeh, Kiangsi, Cekiang dan An hwei lalu memutar dan kembali ke Honan, hingga dalam operasinya ini, Oey Couw telah melakukan semacam “long march” yang jauhnya sepuluh ribu li lebih.

Akhirnya, berkat semangat para tentara rakyat yang gigih melawan tentara Tang yang hanya pandai menerima suapan dan sogokan serta merampok harta benda dan mengganggu anak bini orang itu dapat dipukul hancur.

Kaisar Tang melarikan diri mengungsi ke Secuan dan pasukan petani memasuki ibukota Cang-an, disambut oleh penduduk dengan gembira dan penuh harapan.


Senin, 21 Maret 2011

Lorong Tembus Kubur - Tara Zagita

CAHAYA petir menyambar salah satu pucuk pohon hutàn tembaga. Warna cahaya itu bukan biru atau putih menyilaukan seperti petir-petir yang sering berkerilap di awan bumi. Warna cahaya petir itu merah saga. Terang sekali. Bentuknya bukan berkelok-kelok seperti petir yang sering terlihat di permukaan burni. Bentuk cahaya merah itu menyerupai pedang raksasa. Panjang dan berukuran besar.

Sekali melesat menimbulkan dentuman dahsyat. Menghentak kuat, bagaikan ingin membelah alam dimensi mist ik. Suara dentuman itu bergelombang panjang, seolah-olah berjalan dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Ketika lidah petir alam mistik itu menyambar salah satu pucuk pohon hutan tèmbaga, maka dalam sekejap. saja puluhan pohón lainnya ikut menjadi hangus. Terbakar dan hancur menjadi debu serbuk tembaga.


“Aku belum pernah melewati hutan ini, Paman. Apakah pohonpohonnya benar-benar terdiri dan lapisan logam tembaga?”

“Kurasa benar. Petiklah daun pohon yang pendék itu, Kumala. Coba, petiklah sehelai saja.”

Kumala Dewi menuruti saran tersebut. Anak pohon yang masih tergolong muda dengan tinggi hanya sebatas lutut itu memiliki daun selebar telapak tangan orang dewasa. Warnanya coklat bening. Sepertinya tampak rentan dan mudah dipetik.

Tapi kenyataannya tidak demikian. Kumala Dewi mengerahkan tenaganya untuk memetik sehelai, ternyata tidak bérhasil. Daun anak pohon itu selain keras juga kenyal. Dipulir ke kanan, kembali ke kiri, dipulir ke kiri kembali ke kanan. Ketika daun itu beradu dengan daun yang timbul adalah suara gesekan dan benturan logam tembaga. Traang, .zzssrreeng, traaang, trrreeeng, zzssreeeng...!


Minggu, 03 Oktober 2010

Dewa Arak | Pedang Bintang - Aji Saka

Hari masih pagi, ketika di kaki lereng Gunung Waru berkelebat beberapa bayangan yang bergerak cepat menuju ke puncak. Menilik dari gerakan yang rata-rata ringan dan gesit, dapat diketahui kalau bayanganbayangan itu adalah orang-orang persilatan yang berkepandaian cukup tinggi.
Tentu saja berkelebatnya bayangan-bayangan itu segera diketahui para murid Perguruan Tangan Sakti yang bermarkas di sana. Maka murid-murid itupun segera memberitahukan hal tersebut kepada kakak seperguruan mereka.
Ketika berita itu sampai di telinga tiga orang kakak seperguruan mereka yang bernama Seta, Satria dan Mega, tokoh-tokoh yang berdatangan itu sudah tiba di depan pintu gerbang Perguruan Tangan Sakti yang cukup luas. Sedangkan para murid Perguruan Tangan Sakti yang bertugas jaga di sana hanya mengawasi dengan sikap waspada.
“Wanayasa, keluar kau! Serahkan Pedang Bintang itu!” teriak salah seorang yang datang itu.
“Benar, serahkanlah pedang itu…..!” sambung yang lain.
“Cepat, Wanayasa! Kalau tidak, jangan salahkan kalau aku terpaksa menerobos masuk menggunakan kekerasan!” ancam seorang yang bertubuh tinggi besar, berteriak tak sabar. Tangannya yang besar dan kekar berotot nampak menggenggam sebatang tongkat yang terbuat dari baja putih.


