Pages

Selasa, 13 September 2011

Peri dan Hutan Berkabut

Di sebuah desa hiduplah seorang anak perempuan yang lugu. Sheila namanya. Ia senang sekali bermain di tepi hutan. Ibunya selalu mengingatkannya agar tak terlalu jauh masuk ke hutan. Penduduk desa itu percaya, orang yang terlalu jauh masuk ke hutan, tak akan pernah kembali. Bagian dalam hutan itu diselubungi kabut tebal. Tak seorang pun dapat menemukan jalan pulang jika sudah tersesat. 

Sheila selalu mengingat pesan ibunya. Namun ia juga penasaran ingin mengetahui daerah berkabut itu. Setiap kali pergi bermain, ibu Sheila selalu membekalinya dengan sekantong kue, permen, coklat, dan sebotol jus buah. Sheila sering datang ke tempat perbatasan kabut di hutan. Ia duduk di bawah pohon dan menikmati bekalnya di sana. Sheila ingin sekali melangkahkan kakinya ke dalam daerah berkabut itu. Namun ia takut.


Suatu kali, seperti biasa Sheila datang ke daerah perbatasan kabut. Seperti biasa ia duduk menikmati bekalnya. Tiba-tiba Sheila merasa ada beberapa pasang mata memperhatikannya. Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling untuk mencari tahu. Namun Sheila tak menemukan siapa-siapa. “Hei! Siapa pun itu, keluarlah! Jika kalian mau, kalian dapat makan kue bersamaku,” teriak Sheila penasaran.

Mendengar tawaran Sheila, beberapa makhluk memberanikan diri muncul di depan Sheila. Tampak tiga peri di hadapan Sheila. Tubuh mereka hanya separuh tinggi badan Sheila. Di punggungnya ada sayap. Telinga mereka berujung lancip. Dengan takut-takut mereka menghampiri Sheila. Anak kecil pemberani itu tanpa ragu-ragu menyodorkan bekalnya untuk dimakan bersama-sama. Peri-peri itu bernama Pio, Plea, dan Plop. Ketiga peri itu kakak beradik.

Sejak saat itu Sheila dan ketiga kawan barunya sering makan bekal bersama-sama. Kadang mereka saling bertukar bekal. Suatu hari Sheila bertanya kepada ketiga temannya, “Pio, Plea, Plop. Mengapa ada daerah berkabut di hutan ini? Apa isinya? Dan mengapa tak ada yang pernah kembali? Kalian tinggal di hutan sebelah mana?” tanya Sheila penuh ingin tahu. Mendengar pertanyaan Sheila ketiga peri itu saling bertukar pandang. Mereka tahu jawabannya namun ragu untuk memberi tahu Sheila. Setelah berpikir sejenak, akhirnya mereka memberitahu rahasia hutan berkabut yang hanya diketahui para peri.

“Para peri tinggal di balik hutan berkabut. Termasuk kami. Kabut itu adalah pelindung agar tak seorang pun dapat masuk ke wilayah kami tanpa izin. Kami tiga bersaudara adalah peri penjaga daerah berkabut. Jika kabut menipis, kami akan meniupkannya lagi banyak-banyak. Jika ada tamu yang tak diundang masuk ke wilayah kami, kami segera membuatnya tersesat,” jelas Pio, Plea, Plop.

Sheila terkagum-kagum mendengarnya. “Bisakah aku datang ke negeri kalian suatu waktu?” tanya Sheila berharap. Ketiga peri itu berembuk sejenak. “Baiklah. Kami akan mengusahakannya,” kata mereka. Tak lama kemudian Sheila diajak Pio, Plea dan Plop ke negeri mereka. Hari itu Sheila membawa kue, coklat, dan permen banyak-banyak. Sebelumnya, Sheila didandani seperti peri oleh ketiga temannya. Itu supaya mereka bisa mengelabui para peri lain. Sebenarnya manusia dilarang masuk ke wilayah peri. Ketiga teman Sheila ini juga memberi kacamata khusus pada Sheila. Dengan kacamata itu Sheila dapat melihat dengan jelas.

