Pages

Selasa, 31 Mei 2011

NASTITI

 Naskah ini adalah kiriman dari Faisal Muhammad Nur Salim


NASTITI
Karya : Faisal Muhammad Nur Salim


Para Pemain:
1. Nastiti (21 tahun)
2. Ibu (48 tahun)
3. Herman (26 tahun)


Panggung adalah bagian dalam rumah yang sederhana. Di ruang itu hanya terdapat beberapa barang. Sebuah meja dan kursi untuk tamu, kursi goyang yang terletak disudut ruangan, sebuah foto lelaki setengah baya yang terpajang di dinding, dan dua kursi kayu yang berhadap-hadapan dengan meja tua terletak di tengahnya. Di atas meja tua itu terdapat papan catur yang telah tertata. Sandiwara ini dibuka dengan adanya Nastiti dan Ibunya. Nastiti duduk di salah satu kursi kayu,mengamati papan catur, sementara ibunya duduk di kursi goyang sambil nembang. Tembang yang dinyanyikan kali ini sama dengan tembang yang dinyanyikan kemarin, yang berarti tembang yang sama juga dengan tembang yang dinyanyikannya kemarinnya lagi,begitu seterusnya.

Ibu : (tak lela-lela ledhung, anakku sing ayu rupane..
Tak gendhong ngangg)
Nastiti : Ibu, apa tidak ada tembang yang lain? setiap hari tembang itu saja yang dinyanyikan.
Ibu : kau sendiri, apa tidak ada pekerjaan lain selain mengamati kayu-kayu itu? kepalaku pusing melihatmu menatapnya seharian.
Nastiti : iya bu sebentar, aku masih ingin berlatih sebentar lagi, agar aku dapat mengalahkan ayah kalau nanti dia pulang.
Ibu : kalau begitu makanlah dulu.
Nastiti : aku baru saja makan bu, Ibu baru saja melihatnya.
Ibu : tidak, kau belum makan sejak tadi siang.
Nastiti : Ibu, baru saja aku ke belakang meletakkan piring. (menatap Ibunya curiga) Ibu, hari ini hari apa?
Ibu : (menjawab malas) Sabtu, 22 April.
Nastiti : tidak bu, hari ini hari Senin, tanggal 14 Juni, apakah Ibu sudah minum obat?
Ibu : setiap hari juga kau bilang seperti itu, dan seharusnya kau yang minum obat. Aku tidak sakit.



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Sebelum Sarapan (Monolog)

BEFORE BREAKFAST
Sebuah Drama Monolog Karya Eugene O’neill
Naskah terjemahan Wiwit Anggraini, S.Pd



Alfred! Alfred

(TIDAK ADA JAWABAN DARI KAMAR SEBELAH DAN DIA MELANJUTKAN DENGAN SUARA LEBIH KERAS, BERFIKIR BAHWA ADA SESUATU YANG SALAH)

Kamu tidak usah pura-pura tidur.

(TIDAK ADA JAWABAN DARI KAMAR DAN UNTUK MEMASTIKAN DIA BERDIRI DARI KURSINYA DAN BERJALAN BERJINGKAT MENUJU TEMPAT CUCI PIRING. DIA BERJALAN PELAN MEMBUKA PINTU BUFET HATI-HATI DAN TIDAK INGIN MEMBUAT GADUH DAN BERGERAK DENGAN CEPAT, TIDAK INGIN TERLIHAT. DIA MENGAMBIL SEBOTOL MINUMAN DAN SEBUAH GELAS DI SEBUAH TEMPAT DALAM LEMARI DAN TERSEMBUNYI. MENUTUP BUFET DENGAN SEDIKIT SUARA BERISIK. DAN KEDENGARAN DIA MULAI KESAL, KELIHATAN MAU MEMBENTAK DENGAN SESEORANG DI KAMAR SEBELAH. SUARANYA BERGETAR MARAH) Alfred! (BERHENTI SEBENTAR, SELAMA MENUNGGU JAWABAN, DIA AMBIL GELAS DAN MENUANGKAN MINUMAN DENGAN PORSI BESAR DAN MENENGGAK MINUMANNYA: KEMUDIAN DENGAN CEPAT MENGEMBALIKAN BOTOL DAN GELASNY
A KE TEMPAT SEMULA YANG TERSEMBUNYI. DIA MENUTUP PINTU KLOSET DENGAN HATI-HATI SEPERTI SAAT MEMBUKANYA. KEMUDIAN DENGAN BERAT DAN MENARIK NAFAS DALAM-DALAM, DIA DUDUK DI ATAS KURSINYA. DOSIS BESAR ALKOHOL TELAH MEMBUAT EFEK YANG CEPAT. WAJAHNYA BERUBAH MENJADI LEBIH HIDUP. DIA SEPERTI MENDAPAT TENAGA TAMBAHAN, DIA MENATAP PINTU RUANG TIDUR DENGAN TAJAM. SENYUMAN TERLUKA DI BIBIRNYA. MATANYA MELIHAT TAJAM KE RUANGAN TIDUR DAN TERTUJU PADA SEBUAH JAS LAKI-LAKI DAN ROMPI YANG TERGANTUNG DI GANTUNGAN BAJU SEBELAH KANAN. DIA BERJALAN MENGENDAP-ENDAP MENUJU PINTU YANG TERBUKA DAN BERDIRI DI SANA. MENGAMATI ORANG DI DALAMNYA, MENDENGARKAN SETIAP GERAKAN. MEMANGGIL DENGAN SETENGAH BERBISIK)

