Pages

Sabtu, 27 November 2010

Perahu Kertas

Naskah yang awalnya ditulis pada 1996 dan sempat ‘mati suri’ selama 11 tahun ini akhirnya ditulis ulang oleh Dee pada akhir 2007, menjadikan Perahu Kertas sebagai novel pertamanya yang bergenre populer. Kecintaan Dee pada format cerbung dan komik drama serial telah menginspirasinya untuk menuliskan cerita memikat ini. Perahu Kertas adalah karya Dee yang keenam sesudah Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, Supernova: Akar, Supernova: Petir, Filosofi Kopi, dan Rectoverso.

"Mbak Dee, makasih udah bikin Perahu Kertas. Aku terharu banget, jadi ingat sama mimpi-mimpi yang tertunda. Jadi ingat sama cita-cita dan khayalan yang belum sempat diwujudkan. Ingin rasanya mengejar mimpi itu kembali. Jadi semangat lagi".



--Amazing Fietha

"Suka banget dengan karakter Kugy. Cantik, cuek, tapi untuk urusan masa depan dia rencanakan dengan baik. Bumbu ceritanya, seperti kelakuan Keshia, bikin senyum-senyum sendiri. Lainnya, jangan tanya, berkaca-kaca deh mata :) Novel yang mengharukan dan memberikan semangat untuk meraih impian".

--Dyah

"This book makes me not giving up. Aku paling suka quote: “berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi.” That inspires me. Perahu Kertas awesome ... keren. Yang udah beli atau nebeng baca nggak bakal nyesel".


Download Perahu Kertas

Jumat, 26 November 2010

Sumur Tanpa Dasar

Naskah
SUMUR TANPA DASAR
Karya Arifin C. Noer

DRAMATIC PERSONAE


  1. JUMENA WARTAWANGSA Lelaki Tua
  2. EUIS Istrinya
  3. PEREMPUAN TUA Pembantunya
  4. MARJUKI KARTADILAGA Adik angkatnya
  5. SABARUDDIN NATAPRAWIRA Guru Agama
  6. WARYA Pegawainya
  7. EMOD Pegawainya
  8. KAMIL Si Sinting
  9. LELAKI Pelukis Sinting
  10. MARKABA Tokoh Jahat
  11. LODOD Tokoh Idiot
  12. PEMBURU Alias SANGKAKALA
  13. KABUT-KABUT, ORANG-ORANG
  14. Dan LAIN-LAIN



WAKTU Kapan Saja

TEMPAT Di rumah, dalam pikiran Jumena Martawangsa atau di mana saja

Sumur Tanpa Dasar
@Arifin C. Noer
No. 106/89
Kulit Muka: S. Prinka
Penerbit PT. Pustaka Utama Grafiti
Kelapa Gading Boulevard TN 2 No. 14-15
Jakarta 14240
Anggota IKAPI
Cetakan Pertama. 1989
Percetakan PT. Temprint, Jakarta