Daerah berkabut penuh dengan berbagai tumbuhan penyesat. Berbagai jalan yang berbeda nampak sama. Jika tidak hati-hati maka akan tersesat dan berputar-putar di tempat yang sama. Dengan bimbingan Pio, Plea, dan Plop akhirnya mereka semua sampai ke negeri peri. Di sana rumah tampak mungil. Bentuknya pun aneh-aneh. Ada rumah berbentuk jamur, berbentuk sepatu, bahkan ada yang berbentuk teko. Pakaian mereka seperti kostum untuk karnaval. Kegiatan para peri pun bermacam-macam. Ada yang mengumpulkan madu, bernyanyi, membuat baju dari kelopak bunga… Semua tampak riang gembira.

Sheila sangat senang. Ia diperkenalkan kepada anak peri lainnya. Mereka sangat terkejut mengetahui Sheila adalah manusia. Namun mereka senang dapat bertemu dan berjanji tak akan memberi tahu ratu peri. Rupanya mereka pun ingin tahu tentang manusia. Mereka bermain gembira. Sheila dan para anak peri berkejar-kejaran, bernyanyi, bercerita dan tertawa keras-keras. Mereka juga saling bertukar makanan. Pokoknya hari itu menyenangkan sekali.

Tiba-tiba ratu peri datang. “Siapa itu?” tanyanya penuh selidik. “Ratu, dia adalah teman hamba dari hutan utara,” jawab Plop takut. Ia terpaksa berbohong agar Sheila tak ketahuan. Ratu peri memperhatikan Sheila dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu ia pergi. Sheila bermain lagi dengan lincah. Namun sayang ia terpeleset. Sheila jatuh terjerembab. Ketika itu cuping telinga palsunya copot. Ratu peri melihat hal itu. Ia amat marah.

“Manusia! Bagaimana ia bisa sampai kemari? Siapa yang membawanya?” teriaknya mengelegar. Pio, Plea, dan Plop maju ke depan dengan gemetar. “Kami, Ratu,” jawab mereka gugup. “Ini pelanggaran. Jika ada manusia yang tahu tempat ini, maka tempat ini tidak aman lagi. Kalian harus dihukum berat,” teriak ratu peri marah. Sheila yang saat itu juga ketakutan memberikan diri maju ke depan. “Mereka tidak bersalah, Ratu. Akulah yang memaksa mereka untuk membawaku kemari.” “Kalau begitu, kau harus dihukum menggantikan mereka!” gelegar ratu peri.

Sheila dimasukkan ke dalam bak air tertutup. Ia akan direbus setengah jam. Namun ketika api sudah dinyalakan ia tidak merasa panas sedikit pun. “Keluarlah! Kau lulus ujian, ” kata ratu peri. Ternyata kebaikan hati Sheila membuat ia lolos dari hukuman. Ia diperbolehkan pulang dan teman perinya bebas hukuman. Ratu peri membuat Sheila mengantuk dan tertidur. Ia menghapus ingatan Sheila tentang negeri peri. Namun ia masih menyisakannya sedikit agar Sheila dapat mengingatnya di dalam mimpi. Ketika terbangun, Sheila berada di kasur kesayangannya.

Senin, 05 September 2011

Ramadhan di Musim Gugur - Elie Mulyadi

Ramadhan dan lebaran adalah salah satu momenterpenting dalam hidup kita, yang senantiasa penuh dengan cerita. Dari mulaipersiapan mudik, menempuh perjalanan jauh untuk pulang kampung, hingga akhirnyaberkumpul dengan keluarga, tetangga, dan teman lama—semuanya menggoreskankisah. Ada kisah yang indah dan ada yang kurang indah—semua berganti-gantiseperti denyut nadi kehidupan itu sendiri. Namun, satu yang pasti, Ramdhan danlebaran selalu merupakan anugerah. Sebab, di bulan dan hari itulah kitamerasakan begitu banyak rahmat tercurah. 


Buku ini menggelar kisah-kisah inspiratif seputarmudik dan merayakan Lebaran. Ada kisah indah tentang pengalaman berlebaran diluar negeri, kisah seru dan lucu seputar pengalaman mudik, juga kisahmengharukan tentang pengalaman berlebaran tanpa kehadiran orang terkasih.Beberapa kisah mungkin akan menyentuh hati, yang lainnya akan membuat kitaterkikik geli, dan ada juga yang mengingatkan kita untuk belajar lebihmensyukuri karunia. Semuanya dikemas dengan bahasa yang sederhana, tapi saratakan makna. Untuk melengkapi buku ini, ada juga kisah-kisah hangat seputarkeluarga, persahabatan, dan cinta.