Wiro Wableng | Dosa yang Tersembunyi - Bastian Tito


KELELAWAR Pemancung Roh menggeledah semua kamar yang ada di dalam bangunan bawah tanah. Namun Bintang Malam tidak ditemui. Dia lalu memeriksa tempat-tempat lain yang diduganya bisa dijadikan tempat persembunyian. Tetap saja istri yang paling disayanginya dan tengah hamil itu tidak ditemukan. Istri paksaan lainnya yang berjumlah sebelas orang tidak satupun mengetahui dimana beradanya atau kemana perginya Bintang Malam. Malah diam-diam sebelas perempuan itu sama bersepakat, jika ada kesempatan mereka juga akan melarikan diri. Kelelawar Pemancung Roh tidak bodoh.

“Kalau mereka punya anggapan Bintang Malam kabur melarikan diri, pasti dalam benak sebelas perempuan ini juga ada rencana seperti itu!” Kelelawar Pemancung Roh memerintahkan semua istrinya masuk ke kamar masing-masing. Lalu pintu dikuncinya dari luar. Di depan pintu yang terakhir dikuncinya Kelelawar Pemancung Roh ber-pikir. “Jahanam rambut gondrong itu membantai dua puluh kelelawar kepala bayi. Tapi masih ada puluhan kelelawar biasa yang menjaga kawasan Teluk. Kalau perempuan itu memang melarikan diri, puluhan kelelawar pasti akan men-cegah, akan menyerangnya. Aku punya dugaan Bintang Malam belum meninggaikan Teluk Akhirat. Pasti ber-sembunyi di satu tempat.



Hancurnya Samurai Cabul - Fujidenkikagawa

OMBAK laut bergulung-gulung menuju pantai. Terlihat sesosok tubuh tua berdiri sendirian di tepi pantai. Matanya memandang ke arah laut. Mungkin juga ia sedang terheran-heran melihat air sebanyak itu, sebab biasanya yang dilihat hanya air sebatas di ember.
Tak seorangpun tahu apa sebabnya tokoh tua itu berdiri di pantai sendirian. Yang jelas ia diam tak bergerak sejak tadi. Tongkatnya menancap di pasir pantai. Jubah birunya melambai-lambai bagaikan robekan layar perahu. Rambutnya yang putih rata seperti jambul kuda itu diikat dengan ikat kepala warna hitam. Jenggotnya tipis, kira-kira hanya dua puluh empat lembar. Kumisnya ikut-ikutan tipis, entah berapa banyak tak sempat ada yang menghitungnya. Tubuhnya kurus, mungkin sering puasa atau memang nggak pernah punya beras, entahlah! Matanya agak kecil, tapi tajam memandang. Setajam-tajamnya tak setajam ujung bambu runcing.
Kakek jubah biru bertongkat hitam itu hanya menarik napas, karena memang menarik napas mudah dilakukan daripada menarik perahu. Hatinya sempat berdecak heran. Rupanya ia melihat bocah kecil berusia delapan tahun bermain selancar di atas gulungan ombak besar. Papan selancar yang digunakan adalah pelepah daun pisang muda. Bocah bercelana ungu dan berompi pendek ungu pula itu tampak gembira sekali. Tubuhnya melayang-layang mengiukti irama ombak sambil berdiri di atas pelepah daun pisang. Rupanya sang kakek merasa lebih tertarik dengan tontonan itu ketimbang harus nonton atraksi lumba-lumba.



Rahasia Si Bungkuk Berjubah Putih - Bastian Tito

Kunti Kendil yang sejak tadi tidak tenang berbisik pada suaminya, “Surah, bagaimana kalau saat ini aku naik saja ke panggung. Menanyakan perihal muridku itu pada hadirin.”
Lembu Surah alias Datuk Penghisap Darah terkejut. Cepat-cepat dia menjawab, “Jangan bertindak gila Kunti. Kita disini sebagai tamu. Jangan mengacau upacara tuan rumah. Semua orang akan gusar kepadamu!”
“Perduli setan dengan semua orang!” sahut si nenek yang memang sulit diberi pengertian. “Bukankah kita datang kemari bukan untuk menghadirin segala macam upacara kentut busuk ini. Tapi untuk mencari jejak mayat Mahesa!”
“Aku tahu alasanmu itu. Tapi bagaimanapun aku tidak setuju maksudmu naik ke panggung. Tunggu saat yang baik!”
Kuntu Kendil tidak senang mendengar kata-kata Lembu Surah itu. Namun dia terpaksa menahan diri. Seperti tetamu lainnya dia lalu memandang panggung.
Saat itu lelaki bungkuk berjubah putih yang menutup wajahnya dengan cadar hitam, tegak di atas panggung sambil angkat tangan kanannya. Kemudian terdengar suaranya. Keras tetapi hanya mengandung hasrat hati yang keras, sama sekali tidak berwibawa.