PENGANTAR

LAKON INI DITULIS, DISUTRADARI DAN DIPENTASKAN PERTAMA KALI OLEH ARIFIN C NOER, DI BAWAH BENDERA TEATER MUSLIM. PADA TAHUN 1971, LAKON INI KEMBALI DISUTRADARAI DAN DIPENTASKAN ARIFIN C. NOER, DI TIM JAKARTA, DI BAWAH BENDERA TEATER KETJIL.
KEBERHASILAN PEMENTASAN LAKON INI, DISUSUL OLEH SEJUMLAH PEMENTASAN LAKON LAINNYA, BAIK KARYANYA SENDIRI MAUPUN KARYA-KARYA TERJEMAHAN, MISALNYA KAPAI-KAPAI, ZORRO, ORKES MADUN, ATAU MACBETH (EUGENE IONESCO) FAUST (GOETHE) DAN FLIES (SARTRE), MENGUNDANG REAKSI PARA PENGAMAT TEATER. REAKSI ITU KEMUDIAN MENEMPATKAN SOSOK ARIFIN C. NOER SEBAGAI SALAH SEORANG PENULIS LAKON TERKEMUKA NEGERI INI, SEKALIGUS SEBAGAI PENYAIR, SUTRADARA DAN KEMUDIAN PENULIS SCENARIO FILM TERNAMA.
SEBAGAI LAKON YANG EKSPERIMENTALISTIK “SUMUR TANPA DASAR” UNIKNYA SAMA SEKALI TIDAK BERCIRI ABSURDITAS MURNI – HAL YANG MENGGEJALA DALAM KARYA-KARYA SASTRA MODERN INDONESIA ERA 70’AN – TETAPI JUSTRU MEMPERLIHATKAN UPAYA PERSENYAWAAN KREATIF ANTARA TRADISI TEATER MODERN BARAT PASCA REALISME DENGAN TEATER TRADISIONAL KITA; TEATER RAKYAT, KHUSUSNYA LENONG BETAWI DAN TARLING CIREBON. HASIL PERSENYAWAAN INI, MELALUI PERALATAN SIMBOLISME, DIEKSPRESIKAN ARIFIN C. NOER KE DALAM LAKONNYA INI, SEHINGGA KITA AKAN BEROLEH PERISTIWA YANG BERSUASANA KONTEMPLATIF TENTANG KONFLIK KEJIWAAN TOKOH UTAMANYA, JUMENA WARTAWANGSA – KONFLIK MENGENAI PERSOALAN IMAN DAN EKSISTENSI DIRI
HIDUP JUMENA IBARAT SUMUR TANPA DASAR; GELAP DAN TAK BERUJUNG, MENGGAPAI-GAPAI

Jakarta, Agustus 1989


klik di sini untuk download naskah teater
Download Naskah Ini

Caligula

Lakon
CALIGULA
karya Albert Camus


DRAMATIC PERSONAE

  1. CALIGULA UMUR ANTARA 27-30 TAHUN
  2. CAESONIA GUNDIK CALIGULA, UMUR 35 TAHUN
  3. HELICON SAHABAT CALIGULA
  4. SCIPION UMUR 17-20 TAHUN
  5. CHEREA PENYAIR UMUR 30-35 TAHUN
  6. BANGSAWAN TUA UMUR 70-75 TAHUN
  7. BANGSAWAN I UMUR 45 TAHUN
  8. BANGSAWAN II UMUR 50 TAHUN
  9. BANGSAWAN III UMUR 50-55 TAHUN
  10. MEREIA UMUR 55-60 TAHUN
  11. MUCIUS UMUR 33-35 TAHUN
  12. LEPIDUS UMUR 55-60 TAHUN
  13. PENGAWAL-PENGAWAL ANTARA 30-40 TAHUN
  14. ORANG-ORANG UMURNYA BERAGAM
  15. PENYAIR-PENYAIR UMURNYA BERAGAM




BABAK I

ADEGAN 1

BALAIRUNG ISTANA KERAJAAN (RUMAH CALIGULA)
SEJUMLAH BANGSAWAN, PENGAWAL DAN LAIN-LAIN SEDANG BERKUMPUL DI BALAIRUNG, MEREKA TAMPAK GELISAH

BANGSAWAN I
Belum juga ada berita

BANGSAWAN II
Kemarin tidk, begitupun hari ini

BANGSAWAN III
Tiga hari tanpa ada berita

BANGSAWAN TUA
Pesuruh pergi, pesuruh datang, jawab yang dibawa selalu geleng kepala “Tidak ada”

BANGSAWAN II
Jangan kelewat cemas, nanti juga ia kembali seperti dulu lagi

BANGSAWAN TUA
Sebelum ia pergi, aku lihat ada sinar ganjil di matanya

BANGSAWAN I
Aku pun melihatnya. Bahakan aku bertanya padanya. Apa ada yang kurang?

BANGSAWAN III
Apa jawabnya?