Bawalah buku ini ke mana pun Anda pergi, dan Andadapat menggunakannya sebagai: (a) teman ngabuburit, melupakan rasa laparsebelum beduk maghrib, (b) sahabat di kala mudik, pengusir bosan dan lelahdalam perjalanan, (c) bahan renungan dan obrolan saat berkumpul di Hari Raya,dan (d) penghibur hati di kala merayakan lebaran jauh dari keluarga.

Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata - Pitoyo Amrih

Bisma Dewabrata adalah sebuah pribadi yangistimewa. Lahir tak pernah tahu dan mengenal ibu kandungnya. Cinta dan kasihsayang ibunya tercurah dari suara hati yang merasuk di hati dan pikirannyaselama pengembaraannya. Sesuatu yang dia anggap berasal dari ibunya, yangsejatinya adalah seorang dewi dari bangsa Dewa, bernama Dewi Jahnawi. Yangmenurut kabarnya, perwujudannya sebagai manusia adalah kisah jalan kematianyang ditempuhnya. Kepergian Dewi Jahnawi sama gelapnya dengan saat pertama kalikemunculannya bertemu Prabu Santanu, ayah Bisma. Bisma disusui dan dibesarkanoleh Dewi Durgandini, seorang putri dari kerajaan Wirata. Dan Bisma memangseorang ksatria utama! Dia wujudkan pengabdian sepenuhnya kepada Durgandinisebagai rasa terima kasihnya atas kasih sayang masa kecil Bisma. Bagaimana punsikap Durgandini kepada Bisma, tetap Bisma menghargai dan menghormatiDurgandini dengan sepenuh hati.

Puncaknya adalah sebuah sumpah yang keluar darimulut Bisma demi rasa lega Durgandini agar anak kandung Durgandini yang akanmewarisi tahta Hastinapura. Sumpah Bisma yang tak akan pernah menduduki tahtaHastinapura, walaupun dia yang paling berhak. Dan sumpah bahwa sampai mati takakan pernah menyentuh perempuan agar tak ada keturunannya yang menggugat atastahta Hastinapura. Sebuah sumpah yang luar biasa!

Sumpah itu yang membuatnya selalu menempuhperjalanan ke seluruh penjuru dunia wayang. Berguru ke semua resi, mendalamimakna kehidupan.

Sumpah itu juga yang membuat Bisma melihat bahwakehidupan tak lain adalah sebuah pengabdian. Pengabdian kepada janjinya,pengabdian kepada keluarga, pengabdian kepada keluarga dan kerabatnya,pengabdian kepada kebenaran yang dipegangnya, pengabdiannya kepada kehidupan,dan pengabdiannya kepada Sang Pencipta.

Sumpah itu pulalah yang membuat dia tanpa sengajamenewaskan seorang putri ksatria yang pernah dicintainya, Dewi Amba.

Jalan hidup Bisma begitu panjang. Perang besarBaratayudha yang dikobarkan Duryudana, adalah sebuah pertempuran antar saudarayang disesalkan Bisma, sekaligus ditunggu selama hidupnya. Karena melaluiperang itu, Bisma berkesempatan menempuh jalan kematiannya, rela mati di tanganSrikandi. Seorang putri ksatria dari Cempalareja. Tak seorang pun selain Bismadan Antasena, yang menyadari bahwa semua yang ada pada Srikandi mirip denganAmba.

Jalan hidup Bisma begitu panjang. Tak seorang pundi dunia wayang yang bisa mengerti kedalaman hati dan pikirannya. Mengagumisecara diam-diam sosok Kresna, raja Dwarawati. Tapi hanya Antasena muda, yangpaling dekat dan tahu siapa Bisma.

Citizen Soldiers - Tentara Sukarela By. Stephen E. Ambrose

Judul : Citizen Soldiers - Tentara Sukarela: Tentara Amerika Serikatdari Pantai-pantai Normandia ke Bulge sampai Menyerahnya Jerman, 7 Juni 1944-7Mei 1945
Penulis : Stephen E. Ambrose
Penerjemah: A. Rahman Zainuddin
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia

6 Juni 1944, bukanlah berarti apa-apa kecuali bagi mereka yangmengalaminya.

Pada tanggal itulah, operasi pendaratan amfibi yang terbesardilaksanakan oleh tentara sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Kanada) terhadapPantai Normandia di Prancis, yang berada di tangan tentara Jerman. Sekian ratusribu tentara, sekian ribu kapal laut, pesawat terbang, kendaraan,didaratkan/diterjunkan secara serentak di beberapa lokasi yang berbeda diPantai Normandia. Suatu hal yang sulit dibayangkan untuk mendaratkan sekianbanyak orang/kendaraan secara terorganisir dalam satu tujuan serangan yangtelah terencana dengan baik pula.