Alfred!

(KEMBALI TIDAK ADA JAWABAN. DENGAN GERAKAN YANG CEPAT DIA MENGAMBIL JAS DAN ROMPI LALU MEMBAWANYA KE KURSI. DIA DUDUK DAN MENGAMBIL BERBAGAI MACAM BENDA, DIKELUARKANNYA DARI SAKU, TAPI DENGAN CEPAT DIKEMBALIKAN LAGI KE SAKU. TERAKHIR, DI DALAM SAKU ROMPI, DIA MENEMUKAN SELEMBAR SURAT. MELIHAT PADA TULISAN TANGAN ITU – BERBICARA PELAN PADA DIRINYA SENDIRI).

Hmmm…! Aku tahu ini.

(DIA MEMBUKA SURAT ITU DAN MEMBACANYA. EKSPRESI AWAL BENCI, KECEWA DAN SANGAT MARAH, TAPI SETELAH SELESAI MEMBACANYA DIA BERUBAH MENJADI INGIN MENYAKITI DAN MERASA MENANG. DENGAN SURAT DI TANGANNYA, DIA BERFIKIR SEJENAK DENGAN SENYUMAN JAHAT DI BIBIRNYA. KEMUDIAN DIA MELETAKKAN LAGI SURAT ITU DI DALAM ROMPI DAN MASIH DENGAN HATI-HATI TIDAK INGIN MEMBANGUNKAN YANG TIDUR, MENGGANTUNGKAN KEMBALI BAJU-BAJU ITU DI GANTUNGAN YANG SAMA DAN PERGI KE RUANG TIDUR, MELIHAT DI DALAMNYA. DENGAN SUARA YANG KERAS DAN TAJAM).

Alfred!

(MASIH KERAS)

Alfred!

(ADA SUARA ORANG MENGUAP DAN MERINTIH DARI KAMAR SEBELAH)

Tidakkah kamu berfikir bahwa sekarang waktunya kamu bangun tidur? Apakah kamu ingin terus di atas ranjang seharian?

(BERKELILING/BERPUTAR SEBENTAR, KEMBALI KE KURSINYA)

Tidak diragukan lagi, kamu sekarang menjadi pemalas dan tidur terus



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Rabu, 25 Mei 2011

Syair Kamelia

Syair Kamelia
Tri Aamalia Lestari



Kamelia : “ Abang ade apeni bang… ? Uww… pastilah abang betengka lagi, iye kan ? Sudah berape kali abang mace mini,tak jera ke ? ” ( sambil mengobati luka-luka Samsul ).
Samsul : “ Bukannye abang yang nak betengka, merekelah yang berani-berani nak tantang abang jadi ye abang terime aje. Tapi asal kau tau Kamelia, abang babak belo macam ni bukannye kalah, abang dihantam oleh tujuh orang Jawe tu, soal kecillah tu, satu due kali pukul tunggang langgang lah mereke lari.
Ha….ha…. ”