BANGSAWAN I
“Tidak ada”. Hanya itu

HENING SESAAT, HELICON MASUK SAMBIL MENGUNYAH SESUATU

BANGSAWAN III
Gelisah kita dibikinnya

BANGSAWAN II
Mengapa? memang begitu adapt orang muda

BANGSAWAN TUA
Tuan benar. Orang muda selalu lemah hati

BANGSAWAN I
Apa betul begitu?

BANGSAWAN TUA
Tentu. Satu gadis hilang, selusin gantinya




klik di sini untuk download naskah teater
Download Naskah Ini

Boneka Sang Pertapa (Monolog)

metaNIETZSCHE
Boneka Sang Pertapa
Oleh Whani Darmawan

“Dari semua yang telah ditulis, aku hanya mencintai apa yang ditulis seseorang dengan darahnya. Menulislah dengan darah dan kau akan dapati bahwa darah itu roh.”
(Neitzsche, Sabda Zarathustra)



(Sebuah interior rumah yang pengap, kotor, dengan sedikit cahaya masuk di dalamnya. Di dalam kegelapan itu tinggal seorang lelaki dengan raut muka keruh dan penampilan kucel. Di dalam ruangan itu terdapat ratusan buku berserakan, mesin ketik, sekelempit tikar kumuh, kursi roda tua, lengkap dengan “kecohan” yang terikat di tangan kursi, kapstock yang digantungi sebuah jubah putih. Tokoh kita yang bernama Bagal ini sedikit-sedikit mendehem, seolah selalu mengalir dahak di tenggorokannya dan tidak pernah berhasil dikeluarkan. Dalam kepengapan itulah tokoh sandiwara tunggal ini bergumam dengan kata-kata tidak jelas, tetapi lama kelamaan menjadi ledakan....)

“Bagaaal! Kamu sungguh dunguu! Apa yang kau takutkan dari pertikaian silang-saling itu!? Bukankah setiap orang punya sesuatu yang hak yang patut mereka bela. Kamu? Apa yang sudah kamu lakukan dengan itu semua? Berpangku tangan merenungi semua ini sebagai tragedi bangsa? Apa gunanya kami tunggu jika hanya segitu nyalimu!”

Tidak! Masa itu sudah tamat. IA tidak akan bangga dengan tingkah membabi-buta. Kalian sangka mereka membela apa jika bukan kebodohan yang mereka usung di kepala mereka!?

“Gobloog! Seseorang membutuhkan alasan untuk berperang!”

Apakah kalian tidak memiliki alasan untuk tidak berperang? IA yang kalian agungkan itu hanyalah fiksi kedunguan kalian! Haaaii, budaaakk! Beribu-ribu orang kehilangan nyawa dalam perseturuan dan rasa bela dungu, yang tidak pernah jelas sumbernya, dan berlari dari tanah kelahiran mereka dengan kepala kosong dan kehilangan keyakinan untuk hidup, apa yang kalian lakukan, haiii budaaaakk!? Terus memenggal kepala setiap orang, sambil mengibarkan panji-panji, bendera, sambil menyerukan namanya! Nama siapaaaaaa!? Nama siapaaaa!

(Tokoh sandiwara tunggal kita ini menjadi gelisah, terengah-engah. Ia seperti seseorang yang tengah mengalami tekanan. Dalam kepanikan itulah penyakit psikosomatis dan schizofrenik menguasainya, tubuhnya seperti stroke, dan semakin ia biacra, semakin tidak bisa berhenti. Beberapa saat kemudian terdengar dentang lonceng – seperti lonceng gereja – lelaki ini kian gelisah. Membuka jendela dan melihat suatu arah, menutupnya kembali)


klik di sini untuk download naskah teater
Download Naskah Ini

Arwah-Arwah

ARWAH-ARWAH
KARYA W.B. YEATS
TERJEMAHAN SUYATNA ANIRUN


RERUNTUHAN RUMAH, SEBATANG POHON TAK BERDAUN

PEMUDA
Setengah pintu, pintu tengah
Kesana kemari siang dan malam
Memikul beban, ke bukit dan ke lembah
Mendengar kau bicara saja.