Segeralah setelah pendaratan pasukkan yang masif itu menemuitandingannya: Tembok Atlantik yang digembor-gemborkan Hitler sebagai pertahananyang tiada tandingannya, membentang sepanjang Pantai Eropa Barat (Dari Prancishingga Norwegia!). Pasukkan malang ini hanya memiliki dua pilihan: bertempuratau mati. Tiga minggu terjebak dalam kondisi yang demikian sulit, hidup dibawah desingan peluru, adalah gambaran yang tepat untuk mendefinisikan nasibpasukkan malang ini. Tentara Jerman, Inggris, Kanada, dan Amerika: semuanyaberbagi rasa dan nasib yang sama.

Salah satunya adalah tentara GI (General Infantrymen, GovernmentIssues). GI adalah tentara sukarela dari Amerika Serikat, dengan rentangpangkat Prajurit hingga Kapten. GI terdiri dari beragam komposisi, yangsebagian besar adalah anak-anak muda Amerika Serikat, walau ada juga yangberasal dari veteran Perang Dunia 1, bahkan montir mobil sekalipun! Walaudemikian, sepak terjang GI bukanlah hal yang pantas dipandang sebelah mata.Bahkan, bisa dibilang jika kita berbicara mengenai tentara Amerika Serikat,kita ikut membicarakan mereka pula.

GI-GI ini menjadi demikian diperlukan, dilatar belakangi oleh PerangDunia 2 yang semakin larut. Tentara Amerika yang pada akhir 1939 hanyaberjumlah sekitar ratusan ribuan saja, dirasa perlu ditambah lagi hingga padaakhir 1944 tentara Amerika telah berjumlah delapan. Tambahan hingga delapanjuta itulah, para GI.

Kisah-kisah mengenai GI, terutama apa yang mereka alami di ETO (EuropeTheater of Operation) selalu menarik untuk disimak, mengingat sangat beragamnyakomposisi dalam GI itu sendiri. Dimulai dari tanggal 6 Juni 1944 (yang dikenalsebagai D-Day atas operasi Overlord), hingga operasi-demi operasi yang kemudianberjalan. Inilah yang menjadi bahasan utama buku Citizen Soldier -TentaraSukarela-, yang ditulis oleh Stephen E. Ambrose

Buku setebal 650 halaman ini menulis setiap kisah-kisah, sepak terjangpara GI, dengan lugas dan jelas, serta menarik. Gaya bahasa yang populer,penulisan yang runtut, serta gambaran yang demikian detail, serta pemilihandialog-dialog para GI yang turut ditampilkan dalam buku ini, membuat pikirankita seolah-olah turut serta berada sebagai bagian dari GI yang sedangbertempur:

Pemandangan yang ada persis sebagaimana yang terdapat dalam kartuNatal, sehingga menyebabkan timbulnya suara 'oh' dan 'ah', bahkan dari veterantempur yang paling berpengalaman sekalipun. Seorang letnan berkata, "Kalaubukan karena perang ini, tentulah hari ini akan merupakan ... hari Natal yangpaling indah ... . Bukit-bukit yang turun naik, lapangan dan pengunungan yangditutupi salju, pohon cemara dan pohon pinus yang demikian gagah benar-benarsudah menjadikannya suatu hari Natal yang tidak akan pernah saya lupakan,terlepas dari ada-tidaknya perang itu." -Dikutip dari halaman 279.

Sersan Sampson melihat kawannya seorang NCO lain menembak langskung kebawah dengan BAR-nya. Ia adalah satu-satunya orang yang menembak para tawanan.Setelah diselidiki, ternyata ia menembak para tawanan yang tidak bersenjatayang sedang berdiri di dalam parit, dengan tangan diangkat ke atas. GI itumemuntahkan pekurunya.
"Pasti karena rasa jesal dalam hatinya", demikian komentarSampson -Dikutip dari halaman 9.