Kamelia : “ Abang-abang, jadi betul abang betengka lagi dengan orang-orang Jawe tu. Alamakjang……hari ini tujuh orang besuk sepuluh orang besok lagi satu kampunglah nak pukul abang, teruklah badan ! Kenapelah abang ni, suke sangatlah abang betengka, Kamelia yakin pasti abang yang belagak, itulah yang buat mereke meradang. ”
Samsul : “ Eh Kamelia sini abang nak cakap, kite ni orang Melayu yang terkenal jago dan terhormat jadi pantanglah bagi abang dikalahkan same orang-orang Jawe yang ilmunya tak cukup ( sambil menunjukkan kelingking ) pantang dek abang cume nak tunjuk meski kite ni tinggal di negeri orang tapi kite ni tetap orang Melayu yang hebat dan pantang menyerah.”






klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

JALUR 17

Lakon Remaja
JALUR 17
Karya Joned Suryatmoko
(Teater Gardanalla)


SINOPSIS

Harga BBM naik, maka semua harga barang pun ikut naik. Kondisi ini membuat Rini (Kakak) dan Rio (Adik) merasa perlu untuk meminta kenaikan uang saku pada orang tua mereka. Di sisi lain mereka tahu bahwa hal ini akan mengalami banyak tentangan dari orang tua mengingat gaji ayah tidak (belum) naik. Sementara itu dia antara Rini dan Rio sendiri ada pertentangan.



Rini sendiri menekankan supaya kenaikan uang saku hanya untuk mencukupi biaya kebutuhan mereka yang membengkak, tapi tidak untuk membuat pos belanja baru. Sementara Rio berniat membuat pos belanja baru dengan menyusupkan keinginannya untuk memasukkan anggaran pacaran jika uang saku akan dinaikkan.

Dalam situasi seperti itu, mereka bertemu dengan Eko Penyok, remaja yang menjadi kondektur Bis Kota yang mereka tumpangi. Penyo memutuskan untuk tidak meneruskan kuliah dan bekerja. Baginya, menjadi kondektur dan mendapatkan gaji sendiri dianggapnya jalan keluar supaya ia lepas dari orang tua dan bias mandiri. Hal ini tidak sekedar supaya ia bias punya uang sendiri, namun lebih karena ini bias membuatnya merasa sudah besar.


OPENING

PENONTON SUDAH MASUK KE DALAM BIS. HANYA PENYO YANG BERADA DI DEKAT BIS SAMBIL BERTERIAK-TERIAK MENAWARI ORANG YANG LALU LALANG UNTUK NAIK BIS. SUTRADARA SUDAH DI BIS SEDANG MEMBERI PENGANTAR TENTANG PEMENTASAN. RINI DAN RIO BERDIRI AGAK JAUHAN DARI BIS DAN MASIH BERBICARA. SESEKALI RINI BERLARI HENDAK MENGHAMPIRI BIS TAPI DITAHAN OLEH RIO. PENYO YANG MELIHAT ITU SEGERA MENERIAKI RINI AGAR NAIK (KARENA JATAH BIS BERHENTI SUDAH HABIS).

SUTRADARA SELESAI MEMBERI PENGANTAR. PENYO SEMAKIN KERAS BERTERIAK DAN MENDEKATI BIS SIAP UNTUK NAIK. RINI DARI KEJAUHAN SEGERA BERLARI MENGHAMPIRI BIS DAN NAIK, RIO YANG MASIH MEMAKAI HELM SEGERA MENYUSUL NAIK. BIS SUDAH HAMPIR BERJALAN, TAPI SAAT MEREKA HAMPIR DUDUK:

….

RIO
Motorku?

RINI
Terserah kamu. Ah, aku udah telat!

(Rini masih berdiri di x2 (dekat x3), hendak duduk. Rio masih melihatnya di tangga (x1), melihat motornya yang tidak kelihatan karena parkir di tempat lain)

Buruan! Lama ah….

(Rio masih berpikir)

Nanti motormu kan bisa kamu ambil…

RIO AKHIRNYA NAIK, MASIH DENGAN HELM DI KEPALA. KEPALANYA MELONGOK-LONGOK. BIS SUDAH BERJALAN PELAN-PELAN. PENYO SEGERA MENYUSUL NAIK, MEMUKUL-MUKUL DINDING BIS DENGAN TELAPAK TANGANNYA SAMBIL TERUS BERTERIAK-TERIAK. IA MELIHAT KE DALAM. MELIHAT RIO DAN RINI YANG MASIH NGOS-NGOSAN.