ORANG TUA
Perhatikan rumah itu. Kuingat kisah dan leluconnya. Kuingat apa yang dikatakan si pelayan kepada si penjaga mabuk pada pertengahan Oktober, tapi aku tak bisa. Dimana kisah dan lelucon sebuah rumah kalau ambang pintunya dipakai memperbaiki kandang babi?

PEMUDA
Kau pernah kenal jalan ini?

ORANG TUA
Bulan bersinar di atas jalan, bayangkan awan jatuh di atas atap rumah. Itulah lambang. Lihatlah pohon itu! Seperti apa rupanya?

PEMUDA
Orang tua lupa ingatan!

ORANG TUA
Aku melihatnya tahun yang lalu botak seperti sekarang. Maka kupilih kerja yang paling baik. Aku melihatnya lima puluh tahun yang lalu sebelum petir membelahnya. Daun-daun hijau, daun-daun tua, daun-daun segemuk mentega, hidup gemuk dan berlemak. Berdiri di situ dan lihatlah! Karena ada orang di rumah itu.



klik di sini untuk download naskah teater
Download Naskah Ini

Lakon Godlob

GODLOB
Karya Danarto
Dinaskahkan Uje Lelono

SEBUAH PEMANDANGAN CARUT MARUT DI TENGAH-TENGAH SISA PEPERANGAN, SEORANG LELAKI TUA MENGIBAS-NGIBASKAN BAJUNYA UNTUK MENGUSIR BURUNG-BURUNG GAGAK.

1. LELAKI TUA
(membentak) Bangsat! Sinting! Kau kira, kami ini bangkai, hah?! Pergi!!! (mendekat kepada seseorang yang masih bergerak) Anakku. (memapah ke arah gerobak) Kau lihat… kau lihat, baru sekarang aku takjub atas pemandangan ini.
2. LELAKI MUDA
(mengeliat dan mengaduh karena sakit) Ayah, cukuplah. (merebahkan badan) Bukankah aku kemarin juga seperti mereka, sebelum Ayah mendapatkan diriku?

3. LELAKI TUA
Yah, seperti mereka, sebelum Ayah mendapatkan kau. Berhari-hari tanganmu yang lemah itu menggapai-gapai untuk mengusir burung-burung gagak yang mengerumunimu karena mengira kau sudah jadi bangkai. Hidungmu yang mewarisi hidung ibumu itu sudah kebal untuk bau busuk bangkai kawan-kawanmu atau musuh-musuhmu Dan, udara mengantarkan kuman-kuman untuk mengunyah sedikit demi sedikit luka yang parah itu.
4. LELAKI MUDA
(mengerang) Ayah, cukuplah.
5. LELAKI TUA
(mendekat) Kau masih ingat sajak Sang Politikus?
6. LELAKI MUDA
(tak menjawab)
7. LELAKI TUA
(berdiri dan merentangkan tangannya)
Oh, bunga penyebar bangkai


klik di sini untuk download naskah teater
Download Naskah Ini

Kamis, 25 November 2010

Pengkhianatan Lembah Neraka - Stefan Wolf

Ottmar Lohmann, seorang penjahat yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia hitam, kini kembali ke kota asalnya-kota tempat tinggal anak-anak STOP. Lohmann sadar bahwa kariernya sebagai bandit sudah hampir berakhir. untuk memastikan bahwa ia tidak perlu melewatkan hari tuanya dalam kemiskinan, ia sudah menyiapkan rencana besar : pemerasan terbesar tahun ini! Lohmann bermaksud untuk mengubah sebuah mobil tangki berisi limbah beracun menjadi “Bom Berjalan”. Senjata itulah yang akan dipergunakannya untuk memeras pemilik mobil tangki tadi. Kalau tuntutannya tidak dipenuhi, maka ia akan meracuni air tanah, begitulah ancamannya.



Karena membutuhkan modal untuk melaksanakan rencananya, Lohmann merampok sebuah toko perhiasan. Ia tidak sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan besar.