Dalam bukunya, Stephen Ambrose melukiskan bahwa GI-GI ini tetapberusaha untuk hidup senormal mungkin, walau hampir setiap malamnya harusdihabiskan dengan tidur sendiri di lubang perlindungan (foxhole) yang sempit,gelap, dan dingin. Berusaha untuk menikmati makanan senikmat mungkin walaumakanan sehari-hari tidaklah lebih dari rangsum K-Ration, dan beberapa batangLucky Strike, atau jika kurang beruntung, Rokok Inggris. Mereka pun berusahauntuk tetap bergembira, dengan menjadikans setiap peristiwa adalah hal-hal yanglucu, dan memanfaatkan liburan sebaik-baiknya dengan menonton pertunjukkan dariUSO (United Service Organization).

Dan jangan pula melupakan kisah-kisah kepatriotikan GI ini. Sepertikisah Letnan Waverly Wray yang sangat besar dan tinggi badannya (diibaratkanbahwa kakinya seperti dahan dahan pohon). Letnan Waverly Wray merupakan sosokyang sangat berani, terbukti ketika Ia menyergap sekumpulan perwira Jerman,walau Ia harus kehilangan sedikit bagian daun telinganya. Atau kisahkepahlawanan Kapten Winter dari Divisi Lintas Udara 101 (Airborne), yangmemimpin skuadnya dengan cerdas, penuh perhitungan, menjadikan skuad yangdipimpinnya berkerja efektif dalam setiap operasi penerjunan. Semua inidilukiskan dalam gaya Stephen E. Ambrose yang khas, penuh pencitraan, dandetail, namun tetap dengan bahasa yang enak dibaca.

Buku inipun sekaligus menjadi suatu penghargaan, bagi para GI yangtelah bertempur dengan hebatnya di Perang Dunia 2, khususnya di medan perangEropa. Betapa tidak, dengan hadirnya buku yang mengupas sepak terjang GI, yangnotabene hanya tentara sukarela, menjadikan kita ingat selalu akan jasa-jasaanak-anak muda Amerika tersebut, yang berjuang demi kebebasan serta harapanakan d

Singkat kata, buku ini adalah buku untuk anda yang ingin menikmatisisi lain sejarah perang dunia 2, bukan dari perspektif para Jenderal, yangterus berkutat mengenai strategi serta analisis, melainkan langsung daripelakunya, GI. Anda seolah-olah dibawa langsung mengalami perang dunia 2 ini,dengan imajinasi khas anda!



Senin, 22 Agustus 2011

Cerita Si Kancil dan Siput

Pada suatu hari si kancil nampak ngantuk sekali. Matanya serasa berat sekali untuk dibuka. “Aaa....rrrrgh”, si kancil nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, si kancil merasa rugi jika menyia-nyiakannya. Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya, “Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku”.


Sambil membusungkan dadanya, si Kancil pun mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan seekor siput. “Hai kancil !”, sapa si siput. “Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah kamu sedang bergembira?”, tanya si siput. “Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar”, jawab si kancil dengan sombongnya.

“Sombong sekali kamu Kancil, akulah hewan yang paling cerdik di hutan ini”, kata si Siput. “Hahahaha......., mana mungkin” ledek Kancil. “Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?”, tantang si Siput. “Baiklah, aku terima tantanganmu”, jawab si Kancil. Akhirnya mereka berdua setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.

Setelah si Kancil pergi, si siput segera mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si kancil memanggil.

Akhirnya hari yang dinanti sudah tiba, kancil dan siput pun sudah siap untuk lomba lari. “Apakah kau sudah siap untuk berlomba lari denganku”, tanya si kancil. “Tentu saja sudah, dan aku pasti menang”, jawab si siput. Kemudian si siput mempersilahkan kancil untuk berlari dahulu dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana si siput.

Kancil berjalan dengan santai, dan merasa yakin kalau dia akan menang. Setelah beberapa langkah, si kancil mencoba untuk memanggil si siput. “Siput....sudah sampai mana kamu?”, teriak si kancil. “Aku ada di depanmu!”, teriak si siput. Kancil terheran-heran, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi, dan si siput menjawab dengan kata yang sama.”Aku ada didepanmu!”
Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul dan berkata kalau dia ada depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal.