PENYO (Pada Rio)
Numpak Bisk ok nganggo helm, mas?

RIO MASIH BELUM MENGERTI. RINI MEMUKUL KEPALA RIO YANG MASIH BERHELM DENGAN TELAPAK TANGANNYA SAMBIL TERTAWA. RIO AGAK TERKEJUT, SEGERA SADAR, MELEPAS HELMNYA SAMBIL CENGENGESAN. PENYO MASIH BERTERIAK-TERIAK KALAU-KALAU ADA YANG MAU NAIK BISNYA LAGI.

MUSIK PEMBUKA.
SELAMA MUSIK PEMBUKA RINI DAN RIO SESEKALI BICARA SEDIKIT, LALU TERDIAM, SESEKALI MEREKA MELIHAT PENYO YANG BERTERIAK-TERIAK.

BAGIAN 1

PERKENALAN MEREKA

RINI, RIO DAN PENYO TERTAWA BERSAMAAN DI AKHIR MUSIK.

RINI
Apa artinya?

PENYO
Eko!

RINI
Eko kok dipanggil Penyo?

RIO
Walikan!!!

PENYO
Ya…

RIO
Ada kaya rumusnya. Eko jadi Penyo!!!

PENYO
Namamu boleh juga

RINI (memperkenalkan diri)
Rini

RIO
Bukan! Maksudnya namamu bisa juga dijadikan Walikan! Ia nggak Tanya namamu!

RINI MALU, PENYO TERTAWA

PENYO
Ini adikmu?

RINI
Adik angkat!!!

RIO MENCOLEK DAGU KAKAKNYA

PENYO
Adik angkat?

RINI
Kalau selama 17 tahun Cuma bias bikin perkara ya aku anggap adik angkat. Hehehehee….

RIO
Siapa yang bikin perkara?

PENYO
Namamu?



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya

Download Naskah Ini

Karma (drama remaja)

Lakon Remaja
KARMA


KONSEP PEMENTASAN
Drama ini diilhami dari cerita Legenda Batu Menangis yang bersal dari Sulawesi Utara, karena kami menganggap bahwa dalam cerita tersebut banyak terdapat nilai – nilai kemanusiaan yang dapat kita tanamkan untuk anak tingkat sekolah dasar, misalnya sikap untuk tidak durhaka terhadap orang tua, sikap untuk tidak berbohong, dan menunjukkan bahwa kasih sayang orang tua tidak akan pernah lekang sampai kapanpun.
Dalam drama ini kami telah melakukan banyak perubahan – perubahan tokoh dari cerita yang sebenarnya dan kami telah memodifikasi cerita ini hingga hampir mirip dengan kisah – kisah kehidupan nyata seperti sekarang ini.



SINOPSIS CERITA
Ada sebuah keluarga sederhana yang tinggal di suatu desa . keluarga tersebut terdiri dari seorang Ibu dan dua orang anaknya yaitu Joko dan Anik . Meskipun hidup dalam keluarga yang sangat sederhana, Joko tingkah laku Joko setiap harinya seperti orang kaya . Tak jarang terjadi pertengkaran dirumah tersebut hanya gara – gara lauk pada saat makan. Namun Ibu Joko dan Anik (kakak Joko) selalu bersabar menghadapi tingkah laku Joko, hal itu dikarenakan Joko merupakan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga tersebut, apalagi setiap kali beradu mulut Joko selalu mengancam akan pergi dari rumah apabila keinginannya tidak dituruti oleh Ibunya .
Joko mempunyai seorang pacar anak orang kaya yaitu anak juragan sapi dari desa sebelah. Hal tersebut diceritakan Joko terhadap Ibunya . Betapa terkejutnya sang Ibu pada saat Ibunya mendengar dari Joko bahwa dia telah berbohong dengan mengatakan bahwa dia adalah anak orang kaya untuk mendapatkan gadis tersebut . Dan yang lebih menyakitkan lagi Joko menyuruh sang Ibu untuk memanggil Joko tuan pada saat Joko bersama dengan sang kekasih, namun sang Ibu masih dapat bersabar .
Suatu hari pacar Joko meminta Joko untuk melamarnya dan Jokopun menyanggupinya dengan segala syarat yang diajukan oleh sang pacar yaitu Joko harus menyerahkan uang sebesar Rp.20.000.000,- kepada calon mertuanya . kejadian ini membuat Joko bingung dan kembali Joko mendesak Tbunya untuk menyediakan uang tersebut dalam waktu dua hari. Dan Joko tidak mau tahu bagaimana caranya sampai-sampai Joko menyuruh Ibunya Untuk menjual tanah warisan dari bapaknya . dan lagi-lagi sang Ibu tidak kuasa untuk menolak karena Joko mengancam akan pergi dari rumah apabila keinginannya tidak segera di penuhi .
Dan sesuai dengan waktu yang telah disepakati, Jokopun melamar pacarnya dengan memenuhi syarat yang telah diajukan. Pada saat melamar Joko membawa sang Ibu yang telah disuruh untuk mengaku sebagai pembantunya . dan pada saat pelamaran tersebut sang calon mertua Joko bertanya kepada Joko tentang orang tua Joko dan Joko menjawab bahwa orang tua laki-lakinya telah meninggal dunia pada saat Joko masih kecil. Calon mertuanya bertanya kembali tentang Ibu Joko, Joko pun kebingungan untuk menjawab, dan setelah ditanya beberapa kali oleh calon mertuamya maka Jokopun menjawab bawwa Ibunya telah meninggal dunia . seketika itupun Ibu Joko tidak dapat menahan kesabaran lagi dan secara tidak sengaja mengutuk Joko menjadi patung .