Kancil berlari terus, sampai akhirnya dia melihat garis finish. Wajah kancil sangat gembira sekali, karena waktu dia memanggil siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa dialah pemenang dari perlombaan lari itu.

Betapa terkejutnya si kancil, karena dia melihat si siput sudah duduk di batu dekat garis finish. “Hai kancil, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!”, teriak si siput. Dengan menundukkan kepala, si kancil menghampiri si siput dan mengakui kekalahannya. “Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan cerdik”, kata si siput. “Iya, maafkan aku siput, aku tidak akan sombong lagi”, kata si kancil.

Dongeng asal mula dua belas shio binatang

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang dewa. Pada tanggal 31 Desember pagi sebelum tahun baru, Sang Dewa menulis surat kepada binatang2 diseluruh negeri. Angin lalu menyebarkan surat-surat itu ke seluruh negeri.

Dalam sekejap, para binatang menerima surat2 itu, yang isinya seperti ini:
"Besok pagi di Tahun Baru, aku akan memilih binatang yang paling dahulu datang kesini, dari nomor satu sampai dengan nomor duabelas. Lalu, setiap tahun aku akan mengangkat satu-persatu dari mereka sebagai Jenderal berdasarkan urutan". Tertanda, Dewa.



Para bintang sangat bersemangat dan tertarik dengan hal itu. Mereka sangat ingin menjadi Jenderal. Tetapi, ada seekor binatang yang tidak membaca surat semacam ini, yaitu Kucing yang suka bersantai dan tidur. Ia hanya mendengar berita ini dari Tikus. Tikus yang licik menipunya dan memberitahu bahwa mereka harus berkumpul di tempat Dewa lusa tanggal 2 Januari, padahal seharusnya mereka berkumpul besok pagi tanggal 1 Januari.

Semua binatang bersemangat dan memikirkan tentang kemenangan, dan mereka semua tidur cepat. Hanya Sapi yang langsung berangkat malam itu juga, karena ia sadar bahwa ia hanya dapat berjalan lambat. Tikus yang licik melihatnya lalu meloncat dan menumpang di punggung Sapi, tapi Sapi tidak menyadari hal itu.

Pagi harinya, saat hari masih gelap, Anjing, Monyet, Babi Hutan, Harimau, Naga, Ular, Kelinci, Ayam, Domba dan Kuda semuanya berangkat berlari menuju ketempat Sang Dewa.

Saat matahari mulai terbit, yang pertama kali sampai di tampat tinggal Dewa adalah...Sapi. Tapi kemudian Tikus melompat kedepan dan mendarat tepat dihadapan Dewa. Maka Tikus pun menjadi yang pertama.

Selamat Tahun Baru Dewa...kata Tikus kepada Dewa.

Sapi pun menangis karena kecewa menjadi urutan ke dua.

Di belakang mereka, tibalah Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Domba, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi Hutan datang berurutan. Dengan demikian mereka ditetapkan sebagai pemenang satu sampai dengan duabelas sesuai dengan urutan kedatangannya.
Duabelas ekor binatang ini kemudian disebut dengan 12 Shio Bintang.

Para binatang itu merayakan kemenangan dan berpesta pora sambil mengelilingi Sang Dewa. Lalu, kucing datang dengan wajah yang sangat marah. Ia mencari Tikus yang telah menipunya sehingga ia datang terlambat. Kucing pun berlari mengejar Tikus kesana kemari.

Sejak itu mulailah era Duabelas Shio Binatang, dimulai dari yang pertama tahun Tikus, lalu Sapi, kemudian Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Domba, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi Hutan.

Kucing yang tidak berhasil masuk kedalam Dua belas Shio Binatang sampai sekarang masih mengejar Tikus kesana kemari karena telah ditipu.

Ucapan Ajaib dari Peri

Dahulu, ada seorang janda yang memiliki dua anak perempuan. Anak yang sulung angkuh dan pemarah seperti ibunya, sedangkan yang bungsu manis dan lemah lembut.

Sang ibu sangat memanjakan anaksulung nya yang memiliki sifat yang mirip dengannya, dan memperlakukan si bungsu dengan sangat buruk. Si bungsu disuruhnya melakukan hamper semua pekerjaan di rumah. Salah satu dari tugas si bungsu yang malang adalah berjalan kaki 1 kilometer jauhnya ke sebuah mata air dan membawa pulang air dalam sebuah ember besar.