ADA SEBUAH KELUARGA YANG TERDIRI DARI SEORAG IBU DAN DUA ORANG ANAKNYA YANG BERNAMA ANIK DAN JOKO. MEREKA HIDUP DALAM KEADAAN YANG SANGAT SEDERHANA .

MBOK (sambil membawa nasi)
Anik, lauknya bawa kesini, itu tadi yang Mbok letakkan didekat kompor .

ANIK (sambil membawa lauk)
Iya Mbok .

MBOK (sambil menata makanan)
Ayo ditata dulu makanannya setelah itu panggil adikmu Joko, kita sarapan bersama.

ANIK
Joko masih mandi, Mbok

SESAAT KEMUDIAN JOKOPUN DATANG DAN DUDUK DIANTARA MBOK DAN ANIK

JOKO
Sarapannya apa, Mbok ?

MBOK
ya seperti biasanya toh Jok, tahu sama tempe .

JOKO (dengan suara keras)
Apa tahu clan tempe lagi kata Mbok ? Aku kan bosan mbok, tiap hari makan tempe dan tahu . Pokoknya aku nggak mau.

ANIK
Sudahlah Jok diakan saja . Yang kita punya kan cuma ini .

JOKO
Mungkin Mbak bisa makan seperti ini setiap hari, tapi aku nggak bisa Mbak.

MBOK
Kamu ini mbokya ngerti toh , Mbok ini kerjanya apa ? Mbokkan Cuma buruh tani . Kamu juga tahu sendiri kalau beberapa hari ini sawahnya kebanjiran.

JOKO
Mbokkan bisa cari kerja yang lain, nyuci baju orang kek, jadi buruh pabrik kek, atau yang lainnya .

MBOK
Kamu iti gimana toh Jok, memang cari kerja itu gampang.



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Selasa, 24 Mei 2011

Kebo Nyusu Gudel

(Naskah Lakon Remaja Satu Babak)
KEBO NYUSU GUDEL
Karya Dheny Jatmiko, Nomine sayembara penulisan naskah remaja –Jawa Timur


Pelaku

  1. Kakek Seorang kakek umur 80 tahun yang selalu terbayang-bayang peristiwa masa lalunya.
  2. Bapak Seorang lelaki pekerja kantoran.
  3. Ibu Ibu rumah tangga.
  4. Anak Anak berumur 10 tahun.