Pada suatu hari saat si bungsu sedang mengambil air di mata air, seorang wanita tua datang dan meminta air untuk minum.

“Tunggu sebentar, akan kuambilkan air yang bersih untuk Ibu,” kata si bungsu kepada wanita tua itu. Diambilnya air yang paling jernih dan bersih, lalu diberikannya kepada wanita tua itu dengan menggunakan teko air agar dapat dengan mudah diminum.

Wanita tua yang sebenarnya adalah seorang peri itu berkata, “Kamu sangat sopan dan suka menolong, jadi akan kuberikan keajaiban untukmu. Setiap kata yang kamu ucapkan akan mengeluarkan sekuntum bunga, batu permata, dan mutiara dari mulutmu.”

Si bungsu tidak mengerti maksud wanita tua itu. Ia hanya tersenyum lalu berpamitan dan berjalan pulang.

Sesampainya di rumah, ibunya memarahinya karena terlalu lama membawakan air. Si bungsu meminta maaf kepada ibunya dan menceritakan kejadian yang dia alami, bahwa ia menolong seorang wanita tua yang kemudian memberinya keajaiban. Selama si bungsu bercerita, bunga-bunga, batu permata dan mutiara terus berjatuhan keluar dari mulutnya.

“Kalau begitu, aku harus menyuruh kakakmu pergi kesana.” Kata sang ibu. Lalu disuruhnya si sulung untuk pergi ke mata air dan apabila bertemu dengan seorang wanita tua, disuruhnya si sulung untuk bersikap baik dan menolongnya.

Si sulung yang malas tidak mau pergi berjalan kaki sejauh itu. Namun dengan tegas, ibunya menyuruhnya pergi, “Pergi kesana sekarang juga!!!” sambil menyelipkan wadah air dari perak ke dalam tas si sulung.

Sambil menggerutu si sulung berjalan menuju mata air. Saat tiba disana, ia berjumpa dengan wanita tua itu. Tapi kali ini wanita tua itu berpakaian indah bagaikan seorang ratu. Lalu, wanita tua itu meminta minum kepada si sulung.

“Apa kamu kira aku datang sejauh ini hanya untuk memberimu minum? Dan jangan pikir kamu bisa minum dari wadah air perakku. Kalau mau minum ambil saja sendiri di mata air itu!” kata si sulung kepada wanita tua itu.

Karena sikapnya yang kasar, wanita tua yang sebenarnya seorang peri itu mengutuknya. “Untuk setiap kata yang kamu ucapkan, seekor katak atau ular akan berjatuhan keluar dari mulutmu!”

Saat tiba di rumah, si sulung menceritakan apa yang dialaminya kepada ibunya. Saat bercerita, beberapa ekor ular dan katak berjatuhan keluar dari mulutnya.

“Astaga!”, teriak ibunya jijik. “Ini semua gara-gara adikmu. Di mana dia?”

Sang ibu lalu pergi mencari si bungsu. Karena ketakutan, si bungsu lalu lari dan bersembunyi di hutan.

Seorang Pangeran yang sedang berburu terkejut melihat seorang gadis yang sedang menangis sendirian di hutan. Ketika Pangeran itu bertanya, dengan tersedu-sedu si bungsu menceritakan apa yang terjadi. Saat bercerita, bunga-bunga, mutiara serta batu permata pun berjatuhan dari mulutnya.

Pangeran jatuh hati kepada gadis yang baik itu. Dan Pangeran juga tahu ayahnya tidak akan keberatan mendapatkan seorang menantu yang baik seperti itu, apalagi dengan mutiara serta batu permata yang terus dihasilkannya. Maka Pangeran pun membawa si bungsu ke istana, lalu mereka menikah dan hidup berbahagia.

Sementara itu di rumah, sikap si sulung menjadi semakin memuakkan, dan ia pun terus menerus mengeluarkan katak serta ular dari mulutnya, sampai-sampai ibunya pun mengusirnya dari rumah.

Karena ia tidak tahu harus kemana dan tidak ada seorangpun yang mau menampungnya karena sifatnya yang buruk, ditambah dengan katak-katak dan ular-ular yang terus keluar dari mulutnya, maka akhirnya ia pun tinggal sendirian di tengah hutan.