TERDENGAR MUSIK TEMBANG MEGATRUH. LAMPU WARNA BIRU MENYALA PELAN, DILANJUTKAN LAMPU ORANYE YANG FOKUS KE KURSI GOYANG (KAKEK). TAMPAK SEBUAH RUANG KELUARGA, SEORANG KAKEK BERSANTAI DI KURSI GOYANG. KAKEK MEMAKAI SEPATU TENTARA, MEMAKAI SARUNG, PECI, SAMBIL NEMBANG MEGATRUH.
Megatruh

niki wancine sukma sampun kasebut
saking dzat akarti bumi
sampun wanci dipun suwun
tan janji sakniki ugi
baline sadaya lakon

TEMBANG MEGATRUH SELESAI. KAKEK DIAM, MERENUNG. TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA RIUH, SEPERTI SUARA DEMONTRASI. (LAMPU RUANG PELAN-PELAN MENYALA) KAKEK PANIK, MENGAMBIL SAPU DAN MEMBAWANYA SEOLAH MEMBAWA SENAPAN.



Kakek
Bangun! Bangun! Kita harus segera bersiap. Bangun kalian semua.
Muncul seorang Bapak, Ibu dan anaknya berjalan malas karena bangun tidur.

Bapak
Ada apa lagi, kek? Malam-malam begini bikin ribut?

Ibu
Ada apa to, kek?

Kakek
Ada apa. Ada apa. Apa kalian sudah tuli. Apa kalian tidak mendengar ada demo. Situasinya sekarang semakin sulit. Jadi kita harus waspada. (Berlagak seperti komandan) Kalian berjaga di pos sebelah sana. Biar aku awasi yang sebelah sini (mengambil kursi kecil dan berdiri di atasnya). Cepaaat!

Anak
Siap, komandan!

Bapak, Ibu & Anak bergegas menuju kiri panggung.

Bapak
Kalau tiap malam begini, bagaimana aku bisa nyaman kerja besok?

Ibu
Sudahlah mas, sabar, mungkin kakek sedang mimpi aneh lagi malam ini. Paling ini hanya sebentar, dan kita bisa kembali tidur. Lakukan saja. Kalau kita tidak menurut,



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini

Matahari 1/2 Mati

LAKON
MATAHARI 1/2 MATI
KARYA A. REGO SUBAGYO


DRAMATIC PERSONAE

  1. MBOK Ibu dari lima anak
  2. KARDI anak pertama
  3. PARTO anak kedua
  4. WARTI anak ketiga
  5. SUWAJI anak keempat
  6. NARKO anak kelima
  7. HARDJO tetangga




DI SEBUAH DESA YANG SANGAT TERPENCIL DAN TERPINGGIRKAN DARI DERU DAN HIRUK PIKUKNYA PEMBANGUNAN, SEPERTI TERASING. ADA KELUARGA SEDERHANA, KELUARGA PETANI SAHAJA, TIDAK PERNAH NEKO-NEKO. TENTRAM, DAMAI POKOKNYA NYAMAN. TETAPI SUATU KETIKA MUNCUL PERMASALAHAN-PERMASALAHAN DI KELUARGA TERSEBUT YANG MENGAKIBATKAN HUBUNGAN ANTAR ANGGOTA KELUARGA MENJADI TIDAK HARMONIS LAGI.

BABAK I

DI SERAMBI RUMAH, ALUNAN MUSIK GAMBARAN PEDESAAN LEMBUT MENYAPA. LAMPU MULAI PADAM. PARTO BARU PULANG DARI SAWAH

PARTO
Kok masih sepi, pada kemana ya? Apa belum pulang?

(seperti bertanya pada diri sendiri).

Sudah seminggu lebih aku sendirian menggarap sawah, akhir-akhir ini Kang Kardi jadi pemalas, pekerjaannya hanya termenung, melmun, merenung, bahkan tidak pernah bisa diajak bicara apalagi bercengkeraman. Kang Kardi selalu membisu, tak pernah mau ngomong, tak pernah mau bicara, tak pernah berkata-kata, bisu, seakan kelu dalam otaknya

(terdiam).

Apakah selamanya akan seperti ini bisu dan beku, mati. Aku sendiri semakin bingung, panenan yang jeblok, sedang harga untuk obat selangit apalagi untuk pupuk sudah tak masuk di akal

DIAM KELUARKAN BUNGKUSAN DARI KANTONG, MELINTING TEMBAKAU LALU MENYULUTNYA. NARKO PULANG SEKOLAH, TERGOPOH-GOPOH MENUTUPI MUKANYA

PARTO
Hei Ko, Narko kesini!

NARKO
Ya, Kang

PARTO
Kenapa wajahmu?

NARKO



klik di sini untuk download naskah teater selengkapnya
Download Naskah Ini